
Wanita inti es ini mencoba melihat korban dari serangan Madrakh Style
Sungguh mengejutkan tubuh Lamia berlubang di dadanya. Badannya hampir putus.
Rupanya Madrakh menggunakan tubuhnya sebagai pedang dan meluncur menusuk Lamia. Seandainya di gunakan gerakan lambat, Tubuh Madrakh berputar bagai bor dengan kecepatan tinggi dan di sekitar tubuhnya mengeluarkan aura merah berbentuk paku raksasa yang berputar. Meluncur dengan cepat melubangi perut Lamia.
Ini jurus yang berbeda dengan jurus inti es.
"Ser... ra...Ngan.... He..bat. qi.. qi.. qi." Lamia yang masih berdiri membuka suaranya yang melemah.
"Lihat. Tubuhnya akan meregenerasi." Seseorang penonton berteriak
Tubuh Lamia yang berlobang mulai mengeluarkan serabut serabut kecil seolah ingin merajut kembali tubuhnya.
"Kita habisi sebelum dia meregenerasi." Seseorang yang berpakaian kerajaan mulai menyerang
"Jangan." Teriak Madrakh dari kejauhan.
Tapi sudah terlambat. Pria dengan tingkat Maha Dewa itu menerjang hebat dengan cepat. Belum lagi mencapai tubuh Lamia, Pria itu manuver ke atas membuang dirinya menjauhkannya dari Lamia. Suatu Ilmu Sihir angin yang luar biasa dapat merubah arah serangan dengan cepat.
Pria itu mendarat jauh ke belakang. Baju perisai nya mulai berubah secara perlahan menjadi debu. Dengan cepat Bangsawan kerajaan itu melepas jubah besinya.
Jubah besi yang jatuh ketanah itu secara perlahan berubah menjadi debu hingga jubah besi itu lenyap terbawa angin.
"Itu Destruction Palm. Milik Raja Noemis." Orpahh mengingat efek dari Destruction Palm dapat meleburkan menjadi debu.
Hanya saja peleburan itu terjadi ketika Raja Noemis menyentuh lawan. Sedangkan kemampuan Madrakh lebih lagi dari itu. Area tempat Lamia berdiri itu dipenuhi aura Destruction Palm.
Ini adalah gabungan dari beberapa Jurus. termasuk jurus ke tujuh dari Inti Es. Didalamnya terdapat berbagai elemen.
Orpahh sangat menyadari kalau kekuatan Madrakh di luar nalar manusia. Mungkin dia adalah yang terhebat dari seluruh Landria. Bahkan dirinya juga meragukan dapat menang jika melawan Madrakh. Tapi untuk latih tanding, Madrakh adalah pilihan tepat untuk sparing.
"Bagaimana mungkin sihir yang terlihat begitu lemah tetapi ternyata mengandung kekuatan yang sangat besar." Orang banyak mulai berkomentar.
"Bahkan menurut rumor kalau dia tidak sanggup mengalahkan Raja Noemis."
Lamia masih bertahan dan ingin meregenerasi tapi tidak dapat melakukannya karena lobang diperutnya semakin semakin cepat membesar. Lebih cepat daya hancurnya dari pada daya pemulihannya. Daging daging di sekitar perutnya berubah menjadi debu secara perlahan.
"Si.. a ... pa... ka... u... sebe...barnya..." Lamia tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Ini diluar dugaannya. Ratu Ular itu menyadari kalau ini adalah akhir hidupnya. Ternyata masih ada orang yang sekuat dan sehebat Tuan nya, Si Raja Kegelapan.
"Aku tahu kau dapat bermutasi dengan serangan yang telah kau terima di awal. Serangan biasa tidak dapat menghancurkan tubuhmu. Elemen apapun yang di gunakan, kau tetap dapat bertahan dan bermutasi. Demak n kuat serangan maka kau akan semakin kuat." Madrakh mendekati lawannya. "Tapi bukan berarti kau tidak punya kelemahan. Menyerang mu haruslah dengan jurus pamungkas dimana kau belum bermutasi dan daya tahanmu masih lemah. Tapi jika seranganku besar dan pertahananmu kecil maka kau tidak sanggup melakukan mutasi." Madrakh puas melihat hasilnya.
