
Mereka memasuki mulut gua bagian dalam. Didalamnya terdapat lorong yang agak panjang. mereka berjalan tanpa adanya komunikasi. sesampainya Di ujung terdapat ruangan kecil. Disana ada Meja kayu dan kursi. Ada juga dipan sederhana tanpa kasur.
"Sebelum kita memulai, ada baiknya jika saya menjelaskan kepada Paman dan Nona. " Ragil menahan langkahnya. "Saya bukanlah ahli pengobatan tapi saya mencoba menyembuhkan menggunakan Array Kuno. Saya akan membuat Array di punggung Nona dan Array ini tidak bisa dihilangkan. Akan membekas selamanya seperti halnya sebuah tato."
"Jadi maksudmu saya harus membuka baju di punggung saya. " Puteri dari Tabib itu mengernyitkan alisnya.
"Benar. Untuk itu aku mengajak Ayahmu sebagai saksi agar melihat apa yang ku kerjakan, agar Aku tidak di bilang kurang ajar. "
"Ayah. Aku tidak mau. Aku tidak mau membuka bajuku. Bukankah bisa di tangan tanpa harus di punggung." Gadis itu mengomel.
"Yang akan ku lakukan adalah membuat Segel untuk menyegel aura dingin yang di akibatkan penyakitmu. Segel itu hanya bisa di buat di dada atau di punggung. Lagi pula ayahmu ada disini. Jadi dia bisa melihat kalau aku tidak melakukan hal yang tidak sopan. "
"Tidak. Aku tidak mau. Lagi pula kau belum tentu bisa menyembuhkan. "
"Puteriku. Jangan kurang ajar kepada Tuan Ragil. "
"Maaf Paman. Bukan aku yang menawarkan untuk menyembuhkan Puterimu tapi permintaanmu sendiri. Kalau Paman sudah selesai berurusan disini silahkan kembali. Saya masih banyak pekerjaan. "
"Tuan. Jangan tersinggung dan jangan di ambil hati akan semua perkataan Putri ku. " Tabib itu berusaha menahan Ragil.
"Sampai ketemu lagi. Selamat Jalan. "
"Tuan Ragil. !"
Pria tua itu berusaha menahannya tapi Ragil sudah tidak perduli. Wajah orang tua itu kemudian menatap puterinya.
"Seandainya Dia bisa menyembuhkanmu maka Kita tidak perlu lagi mencari obat-obatan ke daerah yang belum dijamah manusia. Tidak perlu lagi berhadapan dengan binatang buas. Tidak perlu lagi kehilangan nyawa anggota yang mati sia-sia di bunuh binatang buas. Tidak perlu lagi menyalurkan energi murni ke dalam tubuhmu. Semuanya sia-sia karena keras kepalamu. Selama ini kita berusaha meskipun kemungkinannya kecil tapi tidak patah semangat. Namun karena hal kecil kau telah semangat perjuangan kita. "
"Tapi Ayah. Dia seorang penjahat. Dia belum tentu bisa menyembuhkan aku. "
"Kalau dia seorang penjahat maka kita semua sudah mati dan kau sudah di perkosa. Kalai dia juga bermaksud jahat dengan tubuhmu, maka seharusnya dia tidak mengajak ayah untuk menjadi saksi proses penyembuhanmu. Karena kalau dia bermaksud jahat kepadamu maka ayah akan bertindak. "
Pria tua Paniell ini hanya bisa menarik nafas.
