
Sarr juga tidak mau berlama-lama. Dia segera menutup kepala pesawat.
Funuell memandang Ragil seolah tidak ingin membiarkan Ragil pergi.
"Tidak usah hiraukan kami. Lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan." Dupp seolah mengerti ke gundahan Funuell.
Mendapat lampu hijau, Funuell tidak memperdulikan yang lain. Dia langsung memeluk Ragil. Ragil pun membalasnya dan memberikan kecupan terakhir.
"Tunggu Aku selama Dua Minggu di Lembah Phanouel. Aku pasti akan kembali. Binoang tidak akan berani mengganggumu. Kakak."
"Aku akan menunggumu." Funuell mulai berkaca kaca.
"Tunggu Aku Arbakir."
"Baik Tuan. Jangan mati Tuan." Arbakir menjawab.
Suara Mesin pesawat mulai meraung tinggi. Funuell dan lainnya mulai mundur.
"Kita masih akan membicarakan tentang keluarga yang memiliki petir dan Api itu Dupp." Arch menuntut kepada Dupp.
Pesawat Naery Sarr melesat di udara. Mereka meninggalkan Lembah Phanouel. Semakin lama lembah itu semakin kecil lalu menjadi sebuah titik.
Pengalaman mengerikan sedang menunggu didepan mata untuk menghadapi Ratu Valkirie. Yang menjadi keyakinan Ragil bahwa Valkirie tidak menaruh tangan jahat kepadanya karena Ratu itu masih mengharapkan Cermin Bulan yang ada padanya. Selama Cermin Bulan itu ada padanya maka dia tidak akan mati.
Cloud IV
Di Salah satu ruangan di dalam pesawat Cloud IV, terdapat seorang wanita sedang berlatih gerakan ilmu bela diri. Ruangan ini cukup besar untuk di gunakan sebagai fasilitas olah raga. Didalamnya juga terdapat berbagai alat mengolah tubuh seperti halnya berada di tempat fitness. Hanya yang membedakannya adalah Dinding dinding nya terbuat dari besi.
Meskipun Mengenakan singlet sintetis dan celana pendek ketat, gerakan gerakan wanita itu tidak terganggu sama sekali bahkan lebih leluasa. Gadis muda bermata sipit ini hanya sendirian di dalam ruangan ini.
Sebentar sebentar mengeluarkan suara hentakan berteriak seirama dengan gerakan gerakan jurusnya. Rambutnya di kuncir dua agar tidak mengganggu setiap gerakannya.
Tidak lama kemudian sebuah lampu di atas pintu bernyala warna hijau. Melihat hal itu si gadis itu menghentikan gerakannya.
"Masuk." Teriaknya sambil mengambil handuk kecil untuk mengusap peluh di sekujur wajahnya.
Pintu itupun terbuka. Seorang wanita lain mengenakan seragam militer memasuki ruangan.
"Lapor Ratu. No 1 dan Ragil sedang dalam perjalanan menuju ketempat ini."
"Bagus." Wanita sipit yang di panggil Ratu itu menjawab. "Kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan, Etuell."
"Saya mengerti Ratu." Jawab Jendral Etuell.
"Bagus. Sudah saatnya untuk Ragil melihat kebenaran dan berpihak kepada kita."
"Maaf Ratu. Apakah Ratu yakin bahwa pemuda itu akan berpihak kepada kita?"
__ADS_1
"Dia harus menentukan pilihan. Seharusnya dia tidak ikut terlibat dalam permainan para Dewa ini." Valkirie melepaskan kaus singletnya dan mengenakan jubah handuk untuk menutupi tubuhnya. "kau boleh keluar sekarang."
Setelah pamit, Jendral Etuell pun meninggalkan sang Ratu sendirian.
Valkirie pun melayang dalam pemikirannya. Baginya, Landria itu adalah papan permainan seperti mainan monopoli buat anak anak. Siapa yang bertahan paling akhir adalah pemenangnya. Yang tidak kuat akan tereliminasi.
