
"Kau sudah bebas sekarang." Suara Ragil masih dalam sikap semedi Tangannya di lepaskan dari punggung gadis itu. "Apa lagi yang kau tunggu? Tidakkah hendak memberitahu Ayahmu kalau kau sudah melakukan terobosan?"
"Kau mengetahui kalau aku telah melepaskan totokanmu? " Kata Funuell terheran.
"Tentu saja. Kau kan sudah melakukan Terobosan Tingkat Atas jadi tidaklah sukar melepaskan totokan yang masih kecil itu. " Posisi Ragil masih dalam sikap bersemedi.
Tiba-tiba Ragil merasakan ada sesuatu yang tidak beres. tubuhnya terasa semakin menggigil. Dia merasa heran dan terus menyalurkan energinya. Di pikirnya pasti karena efek dari penyembuhan tubuh Funuell.
Semakin dirasakan serangan dingin ini bukan dari dalam tapi dari luar tubuh. Yang artinya bukan serangan dari alam jiwa.
Dia mencoba membuka matanya. Hal yang di lihatnya saat membuka kelopak matanya, begitu mengejutkan dirinya. Disekitar dirinya sudah ada butiran es. Bahkan disekitar tubuhnya juga terdapat salju. Yang lebih mengerikan lagi sebuah pedang es di lehernya.
"Hei... Funuell? Apa yang kau lakukan?" Ragil berusaha menenangkan Gadis yang masih marah itu.
Kini dirinya dalam kondisi berbahaya. Kini dia baru menyadari kalau dalam lingkaran kecil di area ini dapat melakukan sihir. Berarti Funuell juga dapat melakukan sihir.
"Apakah kau pikir semua wanita akan diam saja setelah di hina olehmu sekalipun kau telah menyembuhkan aku." Ucap Funuell dingin.
"Hei... Hei... Tenang..." Ragil kini merasa tidak berdaya. "Aku hanya bercanda tadi. Kau lihat. Aku tidak melakukan hal yang buruk padamu."
"Aku tahu. Kau hanya mengucapkan perkataan menghina dan merendahkan diriku. Apa kau pikir semua wanita akan diam saja jika di rendahkan seperti itu? Kau pikir kau tidak melakukan hal yang buruk. Akibat penghinaan mu membuat aku melukai bibirku sendiri dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk membunuh mu." Funuell menunjukkan Bibir nya yang masih berdarah di tunjukkan nya kepada Ragil.
Ragil kini kena batu nya. Niat awalnya hanya ingin mengerjai orang tapi kini kena akibatnya.
"Tapi... Aku telah menyembuhkanmu dan membuatmu dapat naik peringkat."
"Untuk itu aku mengucapkan terima kasih dan aku berjanji untuk menguburkan mu dengan layak atas kebaikan mu. Tapi untuk penghinaan mu tetap saja harus ku balas."
Ruangan itu semakin dingin dan tubuhnya semakin menggigil. Ragil kini benar-benar tidak berdaya. Dia menyalurkan energi cahaya nya agar darahnya tidak membeku.
Otaknya terus berputar berpikir bagaimana untuk menyelamatkan diri. Tangannya sudah tidak dapat di gerakkan karena menggigil.
Matanya melihat pedang es itu direntangkan agak jauh kemudian Dengan cepat pedang es itu menebas ke leher Ragil.
Ragil yang tidak sanggup melihat akan kematiannya sendiri langsung menutup mata dengan wajah meringis ketakutan dan pasrah.
Ragil masih dapat menarik napas panjang. Dia dapat merasakan kalau dirinya belum mati. Hidungnya masih bernafas. Perlahan matanya di buka.
Dia melihat wanita itu menutup mulutnya menahan tawa. Tangan yang satu nya sedang menahan perutnya yang tidak tahan terhadap goncangan tawa nya.
