
"Baik. Siapkan dirimu. Aku akan memulai gerakan pertama."
"Silahkan. Aku selalu siap sedia."
Seketika itu juga gelombang energi Lamia diarahkan ke dalam pertahanannya. Ratu Ular ini cukup hati hati. Dia tahu skill Madrakh cukup kuat jadi dirinya tidak boleh lengah sedikitpun.
"Kau menyalurkan setengah mana mu hanya untuk pertahanan." Mata Madrakh dapat melihat setiap gerakan saluran energi dari tubuh seseorang.
"Madrakh. Aku semakin mengaggumimu. Cepat seranglah. Jangan biarkan aku terlalu lama menunggu."
X-Ray Blast
"Zhoottss."
Sebuah sinar kecil melesat keluar dari jari telunjuk Madrakh. Meskipun kelihatan kecil namun dapat melobangi baja sekalipun.
Sinar berwarna kemerahan itu tepat mengenai dada Lamia yang tidak sempat di hindari nya karena sinar itu memiliki kecepatan cahaya.
Semua penonton di buat bergidik melihatnya. Hanya orang di tingkat Maha Dewa yang dapat melancarkan serangan dahsyat seperti itu.
"Aaagggg..." Lamia terlempar kebelakang sejauh 15 meter.
Lamia berguling di tanah untuk menahan rasa sakit. Dadanya mengeluarkan uap panas.Kedua tangannya di gunakan untuk menekan dada.
Para penonton menyangka Lamia pasti mati dengan dada berlubang. Hanya di butuhkan satu serangan saja.
"Hanya memiliki segelintir kekuatan sudah terlalu sombong. Dasar Iblis." Suara salah satu penonton.
"Lihat sekarang. Ratu Ular telah menjadi ayam potong yang menggeliat di tanah."
"Dia sudah menggunakan pertahanan kuat tapi masih dapat tertembus. Siapakah Pria yang bernama Madrakh ini...?"
"Nama itu sepertinya tidak asing. Dia adalah buronan. Harga kepalanya menjulang tinggi."
"Bagaimana jika kita bersatu mengalahkannya Jika dia berhasil mengalahkan si Ratu Ular."
"Itu ide yang baik. Aku setuju."
"Kalau Madrakh yang mati maka aku akan memotong kepala nya."
Ternyata diantara para golongan putih masih ada yang tergiur akan harta.
"Jangan coba berpikir untuk menyerang Madrakh." Seorang yang berpakaian kerajaan dengan tingkat Maha Dewa mengeluarkan suara dengan nada mengancam. "Dia ada disini untuk membasmi Raja Kegelapan. Musuh dari musuhku adalah temanku. Jadi siapapun, yang yang mengganggunya akan berhadapan denganku."
"Aku juga tidak sungkan sungkan untuk menghajar siapapun yang berani menyerang Madrakh." Orpahh tidak mau kalah.
"Aku juga di pihak Madrakh." Suara yang lain mengucapkan setelah melihat situasi yang mendukung Madrakh adalah dua orang di tingkat Maha Dewa.
__ADS_1
"Cukup debatnya." Bangsawan itu membentak. "Lihat Ratu Ular masih belum mati.
Lamia telah berhenti dari menggeliat menahan sakit. Dia mulai kembali berdiri. Kini tubuhnya sudah tegak seperti belum pernah terjadi sesuatu. Didadanya masih ada bekas sihir itu Madrakh hanya terlihat sedikit asap.
Sekali lagi yang menyaksikan di buatnya tercengang. Lamia bukan hanya kembali sehat seperti semula tapi Lamia juga mengalami perubahan yang drastis. Semua sirip ularnya menggumpal dan berubah warnanya menjadi merah.
"Mutasi." Seorang penonton mengucapkannya.
"Kekuatan sihir yang sangat hebat. Aku belum pernah menerima serangan sehebat ini." Rona wajah Lamia yang berubah menjadi merah terlihat begitu senang, seperti batu saja menikmati daging bakar yang lezat. "Kuharap serangan kedua ini lebih hebat dari sebelumnya."
