
Ragil Memasuki hari ke empat bersama Sarr. Pagi hari di lembah Phanouel seperti biasanya ber embun. Sebelum matahari terbit, udara di luar sangat dingin.
Keluarga Tabib ini sejak kemarin sore terus merawat semua orang yang terluka dengan telaten. Semua rombongannya juga turut membantu. Bahkan Murid Yakove juga mengambil bagian untuk menolong orang yang terluka.
Dari informasi murid Yakove, Paniell mulai mengerti kenapa Ragil tidak membunuh para pasukan Haduz yang menyerang. Karena ternyata Ragil sendiri tidak tahu menahu dan tidak ada permusuhan dengan Kerajaan Haduz.
Paniell yang penasaran karena serangan Haduz, mulai mencari informasi di antara pasiennya.
"Melihat pakaianmu sepertinya kau dari pasukan Haduz. " Ucap Paniell kepada salah seorang pasiennya yang terluka akibat tembakan. "Mengapa kalian menyerang tempat ini.? "
"Benar Tabib. Kami dari pasukan Haduz dan kami menyerang karena di perintahkan untuk membunuh Ragil. kami hanya melaksanakan perintah. Ini baru pertama kalinya kami dirawat oleh pihak musuh." Jawab sang pasien.
"Ragil? Mengapa Dia? Dia hanya orang biasa, bahkan bukan penyihir tingkat tinggi."
"Kami tidak tahu. Hanya pemimpin kami memerintahkan harus membunuh Ragil."
"Pemimpin kalian yang mati di tembak."
"Benar. Mungkin Ragil terpaksa mem bunuh pemimpin kami karena dia terus memanggil Srigala untuk menyerang."
"Sepertinya kau mempunyai kesan baik kepada pemuda bernama Ragil itu. "
"Iya. Kecuali pengawalnya yang wanita membunuh dengan kejam." Banyak yang mati oleh belati nya."
"Baiklah. Saya akan melihat korban yang lainnya. Luka mu akan segera mengering."
"Tuan Tabib. Tunggu." Pasien itu menahan langkah Tabip tua itu. "Tolong berikan pengobatan kepada wakil ketua kami si mata satu yang ditahan di penjara."
"Saya akan merawat yang lainnya dulu. Nanti saya akan lihat Wakil Ketuamu. "
Tapi karena penasarannya, Tabib itu masuk ke dalam lagi dari lorong gua menemui mereka yang ada dalam penjara dalam gua. Disana terlihat si mata satu sedang duduk bersila sendirian.
"Apakah kau wakil pemimpin mereka?"
Simata satu tidak menjawab.
"Anak buahmu memintaku menyembuhkan mu terlebih dahulu tapi seperti nya kau tidak mau di sembuhkan."
Masih tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Aku dengar setelah kalian di sembuhkan maka akan dilepaskan kembali untuk kembali ke kerajaan kalian. Tapi seperti nya hanya anda seorang yang tidak ingin kembali ke kerajaan kalian."
Si mata satu tetap tak bergeming.
"Baiklah. Aku tidak dapat menyembuhkan jika kau tidak ingin di sembuhkan. Aku adalah Tabib Paniell. Permisi.."
Paniell hendak membalikan badannya.
"Katakan pada Ragil untuk mengembalikan kompas Pat Kwa milikku maka aku sangat berterima kasih. Aku tidak perlu di obati."
"Kakimu tertembak oleh peluru. Kalau di biarkan akan ter infeksi mengakibatkan kelumpuhan. Setelah kau sembuh maka akan ku katakan kepadanya. Sepertinya Ragil bukanlah orang jahat.
Tak jauh dari Tabib itu datanglah Puteri nya menghampiri.