Hanya ada satu pemenang di Landria. Segala cara dapat dilakukan. Tidak ada namanya kerja sama antara para manusia bumi yang di utus kesini. Salah satu pasti akan mengkhianati yang lainnya. Karena hanya membutuhkan 1 pemenang saja. Sudah berjalan ratusan tahun tapi tidak satupun mahkluk bumi di tempat ini ada yang tewas.
Ragil belum mengetahui siapa Dewi Kumala sebenarnya. Dia tidak lain hanya salah satu pemain yang mengumpulkan kekuatan untuk menumbangkan pemain lainnya.Ragil tidak menyadari kalau dirinya sudah di manfaatkan untuk menjadi pion bagi Dewi Kumala dan Kirk Van Buschen.
Max Schubert juga bergerak secara rahasia jadi belum terlihat sepak terjangnya. Tidak tahu sebesar apa kekuatannya.
Demikian juga Eduardo Maschety yang. Belum diketahui siapa sebenarnya dan dimana dia berada.
"Dewi Kumala. Tunggu saja pembalasanku." Valkirie memukul tembok besi dengan hati penuh amarah.
-----------
Jauh di Selatan. Salah satu pegunungan. Terdapat air terjun yang jernih mengalir sampai ke sungai.
Tepat di bawah air terjun itu ada seseorang sedang bersemedi diatas batu karang yang besar. Pria itu tampak kusuk dalam doa nya.
"Tuan. Saya sudah tiga hari tiga malam bersemedi di tempat ini sesuai perintah mu. Ini membuktikan tekad saya untuk mendapatkan kekuatan guna membalas dendam." Pria itu bersujud.
"Namamu Tamave bukan." Suara besar dari dalam air terjun menggema. "Murid dari Yakove?".
"Benar Tuan. Saya Tamave murid tertua dari Yakove." Pria itu menegaskan jati dirinya.
"Aku tahu. Aku harus mengakhiri kehidupanku dengan dunia ini."
"Benar. Itu berarti kau harus mati terlebih dahulu baru mendapatkan kekuatan abadi dariku. Karena aku adalah Necromancer, Tuan dari semua kematian."
Sebuah benda meluncur dari dalam air terjun dan terjatuh tepat di hadapan Tamave. Benda itu adalah sebuah pisau besi berwarna hitam.
"Jika kau sudah yakin, Bunuhlah dirimu maka kau tidak akan menggunakan tubuhmu lagi."
Tamave mengambil pisau itu. Dia membuka kancingnya perlahan. Dia mulai ragu untuk membunuh dirinya sendiri. Dia mulai mengingat wajah Funuell, gadis pujaannya itu. Bersusah payah membujuk gurunya, Yakove untuk melamar Puteri dari Tabib Paniell. Gadis itu telah bersumpah untuk tidak menikah dan mempunyai keturunan sebelum mendapatkan cara untuk menyembuhkan diri dari penyakit inti es. Bertahun tahun Tamave dan Gurunya mencoba berbagai cara agar dapat menyembuhkan penyakit Funuell. Namun semua cara sia sia dan tidak dapat menyembuhkan gadis itu.
Kemudian muncul gambar wajah Ragil di pikirannya. Entah bagaimana Pemuda liar ini dapat menyembuhkan penyakit inti es hanya dalam waktu yang singkat. Tanpa pengobatan. Tanpa akupunktur. Hanya menggunakan Array Kuno.
Hanya gara gara Pemuda Liar ini membuat segala usaha yang di bangun bertahun tahun lenyap begitu saja.
Teringat wajah Funuell yang begitu mengagumi Ragil yang baru ditemuinya. Wajah bahagia. Tawa nya begitu ceria. Wajah seperti itu belum pernah dilihat sebelumnya. Ragil lah yang berhasil membuatnya bahagia dan merebut hatinya.
