
20 tahun kemudian setelah berakhirnya pertarungan di Hutan Kegelapan dimana Kirk sudah di segel.
Terdapat seorang wanita yang malang melintang di Landria. Sepak terjangnya membuat gentar orang golongan putih maupun hitam. Wanita yang mengenakan Pakaian terusan berwarna putih itu banyak membunuh para penyihir baik dari golongan putih dan golongan hitam. Wanita itu mencari orang yang kuat lalu menantang nya bertarung lalu membunuhnya dengan kejam.
Guild berbagai kerajaan berani membayar tinggi bagi siapa saja yang membunuh wanita itu. Wanita itu mudah di kenal karena dia menggunakan sihir es dan pedang inti es.
Tapi jelas kalau wanita itu bukanlah Orpahh. Karena semua Pahlawan yang turut menyerang di Hutan Kegelapan menyaksikan kalau Orpahh mati di tangan Raja Kegelapan. Apa lagi umur wanita inti es ini masih terbilang muda.
Salah seorang yang menjadi pemburu bayaran guild adalah Madrakh. Dirinya sudah tidak lagi di anggap buronan semenjak terbukti kematian Ratu Noemis bukankah perbuatannya. Juga mendapat nilai positif dari Guild atas dasar pernah membantu Golongan Putih menyerang Hutan Kegelapan.
Jadi Madrakh berpikir wanita yang sepak terjangnya membabi buta itu pasti ulah keturunan Orpahh.
Mencari wanita inti es ini tidaklah sulit. Karena wanita ini meninggalkan banyak jejak pembantaian dengan sihir es nya.
Madrakh akhirnya bertemu dengan wanita itu. Ternyata benar wanita itu adalah Puteri dari Orpahh.
Madrakh mengancam Puteri Orpahh itu jika tidak menghentikan kegilaannya bertarung maka Madrakh akan mengambil buku sihirnya dan keturunannya akan mati muda selamanya.
Wanita itu yang tidak mengenal Madrakh sebelumnya tentu saja tidak percaya. Karena buku sihir itu tersimpan dengan aman. Tidak ada yang tahu penyimpanan Buku itu selain dirinya bersama suaminya dan puterinya, cucu dari Orpahh.
Dengan kesal Madrakh pun menunjukkan buku sihir Pedang Inti Es yang asli.
Awalnya wanita keturunan Orpahh ini menjadi kaget. Lalu karena merasa di remehkan, wanita itu menyerang Madrakh menggunakan jurus ke satu sampai ke enam pedang Inti Es. Tidak sampai 30 menit, Wanita di kalahkan Madrakh. Dia juga membuat duplikat dari sihir Inti Es Sampai Jurus ke enam.
Merasa telah dikalahkan dengan mudah yang selama ini tidak pernah kalah akhirnya si wanita menggunakan jurus ke tujuh yang membuat dirinya kesetanan. Menyerang membabi buta dan tidak akan berhenti sampai salah seorang harus mati.
Madrakh mengulur waktu agar wanita es itu kelelahan dan berhenti. Tapi gadis itu bagaikan tidak pernah habis stamina nya terus menyerang dengan jurus jurus menakutkan. Menghancurkan bukit. Membelah tanah. Membuat daerah itu membeku.
Tapi Madrakh tidak ingin membunuh dan hanya ingin mengakhirinya saja. Madrakh meladeni wanita ini bertarung sepanjang malam. Dia ingin tahu sampai di mana batas Energi Inti Es dalam tubuh wanita ini membantunya. Siapa sangka sampai batas akhir habisnya energi bantuan dari tubuh inti es milik gadis es itu, dia kembali menjadi normal. Gadis itu kembali mengingat apa yang di perbuat nya. Hanya saja tubuhnya sudah semakin lemah tanpa mana.
Ternyata ketika dirinya kehabisan mana maka tubuh Inti es di dalam dirinya menggerogoti pemiliknya. Inti Es di dalam dirinya menyedot mana dari pemiliknya. Ini Senjata makan tuan. Ketika mana tidak ada dalam tubuhnya maka Inti Es itu merengut nyawa pemiliknya.Wanita inti es itu kemudian mati dengan muka pucat kekurangan darah. Itu akibatnya jika menggunakan kekuatan Inti Es terlalu berlebihan. Hal ini tidak di jelaskan dalam Buku.
Sejak itu Madrakh tahu bahwa tanpa jurus ataupun dengan jurus inti es, pemilik tubuh Inti es tetap saja akan mati. Kelebihan Energi Inti Es dapat membunuh. Kekurangan energi inti es juga dapat membunuh pemiliknya juga.
__ADS_1
Duplikat buku yang dibuat Madrakh yang saat itu di pegang oleh suami wanita inti es itu di lenyapkan Madrakh. Semudah menjentikan jari. Tidak perduli dimana suaminya dan puterinya berada. Karena buku yang berada di tangan suami dan anak itu hanyalah duplikat ciptaan Madrakh.
Sejak saat itu hilang buku berbahaya itu. Madrakh memutuskan lebih baik tubuh Inti Es mati muda dari pada membunuh banyak orang lagi.
-------
"Tapi siapa sangka sekarang muncul seorang keturunan inti es yang juga telah belajar Pedang Inti Es" Dupp mengakhiri ceritanya.
"Lantas alasan kau menceritakan semua itu apa?" Ragil mengerutkan dahinya. "Apakah kau ingin aku melarangnya berlatih Jurus Sihir Inti Es?"
"Betul. Karena kau yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan Funuell. Seharusnya jangan pernah dia mempelajari Sihir Inti es meskipun harus mati muda sebelum dia menjadi monster pembantai dewa." Dupp berdiri dari kursinya.