"Ayah, Aku mencari mu kemana-mana. Kata perwira Haduz kau berada disini. "
"Ada apa, Puteriku. Bukannya kau bersama yang lain sedang menyembuhkan yang terluka."
mereka semua terluka akibat tembakan peluru kosong dan tertimpa batu, semua sudah di tangani dengan baik. Satu dua hari mereka akan pulih. Sementara yang lainnya masih dalam kondisi sehat saja karena hanya Di lumpuhkan dengan racun."
"Iya. Racun Pelemas Otot ciptaan Militer."
"Aku juga tidak mengerti."
"Dia itu bukan orang jahat atau orang baik. Dia hanya orang yang terseret dalam politik perang." Si mata satu membuka suara. "Semenjak dia membantu Ulgar mengalahkan Militer maka semenjak itu dia di perhitungkan oleh seluruh kerajaan Landria. Kalau dia tidak bisa jadi kawan maka akan jadi lawan. Semua ingin mengajaknya bergabung untuk menghadapi Pihak Militer. Kerajaan yang tidak bisa mengajaknya maka akan membinasakannya."
"Maksudmu, Ragil adalah lawan dari kerajaan Selatan? Sehingga kalian berusaha membunuhnya." Paniell mengorek informasi.
"Menurut informasi, Ragil sedang di perebutkan oleh Militer, Ulgar dan Nulubez. Keberadaannya membahayakan kerajaan lain yang sedang gencatan senjata. Dari para Peramal Haduz mengatakan bahwa Ragil dapat dapat membahayakan tatanan kerajaan dan akan banyak kerajaan yang tumbang karenanya."
"Negri Selatan memang terkenal dengan banyaknya para peramal." Paniell mengangguk.
"Sama seperti suku Naga di Timur yang begitu percaya kepada roh leluhur." Funuell menimpali.
"Sekarang. Pergilah kalian. Biarkan aku sendiri disini. Aku dapat menyembuhkan penyakitmu sendiri."
Tanpa banyak bicara kedua orang tua dan anak meninggalkan Si Mata Satu sendirian.
"Apakah menurutmu Ragil itu penjahat? " Tanya Paniell.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Hanya saja dia tidak seperti orang jahat yang kejam Tapi dia lebih kepada seorang penipu. Jujur saja aku tidak yakin kalau pria biasa seperti itu bisa menyembuhkan tubuh Inti Es. Bahkan Ayah saja tidak bisa menyembuhkan aku."
"Tidak apa-apa. Kita lihat saja apa yang akan dilakukan. Instingku tidak merasakan adanya bahaya jika berada dekat dengannya. Entah kenapa ayah merasakan kalau dia dapat menyembuhkan penyakitmu."
"Aku tidak meragukannya ayah, hanya saja Apa yang membuat Ayah percaya Kalau pria itu bisa menyembuhkan saya. Bahkan dalam hal pengobatan saja dia masih meminta bantuan kita. Dia hanya pria lemah, tidak memiliki sihir yang tinggi. Sepertinya Ayah kurang berhati-hati. Mungkin dia hebat dalam bidang yang lain, tapi pengobatan? Itu bukan hal yang mudah. Bahkan sampai saat ini saja kita masih mendalami ilmu pengobatan. Apa lagi cuman dia seorang pemuda yang umurnya tidak sampai lima puluh tahun.
"Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan Ayah. Dia hanya meminta 500 keping emas kemudian melepaskan kita dan keempat murid Kakek Yakove. Padahal jika berniat jahat maka dia bisa mendapatkan semua harta kita didalam gerobak dan mengambil semua obat-obatan langka yang harganya juga tidak rendah. Ini menandakan dia bukan orang jahat." Paniell memegang dagunya. kemudian dia berkata lagi. "Kemudian dia mengetahui penyakitmu hanya dengan menyentuh mu. Padahal orang ahli yang aku pernah undang tidak ada yang langsung mengetahui penyakitmu. Ketika dia melihat penyakitmu, dia langsung mengetahui gejala nya. Dia mengatakan tentang penyakit inti es itu dengan ringannya seolah itu hal yang biasa tanpa ada beban. Bahkan ketika aku memintanya menyembuhkanmu, dia tidak seperti orang yang akan menghadapi kesulitan terhadap penyakitmu. Sorot matanya begitu meyakinkan. seperti hendak mengatakan penyakit itu hanyalah hal kecil." Paniell termenung sesaat. "Yang lebih mengherankan lagi kalau dia dapat mengikat persaudaraan dengan Binoang dan mengalahkan pasukan Srigala kerajaan Selatan. Entah apa yang ada dalam diri pemuda itu yang membuat aku tertarik dan ingin mengenal lebih dekat dengannya."