__ADS_1
Ragil baru menyadari kalau dirinya sedang di kerjai. Selama ini dia yang selalu mengerjai orang lain tapi kini dirinya di kerjai. Malunya bukan kepalang. Untung saja dirinya tidak sampai ngompol.
Akhirnya dirinya ikut tertawa geli akan kebodohannya sendiri. Betapa awalnya dirinya begitu takut.
Begitu melihat Ragil Tertawa, Funuell pun semakin tertawa lepas tanpa dapat menahan lagi. Bahkan sampai terpingkal-pingkal di lantai.
Biasanya Funuell sudah terdidik untuk tertawa sambil menutup mulutnya. Seorang wanita tidak boleh tertawa terbahak-bahak. itu sangat tidak sopan.
Tapi untuk yang satu ini, Funuell benar-benar melupakan semua tata Krama. Dia tidak tahan untuk mengontrol tawa nya. Jadi dia tertawa lepas tanpa memperdulikan jika itu hal memalukan.
"Oke ., Aku kena di kerjai... Bisa-bisa nya kau mengerjai ku membuat aku takut setengah mati sampai hampir ngompol." Ragil juga ikut tertawa terbahak-bahak.
Funuell tidak dapat berkata apapun. Dia terduduk di lantai. Kedua tangannya menahan perutnya untuk menahan sakit karena tertawa.
"Maaf.,. Hihi..Maafkan aku... hihi..Tuan Ragil..." Funuell berusaha berbicara tapi rasa geli nya mengingat wajah meringis Ragil saat ketakutan membuat dia tidak tahan untuk tertawa.
"Suatu hari aku akan membalasmu." Ucap Ragil sambil tertawa.
"Maafkan Aku. Entah kenapa saat itu aku begitu ingin membalas mengerjai mu" Funuell mulai mengatur pernafasannya. "Mungkin karena kau terlebih dahulu mengerjai ku. Funuell kemudian berlutut di depan Ragil. "Saya Funuell meminta maaf sebesar-besarnya dan mengucapkan terima kasih sedalam-dalam nya kepada Tuan. Seandainya di masa depan ada yang bisa saya lakukan untuk membantu Tuan , katakan saja maka aku akan berusaha membantu. Budi baik ini tidak akan kulupakan."
Ragil ikut menunduk dan mendekati wajahnya di hadapan wanita itu sehingga nafas Ragil terdengar. "Jadi .. kau tidak ingin membunuhku."
"Kau tidak ingin melihat aku ngompol?"
"Mohon jangan dilanjutkan." Funuell menunduk sambil menahan tawa.
"Apakah kau percaya padaku?"
"Tentu saja aku percaya kepada Tuan."
"Aku akan melakukan sesuatu di perutmu. Jika aku meraba perutmu apakah aku di ijinkan?"
"Silahkan Tuan lakukan yang baik menurut Tuan." Ucapnya tanpa ragu. Bagi Funuell, apa yang telah di buat Ragil adalah hal yang luar biasa yang tidak dapat dilakukan oleh ayahnya. Bagaimana mungkin dia kini meragukan nya.
"Apakah kau tidak bertanya untuk apa aku memegang perutmu. Apakah kau tidak takut aku memanfaatkan mu."
"Jika itu yang tuan inginkan maka sudah Tuan lakukan sejak awal. Tapi tidak tuan lakukan. "
"Baiklah. Jangan salahkan aku jika aku melakukan hal yang buruk oleh otak mesum ku seperti perkataan tunangan mu."
__ADS_1
"Tentu saja aku percaya kepada perkataan Tuan. Seandainya hal yang buruk tuan lakukan kepada ku yang akan mempermalukan aku maka aku percaya Tuan akan meminta ayahku untuk menikahi tuan selanjutnya aku tinggal satu atap dengan orang yang paling ku benci." Funuell membalikkan kata-kata yang pernah di ucapkan Ragil.
"Hahh? Dasar gadis nakal. Beraninya kau membalas ku." Sebelum Funuell berkata-kata, tangan Ragil sudah berada di perutnya.
