Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 75. Akhir Sesion 2


__ADS_3

Hanya saja yang berbeda adalah di lehernya Dewi terdapat garis biru seperti seorang gadis yang memakai hiasan kain biru di lehernya.


"Tidak. Tidak. Aku harus mendapatkan segel itu dulu baru aku membunuhmu." Max menimpali.


"Kalau begitu kenapa tidak kau langsung ambil dari Ragil dan membunuhnya. Lalu ambil segel itu."


"Kau pikir kau bisa menipuku seperti kau tipu anak itu. Jika Ragil mati maka tidak ada seorangpun yang dapat mengeluarkan segel itu. Kematian Ragil bukanlah kematian Kirk secara mutlak. Raja Kegelapan itu tetap berada dalam alam jiwa dan selamanya tidak akan pernah mati. Itu berarti Kirk belum di eliminasi. Jadi percuma membunuh semua utusan dari Bumi sementara Raja Kegelapan belum binasa. Selama Kirk masih didalam segelmu maka tidak ada yang berani mencabut nyawamu. hanya elemen cahayamu saja yang dapat mengeluarkan Kirk dari segel atau membunuhnya. Aku juga yakin Kau sengaja menyegel dan memanfaatkan Kirk sebagai jaminan akan keselamatanmu. Sungguh cerdik. Melempar satu batu dua burung yang terjatuh. Kini Kirk dan Ragil berada dalam genggamanmu." Max memandang ke arah luar jendela. "Kau dan Kirk sengaja membuat Ragil semakin kuat agar dia tidak mudah mati. Kirk juga membantu pemuda polos itu untuk kepentingannya sendiri yakni agar tidak di eliminasi lebih awal."


"Kau juga tidak bodoh. Dapat menganalisa sedemikian rupa. Lagi pula Kau tidak akan memenangkan pertarungan ini dengan hanya mengandalkan kekuatan penyihir Landria." Dewi tahu kalau Max mengumpulkan para kekuatan sihir dari berbagai kerajaan termasuk Ahazee. "Awalnya kupikir kau kerja sama dengan Eduardo Maschety, tidak tahunya hanya mengandalkan kerajaan kerajaan."


"Kenapa? Apakah kau sekarang membujukku untuk bekerja sama denganmu?" Pria klimis itu mendekati Dewi Kumala. "Kau bisa menipu Valkirie dan Kirk. Tapi jangan harap bisa menipuku. Kau pikir aku tidak tahu, kau bekerja sama dengan Valkirie untuk menyingkirkan Kirk di Hutan Kegelapan. Tapi akhirnya kau hanya menyegel dan menyimpannya sendiri lalu kau singkirkan Valkirie."


"Hihihi... Lalu bagaimana kalau aku bunuh diri?" Dewi merasa menang satu langkah.


"Mengapa kau selalu berpikir aku bodoh. Bukankah lehermu sudah di tandai artinya kalau kau keluar dari penjara ini maka leher dan tubuhmu akan terputus. Kau mati. Tidak perlu bunuh diri. Cukup keluar dari sini. Pintu selalu terbuka kau bisa mati kapanpun kau inginkan. Tapi aku yakin kau tidak ingin melakukannya karena kau ingin kemenangan mutlak. Kau adalah orang yang ambisius. Kau sudah memikirkan semua. Kau juga memanfaatkan Ragil untuk menjalankan tugasmu."


 


Didalam gua. Diruangan tempat Ragil beristirahat. Disana terlihat Funuell sedang bermeditasi.


Setelah Ragil berangkat, Funuell tidak mau membuang waktu sia sia. Dengan cepat dia kembali ke kamar bekas Ragil. Ditutupi semua jalan masuk dengan Cristal es agar tidak seorangpun yang mengganggunya saat melakukan meditasi.


Merasa semuanya aman dan tidak akan ada gangguan, barulah Funuell memasuki alam Jiwa nya.


Didalam alam jiwa nya dia bertemu Orpahh Nenek buyutnya.


"Siapakah yang kau dapatkan? Madrakh atau Arch si elemen petir itu."


"Tidak satupun dari mereka." Ucap Funuell.


"Sudah kuduga. Kau gadis baik baik tidak mungkin berani melakukan hal yang bertentangan dengan harga diri. Aku tidak bisa berharap banyak. Batasanmu hanya sampai tingkat dewa. Jika beruntung maka sepuluh tahun paling cepat baru sampai tingkat Maha Dewa tapi tanpa Jurus ke tujuh."


*Aku sudah melakukannya nenek. Ajari aku jurus ke tujuh."


