
"Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung."
"Jangan kuatir aku tidak tersinggung, hanya menjelaskan apa adanya. "
"Apakah mereka cantik-cantik. Apakah kau menutupi matamu juga." Funuell menjadi semakin berani. "Kalau kau tidak mau menjawab yah tidak apa-apa. "
"Mereka semua cantik-cantik dan berbadan bagus. Aku melihat semua tanpa harus menutupi mataku."
"Hah? Kenapa kepadaku kau harus menutupi matamu?"
"Kau adalah wanita yang lebih putih dan lebih mulus. Lekukan Tubuhmu begitu menggoda. Jadi akan sulit konsentrasi kalau aku tidak menutupi mataku "
Funuell memerah dan menahan tawa geli nya. Entah mengapa perkataan itu tidak membuatnya tersinggung "Kalau boleh kutahu, siapa wanita yang telah kau buatkan Array."
"Wanita pertama kubuatkan Array adalah Ratu Kerajaan Ulgar."
"Ratu Ulgar? Dia terkenal cantik dan kau tidak pakai penutup mata?"
"Dadanya memang sangat bagus. Tapi aku tidak perlu penutup mata karena masih bisa konsentrasi." Ragil mengatakannya seperti obrolan biasa diantara sesama pria. Tentu saja perkataan Ragil membuat pipi Funuell memerah.
"Pasienmu benar-benar orang berkelas. lantas siapa orang kedua."
"Aku tidak punya pasien dan tidak pernah di bayar. Kecuali terhadapmu dan ayahmu harus membayar mahal. Aku harus membuat tagihan. " Ragil tertawa. "Yang kedua adalah seorang wanita bernama Vhestee."
"Puteri dari kerajaan Ulgar juga? Jadi kau sudah melihat dada 2 wanita besar di kerajaan Ulgar. "
"Berarti kau harus bangga karena di tangani oleh tangan orang berkelas seperti aku ini. " kembali tertawa.
"Puji diri sendiri." Funuell ikut tertawa. "Aku juga berani puji diri sendiri. Kalau kulitku pasti lebih bagus dari mereka." Funuell sudah mulai terbawa suasana. Hatinya juga ikut senang.
"Kau? Kau pasti lebih mulus, lebih terawat, lebih ramping, lebih Lebih montok dan lebih ... " Ragil berhenti mengatakan. Lalu... "Sudahlah... Aku kuatir kepalamu jadi besar. Dan Aku juga tidak mau membayangkannya. Terlalu berbahaya." Ragil tertawa lagi.
Funuell juga ikut tertawa lepas. Meskipun lengannya menutupi mulutnya, namun karena tertawanya besar maka tetap saja giginya yang putih sehat terawat terlihat oleh Ragil.
"Percuma kau menutupi gigimu, sebentar lagi gigi kelincimu itu akan melompat keluar. Mendengar guroaun Ragil, tanpa sadar tangan nya meninju pria itu perlahan.
"Bagaimana Kau bisa tahu kalau aku menutup mulut sedangkan matamu tertutup."
"Sudah kukatakan kalau Aku punya kemampuan melihat meskipun tanpa membuka mata."
Kelihatannya mereka menjadi semakin akrab dan leluasa dalam berbicara seperti sudah berkawan lama. Tidak seperti di awal yang serba kaku. Pembicaraan mereka tidak terhenti malah semakin banyak topik yang di bahas. Mereka saling tertawa dan terbuka
Ragil berbicara sambil membuat Array dari Tangannya. Hatinya sangat senang ada teman yang cocok di ajak bicara. Orang yang hampir serupa dengan Vhestee yang tidak tersinggung jika dirinya berkata apa adanya.
__ADS_1
Tapi untuk berbicara dengan Vhestee yang merupakan anggota kerajaan, Ragil terkadang harus menjaga perkataannya meskipun kadang lepas kontrol. Namun berbicara kepada Funuell lebijh menyenangkan dapat di ajak bercanda, tidak seperti bersama Si Badut yang meskipun enak si ajak berbicara terbuka namun terlampau serius orangnya.
