Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 41. Masa Kecil : Arch Dan Ragil


__ADS_3

Arch yang masih kecil ini keluar dari dapur langsung menyerang Ravalard.


Saat itu Arch mengenakan pakaian seorang koki yang lusuh. Ini adalah salah satu rencana ayahnya untuk menyamar sebagai koki.


Melihat sepak terjang serta kemampuan petir Arch kecil ini membuat kagum Ravalard. Bagaimanapun kepala Bajak ini belum pernah melihat seorang berelemen petir.


Arch suka menculik anak yang memiliki elemen unik untuk dididik menjadi perampok di masa depan.


"Hei koki kecil. Suruh keluar orang tuamu untuk melawanku. Bukan anak kecil seperti mu yang jadi lawanku." Ravalard terus menghindar dari serangan Arch.


"Aku tidak memiliki orang tua. Aku hanya di pungut oleh keluarga di tempat ini." Arch terus melakukan tinju petirnya.


Mendengar ucapan anak itu, Ravalard menjadi bersemangat.


"Bagus." Setelah berkata seperti itu, Ravalard langsung menendang kepala Arch hingga tersungkur menabrak meja.


Sejak saat itu Arch tidak sadarkan diri.


Begitu dia bangun ternyata dia sudah berada di sebuah rumah kayu. Didepannya ada seorang anak kecil lebih muda darinya dan seorang badut kecil juga. Kedua anak ini sedang memandangi dirinya.


"Ayah. Koki ini sudah bangun." Anak remaja itu berteriak.


Tidak lama kemudian muncul Ravalard dengan satu kendi kecil minuman keras di tangannya.


"Hahaha... Koki kecil. Sekarang kau berada di Pulau Harta." Ravalard yang setengah mabuk berceloteh. "Dari pada kau hanya menjadi kacung bangsawan lebih baik kau disini saja. Setelah kau besar dan menjadi kuat maka akan kuajak kau merampok."


"Tidak ... Aku tidak mau menjadi perampok." Teriak Arch pura-pura kaget. Padahal sejak semula dia memang berencana di bawa ke Pulau Harta untuk bertemu dengan Dewi Kumala.


"Kau harus menjadi koki di tempat ini. Mereka berdua akan menjadi temanmu. Itu Ragil dan Badut."


"Aku tidak bisa masak. Tugasku hanya mengupas kentang di rumah bangsawan itu. Aku ingin kembali ke rumah bangsawan itu dan tidak mau jadi perampok."


"Jangan keras kepala atau ku tenggelam kan kau di laut." Bentak Ravalard. "Apakah kau pikir para bangsawan itu orang baik-baik? Mereka adalah para perampok rakyat yang membuat rakyat menjadi miskin. Meraka merampok dengan kekuasaannya. Yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin melarat.,"


Arch hanya terdiam, tidak berani berkata-kata.


Itu adalah awal pertemuan Arch dengan Ragil dan Badut. Sejak saat itu Arch menjadi bagian dari keluarga Ravalard.


Arch akhirnya tahu meskipun Ravalard seorang Penyihir tapi Ragil, anaknya ini tidak memiliki kemampuan sihir.


Ravalard sering tidak perduli dengan anaknya karena menganggap bahwa anaknya tidak berguna karena tidak memiliki sihir.

__ADS_1


Bahkan ketika teman sebaya Ragil mem buli anaknya, Ravalard tidak memperdulikan.


Ketika Ragil menyampaikan kepada ayahnya kalau kepalanya berdarah akibat di lempari batu oleh temannya yang mengganggu, Ravalard malah memarahinya.


"Kau harus dapat mengatasi lawanmu, jangan hanya merengek saja kemampuanmu." Itulah perkataannya.


Melihat nasib Ragil seperti kekurangan kasih sayang seorang ayah membuat Arch menjadi iba. Dia sering membantu Ragil jika di buli oleh teman-temannya.


Sedangkan Badut, orang itu pendiam dan lebih suka berbicara di pendopo yang selalu bercerita tentang hal-hal seputar Landria. Bagi Arch, badut adalah orang aneh. Meskipun sering bersama namun mereka jarang berbicara.


Arch lebih sering berkomunikasi dengan Ragil. Makin lama mereka semakin akrab.


Belakangan baru di ketahui nya ternyata Dewi Kumala berperan sebagai Guru Sihir untuk Arch. Jadi sesuai dengan misi nya akan menjadi lebih mudah mendekati Dewi Kumala melalui Ragil.


Kebiasaan dari Ragil setiap harinya adalah sering murung di tepi pantai. Ragil sering menatap laut lepas dari pantai. Yang selalu di pikirkan oleh remaja itu adalah kehidupan di seberang lautan. Anak ini sudah terlalu jemu berada di pulau ini dan berharap untuk keluar dari pulau ini.


Ketika Arch mencari Ragil tapi tidak di temukan dimana-mana, maka sudah pasti anak tanpa kekuatan sihir itu berada di pantai.


Seperti waktu-waktu sebelumnya, Arch kuatir kalau Ragil di buli di pantai. Maka dia bergegas menuju pantai.


Di pinggir pantai pantai tempat yang biasa Ragil datangi itu memiliki banyak batu yang besar-besar. Jadi dia melompat diatas salah satu batu yang besar memandang jauh ke arah pantai. Dilihatnya Ragil sedang duduk di pinggir pantai.


Jauh di atas bukit juga ada sepasang mata memandang akan tindak tanduk Arch dan Ragil. Sepasang mata itu milik Si Badut. Si badut memang menyukai duduk di atas bukit sambil memandang gelombang laut.


