
Didalam ruang dimensi duplikat buatan Vacuum Dupp. Arch dan Ragil masih membahas masa lalu. Entah sudah berapa menit mereka berdua ngibrol.
"Kenapa Arch? Kenapa kau begitu membenciku dan ingin membunuhku. Padahal aku tidak mempunyai perasaaan membenci kepadamu." Ragil menatap Arch. "Setiap aku berpikir jahat untukmu maka yang teringat adalah perbuatan baikmu padaku. Selain Badut dan kau, tidak ada seorangpun di pulau harta menganggap aku ada."
"Jangan di ambil hati akan masa lalu. Aku hanyalah mata-mata dan apa yang kulakukan hanyalah sebuah misi. Termasuk mendekatimu." Arch menjawab seperti orang tanpa dosa. "Jika aku membunuh mu bukanlah karena kebencian tapi semata hanya sebuah misi untuk mengambil energi dari Raja Kegelapan."
"Apakah kau tidak memiliki nurani? Dahulu kau yang membela aku mati-matian sampai kau di buat hampir mati oleh orang tua dari ke tiga anak nakal itu."
"Aku hanya mendekati dirimu supaya bisa mendekati Dewi Kumala. Tujuannya hanya satu yaitu mendapatkan Segel Kunci Raja Kegelapan."
"Kau tidak bisa berbohong. Meskipun saat itu kau mempunyai misi tapi persahabatan kita adalah murni. Badut yang menjelaskan semuanya."
"Badut hanya menduga dan itu semua hanya omong kosong. Apakah kita tidak bisa berhenti bicara tentang masa lalu? Aku sudah mulai muak.' Arch merasa di pojokan.
"Aku tahu sebenarnya kau berada di dua pilihan antara ayahmu dan sahabatmu."
"Sahabat? Aku tidak punya sahabat. Aku hanya memanipulasi untuk mencapai tujuan."
"Yah. Seperti ayahmu yang memanipulasi dirimu untuk mencapai tujuannya."
"Jangan berbicara kurang ajar tentang ayahku."
"Ayah mu? Kau hanya memiliki nama seperti marga orang tuamu. Tapi sebenarnya kau hanya di manipulasi. Jendral Bald tidak pernah menikah jadi dari mana dia memiliki anak. Sarr mengatakan kalau Bald bekerja pada Valkirie sejak masa kecilnya. Dan seluruh orang pentingnya Valkirie tidak ada yang menikah. Menurut Valkirie, Keluarga adalah sebuah kelemahan. Jika Bald disuruh memilih maka dia akan memilih Militer dari pada kau yang di anggap anaknya. Kau hanyalah seorang anak yang di pungut di suatu tempat. Apakah kau tidak pernah bertanya dalam hati, mengapa ayahmu tidak memiliki sihir. Lantas dari mana kekuatan sihirmu datang? Ibumu? Siapa Ibumu?"
"Aku peringatkan, jangan mengatakan apapun tentang orang tuaku atau aku akan membunuhmu sekarang juga."
"Kau hanya meyakinkan dirimu sendiri tentang sebuah keluarga. Padahal kau tidak memilikinya. Lalu kau marah dan mengancam ku karena semua perkataan ku benar. Sama Seperti saati kau mengancam ke tiga anak nakal itu." Ragil tertawa sedih. Karena dulu ancaman Arch kepada ke tiga anak nakal itu karena untuk melindungi dirinya. Kini ancaman itu untuk menjaga reputasi ayahnya. "Tapi pernah kah kau berpikir, apakah ada seorang ayah yang tidak perduli keselamatan anaknya yang masih remaja dengan mengirimkannya ke daerah perbatasan musuh. Ayah yang tidak mau anaknya berada di sisinya. Ayah yang tidak ingin momen kebersamaan bersama keluarga."
"Jangan memaksa kesabaran ku." Tangan Arch sudah di aliri listrik.
"Kita berdua ini sama. Kurang perhatian dari orang tua kita. Hanya bedanya ayahku begitu sedih melihat diriku yang tidak memiliki kemampuan sihir. Jadi dia selalu menghindar melihat wajahku. Tapi dia memiliki kasih sayang yang besar tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata, Selalu membawakan aku sesuatu ketika pulang dari merampok. Termasuk membawa Dewi Kumala untuk membantu mendapatkan kekuatan sihir bagiku."
"Aku tidak perduli dan tidak ada urusannya dengan ku."
__ADS_1
"Aku tahu. Aku hanya ingin mengatakan sejahat-jahatnya orang tua kepada anaknya, dia tetap berusaha menunjukkan kasih sayangnya dengan caranya sendiri.. Meski terkadang sulit dimengerti. " Dia teringat karakter ayahnya yang keras dan perasaan kecewanya memiliki anak yang tidak punya kemampuan sihir tapi selalu mencari solusi terbaik. " Dari pada ada anak yang mengharapkan kasih sayang dari orang tuanya namun tidak pernah mendapatkan. Apapun prestasi baik yang dilakukan si anak paling hanya mendapatkan pujian. Bukan kasih sayang." Sindirnya.
"Grrr...." Arch sudah tidak tahan dan dalam sekejap tangan kirinya Arch sudah berada di dada Ragil. Merenggut pakaiannya dan mengangkat tubuh Ragil ke atas.
Tapi tangan itu sudah tidak di aliri listrik. Jadi Ragil tidak tersetrum. Sentuhan (Touch) di manfaatkan Ragil untuk menggunakan Soul Watcher melihat kondisi tubuh lawan.
"Kau tidak menyalurkan tegangan tinggi listrik di tangan mu supaya aku langsung tewas " Ragil tetap tenang meskipun dirinya diangkat.
