
"Kalau dia memakai Array pembatas maka kita tinggal merusak batasannya maka Array ini otomatis akan hancur." Pemuda pengguna koas yang dipanggil Dawave tampak senang.
"Bagaimana kita menghancurkan pembatas sementara kita tidak dapat menggunakan sihir." Gadis berusia enam belas tahun itu cemberut.
"Aduh adikku ini." Si gondrong membelai Gadis itu. "Kita menghancurkan Array nya tentunya dari luar dimana kekuatan sihir kita kembali seperti semula. Kalau Array itu di buat dari bendera Mantra maka kita patahkan benderanya. Kalau di buat di media pohon atau batu maka kita hancurkan Benda medianya."
Tidak berapa lama kemudian perjalanan mereka akhirnya keluar juga dari Array Tujuh Warna.
"Kita sepertinya sudah keluar dari Array itu." Pengguna koas memainkan koas nya hingga muncul tinta hitam dari koas nya. "Sihirku sudah dapat di gunakan."
Sihir Koas ini dapat mengeluarkan tinta dengan sendirinya. Ajaibnya tinta itu bukan hanya digunakan untuk menulis Array saja tapi dapat di gunakan sebagai tali untuk mengikat ataupun sebagai senjata.
"Bagus. Sekarang kita cari Array batasannya. Entah itu berbentuk bendera ataupun tanda di benda." Tamave si kakak pertama tampak semangat. "Aku akan mencari di tempat paling atas.
Setelah berkata demikian Tamave langsung terbang ke atas bukit dengan menggunakan pedang sebagai tunggangan nya.
Biasanya yang dapat menerbangkan pedang hanyalah mereka yang berada di tingkat Atas tahap Akhir. Tapi Tamave merupakan murid berbakat dari Yakove, dia baru saja naik ke peringkat Atas Tahap Awal atau Level B namun sudah dapat menggunakan pedang terbang.
"Kalau begitu, aku mencarinya dibawah saja." Ucap gadis kecil itu.
Flyng Magic Paper
Dari lengan baju nya yang terbuka lebar keluar ratusan kertas sihir yang berwarna kuning. Kertas sihir itu di gunakan oleh gadis manis itu untuk pijakan lalu kertas itu terbang ke bawah bukit.
Kemampuan Telekinetic cucu dari Yakove ini juga patut di acungi jempol. Gadis ini dapat menggunakan kertas sihir sebagai pijakan terbangnya meskipun masih berada di tingkat Menengah tahap Lanjutan. Atau Level C.
"Aku akan menemani adik." Pria gondrong yang lebih muda dari pria lainnya itu melompat turun dari tempat tinggi untuk mengikuti gadis itu.
Magic Word Ground
Tiba-tiba di tempat pijakan pria gondrong yang bernama Tagave itu muncul cahaya lingkaran sihir sehingga dapat di gunakan sebagai pijakan. Dimana pun pria itu melompat maka pijakannya muncul lingkaran Array. Dengan demikian pria itu cepat menyusul Gadis yang berada jauh di bawahnya.
Murid ke tiga Yakove ini meskipun tingkatannya sama dengan cucu Yakove namun dalam hal Telekinetic masih kalah jauh dari adiknya ini. Tapi pria ini menyadari akan kekurangannya, jadi dia lebih memperdalam kemampuan Array nya dan kecepatannya Jadi dia menguasai Array untuk membuat pijakan mengambang di udara. Array itu disebut Array Pijakan. Melompat dari satu pijakan ke pijakan lainnya.
Array Pijakan ini juga yang awalnya di pelajari oleh Vhestee, hanya saja Vhestee sudah berada tingkat yang lebih tinggi jadi dapat menggunakan Telekinetic nya untuk membuat Array Pijakan dapat bergerak dan menjadi senjata yang di sebut Flyng Circle. Kemudian telah di modifikasi oleh Ragil menjadi Flyng Dimension.
__ADS_1
Semua Murid Yakove mempunyai caranya sendiri dalam bergerak berpindah tempat. Demikian juga dengan Dawave, Murid kedua Yakove yang berada di Level C atau Tingkat menengah tahap Akhir ini.
Magic Ink
Dari koas nya mengeluarkan tinta, namun tinta itu bagai hidup bisa bergerak bagaikan sebuah tali hitam melingkari sebuah batang di atas bukit yang terjal ini. Kemudian Pria ini mendaki bukit mencari benda atau array yang berada di sekitaran bukit terjal.
Tiga Puluh menit kemudian
Waktu telah berlalu, tidak ada satu Array pembatas pun yang dapat mereka temukan.
Dawave yang masih memanjat bukit berusaha mencari di dalam pohon-pohon kecil yang tumbuh di pinggiran bukit. Menurutnya pasti Array itu tersembunyi di dalam belukar.
"Mengapa kau berpikir ada Array di dalam semak belukar." Sebuah suara mengagetkan Dawave.
Pria pengguna koas ini berbalik badan untuk melihat siapa pemilik suara itu. Kedatangannya tidak dapat di rasakan menandakan orang itu memiliki kemampuan yang tidak kurang dari dirinya.
Ternyata pemilik suara itu adalah manusia berkumis tikus, Agroo. Dia juga dalam kondisi memanjat dinding tebing dengan satu tangan memegang batu untuk menahan tubuhnya.
"Beraninya Murid Yakove mengganggu markas kami di lembah Phanouel ini." Ucap Agroo yang sudah menyalurkan kekuatan sihirnya ke seluruh tubuh.
