Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 29. Perjanjian Array Dengan Tamave


__ADS_3

"Diam Kau,  Tamave. " Bentak wanita dari dalam lorong gua.  Membentak Murid pertama Yakove.  "Jangan ikut campur urusan kami sekeluarga. "


"Bagaimana Aku tidak ikut campur.  Kau adalah Tunangan ku."


"Aku tidak pernah menyetujuinya dan aku tidak akan menikah sebelum penyakit ku pulih.  Ayahku juga sudah mengatakannya kepada Guru mu. "


"Adik.  Jangan begitu. " Tamave Murid pertama Yakove jadi serba salah. "Kita juga semua berusaha. Aku yakin pasti penyakitmu dapat di sembuhkan. Guru sedang menemui orang jenius yang dapat mengangkat segala penyakit apapun."


Funuell rupanya tidak memperdulikan perkataan Tamave.


"Saya Funuell Anak dari Tabib Paniell mengaku bersalah kepada Tuan Ragil. " Gadis itu berlutut di hadapan Ragil. "Mohon kiranya Tuan mau memaafkan kebodohan saya dan mau mengulurkan tangan untuk menyembuhkan saya. "


"Jangan lakukan Adik.  Penjahat mesum ini cuman menipumu. " Tamave mendekati Funuell.


"Benar apa yang dikatakan tunangan mu.  Aku hanya seorang penjahat mesum."


"Aku tidak perduli akan status anda Tuan.  Penyakit yang ku derita sudah ada sejak lahir.  Apalah artinya sebuah status. Bahkan banyak yang datang berobat ke pada kami baik orang jahat ataupun orang baik-baik. Tugas kami hanya menyembuhkan yang sakit."


"Dia tidak bisa menyembuhkanmu.  Penjahat ini hanya akan membuatmu telanjang. " 


"Benar seperti yang dikatakan Tunangan mu.  Aku belum tentu bisa menyembuhkanmu. Apa lagi kau harus terpaksa membuka baju mu." Ragil mempermainkan kata-katanya.


"Sebagai pasien, Aku akan dengan rela melepaskan pakaianku jika memang haruslah demikian. Tuan Ragil tidak perlu merasa bersusah sekalipun tidak dapat menyembuhkan penyakit ku yang memang sudah parah.  Tapi seperti kata Ayah,  Kita hanya bisa berusaha dalam berbagai kesempatan.  Biar Tuhan yang menentukan hasilnya.


"Apakah dunia sudah gila. Seorang tabib menjadi pasien dari pemuda gila. Adik.  Kau jangan terjebak oleh jeratnya laki-laki bejat ini. " Tamave menunduk di hadapan Funuell.


"Sekali lagi kau berbicara omong kosong,  maka aku akan selamanya tidak mau berbicara kepadamu. " Kesal Funuell.


"Adik.  Aku melakukan ini demi kehormatanmu. " Wajahnya tampak memelas.


"Funuell.  Apakah kau yakin ingin aku menolong menyembuhkan penyakitmu? "Ragil mengangkat Tubuh Funuell yang masih menunduk.


"Mohon uluran tangan Tuan."


"Tapi aku mempunyai syarat untuk membantumu. "


"Katakan syaratnya. Jika aku sanggup pasti akan kulakukan. Sekalipun aku harus berkorban harta. "


"Lihat sekarang.  Penjahat ini minta syarat." Ejek Tamave.  "Pasti syaratnya hanyalah kelicikannya. "


"Tamave! " Bentak Funuell.  "Jangan keterlaluan. "


"Jangan perdulikan dia. " Ragil kembali ke topik.  "Tadi aku ingin membantumu karena Ayahmu yang meminta nya. Jadi tadi ku ajak ayahmu untuk ikut serta. Tapi sekarang aku membantumu karena kau yang memintanya. Dengan demikian ayahmu tidak boleh masuk ke dalam dan melihat pengobatanku. Itulah syaratnya. Ayahmu tidak boleh ikut kedalam. pikirkanlah baik-baik sebel membuat keputusan."


Ini sangat tidak terduga bagi Funuell. Tadinya  ayahnya berkata kalau Ragil tidak bermaksud jahat dengan menyertakan ayahnya sebagai saksi.  Tapi karena kebodohan dirinya telah membuat Ragil tersinggung. 