"Benar kata ayah. Ragil bukanlah orang biasa. Menurut informasi, Si Tua Yakove dan Raja Leaghatt juga berminat kepadanya. Mengalahkan Militer dan mendapat kepercayaan dari Ulgar. Untuk menjadi orang besar, memang saya akui. Tapi untuk pengobatan... nanti dulu. Ilmu sihirnya saja masih tingkat rendah.."
"Kalau memang dia tidak bisa menyembuhkan mu, tidak apa-apa. paling tidak kita sudah mencoba. Toh tidak ada ruginya. Bahkan yang lebih sulit dari inipun pernah kita lalui meskipun tidak ada hasil. Jika ternyata kau bisa disembuhkan olehnya maka kita akan sangat menyesal jika telah menolaknya. Kita lihat saja bagaimana cara dia mengobati tubuh Inti Es mu."
"Paman. Jangan percaya kepada penjahat licik dan curang itu. Aku kuatir Paman di permainkan. " Murid Tertua Yakove datang mendekat.
"Kakak. Jangan begitu. " Cucu Yakove dan juga murid ke empat Yakove mengikuti kakaknya dari belakang "Paman Paniell adalah orang berpengalaman. Kita jangan mengganggunya. Lagi pula Kita sudah di suruh pulang tapi kakak masih ingin bertahan dan mengacau kan pekerjaan Ragil disini. Ayo kita bantu yang lainnya untuk merawat para prajurit Haduz saja."
"Diam kau. Anak kecil tahu apa. " Bentak kakak tertua. "Aku harus meyakinkan Paman agar tidak masuk perangkap penjahat licik itu.
"Sekali lagi kau mengatakan malam-macam maka jangan salahkan aku jika kubuat kau berlutut lagi. " Ragil dan Arbakir datang.
"kakak Ragil. Kebetulan kau datang. " Ucap cucu Yakove tanpa ada rasa permusuhan. "Bisakah kau memberikan Aku Array di tubuhku. Kakak Leasyerr mengatakan kalau Kakak bisa membuat Array hebat di tubuh. "
"Tidak bisa. " Jawab Ragil dingin. "Sebaiknya kau bawa kakakmu menjauh dariku sebelum aku membunuhnya. "
"Apa kau pikir aku takut padamu. " Bentak Kakak Tertua. "Mari kita bertanding Array secara jujur. Lepaskan segel yang menahan kekuatan sihir kami. "
"Pak Tabib dan Puterimu bisa ikut aku. " Ragil tidak memperdulikan semua perkataan Murid Yakove.
Ragil melangkah menuju di salah satu ruangan. Tabib dan Puterinya ikut dari belakang.
Kedua murid Yakove pun akan ikut dari belakang tapi di tahan oleh Arbakir.
"Kalian tidak boleh masuk ke dalam. " Tahan Arbakir.
"Aku harus masuk. Dia adalah tunanganku."
"Arbakir. Saya mengijinkanmu untuk membunuh siapapun yang mencoba masuk kesini. " Perintah Ragil.
"Baik Tuan. "
__ADS_1
Ancaman itu berhasil membuat Murid Yakove terdiam. Tampaknya pemuda kumisan itu gentar juga berhadapan dengan Suku Naga.