Tangan Ragil kemudian mengeluarkan cahaya. Perut Funuell awalnya terasa sakit. Bahkan hampir mengeluarkan air mata untuk menahan rasa sakitnya. Sakitnya seperti di lilit.
"Aggghh...." Funuell menahan sakit.
"Tahan sebentar." Desahan suara Ragil terdengar sayup. "Kalau ingin membalas ku nanti, pasti tidak akan ku lawan. Tapi sekarang tahan dulu rasa sakitnya."
Awalnya memang terasa nyeri di perut. Tapi tidak lama kemudian dia merasakan rasa sakit di perutnya menghilang perlahan. Lalu dia merasakan kehangatan di perutnya. Efeknya sungguh luar biasa. Pusaran energi di perutnya kini semakin besar dan perutnya terasa nyaman. Entah apa yang telah dilakukan Pemuda ini.
Alhasil dia merasakan akan masuk dalam periode kebangkitan lagi. Artinya akan menerobos untuk naik tingkat.
Ternyata Ragil telah memperbesar saluran Kapasitas di pusaran perutnya. Ini mengakibatkan Aura Sihirnya akan dapat semakin besar di keluarkan.
Jika saja tadi dia bergerak atau berniat untuk memukul pemuda yang telah membuatnya menangis tadi maka dirinya tidak akan mengalami terobosan lagi. Sungguh kerugian yang sangat besar.
Akhirnya Aura di tubuh nya masih terus meningkat. Dia melakukan terobosan lagi mencapai Level A Tahap Awal atau Tingkat Mahir di Tahap Awal.
"Aku masuk tingkat mahir. " gumamnya dalam hati kegirangan.
Ternyata Pemuda ini tidaklah sejahat yang dipikirkan kepalanya. Bahkan semua perkataan jahatnya hanya memanas-manasi dirinya. Jika saja kesombongan dan ke egoisan Funuell meninggi maka dia tidak akan mencapai tingkat ini hanya dalam waktu singkat.
"Kau sudah boleh bergerak sekarang. Aku hanya membuka sumbatan kapasitas di perutmu. Pencapaianmu sudah selesai. " Ucap Ragil sambil kembali ke dipan lalu bersemedi. "Aku istirahat sebentar."
"Apakah ada yang bisa ku bantu Tuan.?" Funuell yang sangat senang ini mau menawarkan jika ada yang dapat membantunya. "Apakah Tuan ingin agar aku menyalurkan energi murni ke tubuh tuan untuk dapat mengembalikan tenaga."
"Tidak perlu. Sekarang kau boleh pergi. Ayahmu pasti senang dengan prestasi yang kau dapatkan"
Funuell tidak beranjak pergi untuk menyampaikan berita bahagia kepada ayahnya, tapi malah tetap berlutut di hadapan Ragil.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak pergi? Apakah kau tidak senang dengan keadaanmu sekarang? "
"Saya Funuell merasa menyesal pernah memiliki pikiran buruk kepada Tuan. Padahal Tuan dengan rela menolong saya tanpa pamrih. Entah bagaimana saya bisa membalas kebaikan Tuan. "
"Tanpa Pamrih? " Ragil membuka matanya, kemudian berdiri. "Aku akan menagih tagihan yang sangat besar kepada ayahmu kalau tidak maka aku akan mengganggumu terus. Aku akan menggerayangi mu terus. " Kemudian dia kembali ke semedi nya lagi.
Funuell malah menunduk menahan tawa nya melihat tingkah pemuda yang menganggap dirinya penjahat. Seperti anak-anak yang sedang bermain tokoh jahat.
__ADS_1
"Kenapa tertawa? Aku punya tiga hal yang harus kau dengarkan. Dua hal pertama haruslah kau lakukan dan tidak boleh tidak. Lalu satu hal terakhir tidak usah kau lakukan jika kau tidak mau. Itu adalah bayaran yang harus kau lakukan atas kerja kerasku selain tagihan kepada ayahmu.. "