__ADS_1


Sekarang Funuell merasa kalau Ragil hendak membalas dendam.  Seandainya dia tidak setuju dan ayahnya harus ikut bersama kedalam gua maka pasti Ragil tidak akan pernah mau menolongnya.  Berarti hilang satu kesempatan dirinya akan sembuh.


Tapi kalau dia menyetujui untuk masuk kedalam gua berdua saja dan Ragil hendak bermaksud jahat kepada dirinya maka tidak akan ada pertolongan karena Ayahnya tidak bersama dengan dirinya.


Sebelum Funuell membuat keputusan,  Tamave sudah berceloteh lagi.  Ini memberikan kesempatan dirinya untuk berpikir.


"Lihat?  Seperti kataku.  Dia sudah mengeluarkan akal bulusnya. " Sindir Tamave lagi. "


"Oh iya. Syarat kedua. " Ragil mulai teringat sesuatu dan menggunakan kesempatan ini. "Jika aku berhasil menyembuhkan dirimu maka kau harus memutuskan pertunanganmu dengan mulut banci ini. "


"Tuan Ragil mohon melunakkan hatimu.  Masalah perjodohan ini tidak dapat diselesaikan secara sepihak. "  Funuell tetap berkata hati-hati.


"Apa?  Kau mengatakan aku Banci? " Wajah Tamave menjadi merah. "Baik.  Kalau kau bisa menyembuhkan Adik Funuell maka aku bersedia dibatalkan pertunanganku dan aku akan bicara kepada Guru untuk tidak melanjutkan pertunangan.  Tapi jika kau tidak bisa menyembuhkannya maka kau harus keluar dari Lembah Phanoel dengan telanjang bulat. "


"Hati-hati dengan ucapanmu Tamave. " Phaniell hendak mencegah.


"Biar paman.  Aku harus mempermalukan penjahat kelamin seperti dia. "


"Baik aku setuju. " Ragil senang.  "Mari kita buat Array Perjanjian. "


Kemudian Ragil mengeluarkan bendera-bendera kecil setinggi setengah kelingking. Di bendera itu sudah ada tulisan Array yang sangat kecil tulisannya sehingga sulit untuk di baca jika tanpa kaca pembesar.


Ragil melemparkan bendera-bendera itu di sekeliling Tamave dan dirinya saja.


Paniell yang tadinya hendak mencegah tapi langsung di tahan Puterinya, Funuell. Paniell langsung mengerti. jika melalui taruhan seperti ini maka Ragil tidak akan bercanda dalam menyembuhkan tubuh Inti es. karena resikonya akan berlari telanjang.


Kini hanya di areal tengah saja yang dapat mengeluarkan sihir dibatasi oleh bendera Array. Tamave juga merasakan kekuatan sihirnya kembali.


"Jangan coba macam-macam karena kau tidak dapat keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup." Ancam Ragil ketika melihat Tamave hendak menggunakan sihir.


Jari telunjuknya Ragil mengeluarkan cahaya putih lalu di buat dua lingkaran Array.


"Siapa yang takut dengan penipu sepertimu. " Tantang Tamave


Kemudian persiapan pun telah selesai. mereka memasukkan tangannya masing-masing di lingkaran cahaya Segel putih itu.


"Aku, Ragil akan keluar dari Lembah Phanoel dengan telanjang bulat jika tidak dapat menyembuhkan penyakit inti es yang di derita Funuell.  Jika aku menolak maka aku bersedia mati. " Ragil mengucapkan janji nya seraya tangannya di letakkan diatas Array putih di hadapannya.


"Aku Tamave, murid pertama Yakove bersedia membatalkan pertunangan dengan Funuell jika Ragil dapat menyembuhkan Funuell dari penyakit inti es yang di deritanya sejak lahir.  Jika aku menolaknya maka aku bersedia untuk mati. " Tamave juga membuat janjinya diatas Array dihadapannya.


Setelah keduanya mengucapkan janji, lingkaran cahaya itu mengecil hingga sampai pergelangan tangan lalu lenyap.


