
"Ragil.... Ragil..."
"Tuan.... Tuan...."
Ragil membuka matanya. Dia melihat tiga orang disana. Ada Dupp dan Arbakir yang berteriak cemas. Disitu juga ada Arch yang telah berdiri tegap.
Ragil cukup heran melihat Arch demikian cepat pemulihannya. Saat ini dia begitu segar seolah tidak pernah terluka parah.
Belum pernah terjadi sebelumnya dalam pengalamannya menggunakan Take n Gift, pemulihan yang begitu instan. Sementara untuk dirinya sendiri seperti seluruh persendiannya remuk. Bahkan tidak memiliki kekuatan untuk berdiri.
"Arch..." Ragil berusaha berbicara sebelum pingsan. "Aku telah memulihkan mu, apakah kau mengijinkan aku memulihkan mu?"
"Kau sudah memulihkan aku. Untuk apa lagi sebuah ijin." Jawab Arch.
"Jawab saja. Karena ini sangat penting bagiku."
Ragil teringat akan perkataan Kirk yang mengatakan kalau batang kehidupan miliknya mengering. Ini mungkin suatu tanda yang tidak baik bagi kehidupannya. Apa lagi melihat kondisi tubuhnya saat ini.
Ragil kuatir kalau benar Arch bukan anak dari Dupp. Jadi itulah sebabnya dia memaksa Arch.
"Ini berhubungan dengan Array Kuno dalam melakukan pemulihan dia harus mendapatkan ijin dari orang yang di pulihkan." Arbakir menjelaskan.
"Tapi dia sudah memulihkan aku. Untuk apa lagi sebuah ijin." Arch berkeras.
"Jawab saja Arch. Dia membutuhkan sebuah jawaban." Dupp mulai berteriak dengan keras.
"Baik... Baik... Aku akan menjawabnya. Kenapa Paman jadi emosi. Aku tidak pernah melihat paman emosi sebelumnya." Kata Arch.
"Jawaabbb..." Dupp semakin meninggi.
"Iya. Aku mengijinkannya .. aku mengijinkannya. Cukup." Arch tidak senang merasa seperti di tekan.
Dia tidak pernah menuruti perintah siapapun kecuali ayahnya. Tidak pernah ada yang menekannya selain ayahnya saja. Dia tidak pernah Taku kepada siapapun. Tapi Dupp. Itu lain. Arch merasa Dupp sangat berjasa dalam membantu perkembangan sihirnya. Dia memiliki Lightning Explotion juga merupakan campur tangan Dupp. Baginya Dupp seperti Guru dan teman. Dia berhutang Budi kepada penyihir duplikat ini.
Setelah Arch menjawab, Ragilpun tergeletak tidak sadarkan diri. Samar samar terdengar suara memanggil namanya lalu lenyap.
Alam Jiwa Ragil.
"Kau sudah pingsan lagi." Kirk si Raja Kegelapan telah muncul disana.
"Sebelum aku pingsan aku telah menyempatkan diri masuk dalam Alam Jiwa ku." Jawab Ragil. "Aku hanya ingin melihat Pohon kehidupanku setelah melakukan Take n Gift dengan Arch. Kuharap aku bisa mendapatkan kekuatan petirnya."
__ADS_1
"Tidak mungkin. Karena itu elemen dan elemen petir itu hanya milik Arch saja. Kau paling hanya mendapatkan Skill nya saja."
"Mari kita lihat pohon kehidupanku. Semoga kesehatannya tidak merosot dan mendapatkan perkembangan yang. lebih baik."
Pohon Kehidupan Ragil masih seperti semula. Tidak ada perubahan yang signifikan. Ragil dan Kirk mulai melihat bagian demi bagian.
"Kurasa bukan hal baik yang kau dapatkan." Suara Kirk mendalam seperti orang berduka. "Aku melihat batang yang kering ini mati."
"Mati? Maksudmu?" Ragil menghampiri dari sudut pandang Kirk.