" Mulai ke depannya kita tidak perlu lagi mencari bahan obat-obatan karena seperti perkataanmu. Belum tentu bisa menyembuhkanmu. Jadi tidak perlu lagi melakukan hal yang sia-sia. Selama ini kita berusaha menerjang segala kesulitan hanya untuk menyembuhkan dirimu. tapi kita tidak putus asa. Menghadapi binatang buas, melewati jurang dan badai bahkan Beberapa rekan yang terbunuh dalam perjalanan. Semua itu juga sia-sia"
"Ayah. Bukan maksudku begitu. "
__ADS_1
"Uruslah dirimu sendiri. Aku akan mempersiapkan diri untuk perjalanan pulang. "
"Ayah... "
Tapi Orang tua itu sudah meninggalkan Puterinya sendiri. Semua perkataan Ayahnya benar. Dirinya terlalu egois. Bagaimana mungkin dia dapat melupakan pengorbanan keluarga nya dan rekan-rekannya. Hanya karena ke egoisannya dia telah menyinggung Ragil yang mencoba membantu. Dan menyakiti Ayahnya yang selalu mencari cara untuk menyembuhkan dirinya, seklipun dengan cara yang tersulit.
Selama ini dia berani berkorban demi cita-cita yaitu menjadi peringkat Maha Dewa. Dia sangat menyadari kalau dirinya sangat berbakat dan dapat mencapai tingkat tinggi. Yang menghalangi harapannya adalah penyakit dari tubuh Inti es ini. sehingga dalam beberapa tahun ini tidak mengalami peningkatan hanya staknan sampai disini.
Dia mengorbankan pernikahannya, dia mengorbankan waktu nya, mengorbankan materi bahkan nyawa pengikutnya yang dimakan binatang buas. Jangankan hanya memperlihatkan punggung, jika dia harus bertelanjang dada sekalipun dia pasti bersedia. lantas apa yang membuat dirinya meragukan dan menolaknya.
Funuell berkecamuk dalam batinnya. Mungkin pikirannya telah terhasut oleh Tamave yang mengatakan kalau Ragil adalah Penjahat Mesum. melihat wajahnya saja muncul rasa jijik. Dipikirnya semua gadis akan menyerahkan tubuhnya begitu saja.
"Dasar Penjahat Arogan yang sombong." ketus suara batinnya.
Funuell sangat memahami bagaimana wajah-wajah mesum itu seperti apa. karena kebanyakan pasiennya adalah orang mesum. Gak tua, gak muda semua sama saja. wajah cengengesan, senyum yang di buat-buat. cari kesempatan untuk menyentuh dirinya. semua nya itu membuat muak.
pasien-pasien ini datang bukan untuk berobat tapi untuk bertemu dirinya. belum disuruh buka baju, mereka sudah membuka baju begitu saja hanya untuk memamerkan otot dada nya yang bidang sambil berpose seperti olahragawan body building.
Yang lebih mengherankan lagi, anak kecil dua belas tahun juga datang berobat sambil menunjukkan sekantong keping emas. pada hal dia tidak memiliki penyakit.
Mereka semua adalah wajah mesum terlihat dari sorot matanya yang langsung berbinar binar setelah melihat wajahku. Mungkin karena itu gadis manis ini menjadi trauma terhadap wajah mesum.
"Apakah Ragil betul-betul seorang penipu." keraguan telah mengusik hatinya. "Bagaimana jika ternyata dia sama sekali tidak ada maksud buruk."
Hatinya mulai me kecam Tamave, karena gara-gara dia, Funuell menjadi seperti ini. Padahal Prinsip keluarga tabib ini adalah 'Terus berjuang meskipun kemungkinannya kecil.' Kenapa musti takut kalau hanya membuka baju. Itu hanya hal kecil dibandingkan dengan sebuah kesembuhan.
Funuell memutuskan untuk meminta maaf kepada Ragil sekalipun harus berlutut.
Ragil yang melangkah keluar terlebih dahulu sudah mencapai ujung lorong. Diujung lorong gua, Ragil bertemu dengan Arbakir yang sedang menjaga pintu gua. Disitu juga terdapat Murid tertua dari Yakove.
"Cepat sekali penyembuhannya. " Seloroh Pria muda berkumis itu. "Pasti kau tidak sanggup menyembuhkannya. Kualifikasi apa yang ada padamu sampai menyanggupi penyakit dalam dari Puteri dari seorang Tabib terkenal. "
"Bukankah adik seperguruanmu sedang membantu mereka yang sakit. Apa yang kau lakukan disini. " Ragil tetap tenang.
