Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 22. Pertarungan Murid Yakove ke 2


__ADS_3

Di tempat lain. Di puncak bukit, Tamave sedang berhadapan dengan Arbakir yang sudah bermutasi menjadi tubuh hitamnya.


Array Ice Spell


Tamave si kumis tipis itu membuat Array dengan pedangnya di udara. Seolah pedangnya itu sebuah alat tulis. Setelah selesai menulis Array, munculah beberapa bongkahan es di sekeliling tubuhnya. Kemudian bongkahan es itu menyerang Arbakir Hitam.


Arbakir terus berjalan mendekati Tamave tanpa memperdulikan serangan es nya. Bongkahan es itu mengenai tubuh Arbakir seperti kerikil saja. Tidak ada efeknya bagi tubuh kuat Arbaki.


Array Fire Spell


Tamave membuat goresan lagi di udara dengan pedangnya membuat Array di udara sehingga muncul api di pedangnya lalu menyerang Arbakir lagi. Api itu menyembur dari pedangnya ke arah Arbakir.


Sekali lagi orang suku naga itu menerima serangan itu sambil berjalan. Api itu membungkus tubuh hitam. Kini Tubuh itu sudah ter selimuti keseluruhan dengan api. Sepertinya Arbakir terbakar hebat.


Api di tubuh hitam itu mulai memudar hingga terlihat tubuh hitam itu mulai berasap. tubuh hitam itu seperti di olesi oleh minyak hingga terlihat sangat mengkilat. Tapi tidak ada bau daging terbakar atau kulit yang terbakar.


Arbakir yang memang sengaja menerima semua serangan itu hanya mau mencoba tubuh baru nya itu. Dia semakin yakin kalau tubuh nya kebal terhadap serangan apapun.


Tamave menjadi panik menghadapi lawan yang tidak mempan dengan berbagai elemen. Dicobanya membuat Array angin untuk menyerang. Sekali lagi tubuh Arbakir menerima semua sayatan pedang angin tanpa dapat menggores kulitnya.


"Ikut aku secara baik-baik kepada Tuanku maka aku tidak akan menyakitimu."


"Hahahah... Kau itu hanya badak besar tapi tidak memiliki kecepatan. Bagaimana mungkin bisa menyerangku. Aku bisa terus menyerang mu sambil melangkah mundur. Apa yang bisa kau lakukan badak hitam." Tamave menyerang dari jarak jauh lagi dengan serangan pasirnya yang dapat membutakan mata.


Array Sand Spell.


Sekali serangan yang seperti ribuan jarum itu di terima. Arbakir hanya menutupi kedua matanya.


"Tuanku mengatakan ini sebuah tipuan tapi sebenarnya aku tidak ingin menipumu." Arbakir menutup matanya dari serangan badai pasir.


"Tipuan? Apa maksudmu?"


Belum lagi Tamave melakukan serangan elemen lainnya, tiba-tiba di punggungnya di serang oleh kaki burung raksasa.


Itu adalah Wyvern yang telah di Summon sebelumnya oleh Arbakir.


Tamave mau tak mau terjerat oleh cengkraman kaki Wyvern laku meluncur ke arah Arbakir. Dalam satu kali tinjunya Arbakir membuat Tamave tidak berkutik.


Rupanya ini yang dimaksud dengan serangan tipuan. Arbakir belajar dari cara Binoang yang melakukan tipuan menggunakan batu yang menyerupai wajahnya.


Dia lalu bertanya kepada Ragil, mengapa cara licik itu boleh di gunakan dalam pertarungan. Itu sangat tidak jantan.


Ragil mengatakan bahwa itu adalah strategi pertarungan melakukan gerakan tipuan yang membuat lawan tidak menyadari nya. Pertarungan bukan hanya beradu kekuatan Sihir atau Otot belaka tapi juga menggunakan otak.

__ADS_1


Sebuah jarum melesat ke tubuh pria berkumis tipis di saat tubuhnya sedang kesakitan.


Burung Wyvern kemudian lenyap di panggil kembali oleh Tuannya.


"Curang... Kau menyerang dari belakang." Tamave yang telah lemas mengumpat. "Kau juga menggunakan senjata rahasia beracun."


"Aku juga tidak menyukai seperti ini. Tapi kata Tuanku, ini adalah strategi pertarungan. Bukan yang kuat yang menang tapi yang lebih pintar lah yang menang. Lagi pula aku harus membawamu dalam keadaan hidup." Arbakir memanggul tubuh Tamave. "Secara kekuatan kau pasti kalah dengan ku. Tapi kau cukup pintar terus menjaga jarak denganku sehingga sulit untuk memukulmu. Jadi Aku juga tidak boleh kalah pintar denganmu."


Demikianlah Arbakir memenangkan pertarungan.


Di bawah bukit juga telah terjadi pertarungan paling lama dari dua pertarungan sebelumnya. Pertarungan antara Tagave murid ke tiga Yakove dan cucu Puterinya Yakove melawan tiga anak buah Binoang, Shagarr, Gumoo dan Khakii.


Si gondrong berdiri dari atas udara dengan berpijak Array buatannya. Tangannya di gerakkan berputar seperti aliran yin yang. Itu adalah sebuah Array yang di buat dalam lingkaran.


Lingkaran itu mengeluarkan bongkahan es seperti buatan Tamave.


Bongkahan es itu menyerang Gumoo yang bersenjatakan tombak. Dengan tombaknya dia memutar-mutar menjadi perisai besar. Sehingga bongkahan es itu pecah berantakan.


"Apakah cuman ini kemampuanmu?" Ejek Gumoo. "Sekarang giliran ku."


