Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 36. Serangan Arch, Dupp Dan Hammerdat.


__ADS_3

Ketika dia mencoba mengikuti serta membalas permainan kata-kata bebas dari Ragil, sekali lagi gadis ini sangat menikmatinya. Seolah lepas dari kukungan. Selama ini dia hidup teratur dan sopan. Perkataan juga harus di atur sebagai orang bermartabat.


Ayahnya, seorang tabib terhormat, jadi terus menekan agar ada sopan santun dan tata Krama, harus begini, harus begitu, terlalu banyak aturan.


"Seorang gadis harus bisa bawa diri. '


"Kalau tertawa harus ditutup mulutnya.  Tidak boleh tertawa keras-keras. "


"Harus tidur sebelum larut malam agar kulit selalu cerah. "


"Tutur kata harus diatur agar lebih kelihatan manis. "


Dan masih banyak lagi perkataan ayahnya yang menahan akan kebebasan.


Lalu bertemu dengan Ragil yang diawali dengan menotok dirinya serta mengumbar kata-kata yang tidak pantas. Pada awalnya dia memang begitu takut dan membenci sifat pria yang penuh ke maksiat an. Seperti para pasien yang mencari kesempatan untuk menyentuhnya.  Para laki-laki hidung belang. Pura-pura sakit hanya untuk mendekatinya.


Tapi Ragil hanya kotor dimulut dan tidak ada sikap kurang ajar. Dia adalah orang yang mengatakan apa adanya tanpa kemunafikan. Orang yang tulus membantu tanpa pamrih meskipun dimulutnya berkata meminta harga yang tinggi.


Setelah dia mencoba mengikuti permainan kata-kata yang berterus terang, hatinya juga menjadi senang. Terbesit rasa suka kepada Ragil akan karakter dan sifatnya yang berbuka.  Tertawa lepas terbahak-bahak tanpa harus menutup mulut.


Baginya sekarang setiap kata-kata kurang ajar dari mulut Ragil terdengar seperti pujian tentang tubuhnya yang halus dan terawat. Itupun perkataan jujur bukan kemunafikan.


Didalam hatinya, Ragil begitu berkesan. membuat dirinya tertawa lepas. Membuat dirinya seakan tersanjung dan di hormati. Membuat hatinya senang.


Di luar alam jiwa Funuell, Ragil tidak melakukan seperti apa yang di katakan sebelumnya, untuk menikmati tubuh Funuell. Tapi dia malah bergegas keluar dari goa dengan lari yang terburu-buru.


"Sesuatu terjadi." Batinnya mulai bergolak. Di areal itu ternyata sudah tidak tertutupi Array Tujuh Warna lagi. Jadi siapa saja dapat menggunakan Sihir. Berarti seseorang telah melepas bendera Array pembatasnya.


Semenjak di dalam Alam Jiwa Funuell, Ragil dapat merasakan kalau Array nya ada yang mencabutnya. Itulah sebabnya dia terburu-buru ingin keluar dari Alam Jiwa.


Didepan lorong ada Arbakir, Tamave dan Paniell dengan muka cemas.


"Apa yang terjadi Tuan Ragil." Paniell langsung bertanya dan memegang tangan Ragil begitu melihat kedatangannya.


"Aku tidak tahu dan akan memeriksa nya segera."


"Tunggu Dulu." Tabib Paniell yang masih memegang lengannya Ragil terus mengangkatnya. "Denyut nadi mu tidak normal. Kau mempunyai penyakit yang tidak ringan."

__ADS_1


"Tidak ada waktu untuk itu sekarang Pak Tabib." Ragil menarik lengannya. "Tolong Pak Tabib jaga di muka lorong ini dengan nyawamu. Jangan ada yang masuk termasuk dirimu. Jika tidak nyawa anakmu akan celaka."


"Bagaimana Funuell?"


"Dia sedang bersemedi memulihkan dirinya. Jika sudah selesai maka dia akan keluar dengan sendirinya. Tidak perlu kuatir."


"Apakah penyakit inti es nya dapat disembuhkan?"


"Bersabarlah, kau akan segera bertemu dengannya nanti." Ragil lebih senang jika nanti Funuell sendiri yang menyampaikan kabar gembira itu kepada ayahnya. "Arbakir ayo ikut aku."


Ragil tidak mau berlama-lama didalam goa. Hatinya gelisah. Jadi dia terus berlari untuk keluar dari gua.


"Baik Tuan." Arbakir ikut berlari di belakang Ragil yang akan keluar dari Gua.


Tamave yang melihat kesempatan ini ketika melihat Ragil sudah menjauh, hendak berlari memasuki lorong. Namun sebuah tombak es menahan nya.


"Ayah mertua. Kita harus melihat keadaan Funuell." Tamave membujuk.


"Jangan memaksa aku melukaimu." Wajah Paniell begitu menakutkan. Ruangan itu berubah menjadi dingin dan pintu lorong telah di tutupi es yang tebal.


"Ayah Mertua. Kita harus melihat keadaan Funuell jangan sampai dia sudah ternoda oleh laki-laki laknat itu."


"Sekali lagi kau mengatakan hal yang buruk maka tombak ini yang akan menamparmu."


Di sebuah ruangan di dalam gua, Ragil bertemu dengan anak buah Binoang yang berlari ke arahnya.


"Tuan Ragil, di luar ada orang sedang mengacau mencari Tuan. Ragil tidak menjawab tapi terus berlari menuju keluar gua.


Sesampainya di luar gua, Ragil menyaksikan beberapa orang yang sedang bertarung. Di bawah tebing yang sebelumnya terjadi pertarungan dengan Prajurit Haduz, kini ada pertarungan lainnya.


