Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 73. Perpisahan... 1


__ADS_3

Funuell memang masih di kamar Ragil. Saat ini dia sedang berdiri mengancingkan baju nya.


Ragil masih ditempat tidur dengan telanjang dada. Matanya menatap langit langit kosong. Wajahnya terlihat sedih dan penuh penyesalan.


"Adikku. Apa yang kau pikirkan." Funuell memegang pipi Ragil.


"Aku merasa bersalah kepada Paniell, Ayahmu. Aku gagal menjagamu, Justru aku..."


"Jangan diteruskan." Tangan Funuell yang mungil menutup bibir Ragil agar tidak melanjutkan kalimatnya. "Ini keinginanku dan aku tidak menyesalinya kau menjadi pria pertamaku."


"Aku akan bertanggung jawab dan akan menikahimu." Ragil mengangkat punggungnya sampai terduduk.


"Menikah? Aku belum memikirkannya dan masih belum mau menikah." Funuell duduk di samping Ragil dan membelai pipinya. "Sebaiknya janganlah terlalu dipikirkan. Lupakanlah. Anggap saja tidak terjadi apapun. Lagi pula kita berdua kakak beradik masakan akan menikah. Bukankah itu tidak pantas "


Kali ini Ragil terbelalak. Apakah ada yang salah dengan pikiran gadis ini. Belum lagi menguasai jurus ke tujuh tapi otaknya sudah koslet.


Bagaimana seorang wanita terhormat dan gadis baik baik bisa bicara seperti itu. Apakah Orpahh telah mempengaruhi cara berpikirnya. Dimana keanggunan Puteri peracik obat? Dimana ke angkuhan gadis cantik putih mulus? Dimana kelembutan dan kesopanan seorang Funuell? Apakah semua itu lenyap hanya karena Jurus Inti Es.


Dimana mana pihak wanita yang akan bersedih dan menuntut pertanggung jawaban dari sang pria. Ini terbalik. Bahkan Funuell menganggap itu bukan apa apa.


"Sewaktu kau mengatakan bahwa kau senang aku menjadi pria pertama mu apakah itu benar." Ragil penasaran.


"Tentu saja."


"Apakah itu akan berarti akan ada pria ke dua dan ke tiga.?"


"Tidak. Tidak ada dalam pikiranku untuk mencari pria ke dua atau ke tiga sekalipun aku tidak bisa menguasai jurus ke tujuh. Biarkan aku menjadi wanita murahan di matamu tapi tidak di mata orang lain. Hatiku tetap setia kepadamu."


Ragil semakin di buatnya bingung. Tidak ingin menikah. Tidak ada pria ke dua. Tetap setia. Hubungan adik kakak. Kata kata itu membuat dirinya semakin bingung. Kesetiaan seperti apakah yang dimaksudkan.


Funuell yang melihat kebingungan Ragil itu segera memeluknya dan memberikan sebuah kecupan. "Adikku. Janganlah terlalu di pikirkan. Kau adalah kekasihku, Adikku, Sahabat ku, Penolongku, dan juga Tuanku. Kakakmu ini tidak gila. Anggap saja kakakmu ini adalah rekan penjahatmu yang akan melakukan sekehendak hatinya. " Funuell memegang ke dua pipi Ragil lalu menekannya sehingga terlihat mulut monyong kedepan. "Kakakmu juga tidak akan cemburu kalau kau mengejar Naery Sarr. Aku tahu kalau kau menyukainya. Hanya satu pinta kakak. Tetaplah kau menjadi Ragil yang ku kenal dan jangan pernah berubah dan jangan pernah mencampakkan kakakmu ini."


"Kakak. Aku senang kalau kakak dapat mencapai Jurus Ke Tujuh. Jika masih belum mencapainya dan ingin mencari pria lainpun Aku tidak bisa melarang mu karena itu adalah ambisi kakak. Meskipun hatiku keberatan. Namun ada satu hal yang harus aku ceritakan jika Kakak mencapai Jurus ke tujuh..."

__ADS_1


Kemudian Ragil menceritakan apa yang akan terjadi sesuai dengan cerita Dupp tentang barserker yang di alaminya dan keinginan bertarung yang kuat. Yang dapat membuat orang lain kehilangan nyawa.


Sementara itu Naery Sarr telah selesai berlatih. Dia sudah mengenakan Jaket Putihnya. Semua pakaian yang diberikan Binoang dan Ragil diletakkan begitu saja di dipan tanpa dilipat. Apa lagi di cuci.


Sarr keluar dari goa. Diluar matahari masih belum menampakkan dirinya. Binoang dan Agroo ada disana.


"Katakan pada Ragil. Aku menunggu di atas bukit." Ucapnya kepada Binoang.


Setelah itu gadis berambut pendek ini melompat dari tebing demi tebing sampai ke atas. Lalu dia berlari menjauh dari lembah itu menuju ke area pegunungan.


Sesampainya di suatu tempat, Sarr menghampiri timbunan ranting. Dibuangnya satu persatu ranting itu. Ternyata di dalamnya ada pesawat kecil yang digunakan saat datang ke tempat ini. Pesawat itu di bungkus oleh timbunan ranting untuk mengelabui mata orang yang kebetulan lewat disitu.


Sarr memeriksa semua perlengkapan pesawat itu dari bahan bakar sampai mesin. Kemudian dia memanaskan mesinnya.


Tidak lama kemudian datanglah Funuell yang menggendong Ragil. Mereka melayang di udara oleh hempasan angin.


Mereka mendarat dengan mulus. Kemampuan Funuell terlihat berbeda di bandingkan sebelumnya. Kini dia lebih halus gerakannya tidak seperti sebelumnya masih kasar.


