Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 72. Malam Terakhir di Lembah Phanoel


__ADS_3

Ragil termasuk salah seorang yang dapat menahan emosinya. Entah kenapa emosinya saat ini tidak terkendali.


Kalau di perhatikan ada beberapa hal Yang dapat membuat Ragil kesal. Dimulai dari isi surat Arch mengenai penyebab kehancuran Pulau harta yang berakhir kematian ayahnya. Selanjutnya keberhasilannya membuat ledakan dari warisan Arch namun tidak dapat dilakukan ke dua kalinya. Ketika hendak melatih ledakan lalu muncullah Sarr. Terpaksa Latihannya harus di hentikan karena Ragil masih ingin merahasiakan dari Sarr yang menurut dugaannya Sarr masih memegang alat penyadap Militer. Selanjutnya sikap Sarr yang tidak perduli akan pakaiannya yang tidak sopan dan akan mengganggu pemandangan terutama kepada laki laki hidung belang. Tapi Sarr tidak perduli dengan semua itu. Dia tidak perduli sekalipun seluruh pria di Landria melihat ciplakan Tubuhnya yang sensual. Inilah yang membuat api di kepala Ragil membara.


Karena dia menyukai Sarr maka dia tidak ingin gadis kesukaannya memamerkan tubuhnya bagai etalase toko. Untung saja tidak ada pria lain selain dirinya.


"Dari tadi Kenapa kau marah marah." Sarr juga kesal melihat sikap Ragil. "Apa urusanmu kalau aku tidak memakai bajuku atau aku telanjang sekalipun. Lagi pula siapa yang suruh kau menonton latihan ku."


Setelah itu Sarr melompat tinggi menuju tempat dia menggantung pakaiannya.


Ragil membalikkan badannya dan pergi arah berlawanan menuju ke tengah Phanouel. Dengan menggunakan sihir Telekinetic dia menggerakkan roda hitam nya untuk berputar. Kursi roda itupun berjalan sendiri seakan akan ada mesin yang menggerakkannya.


Pikir Ragil, Naery Sarr akan menjauh darinya, rupanya tidaklah demikian. Tidak berapa lama Sarr sudah berada di belakang Ragil memegang kursi rodanya Lalu mendorongnya.


Sarr berpikir untuk tidak berdebat dengan Ragil karena besok mereka akan meninggalkan Lembah Phanouel. Selanjutnya misinya selesai membawa Ragil dalam keadaan hidup ke Ratu Valkirie.


Ragil membiarkan Sarr membantunya . Kursi roda tidak berjalan dengan mulus karena jalanan bergelombang.


Dalam perjalanan, Mereka berdua hanya berdiam tenggelam dalam pikirannya masing masing.


--------


Hari ini adalah malam terakhir Ragil berada di Lembah Phanouel. Jadi dia beristirahat lebih cepat mempersiapkan tenaganya.


Jam satu malam Ragil terbangun saat menyadari ada seseorang berada di dalam kamarnya.


Blackblood dan Soul Watcher nya sudah siap siaga. Hanya dalam dua detik saja semua kesiagaannya mulai redup kembali.


"Apa yang kau lakukan disini, kakak." Tegur Ragil.


Di sudut ruangan terlihat Funuell sedang menyalakan hio.


"Aku sedang membakar hio aroma terapi agar esok kau bangun dengan tubuh segar menghadapi Valkirie."


Tidak seperti biasanya gadis baik baik ini masuk ke kamar pria pada saat tengah malam. Ini sangat mencurigakan.


Apalagi lorong keluar goa sudah ditutup dengan kristal es sehingga tidak seorangpun bisa masuk kedalam ruangan ini.


"Apakah itu aroma Vendoline yang dapat memberikan semangat kerja?" Curiga Ragil.


"Hah? Kau mengetahuinya? " Wajah terkejut Funuell tidak bisa di sembunyikan. "Ini bukan Vendoline. Di sekitar sini tidak akan ada bunga Vendoline."