"Hei... Heii... Kenapa sudah memulai tanpa menunggu kedatangan kami." Ucap Dupp yang datang bersama Arbakir.
"Aku sudah tidak sabar. Mulutnya seperti perempuan." Arch melepaskan cengkraman nya.
"Sebenarnya, aku hanya ingin meyakinkan mu jika kau hanya di manfaatkan. Kau memiliki hati yang baik tapi telah tertutupi karena sebuah harapan palsu tentang keluarga. Orang yang harus kau anggap sebagai keluarga adalah mereka yang mengasihi mu dan peduli kepadamu."
"Apakah kita bisa memulai pertarungan ini?" Arch sudah tidak sabaran.
"Tunggu dulu." Dupp menahan. "Ada yang harus kutanyakan akan syarat dari mu jika kau menang. Meskipun aku tahu kalau itu mustahil."
"Apakah hanya itu?" Dupp seakan tak percaya akan permintaan Ragil.
"Yah hanya itu. Tapi aku meminta dibuatkan menjadi tiga duplikat. Jadi anggap saja menjadi tiga permintaan."
"Baik. Aku setuju."
"Tapi karena aku yakin kalau pasti aku yang menang dan aku kuatir kalau kau tidak melakukan kewajiban mu maka kita harus membuat Perjanjian Array." Tambah Ragil.
"Hahaha... " Dupp tertawa. "Dari mana datang nya rasa percaya diri itu. Tapi tidak masalah. Silahkan buat Array Perjanjian."
"Dari mana? Baik akan ku jelasan dari mana rasa percaya diriku." Ragil membuat Array dengan jemarinya yang bercahaya. "Tadi ketika Arch mencengkeram, aku mengetahui kalau dia punya masalah di sirkulasi Kapasitas energinya."
"Apa? Bisa kau jelaskan lebih terperinci." Kejar Dupp penasaran.
"Ketika Arch membuat tegangan listrik yang tinggi, itu membuat kerusakan di saluran Kapasitas miliknya. Saluran kapasitasnya tidak tahan akan tegangan kekuatan voltase yang tinggi. Jadi aku menyimpulkan ketika Arch muntah darah saat bertarung dengan Arbakir, ternyata dia bukan terluka didalam karena pukulan Arbakir. Tapi Arch terluka karena kerusakan akan kapasitas energinya."
__ADS_1
"Hebat ... Kau bisa mengetahui secara mendetail." Puji Dupp. "Kemampuanmu yang dapat melihat kondisi tubuh seseorang itu boleh juga "
Ragil tersenyum kecut. Sihir ini dianggap sampah oleh ayahnya karena tidak dapat menyerang lawan.
"Tidak usah kuatir. Aku pasti memenangkan pertandingan ini." Arch meyakinkan. Dia juga tidak membantah akan penuturan Ragil. Bisa dikatakan Dupp dan Arch juga sudah mengetahui kondisi kapastiasnya yang bermasalah.
"Aku juga tahu penyebab kerusakan sirkulasi Kapasitas Energimu. Itu dikarenakan kau salah memilih tipe. Kau mengandalkan tinju petir karena kau menganggap tinju itu sangat kuat damage nya. Jadi kau memilih tipe Attacker. Padahal skill itu menyerang balik seperti bumerang."
"Tipe? Memang menurutmu aku di tipe apa?"
"Kau adalah tipe serangan jarak jauh yaitu Long Range."
"Kau terlalu sok tahu." Arch menuding dengan telunjuknya. "Lightning Punch milikku lah yang membuat aku maju pesat kenaikan dalam tingkat Sihir. Sekarang tinju petir itu memiliki perkembangannya yang sebentar lagi akan kau rasakan.
"Benar. Itu dapat membuatmu naik pesat. Tapi tingkatmu hanya sampai disini dan tidak akan mengalami terobosan kenaikan tingkat. Karena kapasitas mu sudah rusak."
"Mari kita buktikan saja, tidak usah banyak bicara."
"Yang akan mengalahkanmu bukanlah aku tapi dirimu sendiri. Kapasitas mu akan meledak jika terlalu memaksa menciptakan voltase tinggi." Ragil mengeluarkan pistol nya. "Seharusnya sebuah petir itu datang dari langit dan menyerang ke arah bumi. Bukannya dari langit dan berputar di langit yang sama. Kau harusnya seperti pistol ini. Peluru ini adalah kekuatan petir mu. Pemicu nya atau trigger nya adalah hatimu. Jika sudah kau salurkan energi petirmu maka harus di lepaskan. Jangan hanya di lekatkan di tubuhmu. Petir itu seperti peluru yang harus dilepaskan agar mengenai sasaran. Tapi yang kau lakukan adalah menutup larasnya agar semakin kuat senjata nya, maka yang terjadi pistol itu akan meledak."
"Dasar mulut perempuan. Terlalu banyak bicara. Cepatlah selesaikan Array perjanjiannya supaya kita bisa langsung mulai."
"Hei, Archie..." Dupp menegur. "Ada baiknya kau mendengarkan dia. Lagi pula semua perkataannya masuk akal." Dupp yang telah sudah tahu akan penderitaan Arch, berharap agar temannya ini mau memikirkannya.
"Tenang saja Paman Dupp. Aku tidak akan kalah dengan orang lemah ini." Arch begitu yakin.
"Aku sudah selesai membuat Array Perjanjian. Kita bisa memulai." Ragil mengirim sebuah lingkaran cahaya Array ke hadapan Dupp. Lingkaran cahaya Array satunya ada di hadapannya.
Dupp dan Ragil memasukan tangannya dalam lingkaran Array itu kemudian mengucapkan sumpah mereka.
Seperti yang di sepakati bersama.
Acara Perjanjian Array pun berakhir dan pertarungan akan segera di mulai.
__ADS_1