"Kau sudah berada di tingkat Dewa?." Ragil bertanya.


"Hmmm... pantas saja...." Ragil tidak meneruskan kalimatnya.


Jadi karena sudah tingkat Dewa maka Funuell datang ke kamarnya semalam. Itu yang dipikirkan Ragil.


"Jangan kau pikir yang macam macam dik." Funuell berbisik sambil melotot. "Kau pergi ke sarang musuh dan tidak tahu apakah masih bisa kembali kepadaku atau tidak. Seandainya kau tewas disana maka hari ini adalah hari terakhir kita dan aku berjanji akan membalas dendam untukmu. Itulah sebabnya aku tidak menyesali yang kulakukan semalam." Tersirat kesedihan dari garis mukanya.


"90% dia tidak akan selamat. Aku jamin " Sarr tidak mendengar bisikannya Funuell tapi dia menduga duga akan pembicaraan mereka.


"Sarr. Aku tahu kau bermusuhan dengan Ragil tapi permusuhan tanpa kebencian. Hanya kondisi yang membuat kalian bermusuhan. Kau hanya melakukan perintah sementara Ragil hanya menentang Valkirie. Jadi kau terseret kedalamnya." Funuell mendekat ke pesawat. "Seandainya Ragil kembali kepadaku dengan selamat maka aku akan memperkenalkan kau dengan Dewa Racun yang menjadi musuh bebuyutan ayahku dan juga sahabat baiknya."


"Musuh Dan sahabat?" Baru kali ini Sarr mendengar istilah itu


"Yah. Seorang Pahlawan tidak akan dikatakan pahlawan jika tidak ada penjahat. Demikian juga seorang Dewa Obat tidak akan dikatakan Dewa jika dia tidak bisa menyembuhkan semua penyakit dan racun. Dan musuh ayahku adalah Dewa Racun. Salinan buku racun yang kuberikan kepadamu adalah dari dia. Itu hanya racun tingkat dasar." Funuell tampak serius. "Ayahku sebagai musuh saat bertanding dalam hal obat dan racun. Tapi mereka adalah teman bermain catur. Seperti kau dan Ragil sebagai musuh tapi bisa bekerja sama."

__ADS_1


"Semoga saja aku bisa belajar Racun lebih banyak." Sarr menatap Funuell yang dianggapnya sebagai teman sementara yang memiliki kekasih akan mati oleh Valkirie.. "Tapi Aku harus katakan dengan serius Aku tidak yakin Ragil bisa kembali dengan selamat. Ada baiknya kau memberikan ucapan selamat tinggal."


"Aku Percaya kepadanya. Dia banyak memberikan kejutan kepada banyak orang dan menghancurkan setiap prediksi orang orang yang menganggap dirinya pintar.'" Mata Funuell saling bertatapan dengan Ragil.


"Sejak kapan Naery Sarr tertarik dengan racun." Ucap Ragil. Meskipun dia tahu kalau Sarr mengolesi pisaunya dengan racun tapi bukan berarti dia pecinta racun


"Sudahlah .. Cepatlah. Kita harus berangkat." Ucap Sarr tanpa menjawab pertanyaan Ragil.


Funuell meletakkan Ragil secara perlahan di tempat duduk belakang.


"Hei, Kakak. Apakah kau merasakan sesuatu? Aku merasakan aura sihir yang begitu tipis hingga seperti tidak ada aura." Soul Watcher Ragil belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.


"Dimana?" Tanya Funuell.


"Dibalik pohon itu. Tapi aku masih belum yakin wujudnya. Apakah menurutmu capung memiliki aura sihir?"


Jurus ke dua : Angin


Funuell melancarkan serangan ke arah yang di tunjuk Ragil. Dia percaya penuh atas semua kecurigaan Ragil. Sekalipun hanya semut pasti akan mati kedinginan oleh jurusnya itu.


"Hei. Siapa yang kalian ingin bunuh." Suara Dupp terdengar.


Dupp, Arch, Hammerdat dan Arbakir muncul bersamaan. Mereka semuanya terbang di udara.


Ragil tidak akan kaget jika melihat Dupp terbang. Hammerdat dan Arbakir memiiki sayap untuk terbang. Tapi melihat Arch bisa terbang ini yang mengherankan. Juga ada rasa iri di hatinya.


Kedua kaki Arch mengeluarkan Api membuat tubuhnya dapat terangkat. Ini seperti rocket. Hanya saja Arch dapat mengatur agar dirinya juga bisa berdiam di udara. Dia mengatur api yang akan dikeluarkan dari kakinya. Jika dia akan meluncur terbang maka api yang di keluarkan akan lebih besar.


"Hebat kau Arch." Puji Ragil dengan Jujur.


"Dupp pernah memberitahu katanya ada seorang wanita yang bisa terbang dengan menggunakan dorongan api di kakinya. Jadi Dupp mengajariku " Arch tertawa senang.


"Wanita itu juga memiliki suami yang juga mempunyai kekuatan petir dan mereka mempunyai seorang anak laki-laki. Mereka semua adalah keluarga perampok. Tapi mereka semua telah mati." Sarr mengatakan begitu saja.

__ADS_1


"Apa. Apakah mereka itu orang tua dari Arch, Dupp?" Ragil menatap Pria setengah baya itu. "Itulah sebabnya kau mengajari nya kemampuan terbang itu?"


"Hahahah... Seperti yang dikatakan Sarr kalau keluarga itu sudah binasa bersama anaknya. Tapi sekarang tidak perlu membahas soal itu. Bukankah kau akan berangkat Ragil. Kami disini hanya mengucapkan selamat tinggal. Semoga kita bertemu bukan sebagai musuh." Ucap Dupp menyeringai.


__ADS_2