Dengan lancar Ragil membuat Array di dada Funuell. Setiap sentuhan jarinya menari si dada Funuell. Meskipun menggunakan Pelihat Jiwa (Soul Watcher), tetap saja Ragil dapat melihat setiap lekukan tubuh gadis itu. Demikian juga dada mulus yang ditutupi secarik kain, Tetap saja dapat terlihat setiap garis lekukannya. Hanya saja yang tergambar di kepalanya hanya warna hitam dan putih.
"Hei... Aku merasa kalau Aku sedang dipandangi oleh mu, membuat tubuhku bergidik."
"Apa dayaku.... Lekukan Tubuhmu begitu bagus dan padat."
"Awas. Nanti biji matamu akan melompat keluar. " Funuell bukannya tersinggung diperlakukan seperti itu tapi malah di ajak bercanda.
"Kurasa aku harus meminta bayaran yang lain lagi kepada ayahmu."
"Jangan pernah berpikir dia akan menyerahkan Puterinya begitu saja kepada orang yang baru dikenalnya. Sekalipun dirimu orang terkenal."
"Aku hanya mengagumi kulitmu jadi tentu saja aku akan meminta satu peti obat perawatan kulit. " Ucap Ragil tertawa. "Mengapa kau menganggap dirimu tinggi."
Sebuah tinju dari lengan mungil tanpa tenaga. "Kau..." wajah nya memerah karena malu. Mereka kembali tertawa.
"Aku sudah selesai... Bersiaplah memasuki alam jiwamu."
------------------
Alam Jiwa Funuell
Funuell telah berada di dalam alam jiwa nya. Dia melihat salju dimana-mana. Rintik-rintik butiran salju menyentuh perasaan hatinya yang begitu senang memasuki alam jiwa nya sendiri. "Ini adalah alam jiwaku. " Funuell membatin.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang salah? " Tanya Funuell.
"Aku sudah berusaha melambat-lambat tapi ternyata Aku masuk ke alam jiwa kecepatan. Aku masih belum menikmati memandangi tubuhmu."
Funuell tertawa kecil. Dia sudah biasa dan tahu perkataan Ragil Kalau saja dia tidak melewati banyak pembicaraan sebelumnya, bisa jadi gadis manis ini akan tersinggung berat. Tapi sekarang dia menganggap perkataan kurang ajar Ragil adalah pujian untuknya. Bahkan membuatnya senang.
Semenjak dia dalam posisi tertotok kemudian ada kesempatan melakukan hal kurang ajar, tetapi Ragil tidak melakukannya. Hanya kata-katanya saja yang membuat panas kuping tapi tindakannya tidak seperi itu.
"Tenang saja Saudara Ragil. Kau masih punya banyak kesempatan itu. " Funuell kembali menggoda. Perlakuan dan perkataan nyeleneh, ini hanya dilakukan kepada Ragil setelah dia mengerti sifat Ragil. Kalau dia mengatakan kepada orang selain Ragil maka bisa-bisa dia di cap wanita murahan.
"Heiii... Orpahh... Cucumu telah datang. " Teriak Ragil.
"Hei, Cucu mantuku. Bukankah kau berkata kalau cucuku mungkin tidak bisa datang kesini karena dia tidak akan membuka bajunya. " Suara Orpahh dari udara melayang turun. "Tapi mendengar omongan kalian sepertinya sangat akrab."
"Cucumu tidak berdaya dengan ketampanan ku, jadi dia langsung membuka bajunya."
Sebuah tinju kecil melayang lagi ke pundak Ragil.
__ADS_1
"Salam Nenek. Aku Funuell. Senang bertemu dengan Nenek." Dia menjura hormat kepada nenek moyangnya. "Jangan menanggapi serius akan pembicaraan kami. Karena kami suka bergurau."
"Bergurau? Pria seperti Cucu mantuku adalah orang yang berbicara apa adanya. Suka bilang suka dan benci bilang benci. "
"Cucu mantu? " Funuell masih bingung.
