
Funuell di depan goa tidak bisa tenang. Dia merasa kalau Ragil mengacuhkannya dan sedang menjauhkan dirinya. Arbakir mengatakan kalau Ragil tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Ini rasanya seperti penolakan.
Pikir gadis itu, Ragil hanyalah hendak
merahasiakan kepada orang lain tentang dirinya yang menggunakan Summon manusia berjubah hitam. Untuk orang lain boleh saja dia menutup diri. Tapi Funuell sudah tahu tentang Summon itu, kenapa masih menjauhkan dirinya. Kenapa masih tidak ingin di temani oleh dirinya. Apakah selama ini dia salah mengerti akan sifat karakter dewa penolongnya itu.
Sedangkan di hati Funuell masih banyak yang hendak ditanyakan mengenai penyerangan di Rachacci.
"Aku harus bicara dengannya." Batin Funuell, menetapkan dirinya.
Diapun melangkah mendekati Arbakir.
"Minggir kau botak atau aku akan menghancurkan mu." Bentaknya. "Aku harus bertemu dengan Tuanmu."
Tangan Funuell terlihat memutih seperti di penuhi oleh bintik salju. Dia siap melakukan penyerangan jika terpaksa
Arbakir yang mengetahui bentuk transformasi Tuannya tetap bertahan di posisinya. Pria botak hitam ini siap berkorban nyawa demi melakukan perintah Tuannya.
Didalam benak Arbakir yang mengetahui akan kekuatan inti Es Funuell segera mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan. Tapi yang terjadi sungguh di luar yang dipikir kan Arbakir. Tubuhnya mengeluarkan sisik tebal seperti kulit buaya. Begitu tebalnya membuat berat badan Arbakir menjadi bertambah beberapa puluh kilo.
Arbakir tidak pernah berpikir akan memunculkan penampilan seperti iini. Yang terjadi dalam tubuhnya hanya berubah dengan sendirinya tanpa dikendalikan oleh pikirannya.
Bahkan bagi pria botak ini juga merasa ini penampilan baru nya.
Sebenarnya itulah proses kerja tubuh barunya monster yang satu ini. Ketika Arbakir memikirkan kekuatan Funuell yang mengerikan maka secara otomatis tubuhnya ber evolusi seolah dirinya memang menghadapi serangan inti es.
Dupp yang melihat perubahan Tubuh Arbakir dapat membayangkan akan terjadi pertarungan yang akan menghebohkan. Pasalnya dalam penglihatan mata Dupp terlihat angka angka defense Arbakir bertambah 50%. Ini membuat pertahanan Arbakir meningkat drastis.
Dupp sebenarnya tertarik dengan dengan penampilan Arbakir. Tapi tidak ada waktu untuk mempelajarinya. Yang utama sekarang bagaimana caranya mencegah kehebohan yang akan terjadi. Pastinya ini akan mengganggu acara pidato.
"Hei... Keturunan Htur. Mengapa kau begitu emosi." Dupp datang menghentikan langkah gadis tabib itu.
"Kau. Jangan mencoba menghalangiku. Aku tidak takut kepadamu." Funuell hanya dapat menggenggam tangannya dengan kesal. Dia sadar saat ini dia belum dapat mengalahkan pria di hadapannya itu. Tapi emosinya sudah memuncak. "Saat aku mencapai jurus ke tujuh dari jurus Pedang Inti Es maka aku akan mencarimu ke ujung Landria sekalipun." Dendamnya.
"Aku akan menantikan hal itu Nona... Nona Boazze atau Nona Htur?"
Dari garis ayahnya, Funuell ber marga Boazze tapi dari garis ibunya yang mewariskan tubuh Inti es ini, dia bermarga Htur seperti Htur Orpahh nenek moyangnya.
__ADS_1
"Terserah." Ketusnya. "Apa alasanmu menahan ku."
"Tidak ada alasan apapun. Aku tidak perduli dengan pertengkarannya dengan orang suku Naga ini. Aku hanya hendak bertanya. Dari mana kau mempelajari jurus Pedang Inti Es sedangkan Buku Jurus inti Es itu sudah lenyap ratusan tahun."
Sebenarnya Dupp memang hendak menghalangi Funuell ke dalam goa. Karena Ragil yang dicarinya pasti tidak akan ada dalam goa. Karena Ragil sudah menjadi Pria Jubah Hitam. Dupp membuat berbagai alasan supaya Funuell tidak masuk dalam goa dan rahasia identitas Ragil tetap terjaga.
"Dari mana kau mengetahui itu. Apakah kau yang mencuri bukunya."
"Aku akan memberitahumu tentang buku itu jika kau mau menjelaskan dari mana kau belajar jurus itu."
"Nenek moyangku Htur Orpahh yang mengajariku."
"Hahahaha... " Dupp tertawa. "Htur Orpahh sudah mati ratusan tahun yang lalu. Bagaimana bisa dia mengajarimu. Kau mau membohongi orang tua ini."
"Aku Puteri dari Tabib Paniell pantang berbohong. Kalau tidak percaya boleh kau tanyakan langsung kepada Ragil. Karena dia yang mempertemukan aku dengan roh Htur Orpahh di dalam alam jiwaku."
"Alam roh? Roh Htur Orpahh?" Dupp agak terperanjat. "Bagaimana mungkin."
"Sekarang jelaskan dimana buku itu." Funuell menuntut.
"Tidak usah kau mengalihkan pembicaraan. Dimana buku itu?" Funuell setengah berteriak.
"Sudah ku musnahkan jadi tidak akan ada yang mempelajari buku itu."
