
Cerita Dupp
"Ketika itu Raja membunuh Ratu secara tidak sengaja. Raja menggunakan Sihir terlarang Destruction Palm." Cerita Dupp.
"Tapi bagaimana dengan Pangeran yang melihat Madrakh menggunakan Destruction Palm." Ragil bertanya.
"Saat itu Madrakh memegang tangan Raja dan menyingkirkan Sang Ratu yang mau menghadang sihir Raja menjadi perisai untukku, tapi aura sihir itu begitu kuat. Dengan satu tangan dapat ku singkirkan Ratu dari serangan Raja itu dan tanganku yang satunya menahan tangan Raja." Dupp memandang langit dalam kekosongan. Pikirannya mulai mengenang Ratu Noemis. "Tapi sayangnya sudah terlambat serangan itu telah mengenai ratu." Dari wajah Dupp terlihat guratan kesedihan yang mendalam. "Tangan Madrakh yang awalnya seperti akan hangus karena memegang tangan Raja, kemudian berubah menjadi merah seperti tangan Raja. Madrakh menjadi kebal terhadap Kehancuran Destruction Palm. Madrakh telah membuat duplikat sihir Raja. Dia dengan penuh dendam akan membunuh Raja dengan menggunakan sihir yang sama."
"Sihir Duplikat." Ragil sudah menduga.
Dupp tidak memperdulikan perkataan Ragil. Dia lagi serius bercerita. "Kami sempat bertarung beberapa saat. Rupanya batasan mana Raja sudah berkurang dan Sihir Destruction Palm nya pun mulai pudar. Pada saat itulah sang pangeran memasuki kamar. Madrakh bisa saja membunuh kedua nya dengan Destruction Palm miliknya yang pada saat itu masih berkobar. Madrakh mendengar teriakan kesedihan Pangeran ketika melihat ibunya tergeletak di lantai. Hati Madrak menjadi luluh mendengar teriakan itu. Kasih nya kepada sang Ratu membuat dia tidak melanjutkan pembantaiannya. Dia tidak ingin melihat anaknya menderita karena perbuatan dirinya. Jadi Madrakh memutuskan meninggalkan Istana. Meninggalkan Raja dan kenangan manisnya."
"Jadi Madrakh itu adalah dirimu sendiri." Meskipun sudah yakin namun tetap saja ditanyakan Ragil.
Dupp pun tidak membantah. Dia tidak ingin menyembunyikan identitasnya sebenarnya. Secara tidak langsung Dupp mengakui bahwa dirinya memang adalah Madrakh itu sendiri.
Tidak ada seorangpun di Landria yang memiliki sihir unik membuat duplikat selain Dupp.
"Selanjutnya setelah beberapa tahun Pangeran menikah dengan Orpahh, Madrakh mulai menyukai Isteri Pangeran, Orpahh." Dupp melanjutkan ceritanya.
Madrakh sering mengamati kegiatan Orpahh. Dia selalu mendapat informasi dengan mudah kapan Pangeran akan meninggalkan Istana.
*Kembali Madrakh menjadi seorang penguntit melakukan perbuatannya yang sama yaitu mengintip dari jendela Orpahh."
Sampai akhirnya Orpahh tahu kehadirannya dan memergokinya. Tapi Madrakh terus melakukannya seolah Dirinya tidak perduli kalau Orpahh sudah mengetahui kebiasaan buruk nya itu*.
Sampai suatu ketika Madrakh berdiri Ketika di depan kamar Orpahh, Jendela kamar sudah terbuka lebar seolah daun jendela itu mengucapkan kata selamat datang.
Tanpa Ragu Madrakh memasuki kamar itu. Didalam terlihat Orpahh sedang duduk sementara kedua puteranya yang masih kecil tidak berada di dalam kamar.
Disana ada sebuah meja terbuat kayu bodi dengan ukiran indah. Diatas meja terdapat cangkir dan minuman anggur dengan kualitas terbaik. Ini terlihat seperti penyambutan.
__ADS_1
Pandangan mata Orpahh seakan mempersilahkan Madrakh untuk duduk di kursi kayu yang telah disediakan.