"Nenekmu menjodohkanmu denganku." Ragil mengucapkan sambil lalu seperti tidak ada hal yang penting dari perkataan itu. Kemudian dia memandangi Nenek berambut putih itu. "Orpahh. Bagaimana kau bisa tau aku seperti apa sedangkan kita baru saja bertemu. "
"Entahlah. Aku tahu begitu saja. Sejak muda aku memiliki kemampuan akan intuisi. Semacam firasat atau insting. Aku dapat merasakan jika orang memiliki maksud jahat ataupun tidak. "
"Apa yang di alami Nenek terkadang di alami juga pada cucumu ini. Hanya saja saya kadang lebih percaya kepada apa yang dilihat dari pada hanya perasaan saja."
"Ahh.. Yang benar? " Ejek Ragil. "Bukankah awalnya kau menolak untuk kutolong."
"Aku kan sudah bilang. Terkadang aku lebih percaya dengan apa yang dilihat. Kau seperti seorang penjahat. Tiba-tiba ingin aku membuka punggungku kepada orang yang baru dikenal. Bagaimana bisa leluasa. Bagaimanapun aku ini seorang gadis. Ayahku saja yang Tabib yang hebat tidak pernah mengobati dengan menyentuh dada punggung. Apa lagi cuman pemuda sepertimu. Kau adalah laki-laki pertama yang pernah melihat dada dan punggungku."
"Sudahlah... Hei Orpah.. Cepat mulai mengajarkan jurus itu kepada cucumu. "
"Jangan menyebut nenekku dengan memanggil nama seperti itu. " Protes Funuell.
"Tidak apa. Aku yang meminta nya memanggil nama. " Orpahh sudah mendarat.
"Lagi pula nenekmu begitu cantik dan muda. Tidak pantas disebut nenek. "
"Kau... Dasar Mata keranjang " Ejek Funuell
"Orpah. Permintaanmu sudah aku penuhi. Sekarang aku keluar dulu. " Ragil pamit.
"Mau kemana kau? " Sela Orpahh.
"Ingin menikmati tubuh mulus. Mubazir di abaikan begitu saja. "
"Kau boleh melihat sepuasnya asal jangan ganggu tubuhku. "
"Tentu saja. Aku tidak ingin merusak pembentukkan kekuatan sihirmu jika aku mengganggu tubuhmu. Baik aku pergi dulu. " Seketika itu juga lenyaplah tubuh Ragil.
"Kau seperti mengenalnya dengan baik. " Orpahh mencolek Funuell yang masih memandang bekas menghilangnya tubuh Ragil.
"Dia pria baik. Aku senang kalau ngobrol dengannya. Aku hanya mengenal karakternya dia dan mengimbangi akan sikapnya." Ucap Funuell. "Dia bukan orang jahat. Hanya mulutnya saja yang kurang ajar."
"Kulihat kau menyukainya. "
"Kami baru kenal. Aku hanya mengaguminya." Walaupun yang dikatakannya hanya sekedar mengaggumi nya tapi sebenarnya bukan hanya itu. Dia tidak mungkin berterus terang kepada neneknya kalau sebenarnya dia menyukai celoteh Ragil yang bebas dan seenaknya saja mengucapkannya. Tanpa ada sopan santun dan rasa sungkan. Begitu bebas dan tidak tertekan. Tanpa sadar sebenarnya dirinya juga ingin memiliki kebebasan seperti itu. Berbicara seenaknya dan melakukan semua yang di inginkan nya.
__ADS_1
Selama ini Dia bersama Ayah dan adiknya hidup dengan teratur, seperti berada di etalase toko. Harus terlihat sopan, harus sempurna, tidak boleh tertawa lepas, harus ada tata Krama dalam Bertemu dengan pasien yang merupakan tokoh terkemuka. Semua hal itu menjadi hal rutinitas yang membosankan.
Begitu bertemu Ragil dan bersenda gurau dengannya, Dirinya merasakan sebuah cahaya baru di kehidupannya dimana dia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus memikirkan tata Krama dan kesopanan lainnya. Bahkan Dia merasa begitu bebas seperti burung terlepas dari sangkarnya.