
Naery Sarr berbalik badan menatap lawan bicaranya. Sejak awal dia tidak memandang muka sama sekali. Begitu mendengar tawaran bertukar membuat hatinya tertarik.
"Kau adalah seorang tabib berarti tahu sedikit tentang racun. Aku ingin informasi mengenai racun. Jika informasimu tentang racun ku anggap layak maka aku akan menceritakan tentang Ragil."
"Racun? Hihihi..." Funuell menyunggingkan lesung pipinya. "Aku bukan hanya tahu sedikit tentang racun tapi banyak. Aku menyembuhkan orang orang yang keracunan dari racun ringan sampai racun mematikan. Aku juga bisa meminjamkan buku tentang racun kalau itu yang kau mau. Jarum racun militer itu bukanlah apa apa di bandingkan dengan racunku." Funuell semangat.
Akhirnya Funuell dan Sarr tenggelam pembicaraan lebih dalam. Funuell juga mengeluarkan dua buah buku racun yang selalu dibawanya kemanapun. Mereka berdua pun sudah tidak memperdulikan pidato si Jubah Hitam. Seolah pembicaraan mereka adalah lebih penting dari pidato itu.
Rupanya Sarr juga tertarik dengan racun yang di relomendasikan. Selanjutnya Sarr pun mulai menceritakan tentang pertemuannya dengan Ragil di dalam akademi Militer, pertempuran di Ulgar, pertemuannya dengan mahkluk hitam yang saat itu di duga adalah Raja Kegelapan. Juga pertemuannya di didalam hutan karena tugas yang diterimanya. Bahkan tentang Take n Gift dengan Arbakir. Mereka begitu kusujk hingga terlihat seperti dua orang sahabat sedang curhat.
Orbrolan mereka sangat asik hingga tidak terasa waktu berlalu sampai Pidato Jubah Hitampun berakhir.
Sebagian tamu ada yang mendukung dan yang lainnya tidak begitu perduli dengan usul persatuan para petualang.
Dengan semangat mahkluk hitam itu menyampaikan pentingnya sebuah persatuan.
"Tiga puluh hari dari sekarang, kami mengundang semua Para Petualang untuk bergabung. Anak buah Binoang juga akan memasang undangan di seluruh Guild Kerajaan."
"Apakah kami bisa mendapatkan senjata berwarna hitam yang dapat membesar." Ucap seorang tamu yang juga mengagetkan tamu lainnya.
"Ini juga akan kita bahas dalam pertemuan selanjutnya."
"Kau berbicara seperti seorang kawakan. Sedangkan kami tidak mengenalmu dan juga sepak terjangmu tidak pernah kami dengar." Salah seorang tamu dengan rambut berwarna hijau menyela. "Bahkan Ragil pun hanya kami dengar belakangan ini saat melawan Militer."
"Betul sepak terjang kami tidak banyak. Tapi tidak ada kerajaan manapun yang berhasil membuat Militer mundur selain dari pihak kami." Jawab si jubah hitam.
"Kita tidak akan bisa saling mengerti satu sama lain tanpa mengadu kekuatan sihir masing masing." Seorang pria dengan baju kancing terbuka berteriak.
"Coba sambut seranganku." Pria berambut hijau melompat menyerang si jubah hitam.
Green Tree
__ADS_1
Tangan dari si rambut hijau mengeluarkan batang pohon yang ujungnya runcing. Ternyata Pria ini berelemen kayu.
Si Jubah Hitam tetap diam dan tenang tidak terlihat melakukan persiapan untuk serangan balik. Seolah serangan itu tidak membahayakan dirinya.
Begitu batang pohon itu mendekat langsung ditangkap oleh tangan hitam. Dari tangan hitam itu menjalar lendir ke seluruh batang. Setiap lendir yang menjalar menghambat pergerakan batang pohon.
Merasa sihirnya di hambat. Penyihir elemen kayu itu mengeluarkan cabang baru dari batang pohon yang belum terkena lendir hitam. Beberapa cabang baru yang diciptakan itu langsung menyerang si Jubah Hitam. Tapi lendir itu terus menjalar menutupi keseluruhan batang dan cabang. Setiap lendir yang menutupi batang maka batang itu tidak bisa lagi memanjang.
Si Rambut hijau melompat mundur melepaskan batang pohon ciptaannya. Tapi si Jubah Hitam melempar kan sesuatu seperti bola pimpong ke arah lawannya.
Tentu saja si rambut hijau menangkis dengan sebuah batang pohon baru. Beradunya sebuah batang dan lendir membuat lendir itu muncrat kesana kemari. Tapi sebagian besar mengenai tubuh si rambut hijau.
Lendir itu di tubuh si rambut hijau, membesar dengan cepat. Hanya dalam sekejap lendir itu sudah menutupi seluruh tubuh si kepala hijau. Si Kepala hijau berusaha meronta dari perangkap lendir hitam itu. Tapi semakin meronta justru lendir itu semakin memadat dan mengeras. Hingga semua tubuh kecil itu sudah di bungkus oleh lendir hitam. Kecuali kepalanya. Lendir itu berubah keras dan padat membuat si rambut hijau jatuh ke tanah tanpa berkutik.
Jubah Hitam sengaja tidak menaruh tangan kejam membunuh penyerangnya. Kejadian seperti ini sudah sering terjadi di kalangan para penyihir. Mereka hanya saling menguji kemampuan sihir masing masing.
Si Rambut Hijau juga menyadari kalau lawannya bukanlah tandingannya meskipun mereka berada di tingkat yang sama, sama sama tingkat Atas, hanya dalam dua gerakan dirinya sudah di buat tidak berdaya.