Menurut Madrakh, Serangan itu dapat mengalahkan Tingkat Maha Dewa sekalipun. Tapi siapa sangka Lamia menganggapnya seperti serangan kacangan saja. Yang membuat Madrakh terheran adalah Lamia menyalurkan mana nya ke pertahanan hanya 25% saja. Tidak seperti sebelumnya yang mengeluarkan 50%
Kali ini Madrakh menggenggam kedua tangannya untuk mengeluarkan kekuatan yang lebih blezat. Dua jari telunjuknya di padukan dan mengarah ke tempat Lamia. Kali ini Dia tidak bisa main main lagi. Dia menggunakan kekuatan dua kali lipat.
Full X-Ray Blast
"Zhhootsss."
Cahaya yang lebih besar dari kedua dua jari Madrakh. Kecepatan ini tidak bisa di hindari. Sekali lagi Lamia menerima serangan itu dengan dada terbuka.
"Arrgggjh.." Lamia menahan serangan.
Anehnya Lamia hanya bergeser mundur dua langkah saja dan masih dalam posisi berdiri. Seolah serangan kedua lebih lemah dari serangan pertama. Cahaya merah di tubuh Lamia semakin besar. Sisik merah itu juga semakin menebal hingga terlihat tubuh Lamia seperti berbintik bintik batu merah.
"Qiqiqiqiq... Terasa sangat geli di badan. Hanya menghangatkan tubuh saja. Semakin kuat kau menyerang maka semakin kuat tubuh fisikku ini."
Mata Madrakh melihat bahwa tubuh Lamia tidak normal. Tubuhnya berambah besar meskipun hanya sedikit. Orang biasa tidak dapat melihat perubahan tubuhnya yang membesar yang sedikit itu. Kulitnya juga semakin tebal.
"Apakah aku tidak salah lihat?" Orpahh mulai merasa si Ratu Ular tidaklah normal. "Bagaimana bisa kekuatan yang lebih besar justru semakin kuat pertahannya."
"Secara pribadi, aku tidak akan sanggup menahan serangan ke dua Madrakh." Si Bangsawan dengan jubah kerajaan itu mengomentari. "Jelas kekuatan Madrakh berada di atasku."
"Jika pengawalnya saja sudah demikian hebat, bagaimana boss nya." Penonton lain juga mulai gentar.
"Tenang. Aku masih memiliki satu serangan. Aku akan melancarkan serangan ke tiga." Madrakh lebih sungguh sungguh lagi.
"Lakukanlah dengan cepat. Aku tidak sabaran. Karena kemampuanku yang bermutasi inilah membuat Raja Kegelapan menarikku dalam kelompoknya."
"Jika kau sudah sedemikian hebat, untuk apa lagi bergabung dengan Raja Kegelapan?" Orpahh penasaran
"Raja Kegelapan memberikan darahnya kepadaku untuk ku minum. Menjadikan aku semakin kuat dan mendapatkan sihir kegelapan yang memiliki kemampuan membelah diri menjadi ular ular kecil."
"Aaagghhhh..." Seseorang di belakang berteriak.
"Awas ada ular berkeliaran."
"Kurang ajar itu ularnya Lamia."
__ADS_1
"Lihat. Aku dapat mengendalikan tubuhku dan ular ular kecil itu. Dia akan menyerang Penyihir yang kemampuannya lemah. Qiqiqiqi..." Lamia tertawa senang.
"Hati hati semua. Ular ular itu dapat mencium aroma energi dalam tubuh. Yamg memiliki energi sedikit akan di serangnya." Orpahh memperingatkan.
Madrakh tidak memperdulikan yang terjadi di sekitarnya. Dia hanya fokus terhadap lawan di hadapannya. Tubuh Lamia memang tidak normal dan dapat bermutasi. Madrakh juga melihat sedikit keanehan dalam penyaluran mana kedalam tubuh ularnya itu
Pada saat serangan pertama Lamia hanya mengeluarkan mana 50% mana. Serangan kedua hanya mengeluarkan 25% mana saja. Untuk menghadapi serangan ketiga, Lamia hanya mengeluarkan 10% mana saja. Seolah serangan ketiga ini sangat lemah. Juga tubuh fisik pertahanan nya semakin kuat.
