Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 55. Pertemuan Para Petualang


__ADS_3

Setelah tidak ada orang lagi yang bersama Ragil, Funuell akhirnya bisa mendekat untuk Memegang denyut nadi Ragil.


"Kakakku yang cantik dan sangat sabar. Tetap menunggu meskipun pembicaraan kami agak lama. Amat perhatian kepada pasiennya. Terima kasih banyak untuk semuanya." Ragil memegang punggung tangan gadis yang sedang memegang denyut nadi tangannya. "Katakan kepadaku. kenapa kau tidak kembali kepada ayahmu."


"Sudah kukatakan kami sekeluarga berhutang Budi kepadamu dan harus ada yang mengerti pengobatan yang merawatmu."


Ragil merasa kalau perhatian Funuell agak berlebihan. Dianggap dirinya seperti anak kecil. Pria manapun akan mengira kalau gadis ini sedang mendekekati dirinya atau jatuh cinta. Tapi Ragil mengerti sifat dan karakter Funuell meskipun belum lama di kenalnya.


Funuell adalah orang yang sama seperti dirinya yang tidak suka kemunafikan dan lebih suka akan kejujuran. Dia tidak seperti Vhestee yang hanya menyimpan di dalam hati semua keinginan hatinya.


"Tidak. Pasti ada hal lain yang membuat kau bertahan. Tidak mungkin hanya itu. Jika memang seperti itu maka saat kondisiku semakin baik maka kau harus kembali ke orang tuamu. Jika tidak maka akan ku anggap kalau kau sedang jatuh cinta padaku." Ragil tertawa.


"Dasar Pria dimana saja sama saja. terlalu gede rasa." Funuell hanya tersenyum tidak tersinggung. "Jujur saja. Aku sengaja melakukannya untuk menjauh dari orang tua dan kampungku untuk berpetualang denganmu. Sekarang aku sudah naik tingkat. Aku bukan Funuell yang lama lagi. Aku ingin lihat para orang hebat di Landria. Sekarang nenek sedang melatihku untuk mencapai tingkat Maha Dewa."


"Apakah hanya itu?"


"Tidak Tanganku gatal ingin bertanding mencoba jurusku. Itu bisa kulakukan kalau aku berada bersamamu. Karena aku yakin musuhmu ada banyak. Aku mendengar petualanganmu dari Patave Cucu Yakove tentang sepak terjangmu. Jadi ajak aku kemanapun kau pergi. Aku akan melindungi mu."


Belum lama Ragil mendengar kalau Gadis ini hanya ingin di sembuhkan dari sakitnya kemudian menikah dengan Tamave. Hari ini harapannya berubah ingin menjadi kuat dan mencari pengalaman. Wanita yang sangat ambisius. Bahkan wajah Tamave sudah tidak ada dalam pikirannya.


"Kalau keinginanmu seperti itu aku tidak akan melarangnya Tapi ingin kuperlihatkan sesuatu kepadamu."


Ragil membuat Summon menampilkan Avatar.


"Summon?" Funuell bergumam.


"Yahh... Dia yang akan memandikan aku dan menggotongku ke pantai untuk membasuh. Tapi untuk perawatan kesehatan, ku serahkan padamu."


Ragil sudah menerima kondisi cacatnya. Itu tidak akan menjadi halangan untuk perjuangannya.


Funuell kembali tersenyum membuat Ragil gemas. "Memangnya kalau kakakmu yang cantik ini memandikan dirimu kenapa? Kan kita bisa mandi bersama." Funuell yang sudah berani kepada Ragil mulai menggoda.


"Itulah yang kutakutkan. Aku khawatir tidak bisa mengontrol diriku sendiri."


"Tenang saja. Kalau kau berani macam macam akan kubuat beku semalaman."


Mereka berdua pun tertawa.


"Kakak. Pergilah dulu keluar aku hendak bermeditasi sebentar mempersiapkan diri terlebih dahulu. Nanti aku dan Summon ku akan keluar."


"Baik. Jangan lama-lama yah. Jangan biarkan kakakmu ini digoda oleh para hidung belang."


Mereka berdua kembali tertawa. Funuell meninggalkan Ragil sendiri.

__ADS_1


Ragil hanya tersenyum sendiri. Dirinya merasa kalau berbicara dengan Funuell bawaannya selalu hanya ingin bergurau. Tidak pernah bisa berbicara serius. Funuell juga selalu menyambut dan membalas dengan gurauan


 


Pertemuan


Apa yang pernah di sepakati antara Ragil dan Binoang untuk mengumpulkan para petualang guna membangun kekuatan di antara para petualang, sudah dilakukan oleh Binoang dan anak buahnya.


Dengan menggunakan burung pembawa pesan dikirimkan ke berbagai kerajaan dan pedesaan maka berita cepat tersebar luas. Apa lagi Binoang memiliki anak buahnya di berbagai tempat yang selalu menukar informasi. Maka Tugas yang di berikan oleh Ragilpun sudah diselesaikan dengan baik.


Nama Binoang cukup dikenal di berbagai kalangan baik dari golongan hitam maupun golongan putih. Jadi respon dari para undangan sangat antusias dan menanggapi secara positif.


Terbukti dengan berkumpulnya para petualang di lembah Phanouel. Meskipun belum semua petualang berkumpul namun dari pihak wakilnya saja sudah mecapai 30 - 50 orang.


Para petualang yang datang bukan hanya mendapat berita dari guild saja tapi dari kedai kedai, dari undangan, dari mulut ke mulut. Bahkan yang dari daerah selatan yang cukup jauh juga turut datang.