"Tidak. Batu ini sangat keras. Semakin aku bergerak maka batu ini semakin mengeras." Jawab si rambut hijau.
"Lendir yang mengeras menjadi batu itu adalah sihir ciptaanku yang disebut Black Blood." Ucap si Jubah Hitam. "Dalam tiga puluh menit baru batu itu menguap menjadi asab hitam. Jika kau seorang penyihir tingkat Akhir maka membutuhkan waktu 20 menit untuk menghancurkan batu itu. Kalau kau di tingkat Dewa maka bisa 5 menit saja. Seandainya kau tingkat Maha Dewa akan sebentar saja bisa menghancurkannya. Tapi kau sepertinya baru tingkat Atas.
Pria yang tanpa kancing itu maju kedepan dan tangannya memegang ke tanah.
"Lepaskan adikku." Bentaknya.
Dari dalam tanah muncul beberapa batang pohon merayap seperti ular hendak menyerang Si Jubah Hitam. Puluhan batang pohon ini keluar dari lalu kemudian masuk lagi kedalam tanah. Berikutnya keluar lagi. Ini mengingatkan Ikan terbang yang suka melompat terbang kemudian tenggelam lagi.
Si Jubah hitam juga melakukan hal yang sama. Dia memegang tanah dan mengeluarkan Black Blood nya dalam bentuk seperti batang pohon lawannya. Masuk ke dalam tanah lalu keluar menerjang setiap batang pohon yang datang.
Setiap batang pohon yang terkena Black Blood langsung hancur seperti terkena bor raksasa. Dari dua sihir ciptaan ini jelas Black Blood lebih unggul. Begitu cepat menjalar sampai tiba tangan orang yang mengeluarkan batang pohon itu. Begitu menyentuh tangan lawan, Blackblood berubah menjadi cair. Seandainya Jubah Hitam ingin membunuhnya pasti dengan mudah di lakukan.
__ADS_1
Kini pria yang tak menggunakan kancing sudah di selimuti oleh batu yang keras. Hanya satu gerakan saja dirinya menjadi sama seperti adiknya juga yang terkurung dalam batu.
"Pertunjukan menarik... Sungguh menarik. Satu elemen unik dan satunya elemen khusus." Seorang kakek menggunakan tongkat keluar dari para tamu dengan jalan tertatih. Seolah orang tua ini sudah renta. "Manusia Jubah Hitam yang tidak dikenal ini hanya tingkat atas tapi dapat mengalahkan lawan di tingkat atas dan tingkat Mahir hanya dalam satu dua gerakan saja. Aku menjadi semakin tertarik. Jika tidak keberatan ijinkan Kakek renta ini mencoba kemampuan Blackblood mu."
Kakek tua ini juga sama sama ber elemen kayu. Melihat kedua adiknya di buat tidak berdaya maka dirinya hendak membalas agar tidak mempermalukan kakak beradik seperguruan ini.
Tongkat kayu yang di pegang nya kemudian menjadi hidup. Kepala tongkatnya yang berbentuk kepala ular mulai membesar dan memanjang menyerang Si Jubah Hitam.
Tongkat itu telah menjadi Ular raksasa yang tercipta dari batang pohon, hendak memakan Si Jubah Hitam.
Tubuh Tua renta pemilik dari ular itu sudah berada di punggung ular raksasa. Serangan ini dahsyat karena kaki si tua itu yang menyentuh punggung ular itu sebenarnya sedang menyalurkan tenaga yang besar agar serangannya juga besar
Sebuah cahaya kuning juga melesat dengan cepat.
"Dhuarrrkk.... " Kepala Ular raksasa itu pecah berkeping keping.
"Apakah tidak malu seorang senior tingkat Dewa hendak membuli tingkat Atas." Arch muncul dengan tangan kiri mengeluarkan uap panas bekas tembakan petirnya.
Rupanya Dupp sudah memberitahu ke Arch bahwa lawan Ragil kali ini berada di tingkat Dewa. Ragil juga berada dalam tekanan bahaya karena kakek tua itu menyalurkan energi besar kepada ular raksasa ciptaannya itu.
"Ternyata disini banyak orang tingkat rendah yang dapat mengatasi tingkat atas " Kakek tua itu tertawa. "Elemen Petir. Kau hanya di tingkat Mahir tapi dapat menghancurkan ularku. Sungguh bakat luar biasa."
Kakek tua itu memuji dengan jujur. Dia yang sudah tingkat dewa dan menyalurkan kekuatan besar begitu rupa masih saja dapat di kalahkan hanya dengan satu gerakan oleh seorang yang masih di tingkat mahir.
"Hei Elemen Petir. Bagaimana kalau kau yang menjadi lawanku." Seorang kakek pria gendut menggelinding keluar dari kerumunan para tamu.
"Hahh... Ternyata Si Gempal manusia karet ada disini. Biar aku yang menjadi lawanmu." Suara wanita dari udara muncul di barengi dengan aura dingin.
Funuell melangkah di atas butiran salju tapi tampak seperti terbang saja. Ditangannya telah ada Pedang Inti Es.
"Hei... Apakah engkau Puteri Tabib Paniell. Kini kau berada di tingkat Mahir bahkan menguasai pedang Inti es pula " Pria bulat itu tampak terkejut. "Aku tidak tahu kalau ada petualang Sihir dari golongan putih ada disini. Aku tidak akan macam-macam lagi. Dari pada aku tidak bisa berobat pada Tabib Paniell.
__ADS_1
Sebutan Golongan Putih adalah para penyihir yang selalu membuat kebaikan, suka menolong sesama. Juga ada yang suka membasmi kejahatan. Sedangkan sebutan golongan hitam ditujukan kepada penyihir yang sering melakukan kejahatan.