"Pertahanan kecil? Apa tidak salah?" Si Bangsawan merasa tidak puas dengan perkataan Madrakh. "Sudah jelas pertahanan Lamia begitu kuat."
"Maksudnya Madrakh adalah. Pertahanan Lamia yang kuat itu di anggap kecil baginya. Kelemahan Tubuh Lamia adalah jika di berikan serangan mematikan maka dia tidak akan bisa lagi bermutasi." Orpahh menjawab.
Lamia yang sudah di tebak akan kelemahannya tidak dapat lagi mengucapkan sepatah katapun.
"Maksudmu. Untuk melawan Lamia harus menggunakan jurus yang paling hebat supaya dia tidak ber mutasi.?" Bangsawan itu mengerutkan keningnya.
"Benar."
__ADS_1
"Bukankah Madrakh telah melakukan dua serangan pertama yang membuat dia semakin kuat."
"Benar. Tapi serangan pertama dan kedua adalah serangan dengan elemen yang sama tapi untuk serangan ke tiga, Madrakh menggunakan Elemen campuran dimana elemen ini belum di terima oleh Ratu Ular. Jadi dia belum bermutasi menciptakan pertahanan dengan elemen Madrakh yang baru. Terlebih serangan ke tiga Madrakh lebih kuat dua kali lipat dari serangan ke dua. "
"Sedemikian hebatnya kah Madrakh ini sampai memiliki berbagai elemen dalam tubuhnya. Dua kali lipat dari serangan ke dua? Siapakah yang dapat disejajarkan dengan dia." Sang bangsawan hanya dapat menggelengkan kepala nya.
Bangsawan ini menyadari, walau hanya tipe serangan ke dua dari Madrakh saja, dirinya tidak dapat bertahan, apa lagi dua kali lipat dari serangan ke dua. Secara tidak langsung hendak mengatakan kalau kekuatan dirinya hanyalah seperempat dari Madrakh. Mungkin bisa lebih rendah lagi. Sosok yang tidak boleh di jadikan lawan.
Semua orang melihat proses tubuh Lamia yang mulai lenyap menjadi debu dan tertiup angin. Kini Lamia lenyap sudah.
Madrakh pun langsung tergeletak di tanah seperti orang yang kelelahan.
"Madrakh..." Teriak Orpahh.
"Aku tidak apa apa. Hanya kelelahan. Kalian masuklah ke dalam hutan terlebih dahulu."
"Biarkan dia istirahat. Kita tetap masuk ke dalam hutan." Pria bangsawan itu melangkah menuju hutan. "Segera menyusul Tuan Madrakh. Kami masih membutuhkan kekuatan mu."
"Biar aku disini menjagamu." Orpahh memutuskan.
"Tidak. Jangan. " Seru Madrakh. "Menghadapi satu pengawal Raja Kegelapan saja sudah kewalahan. Kalian harus bersatu. Kalau perlu mengeroyok. Kau juga harus membantu yang lainnya Orpahh. Kalau tidak mereka semua akan mati."
"Baik. Tapi setelah semua urusan ini selesai, aku masih harus berbicara denganmu."
"Tentu saja. " Madrakh tersenyum.
Setelah di putuskan, mereka semua meninggalkan Madrakh sendiri bersama orang yang terkena gigitan ular. Dengan tewasnya Lamia maka seluruh pasukan ularpun lenyap.
"Tunggu dulu Nenek." Funuell yang mendengarkan cerita Orpahh menyela. "Apakah tadi kau katakan bandana Madrakh terlepas saat menggunakan kekuatan besarnya di gerakan ke tiga?"
"Iya benar."
"Apakah yang di katakan Madrakh itu seorang berumur empat puluhan dengan wajah tampan. Alis tebal berbadan tegap. Dan bandana nya berwarna abu abu dari bahan kain sederhana?"
"Yah memang seperti itu."
"Dia memiliki telinga besar dan sorot mata yang tajam."
"Benar. Apakah kau tahu sesuatu?"
"Tidak salah lagi kalau dia orang sama dengan Vacuum Dupp." Funuell memastikannya.
"Vacuum Dupp?"