Ragil hanya diam.
"Besok pagi aku, Arch dan Hammerdat akan meninggalkan tempat ini. Ini ada sebuah surat dari Arch. Dan juga aku menyerahkan kepadamu Kitab 7 Jurus Pedang Inti Es kepadamu." Dupp memberikan sebuah surat dan sebuah buku berwarna biru kepada Ragil. "Selanjutnya aku serahkan kepadamu Funuell. jika di masa depan dia melakukan perbuatan seperti nenek moyangnya maka jangan salahkan aku jika harus menanganinya."
Dupp lalu mengangkat kakinya meninggalkan Ragil sendiri.
"Kurasa kau sudah Mempunyai keturunan satu kerajaan jika dihitung dalam 500 tahun."
"Tidak. Genetikku hanya melahirkan keturunan perempuan dan anak anakku tidak bisa memiliki keturunan lagi. Itulah enaknya jadi Dewa dapat menentukan keinginannya." Dupp melangkah lagi. "Jagalah Vhestee untukku mantuku."
"Dupp Sialan " Ragil memaki.
Suasana menjadi sepi kembali. ******* angin dan kicauan burung kembali menemani Ragil.
Matanya kembali tertuju kepada Sarr yang masih latihan di kejauhan. Kemudian sorot matanya tertuju ke surat yang ada di tangannya. Rasa penasaran melihat isi surat lebih besar dari pada melihat Sarr yang sedang berlatih. Entah kebaikan apa yang di berikan Arch melalui surat ini.
Dibuka nya surat itu dan di bacanya. Awal Ragil hanya tersenyum membaca kalimat pertama di mana Arch menyatakan diri akan menjadi sebagai musuh Ragil dan meminta dirinya untuk terus berlatih agar semakin kuat dan menjadi lawan yang seimbang. Kemudian Arch berusaha untuk membalas Budi karena telah di selamatkan. Selanjutnya Arch menyampaikan sebuah rahasia yang menjadi penyebab kehancuran pulau harta.
Alis mata Ragil naik. Jidadnya mengkerut. Giginya gemeretak. Kemudian dia mencengkeram surat itu seakan surat itu adalah benda yang ingin di hancurkan.
Jelas isi surat itu membuat Ragil sangat marah. Batang pohon disebelahnya yang tidak bersalah menjadi sasaran kemarahan. Pohon itu menggugurkan beberapa daun.
__ADS_1
Kini surat itu tidak kelihatan lagi di tangannya. Yang terlihat hanya sebuah bongkahan batu hitam. Surat itu telah dikepal menjadi sangat kecil kemudian dibalut dengan Blackblood hingga membatu.
Kini batu itu yang di cengkeramnya kuat kuat seolah ingin di hancurkan berkeping keping. Kemudian batu yang berisi surat itu dilempar setinggi tinggi nya.
"Dhuarrrkk..." Suara ledakan di udara.
Ledakan itu mengagetkan Ragil. Dalam beberapa detik Ragil melupakan isi surat itu. Pikiran nya berputar keras. Jelas jelas yang meledak itu adalah batu yang di lempar.
"Apa yang terjadi " Tiba-tiba Sarr sudah ada di dekatnya.
Sarr masih mengenakan singlet nya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Pakaiannya yang ketat basah itu membuat lekukan tubuhnya lebih jelas kelihatan.
Tapi Ragil tidaklah menggubris pemandangan itu dimana setiap pria tidak akan berkedip melihatnya. Semua itu tidak mempengaruhi nya karena dia masih memikirkan ledakan itu.
Dia dapat menciptakan ledakan. Tapi tidak tahu bagaimana caranya. Bagaimana prosesnya. Ledakan itu begitu saja terjadi tanpa di rencanakan.
"Tidak. Tidak apa apa." Ragil sengaja tidak mengatakan apa yang terjadi. Dia tidak ingin Pihak Militer dari alat penyadap Sarr mengetahui tentang kekuatan ledakan yang baru dimilikinya itu. "Cepat kau pakai baju lalu lihat sana apa yang telah terjadi."
Sarr yang tidak tahu penyebab ledakan itu dengan cepat melompat melakukan perintah Ragil untuk menyelidiki ke dalam hutan serta mencari tahu penyebab ledakan itu. Hanya saja dalam hal memakai baju tidak di turutinya.
Ragil hanya bisa menggeleng geleng. Entah karena Assassin ini sudah terbiasa dengan pandangan laki laki mesum atau memang dia tidak perduli tentang kesopanan. Untungnya tidak ada pria lain selain dirinya disitu.
Juga setiap Sarr melatih pasukan Militer dimasa lalu, selalu mengenakan rompi kulit. Jadi tidak pernah ada prajurit pria yang melihat lekukan tubuh Assassin yang satu ini.
Pada saat Sarr sudah menghilang dari pandangannya, Ragil membuat batu lagi kemudian dia melempat di arah yang berlawanan.
Tapi ledakan yang dinanti tidak kunjung datang. Ragil melakukan lagi yang kedua dan ketiga namun hasilnya tetap sama tidak terjadi apapun.
Jelas jelas tadi itu sebuah ledakan meskipun tidak berupa Lightning Explotion nya Arch.
"Tidak ada apa apa." Sarr sudah datang kembali dengan lekukan tubuh yang padat dan basah hingga dapat terlihat tembus pandang.
"Cepat ambil pakaianmu lalu bawa aku kembali ke tengah Phanouel." Kesal Ragil.
__ADS_1