Aroma semerbak bunga Vendoline tercium tajam di seluruh ruangan. Madrakh tahu kalau aroma bunga Vendoline ini dapat memberikan semangat kerja bagi yang menciumnya. Tapi jika didalam kamar dan hanya ada sepasang pria dan wanita maka aroma itu dapat membangkitkan hasrat birahi bagi yang menciumnya.
Rasa curiga memenuhi sanubari Madrakh. Terlintas di pikirannya kalau ini sebuah jebakan.
Madrakh adalah penyihir berpengalaman. Jangankan hanya aroma bunga, Racun sekalipun tidak ditakutinya.
Dengan diam diam Madrakh menumpahkan cairan dari botol kecil. Cairan itu terbuat dari ekstrak rumput ragrosia, tidak memiliki aroma tajam tapi bagi yang menghirupnya dapat membuat tubuh terasa lelah seperti habis bekerja keras sepanjang malam. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat orang tertidur.
"Apa yang membuatmu selalu datang ketempat ini?" Orpahh membuka suara ketika Madrakh duduk di hadapannya.
Seperti layaknya seorang tamu, Orpahh menuangkan Anggur dari kerajaan.
"Aku tidak tahu. Tapi keanggunan mu dan kecantikan mu bagaikan magnet membuat aku selalu memikirkannya." Madrakh mengucapkan apa adanya meskipun seperti terdengar sebuah rayuan. "Aku datang kesini sebenarnya hanya untuk memandangimu dan tidak bermaksud mengganggu tidurmu.
"Sekarang kau telah datang dan melihat keadaanku. Selanjutnya apa yang kau kehendaki?" Orpahh masih berkata sopan dan tidak ada nada permusuhan dari nada bicaranya.
"Tidak ada. Aku tidak ingin mengganggumu. Maafkan aku." Madrakh berdiri dari kursinya. Hatinya merasa tidak enak. Terutama aroma Vendoline yang membuatnya gelisah penuh rasa curiga.
Orpahh kini tepat berada di hadapan Madrakh dalam jarak dekat. Ditariknya baju Dupp untuk lebih dekat lagi sampai suara nafas pun dapat terdengar.
"Apakah kau tidak menanyakan aku, mengapa aku menyambut kedatanganmu." Suara Orpahh terdengar lebih lembut mendesah. Orpahh berpikir khasiat bunga Vendoline sudah mempengaruhi Madrakh. "Apakah kau tidak menginginkan yang lain selain dari memandang wajahku. Apakah hanya itu?"
Orpahh sangat yakin akan kecantikannya. Tidak ada pria yang bisa menolak dirinya. Hanya saja yang dihadapinya adalah orang berbeda.
Madrakh adalah seorang pemburu wanita. Dia tidak ingin berburu yang mudah di dapatkan. Semakin sulit buruannya maka akan semakin bersemangat.
Belum lagi mendapat respon dari Madrakh, tubuh Orpahh mulai limbung. Detik berikutnya diapun hilang kesadarannya.
Tangan Madrakh dengan cepat menangkap lalu di bopongnya tubuh molek itu. Diletakkannya tubuh itu ke pembaringan.
__ADS_1
Madrakh sudah tidak tertarik dengan Orpahh. Pria ini suka pilih pilih dalam mencari pasangan. Dia tidak suka dengan gadis yang agresif meskipun cantik. Lagi anehnya Madrakh lebih tertarik dengan Gadis yang berkelas dan anggun, Itulah sebabnya pilihan Madrakh selalu jatuh ke wanita yang sudah bersuami di kalangan atas
Madrakh menyadari akan kelainan dirinya yang tidak seperti penyihir lain. Dalam kehidupan lamanya pun dia mati dibunuh karena mengganggu isteri seorang yang berpengaruh.
Madrakh kini dengan kedua matanya menyorot seluruh isi ruangan kamar itu. Dengan teliti di perhatikan satu persatu kalau kalau ada jebakan yang dipersiapkan untuk menangkapnya. Bahkan terlintas dipikirannya seandainya ada CCTV di dalam ruang itu. Meskipun di Landria belumlah Modern tapi Valkirie telah membawa tehnologi bumi ke dunia ini.