Awalnya Pemuda gondrong ini tertawa meremehkan. Tombak hanya sepanjang dua meter begitu mana mungkin dapat menjangkau dirinya yang jauhnya lima belas meter. Jadi pemuda ini akan membuat Array selanjutnya untuk menyerang lagi.


Belum lagi mantra nya selesai, tombak milik Gumoo sudah mendekati dirinya. Ujung tombak itu tepat di depan hidungnya..


Tombak Gumoo kini sudah sepanjang lima belas meter. Ini sama sekali di luar dugaan pemuda ini.


"Rapalan Array mu terlalu lama." Balas Gumoo. "Rasakan ini."


Tombak milik Gomoo semakin memanjang mendesak lawan. Berputar-putar menimbulkan bunyi suara angin terbelah.


"Zwuingg... Zwuingg... Zwuingg..."


Tombak itu mengecil lalu memanjang lagi.


Si gondrong terus terdesak. Sebelum dia melompat mundur, ditekannya kaki kanannya diatas tanah sambil mengeluarkan kalimat rapalan. Kedua tangannya membuat lingkaran Array lagi. Sebelum kalimat mantra selesai, tombak Gumoo memanjang lagi ke arah badannya.


Kali ini si pemuda lompat ke belakang salto dua kali di udara dan mendarat di Array kaki nya yang sedang mengambang di udara.


Gumoo bermaksud untuk terus mengejar, tapi di urungkan niatnya. Secara reflek Gumoo melompat mundur.


Pasalnya di bekas pijakan si Gondrong telah di pasang Array jebakan yang tiba-tiba bersinar ketika di picu oleh injakan kaki Gumoo.


Begitu kaki Gumoo menginjak Array jebakan, dia langsung menyadari bahaya mengancam. Dengan sigap tombaknya di tusukan ke tanah lalu memanjangkan tongkat itu.

__ADS_1


Array yang mengeluarkan cahaya itu memuntahkan api besar dari tanah ke udara.


Untung saja Gumoo sudah menyadari nya dan dengan cepat menghindar. Tongkatnya yang menusuk tanah memanjang sehingga Gumoo terbawa mundur oleh tongkatnya. Dia selamat dari jebakan yang dibuat murid Yakove itu. Hanya tongkatnya saja terkena Sambaran api.


"Hahaha.... Rasakan itu." Teriak Tagave yang masih berdiri di udara. "Ayo kesini kejar aku."


"Kau pikir aku tidak dapat mengejar mu karena kau berada di udara."


Gumoo mengecilkan tongkatnya lalu ujung tombaknya di tusuk di bawah kakinya. Kemudian tongkatnya memanjang dengan cepat demikian juga tubuh Gumoo terbawa oleh tombaknya yang memanjang sehingga terlihat dia mengudara mengejar Tagave.


Gumoo melakukan lompatan berputar di udara dan tombaknya mengecil lagi. Lalu tiba tiba tombaknya memanjang lagi tapi ke arah Tagave.


Kali ini Tagave hendak menangkis serangan tombak itu, tapi sebelum di tangkisnya, matanya terbelalak kaget karena ujung tombak Gumoo sudah ada puluhan mata tombak dan entah yang mana mata tombak yang asli.


Dawave sudah tidak bisa menghindar. Cara satu-satunya adalah dengan membuat Array perisai sebagai pertahanan.


Tapi siapa sangka dalam waktu yang cepat salah satu ujung tombak mengeluarkan cahaya hijau.


Cahaya hijau itu menabrak Perisai Array buatan Tagave yang masih setengah jadi. Spontan perisai itu pecah di tabrak cahaya hijau dan langsung mengenai dada si gondrong.


Karena kehilangan keseimbangan, Dawave pun terjatuh dari udara.


Disana sudah ada Khakii yang menyerang dengan jarum Pelemas otot.


Setelah melihat tubuh Dawave sudah tidak berdaya, Kemudian matanya tertuju pada pertarungan antara Gadis kecil dengan Shagarr, tidak kalah serunya.


Ratusan kertas sihir berputar-putat di udara seperti ular terbang menyerang Shagarr. Tapi Shagarr tidak kewalahan menghadapi lawannya ini.


Shagarr melempar kedua perisai bulatnya yang berdiameter lima puluh centimeter ini ke arah kumpulan kertas yang menyerangnya.


Perisai bulat itu juga terbang bagaikan hidup. Riba-tiba di sekeliling perisai bulat itu mengeluarkan pisau tajam. Perisai itu merobek-robek kertas sihir di udara begitu mudah seperti menggunting kertas.


Kertas-kertas itu kemudian mengeluarkan api seperti terbakar hingga terlihat seperti naga api melakukan tarian di udara.


Perisai bulat itu terbang menerjang masuk ke mulut naga api merobek membuyarkan kumpulan kertas.


Meskipun pertarungan antara naga api dan perisai bulat terjadi di udara, namun cucu Yakove ini mengeluarkan darah segar di mulutnya. Ternyata benturan keras dua kekuatan di udara mempengaruhi si pemilik sihir. Kekalahan akan mengakibatkan serangan didalam tubuh.


Khakii yang sejak awal hanya sebagai penonton kemudian melepaskan jarum Pelemas otot. Sebagaimana telah di intruksikan sejak semula, jika keadaan lawan mulai lemah maka lepaskan jarum pelemah otot yang diberikan Ragil.


Gadis itu menyadari jika ada serangan pengecut dari belakang, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak cepat menghindar karena masih ada tekanan dari serangan Shagarr. Dua jarum telah menusuk punggungnya.


Akhirnya si Gadis dan si Gondrong terkulai lemas tidak berkutik. Khakii memasukan kedua musuhnya itu ke dalam gerobak.

__ADS_1


__ADS_2