Badut juga sering melihat di waktu-waktu sebelumnya ketika para anak nakal mem buli Ragil. Tapi seperti biasa badut tidak memperdulikannya.


Demikian juga hari ini. Apa yang di lakukan Ragil dan Arch, tidak pernah di tanggapi. Badut itu hanya diam dan masa bodo. Baginya tidur di atas rumput akan lebih baik dari pada menyaksikan perkelahian anak-anak.


Hari ini seperti biasa di hari sebelumnya. Ragil bagaikan magnet bagi para pengganggu. Dan Selalu ada pengganggu yang tidak senang dengan kesendirian Ragil. Mereka adalah para pembuli.


Saat itu sebuah batu kecil dilempar seseorang hingga mengenai kepala Ragil dari belakang. Ketika dia membalikkan kepalanya, ternyata tiga orang anak yang seumuran dengan remaja ini berada disana.


"Kalian lagi. Apakah kalian tidak bosan mengganggu ku."


Ketiga anak itu hanya tertawa mendengar ucapan Ragil. Mereka terdiri dari Seorang anak gendut yang menjadi pemimpin para pengganggu itu, seorang anak berkaca mata dan seorang anak kurus yang lebih tinggi dari teman nya yang lain.


"Hei manusia pecundang. Apakah kau masih berpikir untuk keluar dari pulau ini?" Ucap si kurus.


Ucapan 'manusia pecundang' adalah sebuah ejekan untuk mereka yang tidak memiliki kekuatan sihir. Dan yang di ejek itu tentu saja si Ragil ketika masih remaja.


Di sekeliling tubuh anak kurus itu terdapat beberapa kerikil melayang di udara. Kemudian salah satu kerikil terbang ke arah Ragil kecil. Begitulah cara si kurus ini melempar batu mengganggu remaja pemurung itu.

__ADS_1


Ragil saat itu hanya dapat menangkis dengan tangannya. Kemudian satu batu kecil lagi terbang menyerang.


"Hei manusia pecundang. Apakah benar ayahmu itu Dev Ravalard si Pemimpin Para Pembajak itu? Mengapa kau sebagai keturunannya tidak memiliki sihir sama sekali." Ucap si gendut.


"Apa pedulimu." Ragil melangkah menjauh dari para pengganggu itu.


Kembali kerikil beterbangan menabrak punggung Ragil.


Dengan menahan sakit, anak ini terus berjalan menghindar para pengganggu itu.


"Hei Putera Dev Ravalard, sini hadapi kami. Dasar penakut." Anak kaca mata itu mulai melakukan sihir menyerang Ragil. Dari tangannya keluar semburan air membasahi seluruh tubuh Ragil.


Tapi Ragil tidak memperdulikannya. Dia terus berjalan. Sebuah batu yang agak besar terbang lalu mengenai kepalanya. Ragil pun terjatuh kehilangan keseimbangan.


"Jangan cuman tau menghindar. Sini hadapi aku Anak Ravalard yang pengecut." Si kurus terus melemparinya dengan batu.


Arch yang sejak awal bersembunyi dan berdiam diri sudah mulai tidak tahan menyaksikan perlakuan para pem buli ini. Setelah melihat batu besar melukai Ragil, barulah dia keluar.


"Hei... Kenapa kalian selalu mengganggu nya. Apakah kemampuan kalian hanya dapat mengganggu orang lemah.


"Arch si anak pungut. Kenapa kau selalu membela manusia pecundang ini yang tidak memiliki kemampuan sihir." Si gendut membalas perkataan Arch


"Aku tidak perduli dia manusia pecundang atau bukan. Tapi aku tidak suka dengan perbuatan kalian yang selalu menekan orang lemah." Arch saat itu mengeluarkan kekuatan listriknya di tangannya. "Jangan sampai aku menyetrum kalian semua."


"Kau hanya sendiri sedangkan kami bertiga. Kau tidak mungkin dapat mengalahkan kami." Oceh si kurus


""Bagaimana kalau kita membuktikannya. Aku tahu kau memiliki elemen air. itu sangat mudah melawanku karena air adalah penghantar listrik." Arch mengambil sebuah batu kecil. "Dan kau kurus. Batu batu mu akan ku buat menjadi debu termasuk dirimu " Arch melumatkan batu di tangannya dengan kekuatan listrik hingga menjadi debu. "Selanjutnya kau gendut. Kau elemen api kan. Aku tidak bisa terbakar karena memiliki elemen api juga. sedangkan kau. Apakah kau bisa menahan sengatan listrik?"


Ancaman Arch membuat ketiga anak itu cemberut. Mereka semua adalah penakut yang berani hanya dengan orang yang lemah.


Arch pada saat itu sudah berada di level D (Dasar), sementara ke tiga anak itu masih di Lebel E (pemula). Apa lagi setiap sengatan petir dari Arch memiliki kemampuan damage beberapa kali lipat.


"Kau tinggal di pulau ini belum sebulan tapi tingkahku seperti jagoan saja." Ketus si kaca mata.


"Kau itu hanya di pungut oleh Ravalard dari jalanan, harusnya kau tahu diri." Si kurus menimpali.


"Lebih baik kau bermain bersama kami maka kami akan memberikanmu mainan. Dari pada kau bergaul dengan manusia tanpa kekuatan sihir itu."


"Aku katakan yang terakhir, enyah dari sini." Ancam Arch. tangannya mulai terlihat percikan listrik.


Mereka akhirnya menyingkir satu persatu menjauh dari pantai. Setelah anak-anak nakal itu menghilang dari balik batu karang barulah Arch menghampiri Ragil.

__ADS_1


__ADS_2