"Tapi khasiatnya sama saja."


"Tidak. Vendoline lebih kuat." Funuell menunduk malu merasa sudah diketahui rencananya. "Apakah Dupp menceritakan kepadamu?"

__ADS_1


Tidak terbayangkan perasaan Funuell saat ini. Dia yang seorang Puteri terhormat dari seorang Tabib yang terkenal melakukan perbuatan tidak terpuji seperti wanita murahan memasuki kamar pria dengan maksud tujuan tertentu. Rasanya ingin mati saat itu juga. Seandainya dia bisa menghilang maka dia sudah tidak ada di ruangan ini. Ini sangat memalukan.


Funuell yakin kalau Dupp telah bercerita semuanya kepada Ragil seperti Neneknya yang bercerita kepada nya.


"Matikan hio itu." Tegas Ragil.


Funuell melakukannya dengan mata berkaca kaca antara perasaan malu dan sedih.


"Aku sudah menyadari kalau kau tidak menginginkan aku. Maafkan aku ini seperti wanita murahan. Aku tidak pantas menjadi kakakmu." Funuell hendak pergi meninggalkan ruangan itu.


"Tunggu." Ragil memegang tangan dari Puteri Tabib "Tolong periksa dadaku sebentar. Ughh... Ughh." Ragil terbatuk.


"Apakah kau alergi aroma bunga." Bergegas Funuell mendekati Ragill.


Ketika Funuell hendak memegang denyut nadi Ragil, dengan cepat pemuda itu melingkarkan tangannya di pinggang Funuell lalu di angkatnya ke pangkuannya.


"Kau..." Teriak Funuell.


"Kakak salah kalau mengatakan aku tidak menginginkan kakak. Justru kakaklah yang tidak menginginkan aku jika bukan karena ambisi ingin menguasai Ilmu Sihir Pedang Inti Es Jurus ke tujuh."


Wajah kedua pasangan itu sangat dekat. Funuell membiarkan tubuhnya berada di atas pangkuan pemuda itu


"Tidak adikku. Kau juga salah. Saran dari nenekku adalah Dupp atau Arch. Bukan dirimu yang lemah. Tapi aku menyukaimu dan menganggapmu dewa penolongku. Jadi kaulah target dari wanita murahan ini." Funuell menundukkan kepala.


Ragil mengangkat dagu wanita itu membuat keduanya saling menatap. Seolah tatapan mereka saling berkomunikasi seribu bahasa. Ragil menghampiri bibir Funuell yang mungil dan mengecupnya dengan lembut.


Funuell memejamkan matanya. Untuk sesaat Funuell hanyut. Kemudian Funuell mendorong dada Ragil untuk menjauh.


"Kenapa kau tadi menyuruh untuk mematikan hio itu?"


"Karena aku tidak ingin hasratku muncul dari segala jenis obat obatan. Tapi aku menginginkannya lahir atas dasar keinginanku sendiri."


Funuell tersenyum mendengarnya. Rasa rendah dirinya hilang dalam sekejap. Kedua tangannya langsung melingkar di leher Ragil dan mendekati wajahnya.


Tapi kali ini Ragil yang mendorong dada Funuell.


"Kakak. Apakah kakak yakin akan melakukan hal ini."


Funuell mengangguk. Demi ambisinya mencapai tingkat Maha Dewa dengan instan maka apapun akan dilaluinya sekalipun masuk ke neraka.


"Apakah kakak tahu apa yang akan terjadi jika kakak menguasai jurus ke tujuh?"


Ragil masih terngiang perkataan Dupp tadi siang


Funuell hanya terpana. Neneknya tidak pernah menceritakan akan hal itu.

__ADS_1


"Bagaimana kalau seandainya kakak ternyata salah pria dan tidak mencapai jurus ke tujuh."