Funuell pun menceritakan kemampuan Dupp yang dapat membuat duplikat sihir. Juga di ceritakan akan kekuatan Dupp yang akan semakin besar jika bandana nya lepas karena bandana itu untuk menahan kekuatan sihirnya supaya dia dapat menyembunyikan kekuatannya.
Cerita Dupp
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Apakah kau tidak merasakan sesuatu kejanggalan ketika kau sedang melawan Lamia yang dapat ber mutasi." Ragil memotong cerita Dupp.
__ADS_1
"Yah. Kemampuan Lamia dan Arbakir yang dapat bermutasi hampir serupa."
"Tidak. Itu bukan 'hampit' tapi memang serupa. Hanya saja bedanya Tubuh Arbakir Hitam dan Lamia bersisik."
"Ini pasti berhubungan dengan Raja Kegelapan. Kemampuan Arch yang dapat melipat gandakan kekuatannya sama seperti Succubus salah satu pengawal Raja Kegelapan."
"Raja Kegelapan pernah cerita kepadaku mengenai empat pengawalnya tapi aku tidak tahu menahu tentang kekuatannya ."
"Baik. Aku akan melanjutkan ceritaku." Dupp menyambung ceritanya.
---------
Saat itu Madrakh sengaja pura-pura kelelahan agar terlihat dia sama seperti manusia lainnya yang terkuras kehabisan mana dan membutuhkan waktu untuk mengembalikan mana.
Setelah semua pergi meninggalkan dirinya sendiri, Madrakh langsung bangkit lalu mengenakan bandana nya lagi.
Baru saja hendak meninggalkan tempat itu, terdengar bunyi menderu. Beberapa pesawat kecil di udara melewati di atas nya. Itu adalah pasukan militer.
Madrakh menghentikan langkahnya. Berpikir sejenak. Lalu dia merasakan kehadiran orang lain di dalam hutan itu.
"Apakah kau hendak pergi ke Hutan Kegelapan." Sebuah suara wanita terdengar dari belakang Madrakh.
Madrakh membalikkan badan. Terdapat dua wanita muda. Mereka berdua mengenakan pakaian yang tidak asing bagi Madrakh.
Yang seorang memiliki wajah Asia dengan mata sipit. Pakaiannya merupakan pakaian tradisi cina berwarna merah dengan simbol kembang kembang. Mengenakan celana panjang dengan motif yang sama dengan bajunya. Rambutnya di kuncir kebelakang.
Yang satunya lagi wanita yang mengenakan kaos putih, celana jeans, sepatu sporty dan topi base ball.
Mereka berdua mengenakan pakaian planet bumi. Madrakh dapat menebak siapa mereka berdua.
"Sebaiknya kau jangan ke sana. Urungkan saja niatmu untuk membasmi Raja Kegelapan." Gadis yang mengenakan celana blue jeans memperingatkan. "Kau akan mengantar nyawa sia sia."
"Biarkan saja Dewi. Semakin banyak yang membantu akan semakin baik." Gadis cina menimpali perkataan temannya.
-----
"Jadi kau bertemu Valkirie dan Dewi Kumala." Ragil memotong cerita.
"Benar. Tapi mereka berdua tidak mengenaliku. Jadi akupun mengikuti saran mereka meninggalkan Hutan Kegelapan. Kubiarkan saja Dewi dan Valkirie yang mengatasi Raja Kegelapan. Sejak saat itu aku tidak pernah bertemu Orpahh lagi."
"Yahh... Selanjutnya Dewi menyegel Kirk. Hutan kegelapan di bakar Valkirie. Aku tahu cerita selanjutnya."
Dupp tertegun sejenak. Sebenarnya ada lagi cerita di balik kejadian penyegelan itu. Ada intrik di balik sepak terjang para Dewa yang dikirimkan dari planet Bumi. Tapi Dupp tidak mau menjelaskan akan dilema para mahkluk bumi. Jadi sebelum Ragil bertanya lebih jauh, Dupp langsung mengarahkan arah pembicaraannya.
"Tapi bukan itu inti cerita yang mau kusampaikan." Dupp hendak meneruskan ceritanya.
"Maksudmu, tentang perjalanan Tubuh Inti Es?"
"Benar. Kau harus tahu tentang tubuh Inti Es."
-------
__ADS_1