Upacara Perjanjian Array sudah selesai. Ragil menarik kembali bendera-bendera kecilnya. seketika itu juga area sihir pun lenyap.


"Baik.  Perjanjian Array sudah di lakukan maka saatnya sekarang penyembuhan."  Kemudian dia bertanya kepada Funuel.  "Bagaimana?  Apakah kau bersedia didalam satu ruangan bersama ku atau tidak.  Dan merelakan pakaianmu di buka dihadapanku.,"

__ADS_1


"Aku bersedia selama Tuan Ragil bersedia menyembuhkan penyakitku. " Ucap Funuel mantap.  Kini dia yakin kalau Ragil dapat menyembuhkan dirinya.  Jika tidak maka Ragil akan dipermalukan dengan bertelanjang keluar dari Lembah Phanoel.


Ragil mempersilahkan Funuell untuk kembali ke ruangan.  "Arbakir.  Jangan seorang pun melewati lorong ini termasuk ayahnya Funuell."


Arbakir mengangguk,


"Apa kau keberatan Aku membawa puterimu bersamaku Paman Paniell? "


"Tidak,  tidak sama sekali.  Lakukanlah yang terbaik untuk Puteriku.  Aku percaya kepadamu.


Ragil dan Funuell memasuki lorong lagi.  Arbakir menjaga di muka gua.  Tapi kali ini Paniell tidak turut serta kedalam.


Selama memasuki lorong gua,  mereka tidak mengatakan sepatah katapun.


Didalam lorong terdapat ruangan yang sebelumnya mereka datangi.  Funuell duduk di dipan yang tersedia dalam ruangan. 


Kembali Ragil mulai menebar bendera kecilnya untuk membuat area yang dapat menggunakan sihir.


Kini Ragil dan Funuell dapat menggunakan sihir.


Melihat Ragil sudah membuat persiapan maka Perlahan-lahan dia mulai melepaskan kancing nya satu persatu.  Lalu di biarkan nya punggungnya terbuka di hadapan Ragil.


Kulitnya putih bersih mulus tanpa cacat.  Jelas kulitnya ini sering melakukan perawatan yang memutihkan dan membersihkan kulit.  Tidak percuma memiliki orang tua yang ahli akan pengobatan membuat tubuhnya terawat dengan perawatan yang sangat baik.


Ragil hanya terdiam memandangi kulit yang bercahaya nan mengkilap itu.  Seribu kekaguman yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata.


"Apakah segini cukup Tuan Ragil. " Ucap gadis manis berkulit mulus itu dengan suara bergetar. Ini pertama kali seorang laki-laki yang bukan keluarga melihat bagian tubuh belakangnya. Apa lagi pria itu adalah orang yang baru dikenalnya.


"Owh...  Iya..  Tentu saja cukup. " Ragil terhentak dari lamunannya.


"Maafkan aku jika tubuhku bergetar.  Ini baru pertama kalinya aku melakukan ini." Gadis itu mengucapkan terbata-bata.


"Tenang saja." Kata Ragil seperti seorang pakar saja.  "Semua selalu ada yang pertama. Bisa kita mulai sekarang?"


"Yah, silahkan. " Funuell menutup mata mencoba merasakan seluruh tubuh nya.


"Sebelumnya aku harus mengatakan. Aku akan mencoba dua cara dalam menyembuhkanmu.  Pertama Aku akan menyegel inti es dalam tubuhmu sehingga kau tidak akan kumat lagi.  Jika tidak bisa maka aku akan melakukan Sihir Take n Gift yang akan membuatmu kehilangan salah satu atau lebih kemampuan sihir.  Apa kau bersedia. "


"Kesehatan lebih utama bagiku. "


"Bagus.  Sekarang Aku harus menotokmu membuat tubuhmu tidak bisa bergerak dan tidak bisa bicara. Karena kalau ditengah pengobatan kau bergerak akan berakibat fatal untuk kita berdua. "


"Aku mengerti.  Silahkan dilakukan. "


Ragil menotok saraf geraknya dan juga saraf untuk bicara membuat Funuell tidak bisa bergerak.  Sebenarnya Ragil tidak perlu melakukan hal itu,  tapi dia melakukan itu untuk mengerjai gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2