Ternyata benar. Ada satu batang yang kecil dan tidak mengeluarkan daunnya kini dalam keadaan kering. warna akarnya juga sudah mulai pudar. Walau demikian daun daun nya tampak lebih bercahaya. sepertinya muncul ranting ranting baru.
Ragil mencoba memegang batang kering itu dan kulit batang itu langsung terkelupas dengan mudah dari pangkal batangnya.
"Ini mungkin kesalahanmu yang kedua Ragil." Kirk menepuk punggung Ragil.
"Apa maksudmu?"
"Kesalahan pertama kau telah melakukan Take n Gift kepada Arbakir yang dalam kondisi sehat. Kedua kau telah melakukan Take n Gift tanpa meminta ijin kepada Arch."
"Aku sudah meminta ijin kepada ayahnya dan kepada Arch sesudah Take n Gift."
"Bagaimana kalau ternyata Dupp bukanlah ayahnya?"
Ragil terdiam tak dapat menjawabnya. Kemungkinan itu memang ada.
Ragil melihat tangan dan kaki nya sudah mulai memudar. Berarti dia akan kembali ke tubuhnya yang pingsan.
Tidak seperti biasanya dirinya di tarik keluar dari alam jiwanya sendiri dengan paksa seperti ini. Biasanya dia keluar masuk sekehendak hatinya. Ini sungguh di luar kebiasaan.
Kondisi ini memang menunjukkan kalau Ragil sedang sangat lemah baik secara fisik maupun secara kekuatan sihir sehingga dia tidak memiliki kemampuan untuk bertahan lebih lama di dalam Alam Jiwanya sendiri.
Dari cara Kirk memandang tersirat jelas kalau dia tidak setuju Ragil melakukan Take n Gift kepada Arch. Ragil sangat mengerti jika Kirk kecewa.
"Aku harus menyelamatkan Arch sekalipun ada resiko yang ku tanggung." Itulah perkataan terakhir Ragil sebelum kembali ke dunia nya.
Ragil hanya mengingat bahwa dia telah berhutang Budi kepada Arch. Hanya Arch dan Badut yang bersedia menjadi sahabatnya di masa kecil disaat dia tidak memiliki kekuatan sihir. Tidak ada komentar yang mengerti perasaan nya yang pernah di jauhi dan di musuhi orang sekampung. Bahkan tidak pernah bisa keluar dari kampung itu.
Perlahan mata Ragil mulai terbuka lagi. Dia menyadari kalau dia sudah tertidur atau pingsan. Pandangan pertama yang dilihat adalah ruangan yang familiar. Ini adalah ruangan yang ada dalam Gua Phanouel. Dimana dia melakukan Array kepada gadis bernama Funuell. Kini dia tertidur di dipan dimana Funuell pernah bersemedi disini.
Ragil tidak melihat seorang pun dari kelilingnya. Dia hanya melihat di tubuhnya telah tertancap beberapa Jarum panjang berwarna Hijau kehitaman.
__ADS_1
Ini adalah ilmu Akupuntur. Ragil mengetahuinya karena pernah di ajarkan oleh Dewi. Tidak banyak yang di pelajari tentang akupunktur. Karena dia hanya mempelajari titik-titik penting dalam hal penyaluran kekuatan sihir tapi bukan untuk pengobatan.
Jarumnya saja berbeda dengan jarum yang di berikan oleh Dewi. Jarum yang ditubuhnya lebih panjang. Juga terbuat dari bahan dasar yang berbeda. Entah bahannya ini terbuat dari apa karena dapat memantulkan cahaya kehijauan.
Awalnya Ragil menduga kalau ini semua dilakukan oleh Tabib Paniell. Ketika melihat tusukan akupunktur di pangkal pahanya, maka terlihat juga seseorang yang sedang tidur di sampingnya.
Funuell. Gadis itu yang menjaga dirinya selama pingsan. Ragil jadi terharu atas perhatian gadis Inti Es ini. Tangannya hendak membelai kepala Funuell tapi tubuhnya sulit di gerakkan.
Rupanya Funuell menyadari kalau Ragil telah siuman. Gadis putih mulus ini langsung terbangun dengan menampilkan senyuman yang manis.