Kenapa harus pemuda liar itu memiliki banyak kelebihan. Disukai banyak wanita. Kenapa dia harus ada di dunia ini. Semakin dipikirkan maka semakin sakit hatinya Tamave.
Kemudian di bulatkan tekadnya. Di tikamnya tubuhnya oleh pisau itu. tusukannya tepat mengenai jantungnya. Darah segar membasahi tubuhnya. Kebencian yang begitu dalam dibayar dengan harga yang mahal.
"Hahahaha.... " Suara dari dalam air terjun. "Aku adalah Necromancer. Seorang budak datang kembali kepadaku. Aku akan membangkitkan dirimu dan memberikan kekuatanku kepadamu untuk membalas dendam mu."
__ADS_1
Penjara Ulgar
Seorang pengawal sedang membawa dua bakul makanan. Dia memasuki ke kamar tahanan satu persatu untuk memberikan makanan.
Di Kamar pertama terdapat seorang tahanan wanita. Rambutnya keriting. Tangan dan kakinya terikat oleh rantai yang telah di berikan sihir sehingga tidak mudah di patahkan. Mulut wanita itu di tutupi besi dan hanya sebuah selang yang keluar dari mulut besi itu. Selang itu menuju ke sebuah tiang kecil yang di atasnya ada piala.
Petugas penjara itu mengeluarkan satu nampan yang berisi cairan makanan lalu di tuangkan ke dalam piala.
Makanan itu akan turun melalui selang lalu sampai ke mulut tawanan. Begitulah cara wanita itu makan.
Wanita itu tidak lain adalah teman Ragil yang sering di panggil Badut.
Petugas penjara itupun meninggalkan badut menuju ruangan selanjutnya. Kamar di sebelahnya juga diisi oleh tawanan.
Ketika petugas memasuki ruang di sebelahnya, petugas itu bersujud di depannya.
"Baginda Raja. Ini saatnya Baginda Ratu untuk makan." Suara petugas itu.
"Berikan padaku maka aku yang akan menyuapi isteriku." Ucap Baginda Raja Ahazee.
"Aku tidak Sudi. " Sang Ratu menolak.
Kedua tangan dan kaki Ratu pun sudah di ikat dengan rantai besi. Kedua telapak tangannya juga di masukan kedalam tabung besi agar tidak dapat mengeluarkan sihir.
"Kenapa kau tega melakukan seperti ini terhadap isterimu dan Puterimu sendiri " Ratu berteriak sambil menangis.
"Dia bukan Puteriku ." Ucap Raja Ahazee.
"Sebelum menikah aku juga sudah mengatakan padamu kalau aku sudah mengandung. Tapi kau terus bertekad untuk meminang ku."
"Karena aku mencintaimu."
"Lantas kenapa kau perlakukan aku seperti ini."
"Demi kejayaan kerajaan kita."
"Kejayaan apa. Phuihhh... " Ratu meludah.
Sementara petugas makanan itu membawa makanan ke kamar yang lainnya lagi. Kamar tahanan itu dalam posisi pintu terbuka.
Didalamnya ada seorang gadis kecil dan seorang pria melayang di udara.
"Maaf Tuan. Saya hendak membawakan makanan untuk tawanan." Petugas itu bersujud.
"Tinggalkan saja disitu lalu pergi dari sini.," Perintah pria yang melayang.
Pria itu berambut pirang disisir rapih kebelakang seperti tampilan mafia jaman dulu. Mengenakan kemeja dan dasi. Celana kain. Jelas kalau pria ini dari Bumi.
__ADS_1
"Max Schubert. Cepat bunuh aku. Bukankah ini keuntungan untukmu" Seorang tawanan anak kecil berbicara.
Dia adalah Dewi Kumala. Tubuhnya dengan bebas bergerak dan tidak ada rantai yang mengikatnya. Tubuh kecil itu dalam posisi sedang bersemedi. Matanya tertutup hanya mulutnya yang berbicara.