"Bajingan kau." Funuell mengeluarkan pedang Inti Es nya. "Kau yang menyebabkan ibuku mati muda."
Jurus ke ke tiga : Air
Funuell membuat gerakan tarian yang membuat ujung pedang inti es nya mengeluarkan air mematikan. Hawa pembunuh memenuhi di tubuhnya.
Jurus ke lima :Tubuh
Dupp tidak mau kalah. Dia menggunakan Diuplikat Jurus inti Es yang ke lima. Jurus ini belum di pelajari oleh Funuell.
Seketika itu juga tubuh Dupp di penuhi kristal es yang membungkus tubuhnya. Kini tubuh Dupp sekeras baja.
Funuell terheran namun tetap dalam posisi menyerang. Serangannya sudah tidak bisa di tarik lagi. Dia pernah di beritahu efek Jurus ke lima dan ke enam. Tapi belum pernah melihatnya. Kini dia melihat langsung Jurus Ke lima dari inti es. Tentu saja membuat dirinya heran.
__ADS_1
"Prakhhh."
Pedang Inti Es milik Funuell patah begitu bertemu dengan tubuh Dupp yang sangat keras.
"Kau. Bagaimana kau bisa memiliki jurus inti es?" Sejenak Funuell hilang emosinya berganti dengan rasa penasaran.
"Aku bisa sampai jurus ke enam : Bumi. Tapi jika itu ku keluarkan maka banyak orang akan mati disini." Dupp masih dalam bentuk manusia kristal.
"Kau mencuri dan mempelajari jurus keturunan Htur. Bagaimana mungkin bisa kau lakukan padahal kau tidak memiliki tubuh Inti es dan lagi pula kau bukan seorang wanita."
Dupp melepaskan Jurus ke lima tersebut. Tubuh kristal nya pecah menjadi debu lalu lenyap. Dia kembali ke fisiknya semula.
Dengan cepat Dupp mendekati Funuell sambil memegang lengan kanannya. Tujuannya adalah agar gadis penyihir inti es ini tidak menggunakan sihirnya.
"Aku adalah seorang Duplikator. Aku dapat membuat duplikat sihir apapun kecuali Jurus ke tujuh. Aku tidak menginginkannya Karena jurus itu dapat membuatmu kehilangan kendali atau di sebut barserker."
"Bohong." Funuell melepaskan genggaman Dupp.
Sementara itu terdengar sorakan para tamu. Keduanya seketika berhenti lalu menengok ke arah Jubah Hitam yang sedang berpidato. Apa yang sedang di bicarakan Ragil? Begitulah isi batin kedua orang itu.
Tidak ada satupun dari para tamu yang memperhatikan pertarungan Dupp dengan Funuell selain Arbakir, Sarr, Arch dan beberapa penjaga Binoang .
"Benar. Benar sekali cinderamata yang akan saya berikan ini terbuat dari sihir ciptaan saya sendiri. Sebagai kenang kenangan di akhir pertemuan kita saat ini. Besar harapan saya kita akan bertemu di pertemuan berikutnya 30 hari yang akan datang." Si jubah hitam membuat para tamu penasaran dengan hadiah.
"Nanti kita akan bahas ini lagi." Funuell berjalan ke arah pertemuan. Dia tidak jadi ke dalam goa.
Gadis tabib ini masih menyangka kalau si jubah hitam ini adalah hasil Summon Ragil. Jadi dia masih penasaran dan ingin tahu hadiah yang di katakan si jubah hitam.
Arch mendekati Dupp dengan berbisik. "Mengapa kau membantu Ragil menutupi identitasnya. Padahal itu bukan urusan kita."
"Archie... Kau adalah pemuda yang baik dan berpikir panjang. Tapi jika itu menyangkut tugas dari ayahmu maka pikiranmu jadi pendek. Tidak memperdulikan segala sesuatu." Dupp merangkul Arch seperti kepada anaknya sendiri. "Ragil terpaksa menunjukkan transformasi yang dia sembunyikan hanya karena dia harus bertarung denganmu. Karena dia harus melindungi teman temannya yang akan kita bunuh. Bahkan dia tidak membunuhmu sebagai musuhnya. Bukan hanya itu, dia menyembuhkanmu dari luka yang membuat dirinya menjadi lumpuh. Apakah kau tidak memiliki nurani? Ragil bukanlah musuhmu. Bagaimanapun juga kalian pernah bersahabat. Jujur saja. Aku Semakin menyukai anak itu. Berharap ke depannya dia tidak akan pernah jadi musuhku tapi sebaliknya aku berharap dia menjadi sahabatku."
Sementara di pertemuan anak buah Binoang membawa nampan kayu berisi puluhan kantong kain kecil untuk di berikan kepada para tamu satu kantong per orang. Kantong kain itu berisi benda benda kecil di dalamnya.
"Sengaja saya memberikan cinderamata ini agar kita yang ada disini dapat mengabari yang petualang lainnya untuk bertemu di pertemuan mendatang. Untuk pertemuan berikutnya saya akan membuatkan senjata sesuai kebutuhan para petualang sekalian seperti yang saya ciptakan kepada Binoang dan anak buahnya. Didalam bingkisan ini terdapat tiga benda yang tidak kalah hebatnya dari sebuah senjata yang dapat membantu anda di saat kesulitan." Jubah hitam itu menjelaskan. "Jangan membuka kantong itu sebelum aku menjelaskan isi dan fungsinya."
Para tamu semua duduk Manis dengan tenang menuruti perkataan tuan rumah dengan penuh harap.
__ADS_1