"Ahh.. Akhirnya Tuan sudah sadar."
"Sudah berapa lama kah Aku tertidur kakak?" Ragil membalas senyuman. Dia juga teringat akan perjanjiannya dengan Sarr
"Kakak? Mengapa kau memanggilku demikian?" alis mata gadis ini mengernyit keatas.
"Karena kau memanggilku Tuan. Kan sudah kukatakan kalau jangan memanggilku Tuan. Dan kau pernah marah saat ku panggil adik karena katanya kau lebih tua. Jadi yang ada di kepalaku yah memanggil Kakak adalah yang terbaik. Atau ku panggil Nona Obat.? atau gadis inti es?. Atau Si cantik putih mulus?"
"Hahahaha... Dalam sakitmu, kau masih suka bercanda." Funuell tertawa senang. "Maafkan Aku. Aku sudah lupa soal panggilan. Soalnya agak tidak enak memanggilmu saudara. Seperti terlalu formil. Kalau memanggil Tuan adalah lebih pantas karena kau seperti dewa penolong bagiku."
"Sudah berapa lama aku tertidur?" Ragil mengulang pertanyaannya.
"Sudah seharian. Dan sekarang sudah sore."
"Bagaimana dengan Dupp dan Arch."
"Mereka semua ada di luar menunggumu siuman. "
"Aku akan menemui mereka. Bisakah kau melepaskan jarum akupunktur."
"Begini ... Saudara....eengg,"
"Kau boleh memanggilku Adik. Dan aku akan memanggilmu kakak. Aku ingin kita bisa lebih akrab. Itu jika kau bersedia. Karena aku merasa sehati denganmu. Aku juga ingin berbicara dari hati ke hati kepada orang yang bisa kupercaya dan cocok dengan kepribadianku."
"Aku akan sangat tersanjung jika bisa memanggilmu Adik. Orang hebat yang berhati mulia. Dan Mulai sekarang kakak ini akan menganggapmu adik Kakak akan menyampaikan sedikit tentang kesehatan mu Adikku." Funuell tertawa manis lagi. Ini pertama kalinya dia memanggil Ragil dengan kata yang lebih akrab. Dan dia sangat senang bisa lebih dekat dengan Ragil.
"Ayahku, Lamuell dan seluruh tubuh rombongan telah meninggalkan lembah Phanouel kemarin. Dia mengirimkan salam dan permintaan maaf karena tidak merawatmu. Tadinya ayahku menyuruhku bersama rombongan untuk kembali ke Timur karena dia akan merawatmu. Tapi Aku bersi keras untuk merawatmu. Jadi Ayahku kembali ke timur." Tanpa rasa risih sama sekali, Funuell menggenggam punggung tangannya Ragil erat. "Sebelum Ayahku kembali ke Timur, dia sudah mengatakan kepada ku bahwa kau mempunyai penyakit Penyempitan Arteri koroner Karma di bagian serebrovaskular atau di hati. Itu mengakibatkan pembengkakkan hingga membuat beberapa organ tubuhmu tidak berfungsi. Itu butuh perawatan intensif untuk pemulihannya ."
"Apa maksudmu?"
"Ayahku telah memeriksa nadi mu sebelum bertanding dengan Arch. Menurut Ayahku kondisimu tidak separah sekarang saat ini. Dupp mengatakan kau menang melawan Arch tapi ku lihat kau sangat parah terluka. Anehnya bukan luka akibat perkelahian tapi luka dalam yang tidak ada hubungannya dengan pertarungan. Kata Ayahku, Perbandingan parahnya penyakitmu sebelum bertanding dengan Arch dan dengan sesudahnya seperti proses dalam satu tahun. Satu tahun tanpa perawatan."
"Maksudmu. Pertandingan dengan Arch membuat aku semakin parah seperti orang yang selama satu tahun tidak di rawat?"
__ADS_1
Funuell hanya mengangguk dalam.
"Jangan berbelit. Sekarang Katakan apa yang terjadi padaku." Ragil menatap.