Madrakh menggeledah lemari-lemari, kalau kalau ada jalan rahasia dimana para ahli telah bersiap akan menyerang. Tapi semua tidak di temukan.
Sampai sorot matanya menatap sebuah peti kecil yang terbuat dari kayu besi. Kayu itu terkenal sangat kuat dan tidak mudah di potong. Jika terkena air maka kayu itu akan bertambah kuat.
Peti itu terkunci rapat dan tidak dapat dibuka dengan sihir biasa. Rasa penasaran menghantui pikirannya. Dibuatnya duplikat peti itu lalu diambilnya yang asli.
Setelah yakin tidak ada yang mencurigakan di dalam ruangan ini, maka diapun meninggalkan Orpahh yang masih terlelap. Perasaan cintanya terhadap Orpahh menjadi lenyap begitu saja setelah melihat kelakuan Orpahh tidak seperti yang di bayangkan. Tidak seperti wanita elegen berkelas tinggi.
Saat itu juga Madrakh meninggalkan kamar itu dengan membawa peti. Di tempat kediamannya Madrakh berusaha untuk membuka peti itu. Setelah berbagai usaha akhirnya Madrakh dapat membuka peti.
Didalamnya terdapat buku Sihir Pedang Inti Es. Di bacanya buku itu. Akhirnya Madrakh mengerti, mengapa Orpahh begitu agresif menggoda dirinya.
Dikatakan dalam buku itu bahwa untuk menguasai jurus ke tujuh maka si pemilik tubuh Inti es harus bersetubuh dengan orang yang memiliki kapasitas sihir besar.
Madrakh berpikir kalau Orpahh sedang memanfaatkan dirinya untuk mencapai Jurus Ke Tujuh.
Dari buku itu juga di katakan bahwa jika pemilik tubuh Inti es ini menguasai jurus ke tujuh maka dia otomatis secara instan dapat mencapai tingkat Maha Dewa. Kapasitasnya akan semakin membesar. Mananya juga akan semakin besar. Bahkan akan memiliki mana yang tidak terbatas. Karena Inti Es di dalam tubuhnya itu dapat diserap untuk dijadikan energi mana dalam dirinya.
artinya kalau si pemilik tubuh Inti es ini bertarung dengan orang yang setingkat. ketika pertarungan dalam waktu yang lama, dimana kedua petarung mulai kehabisan mana. Maka Si pemilik Tubuh Inti es dapat menggunakan jurus ke tujuh untuk menyerap energi dari inti es dan memenuhi kebutuhan mana dalam dirinya, sekaligus membuat serangan besar yang membutuhkan mana yang besar. Artinya Pemilik Tubuh Inti Es tidak akan pernah kehabisan sumber mana.
Bukan hanya itu. Dalam penggunaan jurus itu akan membuat penggunanya mengalami barserker atau tidak terkendali. Jadi dapat membunuh lawan tanpa dapat dihentikannya. Dia baru akan berhenti menyerang jika lawannya telah mati atau cacat dan tidak dapat melawan balik.
Tapi jika tidak menguasai ilmu sihir pedang Inti es maka pemilik tubuh Inti es akan mati muda karena kedinginan akibat sumber energi inti es yang terus berkembang di dalam tubuh Inti es.
Tubuh Inti es ini seperti air yang terus terisi tanpa dapat ditutup kerannya. Jika gelas sudah penuh oleh air maka air akan tertumpah tanpa dapat di hentikan. Demikian energi inti es dalam tubuh. energi itu terus tertumpah sampai membekukan pemiliknya jika energi itu tidak di gunakan. energi itu akan menyerang pemiliknya.
__ADS_1
Jurus itu sangat berbahaya. Madrakh ragu untuk mengembalikan buku ini. Jika dia tidak mengembalikan buku ini maka keturunan tubuh Inti es akan mati muda. Tapi jika di biarkan maka tubuh Inti es akan semakin berbahaya membunuh orang.
Jadi Madrakh memutuskan membiarkan duplikat buku itu terus berada bersama Orpahh sambil melihat perkembangan Orpahh. Sementara buku aslinya dia simpan sendiri. Madrakh dapat melenyapkan duplikatnya kapan pun dia kehendaki.