"Hah? Dengan siapa kau melakukannya?" Orpahh menatap mata Funuell mencoba menebak isi hatinya. "Ragil?"


Funuell terdiam. Dia mengambil sikap duduk bersemedi.


"Hahahaha... Anak jaman sekarang." Orpahh duduk di sebuah batu es yang besar. "Aku tidak mengerti apa yang ada dalam otakmu. Sudah kukatakan Ragil itu Hanya tingkat Dasar. Dia tidak dapat membantumu."


"Nenek. Aku punya penilaian lebih kepada Ragil. Aku juga menyukainya. Kuanggap Ragil lah yang terbaik untukku." Funuell meremas tangannya sendiri. Hatinya juga ikut gelisah. Ini pertama kalinya dia mengikuti nurani nya mengambil resiko besar untuk mengorbankan hal yang berarti baginya. "Ajari aku jurus ke tujuh. Jika nenek keberatan maka aku akan pergi dari sini sekarang."


Alasan pilihan jatuh kepada Ragil sudah dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Ragil merupakan orang yang berhasil melepaskan dia dari penderitaan inti es. Informasi mengenainya dari Patave cucu Yakove juga menjadi dukungan atas pilihannya. Apa lagi mendengar sepak terjang Ragil ketika melawan Militer. Semua itu didengar dari Sarr. Itu membuat keputusannya sudah bulat.

__ADS_1


"Nenek. Seandainya ini gagal. Aku tidak akan menyesal. Berarti aku hanya mencapai Tingkat Dewa pun tidak masalah." Funuell meyakinkan neneknya.


Cita cita nya memang ingin mencapai puncak ke digjayaan. Tapi jika harus berhubungan intim dengan orang yang tidak di sukai nya maka lebih baik tidak mencapai puncak. Melakukannya kepada Ragil saja sudah bertentangan dengan batinnya. Alangkah bahagianya jika dia melakukan nya setelah melewati pernikahan. Tapi jika menunggu kesiapan Ragil, rasanya mustahil mencapai jenjang pernikahan dalam waktu dekat, mengingat pemuda itu masih banyak beban tugas dari Dewi Kumala. Belum lagi cinta sejatinya jatuh kepada Pembunuh No 1 orang dari Militer. Jadi yang dilakukan saat ini adalah yang terbaik. Funuell juga memberikan kebebasan kepada Ragil agar pemuda itu tidak berprasangka bahwa dirinya hanya memanfaatkannya. Tapi didasar hatinya, Puteri Tabib ini sangat menyanjung dan mengaggumi Ragil. Hanya saja banyak orang yang menyayangi pria itu.


"Sebaiknya kita tidak usah melakukan pelajaran jurus ke tujuh. Ini akan sia sia. Jika kau mengalami kegagalan maka akan membuatmu menderita. Anggap saja kesucian yang kau korbankan itu untuk orang yang kau cintai."


"Nenek. Sekali lagi ku katakan. Ajari aku jurus ke tujuh. Segala resiko akan aku tanggung akibatnya sekalipun kematian menjemput."


Sang Nenek hanya menghela nafa panjang mendengar tekad cucunya ini. "Sudah kukatakan dari awal. Jika kau ingin menikah maka Ragil adalah orang yang tepat. Tapi untuk jurus ke tujuh..."


"Nenek...." Funuell bangkit berdiri. "Inilah keputusanku dan aku menerima resikonya. Jika aku tidak mempelajari Jurus ke Tujuh maka aku tidak akan masuk ke alam jiwa ini lagi."


Merasa neneknya tidak menanggapi keinginannya, Funuell hendak kembali di alam nyata lagi.


"Baik. Nenek akan ajari." Akhirnya Orpahh menyerah. "Lagi pula tidak ada artinya aku hidup disini jika tidak dapat menurunkan semua ilmuku."


Funuell kembali kepada duduk bersila nya.


"Yang kau lakukan sekarang menyerap semua Inti Es dalam dirimu lalu pindahkan ke kapasitas sihirmu. Sama seperti kau berlatih untuk jurus ke lima dan ke enam." Nenek itu mengarahkannya. "Katakan padaku jika kapasitasmu mengalami pembesaran."


Funuell melakukan semua intruksi neneknya. Alasan mengapa seorang yang memiliki tubuh Inti es sering mengalami mati muda karena pemilik tubuh tidak


pernah menyerap inti es di tubuhnya untuk di jadikan energi murni. Seorang pemilik tubuh Inti es sebenarnya bisa memiliki mana yang tidak terbatas dengan menyerap inti es dalam tubuhnya. Itulah sebabnya orang yang mempelajari jurus inti es dari ke lima keatas tidak akan mengalami mati muda. Dia dapat menyerap inti es sehingga tubuhnya tidak mengalami ke bekuan.