"Tidak bisakah adik untuk tidak terlalu cerewet. Hari esok biarlah datang dengan sendirinya. Saat ini kaulah satu satu nya yang ku inginkan."


Setelah mengatakannya Funuell tidak membiarkan Ragil berbicara lagi. Dia mendekap bibir Ragil dengan bibirnya yang mungil merah merekah. Bahkan ketika Ragil hendak mendorong dada nya kembali, Funuell langsung menekannya membuat Ragil terbaring..


Ragil yang awalnya hendak menceritakan tentang efek dari mempelajari jurus ke tujuh terpaksa di urungkannya. Gejolak di dalam dirinya lebih besar dari pada kata kata yang ingin di keluarkan.


Semua hening di sekitar goa itu. Hanya para penjaga diluar yang tetap berwaspada. Diruangan lain dimana Arch, Dupp dan Hammerdat berada juga terlelap tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.


Hanya seorang saja yang menyadari apa yang terjadi dengan Funuell dan Ragil. Yakni teman sekamar Funuell yaitu Naery Sarr. Dia masih terjaga dan berpikir Funuell akan kembali secepatnya.


Setelah menyadari Funuell tidak datang datang, Sarr langsung membalikkan badannya mencari posisi terbaik untuk tidur.


"Dasar laki laki." Gumamnya dalam hati.


Pria dimanapun sama saja mudah berubah haluan. Awalnya menyukai yang satu kemudian berpindah kepada yang lain.


Baru tadi siang menyaksikan dirinya berlatih, memakai pakaian ketat, basah dengan keringat lalu sekarang sudah berpindah kepada pelukan yang lain.


Sarr tidak membenci dan tidak perduli dengan apa yang di ketahui nya. Hanya saja itu terlintas di pikirannya.


Setelah itu wajah Ragil menghilang berganti dengan wajah pria berkerudung yang misterius. Beberapa kali pria berkerudung hitam itu menolong dirinya. Tidak ada seorangpun di Militer yang melakukan seperti yang dilakukan pria itu.


Bahkan ketika Sarr terjatuh dari pesawat dengan pria itu, semua rekannya menembak dirinya untuk membunuh dirinya bersama pria itu. Karena bagi Militer jika nyawa kita di tukar dengan nyawa musuh yang lebih berharga maka itu sangat berjasa. Jadi Pihak Militer menembak dirinya yang masih di udara bersama si pria kerudung itu. Tapi yang dilakukan pria itu justru malah menolongnya


Sarr juga teringat ketika melempar granat kepada pria berkerudung itu agar mati bersama. Justru pria itu masih memperdulikan dirinya untuk menyelamatkan nyawa Sarr.


"Mengapa kau lakukan itu." Sarr mendesah.


Bagi Sarr, Pria berkerudung itu acuh tak acuh. Tidak perduli apapun. Tapi menolong nyawanya sampai dua kali.


"Aahhh.... Kenapa aku memikirkan dia. Sialan." Sarr mendekap wajahnya agar cepat tidur.


Tapi semakin dia berusaha untuk tidur justru membuat dia tidak bisa tertidur.


Pikirannya terus melantur kemana mana dan selalu melihat wajah Pria berkerudung dan Ragil. Seolah membandingkan kedua nya.


"Mengapa kau harus menutupi wajahmu? Apa yang kau sembunyikan?" Pikiran Sarr terus melayang layang.


"Sial... " Sarr bangkit berdiri dari tempat tidurnya. "Apa yang terjadi dengan otakku ini." Keluhnya dalam hati.


Untuk menghilangkan semua yang ada dalam otaknya, akhirnya Sarr berlatih Push Up, Sit Up dan yang lainnya.


Tidak terasa badannya kembali berpeluh dan waktu berlalu dengan cepat Sampai pukul empat Sarr masih berlatih dan Funuell belum kembali dari tempat Ragil ke ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2