Di Udara sekitar dua puluh meter dari tanah terlihat Hammerdat sedang terbang menggunakan sayap burungnya. Pangeran dari kerajaan Argag ini sedang bertarung melawan cucu Yakove dan Tagave.


Cucu Yakove sedang di genggam oleh tangan sihir berbentuk raksasa. Sedangkan Tagave sedang di tinju oleh tangan raksasa yang satu sehingga membuat Tagave terlempar membentur dinding tebing. Tagave dan Patave adalah petarung di udara. Jadi mereka melawan Hammerdat yang bisa terbang.


Ciri khas keturunan kerajaan Argag adalah memiliki sayap untuk terbang dan juga tangan sihir raksasa yang di sebut Telapak Dewa atau Hand Of God


Tepat di bawah Hammerdat terdapat Vacuum Dupp yang mengeluarkan sihir berwarna hijau dan bercabang lima. Setiap cabang sihir itu telah memerangkap lawan bagaikan kurungan yang mengikat. Korban yang terkena cahaya Hijau dari Dupp tidak dapat berkutik. Kekuatan Sihir Dupp begitu kuat hingga lawan yang tidak lebih tinggi dari Dupp kekuatan sihirnya maka akan terkurung dalam cahaya Hijau tanpa dapat mengeluarkan Sihir. Tapi jika kekuatan Sihirnya lebih besar dari Dupp maka mereka dapat membebaskan diri dari kurungan sihir cahaya hijau. Sihir itu di sebut,

__ADS_1


Green Light Bridle


Mereka yang terperangkap oleh sihir cahaya hijau itu adalah Agroo, Khakii, Shagarr, Gumoo. dan Lamuelll, putera dari tabib Funuell. Ke lima orang itu terikat oleh sihir hijau dan tidak dapat berkutik. Kekuatan mereka tidak dapat melepaskan diri dari ikatan tersebut.


Sementara Binoang masih bertarung dengan salah satu cabang sihir hijau itu yang dapat menggeliat seperti seekor ular. Kedua kapak nya menari-nari di udara terus melawan sihir tali itu.


Menurut Informasi yang diterima Ragil, bahwasanya tingkat Vacuum Dupp hanyalah tingkat Mahir tahap akhir. Tapi kalau melihat pertarungan ini sepertinya informasi itu salah. Masa inikan lima orang petarung Lembah Phanouel dapat di buat kepayahan menghadapinya.


Belum lagi munculnya kabut putih halus perlahan keluar dari sekitar tubuh Dupp. Ini adalah Kabut sihir yang mirip seperti sihir wanita anak buah Arch yang tewas saat bertarung di arena kerajaan Ulgar.* Kabut itu nantinya dapat mengeluarkan ilusi.


(Mengenai Penyihir Kabut atau Sihir ilusi terdapat di Landria 1 : Bab 31)


Seperti di ketahui bahwa Vacuum Dupp dapat menduplikasi sihir orang lain. Jadi dia telah menduplikasi Sihir kabut itu. Tapi sihir cahaya hijau itu, untuk pertama kalinya dia melihat.


Ragil sangat kagum melihat Sihir Cahaya hijau itu yang tidak terbatas akan kemampuannya. Cahaya hijau itu dapat menangkap lawan dan membuat tidak berkutik. Dapat juga dibuat menjadi serangan seperti ular dengan menggunakan kemampuan kinetic. Dan dapat pula membuat Dupp sebagai pemilik sihir itu melayang di udara. Sihir Cahaya Hijau itu benar-benar sangat berguna untuk menghadapi lawan yang lebih dari satu.


Ragil hendak bertanya akan pemilik asli dari Sihir Green Light Bridle itu kepada Naery Sarr yang mempunyai segala data informasi. Tapi tampaknya wanita Pembunuh No 1 itu sangat sibuk


Disisi lain terlihat Naery Sarr sedang sibuk menghindar tinju kilat nya Arch. Dibantu oleh Dawave, murid Yakove dalam menghadapi Arch namun Pemilik Sihir Petir ini tidak kewalahan menghadapinya.


Tangannya Arch yang satu sedang memegang tali tinta sihir milik Dawave serta menghancurkannya dengan listrik di tangannya.


Secara kecepatan memang Sarr sangat cepat dan tidak mudah di jangkau tinju kilat, Tapi Sarr juga tidak dapat menembus pertahanan milik Arch. serangan belati terbangnya tidak pernah mencapai tubuh Arch Karena selalu di hempas nya hanya dengan tepisan listrik dari tangannya tanpa menyentuhnya.


Meskipun dirinya di keroyok oleh Sarr dan Dawave, tetap saja Arch tidak terdesak. Malahan sebaliknya, setiap serangan Dawave membentur dengan tangan Arch, maka terasa aliran listrik menyetrum tubuh murid Yakove ini. Karena sihir Dawave ini dari elemen air yang berarti menjadi penghantar listrik.


Dari tiga pertarungan yang di saksikan Ragil ini tidak ada yang menunjukkan kemenangan berada di Pihak dirinya.


Melihat kondisi Naery Sarr kewalahan, maka Arbakir berlari hendak membantunya. Tanpa terduga Dari udara sebuah tangan raksasa datang mendekati Arbakir.


"Arbakiiirrr... " Teriak Ragil memperingati.


Arbakir tidak melihat serangan dari atas. Dalam sekejap tubuh Arbakir sudah di cengkeram oleh tangan sihir buatan Hammerdat.


Hand of God.


Hammerdat langsung terbang ke tempat yang lebih tinggi sambil membawa Arbakir dalam cengkraman di tangan sihir raksasa yang kanan dan di tangan sihir yang kiri masih mencengkram Patave cucu dari Yakove.

__ADS_1


.


__ADS_2