"Bagaimana jika kita mengeroyoknya." Seorang dari kerajaan yang entah dari mana mencoba untuk membujuk lainnya.
"Kekuatan iblisnya memang sangat berbahaya " ucap lainnya.
"Madrakh. Bagaimana pendapatmu." Orpahh juga membujuk Madrakh
"Bukankah kalian adalah golongan putih. Apakah kebiasaan kalian menelan ludah sendiri." Madrakh kesal karena di remehkan. "Jika aku gagal yang ketiga ini. Aku menyerahkan kepada kalian semua."
"Keroyoklah aku. Aku tidak takut." Lamia yang merasa menjadi semakin kuat dengan sombong mengucapkannya.
"Kalau kau tidak bisa membunuhnya maka kau akan membuat iblis itu semakin kuat." Orpahh mendekati Madrakh.
"Tenanglah aku tahu apa yang akan kuhadapi."
Sekali lagi Madrakh menyatukan kedua tangannya. Hanya kali ini dia tidak menggenggam tapi di biarkan terbuka seperti seorang yang sedang menyembah dewa. Hanya saja tangannya di arahkan ke tubuh Lamia.
Tidak ada aura kuat yang keluar dari tubuh Madrakh. Seolah Madrakh tidak mengeluarkan sihir sama sekali. Hanya terasa Angin kecil berputar melingkari tubuh Madrakh. Beberapa daun di sekitar tubuhnya mulai berterbangan.
"Cepatlah. Jangan lama lama." Lamia tidak sabar menantikannya.
Madrakh tidak memperdulikan. Dia masih konsentrasi. Tanpa terasa angin menghempaskan bandana miliknya. Batu batuan kecil mulai terangkat. Di sekitar itu juga mulai mengeluarkan hawa panas.
"Aku merasakan kekuatan besar dari tubuhnya tapi aura sihirnya tidak kelihatan " Orang berpakaian kerajaan yang berada ditingkat Maha Dewa berbisik kepada Orpahh di sebelahnya. "Sepertinya kekuatan Madrakh semakin melemah."
"Hei... sepertinya kekuatan sihir Madrakh semakin melemah." Komentar dari orang yang lain.
"Kalau begitu kita bersiap untuk mengeroyok."
Orpahh juga belum pernah melihat sihir yang akan di gunakan Madrakh. Jadi dia diam tidak memberikan komentar. Kalau di perhatikan memang terlihat kekuatan Madrakh melemah karena berkurangnya aura sihir. Wanita tubuh Inti es ini hanya dapat merasakan hawa membunuh yang halus. Hanya orang yang berada di atas Peringkat Maha Dewa sajalah yang dapat menahan hawa membunuh demikian kuat. Orpahh merasa kekuatan Madrakh tidak terbatas. penampilannya saat ini hanyalah untuk mengeluarkan kartu truf nya.
Madrakh Style
"Zzhoottsss." Kecepatan cahaya melesat lagi.
Tubuh Madrakh lenyap hilang tak berbekas. Hanya meninggalkan gulungan debu bekas pijakannya.
Madrakh sudah berpindah tempat jauh dibelakang sana. Ini seperti teleport saja berpindah tempat. Tapi sebenarnya tidak demikian. Madrakh memang melesat sangat cepat sekali. Madrakh berada dalam posisi berjongkok. Tubuh Madrakh masih mengeluarkan angin berputar.
"Tidak mungkin..." Seru Orpahh dalam hati. "Meskipun berbeda tapi ini mirip 'jurus ke tujuh : Bersama'."
__ADS_1
Kecepatan hembusan angin yang cepat dan serangan akurat hanya ada di jurus ke tujuh. Bagaimana Madrakh bisa menguasai seperti ini. Tapi jelas itu bukan kekuatan inti es.
Wanita inti es ini mencoba melihat korbannya.