Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 68. Cerita Dua Orang Tentang... Ke 6


__ADS_3

Diatas kepala tetua juga muncul segitiga dalam bentuk datar. Segi tiga diatas kepala itu meluncur bagai roket ke arah Orpahh. Bukan hanya satu tapi tiga segi tiga di atas kepala meluncur semua.


Orpahh tidak bergeming dengan serangan seperti itu. Dib terobosnya sihir segitiga itu. Satu persatu pecah bagaikan cermin.


Demikian juga dengan pertahanan lapis tiga itu tidak dapat menahan serangan Orpahh yang dahsyat. Tubuhnya meluncur cepat bagai anak panah lepas dari busur. Orpahh melesat melewati tubuh Tetua.


Pemandangan yang serba capat ini seolah hanya terlihat pemindahan tempat saja. Tubuh Orpahh hanya berpindah dari hadapan Tetua yang kemudian dalam detik berikutnya sudah berada di belakang tetua.


Dalam kecepatan detik itu sudah membuat orang yang menyaksikan menarik napas panjang. Beberapa menutup mulutnya dengan mata terbelalak.


Orpahh sudah kembali ke wujud manusia nya. Seolah tidak ada lagi yang menghawatirkan. Matanya melirik ke arah Tetua yang sudah berada dj belakang nya.


Tetua sudah berubah menjadi kristal. terdengar bunyi menderik tubuh es yang semakin menjalar menutupi keseluruhan Tubuh Tetua. Dalam waktu sepeminun air tubuh tetua yang sudah terbungkus es itu meledak membuyarkan pecahan es kecil kecil.


Tubuh tetua sudah tidak berbentuk lagi. keberadaannya sudah lenyap. Mayatnya sudah berubah menjadi pecahan kecil. Semua terjadi hanya dalam satu serangan. Sebuah pemandangan yang mengerikan.


Kekuatan Orpahh seolah tidak semakin melemah tetapi justru semakin menguat.


Para penonton yang menyaksikan menjadi gentar. Kaki mereka bergetar hebat. Tidak tahu berbuat apa. Bahkan Pangeranpun bagai terkunci rapat rapat bibirnya.


Orpahh berjalan kedalam istana dengan lenggang tak ada yang berani menghalanginya. Jalannya seperti sang juara dalam pertandingan olahraga, tatapan mata kedepan dan dada di busungkan.


Semua mata hanya melihat berjalannya Orpahh menuju istana tanpa seorangpun yang berani membuka mulut.


Sesampainya di istana dicarinya Puterinya lalu dibawa pergi menghilang dari istana. Orpahh melesat keluar dari istana tanpa memperdulikan yang lainnya. Termasuk Pangeran.


Pikir Orpahh dia telah membuat ke hebohan dalam istana jadi sebaiknya dia meninggalkan istana. Alasan Orpahh membawa Puterinya karena anak nya ini memiliki tubuh Inti es. Sementara anak laki laki nya yang lain adalah keturunan raja yang kelak akan menjadi raja.


Sejak saat itu Orpahh menghilang bagai lenyap tertelan bumi. berbulan bulan tidak terdengar keberadaannya.


Demikian juga Kerajaan Noemis menjadi rapuh selama pemerintahan di pegang oleh Pangeran yang diangkat menjadi Raja. Hidupnya hanya di isi dengan minuman keras akibat rindu yang dalam terhadap Orpahh. Seluruh Guild dan para petualang dikerahkan dengan bayaran yang menggiurkan tapi tidak pernah ditemukan. Pangeran masih sangat mencintainya.


Dua tahun semenjak kematian Raja, Noemis di serang oleh Militer. Semua dibantai habis tidak ada yang tersisa termasuk ke dua putera Orpahh. Noemis kemudian menjadi puing batu rata dengan tanah.

__ADS_1


Tujuan para militer adalah mencari Orpahh dan buku sihir Pedang Inti Es. Rupanya Valkirie khawatir jika ada dua puluh Orpahh bahkan lebih yang menguasai pedang inti es dan memiliki tubuh Inti es. Jika itu terjadi maka pihak Militer berada dalam kondisi bahaya.


Rupanya melalui mata mata yang tersebar, Ratu Valkirie akhirnya mengetahui kedahsyatan Jurus Sihir Pedang Inti Es. Oleh sebab itu semua tubuh Inti es harus dilenyapkan dari Landria.


Setelah penyerangan Kerajaan Noemis, Militer melanjutkan serangannya ke gunung es. Kali ini Ratu Valkirie turun langsung ke Medan perang.


Dalam tiga hari Sekte Gunung Es rata dengan tanah. Tidak ada yang sanggup melawan Ratu Valkirie. Jadi Orpahh dan puterinya adalah keturunan es terakhir.


Sepuluh tahun setelah kematian Raja Noemis, Orpahh muncul di gunung Es. Tapi di gunung es telah tinggal Sekte Tabib disana. Rupanya setelah Para penghuni Gunung Es di bantai, Para Tabib dari Gunung Obat pindah ke Gunung Es. Karena tanah di gunung es mengandung fenomena alam yang dapat menyembuhkan orang dari penyakit. Bahkan dapat membantu meningkatkan kekuatan sihir seseorang.


Para Tabib ini adalah keturunan dari bekas suami wanita pertama kali yang memiliki tubuh Inti es .


Para tabib itu menemukan tempat tersembunyi didalam gunung es, dimana disana terdapat ilmu ilmu berelemen air dan es. Merekapun mempelajari ilmu sihir itu sampai sekarang. Jadi tidak heran kalau Paniel si Tabib juga memiliki ilmu sihir es.