"Ohh, Agroo... Jangan salah paham. Aku sama sekali tidak bermaksud mengganggu penghuni Lembah ini. Hanya saja perahu terbang kami jatuh oleh karena Array yang menghilangkan kekuatan sihir. Jadi kami terpaksa harus melalui darat."
"Sebenarnya urusanku hanya kepada Ragil yang di duga memiliki Array ini."
"Apapun urusanmu, aku tidak perduli. Setiap orang yang melewati lembah ini harus bayar. Tapi malah kau berusaha untuk menghancurkan Array di lembah ini."
Dawave yang tidak pandai bersilat lidah telah kehabisan akal cara untuk membela dirinya yang jelas-jelas tertangkap basah sedang mencari Array Pembatas.
"Karena kau sudah datang, mari kita bermain satu dua jurus." Tantang murid Yakove ini. Baginya lebih baik menggunakan sihir dari pada mulut.
Tanpa ragu lagi Dawave mengeluarkan koas nya lalu memperagakan sebuah jurus. Tinta itu sudah berubah menjadi pecutan.
Pecutan itu terus memanjang menyerang Agroo.
Agroo hanya tersenyum melihat serangan itu. Ternyata benar apa yang di katakan Ragil. Tiga puluh menit sebelumnya Ragil sudah mengatakan ada empat tamu tidak di undang datang ke lembah. Kemudian Ragil memerintah kan beberapa orang untuk bergerak.
__ADS_1
Setelah bergerak, beberapa menit kemudian rombongan kami melihat empat orang itu sedang berpisah satu dengan yang lainnya. Akhirnya kami berpisah untuk menemui lawan masing-masing.
Agroo sengaja mendatangi Dawave yang di kenal memiliki senjata koas yang dapat menjadi sebuah pecut. Senjatanya sama seperti dirinya yang memiliki jurus sihir pecut juga.
"Cletarr... Cletarr..."
Sekarang Agroo di serang dengan pecut yang terbuat dari tinta hitam. Agroo hanya menangkis setiap serangan itu hanya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya masih memegang batu di dinding tebing.
Mungkin sebelum dirinya bertemu dengan Ragil, akan merasakan kesakitan dari pecutan itu. Tapi sekarang dia telah mengubah kekuatannya menjadi tipe pertahanan (Defender). Menyalurkan kekuatannya di tangan untuk menahan serangan pecut itu. Ternyata dia tidak merasakan sakit dari pecutan itu.
Sebaliknya bagi Dawave, kemampuan Agroo tidaklah seperti yang dikatakan oleh Gurunya, Yakove. Yakove mengatakan kalau tipe Agroo adalah Penyerang Jarak Jauh (Long Range). Kenapa sekarang menjadi bertahan.
"Dimana Sihir cahaya api birumu? Apakah tidak akan kau gunakan?" Tanya Dawave.
"Untuk menghadapi mu, tidak perlu ku gunakan Blue Ray." Setelah mengatakan demikian Agroo memukul dinding tebing yang mengakibatkan di dinding itu muncul retakan panjang yang mengarah ke Dawave.
Dawave menyadari kalau retakan itu bukan retakan biasa, tapi retakan itu mengandung sihir yang dapat mematahkan tulangnya jika masih di posisi itu.
Dawave menggunakan cambuknya untuk berpindah tempat ke tempat yang lain. Setelah mendapat tempat untuk memegang, Pria bersenjata koas ini menyerang lagi dengan pecutnya. Kali ini pecutnya bercabang tiga, jadi menyerang tiga arah. Arah pertama ke tempat tangan Agroo yang memegang dahan pohon, yang satunya menyerang kaki Agroo dan satunya lagi menyerang tubuh lawan.
Serangan ini membuat Agroo juga melompat mundur berpindah tempat. Kali ini di tangan Agroo juga terdapat sebuah cambuk berwarna hitam. Bukan cambuk api biru seperti sebelumnya.
Cambuk ini di berikan oleh Ragil yang di buat dari Black Blood. Cambuk ini di berikan Array yang memiliki kekuatan Double Power. Kemudian telah di olesi oleh darah Agroo sendiri lalu di materai lagi oleh Array sehingga cambuk ini dapat di kontrol oleh pemilik darah itu. Jadi yang dapat menggunakan cambuk ini hanyalah Agroo seorang sedangkan di tangan orang lain maka cambuk ini hanyalah cambuk biasa.
Sabetan cambuk Agroo bukanlah berfungsi untuk mengikat tubuh lawan tapi fungsi cambuk ini seperti Godam yang sanggup me remuk kan batu besar sekalipun. Sifat cambuk itu disesuaikan dengan kondisi Agroo yang bertipe Defender.
"Dhuarrrkk..." Cambuk Agroo memukul dinding bukit hingga bergetar.
Dawave kehilangan keseimbangan dalam sayu detik.
Cambuk Agroo yang bertambah panjang kemudian menggulung bagaikan ombak lalu memanjang menyerang Dawave yang kehilangan keseimbangan.
Ujung cambuknya mengenai dadanya Dawave membuat tubuhnya terlempar jatuh ke tanah. Mulutnya mengeluarkan darah segar.
Belum lagi sempat berdiri, sebuah jarum mengenai punggungnya. Itu adalah jarum Pelemas otot dari Ragil.
__ADS_1
"Sayang sekali, aku diperintahkan untuk tidak membunuhmu. Jika tidak saat ini kau sudah tidak bernyawa."
Dawave tidak berkutik. Tubuhnya menjadi lemas bahkan tidak sanggup mengeluarkan kekuatan sihir. Itu adalah efek dari Jarum Pelemas Otot ciptaan Militer.