"Aku sudah mencapai batas" seru Funuell.


"Cacat?" Funuell belum pernah mendengar hal itu dari mulut neneknya.


"Aku juga pernah mengalami ke gagalan dengan suamiku sang pangeran. Itu membuat Indra pendengaranku hilang. Aku hanya dapat membaca gerakan bibir. Setelah pendengaranku kembali. Aku melakukan selingkuh dengan pamglima perang."


Funuell memang pernah mendengar cerita itu dari Orpahh. Bagaimanapun hasilnya dia tetap kepada pendiriannya.


Dia mulai membayangkan memorinya tentang Ragil. Sejak pertemuan awal, Dipermainkan oleh pemuda yang kelihatan tidak memiliki kemampuan apa apa. Membuka pakaiannya di hadapan pria yang baru di kenalnya. Bisikan kejam Ragil yang membuat dia menggigit bibinya sendiri. Berbagai kenangan terlintas dalam pikirannya. Namun tiba tiba bayangan itu lenyap...


"Neneekkkk...." Funuell mengerang.


"Tahan nak. Bibit itu bereaksi di dalam tubuhmu berkolaborasi dengan inti es."


"Aaaaagghjjj...."


Sebuah cahaya putih sebesar bola pimpong muncul di dada Funuell. Urat urat berwarna biru muncul di leher dan wajah Funuell.


""AKU TIDAAAKK KKIUAAAATTT...." Teriaknya.

__ADS_1


"Tenang saja. Kalau bibit pemuda itu bagus maka kau akan berbagi rasa sakit kepadanya. Itulah sebabnya Jurus Ketujuh dinamakan 'Bersama'".@


 -----------


Ragil dalam pesawat.


"Data. Mengapa tubuhku berasa dingin " Ragil menegur Sarr di depannya.


"Itu karena perasaan takut. Biasa di alami oleh orang yang mengalaminya. Akan muncul keringat dingin dan tangannya bergetar." Sarr menjawab seolah apa yang dialami Ragil nantinya adalah hal biasa. Sekalipun itu adalah kematian yang mendekat.


Seperti yang di katakan Sarr. Tangan Ragil bergetar dan muncul keringat dingin.


Tapi bagi Ragil ini bukanlah hal yang wajar.


"Tapi mengapa keringat di tanganku seperti membeku."


"Kita mau sampai jadi jangan banyak bicara." Sarr enggan meladeninya.


"Dadaku terasa sakit." Ragil meremas dada nya


"Jangan melakukan akal bulus dan mencoba menghindari perjanjian kita." Sarr jadi kesal.


Akal bulus apa lagi yang akan dilakukan orang yang tidak dapat di percaya ini. Begitulah isi hati Sarr. Ingin rasanya cepat sampai tujuan sebelum penumpangnya membuat ulah yang membuat mereka dalam bahaya .


Sarr berpikir Ragil hendak meloloskan diri dengan membuat kacau di dalam pesawat.


"Aaagghhhh..." Ragil berteriak menahan sakit.


Ini sangat mengganggu bagi Sarr. Dirinya sudah tidak tahan lagi.


"Kalau kau macam macam, aku akan membu.... " Sarr membalikan kepalanya.


Apa yang dilihat Sarr membuatnya terpana. Ragil tampak kedinginan hebat. Wajahnya sangat pucat putih. Dia mulai kejang kejang. Beberapa bongkahan es kecil seperti debu putih berjatuhan dari wajahnya. Biji matanya tersembunyi di kelopaknya hingga terlihat hanya warna putihnya saja. Giginya bergemeratuk menahan dingin.


"Ragil... Ragilll... " Sarr mulai cemas.


Gadis ini yakin kalau ini bukan ulah Ragil untuk melakukan akal bulus. Tapi Ragil memang sedang mengalami sesuatu yang tidak dia mengerti.


"Ragiiillllll...." Teriak Sarr.


--------- Tamat ---------


Untuk Judul 'Raja Penjahat' berakhir disini. Namun Petualangan Ragil masih terus berlanjut, bagaimana dia akan berhadapan para Utusan Bumi yang disebut oleh orang Landria adalah Para Dewa.

__ADS_1


Nantikan kelanjutannya di Session ke 3.


MEMBUNUH PARA DEWA


__ADS_2