Beruntungnya lokasi Lembah Phanouel itu berada di pusat dari semua kerajaan. Perjalanan bisa di tempuh antara 4 - 5 hari untuk tempat yang jauh bagi para Penyihir Tingkat Atas ke bawah. Dapat di katakan mereka tidak dapat datang tepat waktu kecuali yang jaraknya dekat. Tapi bagi Tingkat Mahir ke atas dapat di tempuh hanya 1 - 2 hari.


Saat ini seluruh anak buah Binoang sangat sibuk melayani tamu yang datang satu persatu. Dari Desa ataupun dari sekte. Biasanya kalau dari kerajaan pasti mereka menyamar untuk datang ke pertemuan seperti ini.


Kini di Lembah Phanouel sudah banyak orang menunggu. Seperti intruksi dari Ragil sebelumnya agar Binoang dan anak buahnya melayani para tamu yang datang dengan baik. Berikan mereka hidangan yang terbaik agar kerasan. Juga berikan mereka tontonan yang menarik agar tidak membosankan.


Sekitar lima puluh lebih orang pria dan wanita, tua dan muda dari berbagai kalangan datang ke tempat ini. Mereka sedang duduk di kursi kayu. Karena keterbatasan kursi maka sebagian hanya bisa berdiri.


Rupanya beberapa tamu tidak sabaran menunggu terlalu lama. Jadi beberapa sudah mulai gelisah.


"Hai Binoang. Waktu semakin berjalan." Salah seorang pengunjung berteriak.


"Sabar.... Tenang.... Supaya tidak bosan menunggu. Kami akan memperlihatkan senjata yang luar biasa ini." Binoang melakukan apa yang pernah di intruksikan Ragil.


"Apa artinya sebuah senjata. Semua itu tergantung dari pengguna nya." Tamu yang lain berteriak.


"Perhatikan saja. Aku yakin kalian akan kagum." Binoang memberikan kode kepada Agroo.


Agroo pun tampil ke depan membawa cemeti buatan Ragil.


"Senjata ini bukanlah artefak kuno. Tapi senjata ini tidak kalah dengan sebuah artefak. Senjata ini diciptakan oleh seseorang yang bernama Ragil."


Agroo mulai memperagakan cemetinya dibuatnya pecut itu semakin memanjang. Beberapa meter. Awalnya orang memandang rendah cemeti biasa seperti itu tapi kini orang mulai menatap serius. Pecut itu bagaikan hidup yang dapat memanjang begitu saja


Kemudian Argoo membuat cemetinya menjadi tiga cabang di ujung. Tiga ujung cemeti bergerak seperti ular.


" Senjata ini dibuat dengan sihir khusus. kemudian dengan Array Kuno dibuat oleh Ragil sehingga hanya pemiliknya saja yang dapat menggunakannya."

__ADS_1


"Tidak mungkin." Salah seorang tamu melompat ke arah Binoang. "Itu pasti sihir. Coba perlihatkan kepadaku cambuk itu.,"


Setelah mendapat persetujuan dari Binoang, Agroo pun menyerahkannya.


Ketika cambuk itu berpindah tangan tiba-tiba senjata itu menciut mengecil menjadi seperti mainan yang dapat di masukan kedalam kantong.


"Apa apaan ini." Tamu itu dikejutkan oleh pecut yang menciut kecil.


"Seperti yang saya katakan bahwa senjata ini hanya bisa di gunakan oleh pemiliknya saja. Karena sudah dibuat Array Kuno oleh Ragil." Binoang mengatakannya dengan bangga. "Senjata ini sama saja sebuah artefak kuno bagi si pemiliknya."


"Ini betul sebuah senjata dibuat dengan bahan yang belum pernah saya lihat. Senjata ini menjadi seperti mainan yang sangat ringan." Tamu itu mengangguk memuji. "Bayangkan dengan senjata ini kita dapat masuk ke kerajaan manapun tanpa diperiksa karena petugas pasti akan menyangka kalau ini hanya mainan."


"Perlihatkan pada kami." Tamu yang lain berteriak.


"Aku juga ingin melihatnya."


Tamu yang memegang cambuk itupun memberikan kepada tamu lainnya untuk dilihat.


"Bukan hanya senjata itu saja yang di buat. Bahkan hampir seluruh penghuni Lembah Phanouel di buatkan senjata. Coba kau pegang benda kecil ini." Binoang memberikan senjata kapak kembarnya dalam bentuk kecil kepada salah satu tamu.


"Apakah ini senjata juga?" Sang tamu memandang kedua kapak itu yang terlihat seperti mainan anak anak.


"Berikan padaku." Pinta Binoang.


Kedua kapak itu di terima Binoang. "Aku adalah pengguna senjata kapak yang berat."


Setelah berbicara demikian, kapak itupun membesar sepangkal lengan.


Binoang melempar kan kedua kapaknya terbang di udara. Bagaikan magnet kapak itu kembali ke tangan Binoang.


"Aku masih dapat membesarkan kapak ini dengan berat yang semakin bertambah."


Kapak di tangan Binoang semakin membesar dan panjang. Lebih panjang dari tubuhnya. Mata lapak nya juga lebih besar dari kepalanya sendiri.


Binoang juga memanggil ke tiga anak buahnya, Khakii, Shagarr dan Gumoo untuk memperagakan kemampuan senjata mereka yang baru.


Khakii telah di buatkan senjata oleh Ragil. Kini dia juga memperagakan pisau terbangnya yang lebih kuat, tajam dan ringan.


Peragaan mereka membuat takjub para penonton.


Para tamu saling berbicara satu dengan yang lain.


Suara ramai para pengunjung mendadak terhenti ketika sesosok hitam muncul dari dalam goa.

__ADS_1


__ADS_2