"Aku hanya menunggu Tunanganku keluar dari tempat terkutuk ini. Kalau bukan karena tunanganku, Aku sudah pergi dari tempat ini.
"Bagaimana Tuan? " Arbakir menyela.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Nanti Ayah dan Puteti itu akan kesini dan berlutut memohon kepadaku. Kemudian Puterinya merelakan aku melepas bajunya ." Sengaja Ragil berbicara demikian di depan Murid Yakove ini.
"Tunangan ku adalah gadis terhormat. Tidak mungkin akan melakukan hal busuk seperti pikiranmu. "
"Hati!-hati kalau bicara, Anak Muda. Jangan sampai kubrobek mulutmu. " Ancam Arbakir, mendengar tuannya di lecehkan. "Tuanku Pria terhormat. Sekalipun Penjahat Dia Penjahat terhormat. "
"Tidak ada namanya Penjahat yang Terhormat. Apa kau tidak dengar barusan. Dia mau melecehkan seorang wanita terhormat dengan menelanjanginya. " Balas Pria berkumis itu.
"Apakah benar demikian Tuan? Bukankah Tuan Pria tampan yang mudah mendapatkan gadis manapun tanpa harus melakukan perbuatan seperti itu.? Anda tidak mungkin melakukan itu kan? "
Mendengar ucapan Abdinya, Ragil hanya bisa main mata tanpa sepengetahuan Murid Yakove, sebagai tanda kalau dia sedang berpura-pura menjadi manusia pemerkosa. Tujuannya untuk mengerjai Pria menjengkelkan yang satu ini.
"Kenapa Tuan berkedip? Apakah Tuan kelilipan? " Arbakir yang polos tentu saja tidak mengerti maksud dari Tuannya ini. "Mari kutiup sebentar Tuan."
Pria Berotot ini memonyongkan mulutnya hendak meniup mata Ragil. Ragil yang melihatnya muncul rasa jijik karena dalam bayangan nya seolah-olah Abdinya ini seperti hendak mencium.
"Menjauh Kau. " Kesal Ragil karena abdinya begitu bodoh yang tidak mengerti sebuah isyarat main mata. "Jangan berbicara apapun sebelum ku ijinkan berbicara. "
"Tidak usah banyak celoteh. Keluarkan saja Tunanganku lalu kami akan pergi dari tempat ini.
Belum lagi Ragil menjawab ocehan laki-laki yang dipenuhi rasa cemburu itu, Datanglah Paniell dengan tergopoh-gopoh. Pria tua itu segera berlutut di kaki Ragil.
"Tuan Ragil. Mohon jangan di ambil hati setiap perkataan Puteriku. "
"Paman jangan berlutut di depan Penjahat licik itu." Murid Yakove hendak mencegah Paniell berlutut.
"Paman. Benar seperti yang dikatakan menantumu. Jangan lakukan itu. Anda adalah Tabib yang terkenal. Tidak baik berlutut dihadapan Penjahat seperti saya. Bangunlah." Ragil mengangkat Tubuh tua itu.
"Apakah Tuan mau memaafkan Putriku. "
"Tidak ada yang bersalah dalam kasus ini. Jadi tidak ada yang perlu di maafkan. Aku juga tidak mempermasalahkan. "
"Tapi.. Maukah Tuan mengulurkan tangan untuk menyembuhkan Puteriku. "
"Paman. Jangan percaya terhadap penipu ini. Dia sudah merencanakan semua untuk maksud buruk dan otak mesumnya." Murid Yakove maju ketengah diantara Tabib dan Ragil.
"Plak! " Sebuah tamparan
__ADS_1
"Kalau bukan karena Pak Tua Yakove, Aku Tidak menganggap kau sama sekali. Berani kurang ajar kepada Tuan Ragil. " Tabib itu menahan emosi.
"Paman percaya padaku sebelum paman menyesal. Dia merencanakan semua ini dan bermaksud buruk kepada Puterimu. " Murid itu tetap gigih meskipun di tampar.