Karena semua orang saudaranya telah mati, jadi Orpahh menitipkan Puterinya yang berumur dua belas tahun kepada ketua kampung Pengobatan. Karena Orpahh akan pergi ke Hutan Kegelapan untuk membasmi Raja Kegelapan.


"Demikianlah sampai kau muncul sebagai cucu inti es dari kampung obat." Orpahh mengakhiri ceritanya.


"Aku menyerahkan kepada Puteriku untuk mempelajarinya. Sampai kudengar katanya buku itu menghilang."


"Apakah semenjak itu kau tidak pernah bertemu dengan Madrakh atau Puterimu?


"Pernah satu kali saat di Hutan Kegelapan. Saat itu aku sedang mencari dan menantang Raja Kegelapan." Orpahh melanjutkan ceritanya.


Didalam hutan Orpahh mendengar suara pertarungan. Dengan cepat dia menuju ke arah suara itu. Ternyata bukan hanya dirinya yang ingin menyaksikan pertarungan itu. Diatas pohon pohon banyak tokoh tokoh hebat yang sedang menonton pertarungan.


Orpahh berhenti di satu batang pohon. Dia menyaksikan Madrakh sedang bertempur dengan ribuan ular sihir yang sangat mematikan. Ular ular itu bukan ular biasa tapi ular yang mengandung sihir. Paling tidak ular ular itu berada di tingkat Dasar dan Menengah. Walau tingkatnya rendah tapi jika ribuan maka dapat dikatakan se tingkat dengan dewa.


Madrakh tidak kesulitan menghadapi semua itu. Jika ular itu mati maka akan kembali hidup. Jika ular itu terbelah maka akan tersambung kembali. Ular itu adalah ular abadi yang tidak bisa di bunuh.


Kemudian Madrakh berteriak. "Jika semakin lama kau bertempur denganku maka akan semakin habis mana mu. Lebih baik tunjukan aku tubuh aslimu Lamia dan kita bertarung sekuat tenaga."


Sepertinya perkataan Madrakh di dengar. Semua ular mundur bersamaan bagaikan di komando. Ular ular itu berkumpul di satu titik. Para ular saling menindih satu dengan yang lain sehingga terjadi timbunan ular. Para Ular yang berkumpul kemudian menyambung satu dengan yang lainnya sampai terlihat satu bentuk tubuh. Akhirnya muncullah satu sosok wanita dari kumpulan para ular.

__ADS_1


Wanita itu memiliki tubuh manusia tapi berekor ular. Seluruh tubuhnya di penuhi sisik ular kecuali wajahnya. Wajahnya pucat dan memiliki lidah seperti ular yang dapat memanjang. Biji matanya yang besar juga bermata hijau. Orang yang melihatnya akan menganggapnya sedang melotot. Rambutnya berwarna hijau meriap riap seperti sedang berada di dalam kolam renang.


"Sepertinya kau memang lawan yang berbeda dari manusia rendahan yang hanya dapat menonton." Ucap Wanita ular itu.


"Aku adalah Madrakh. Cukup satu manusia saja untuk menghancurkan mahkluk menjijikan sepertimu "


"Bagus. Aku adalah Lamia Ratu Ular Kegelapan. Salah satu dari empat pengawal Raja Kegelapan."


"Aku pernah mendengar seratus tahun yang lalu ada sebuah sekte yang mempelajari Sihir terlarang dan pemimpinya seorang wanita yang menyebut dirinya Ratu Ular. Sekte itu kemudian lenyap begitu saja."


"Akulah Ratu itu. Raja Kegelapan telah membuatku menjadi Abadi."


"Kau meninggalkan kediaman mu hanya untuk menjadi budak Raja Kegelapan."


"Suatu kehormatan bagiku menjadi salah satu pengawal pribadinya." Lamia mulai kesal. "Aku berikan kau tiga serangan jika aku kalah maka aku akan mengijinkan kalian semua manusia untuk memasuki Hutan Kegelapan ini. Termasuk manusia tidak berguna yang ada di atas pohon."


"Kau pikir aku takut kepadamu." Orpahh melompat turun dari atas pohon. Diikuti dengan beberapa orang berilmu yang turun juga dari atas pohon.


"Kalau Pria bernama Madrakh ini tidak mampu mengalahkanmu maka aku yang akan turun tangan." Ucap seorang pria yang juga ikut turun dari atas pohon.


"Kami Para golongan putih tidak biasa main keroyokan." Pria bangsawan lainnya mengucapkan.


"Tenang semua. Biarkan aku menghadapi mahkluk ini terlebih dahulu." Madrakh menahan yang lainnya.


"Tiga jurus. Hanya tiga jurus kami beri kesempatan kau mengalahkan ular itu." Ucap seorang yang memakai pakaian megah seperti seorang raja.


Madrakh memandang satu persatu orang orang yang menyebut dirinya dari golongan putih.


Biji Mata Madrakh berubah warna menjadi kuning. Dia melihat para golongan putih ini hanya berada di tingkat Akhir dan Tingkat Dewa. Hanya dua orang saja yang berada di tingkat Maha Dewa yaitu Orpahh dan seorang pria mengenakan pakaian kerajaan.


"Baik. Aku akan menggunakan tiga gerakan." Madrakh memandang Lamia si Ratu Ular. "Jika dalam Tiga gerakan aku tidak dapat menumpasmu maka aku bersedia menjadi budakmu."


'Qiqiqiqi., " Manusia setengah ular itu cekikikan. "Tidak. Aku tidak akan menjadikanmu budak. Tapi aku ijinkan kau menjadi kekasihku."

__ADS_1


__ADS_2