
"Arch dulu pernah membunuh Dewi Kumala dan di sangka dia sudah Mati karena tulang lehernya patah dan sudah tidak bernafas. Tapi Dewi Kumala justru kembali hidup dalam beberapa menit."
"Katakan padaku. Apakah Abdi mu masih hidup."
Sarr memang pernah mendengar Arch membunuh Dewi Kumala kemudian Dewi bangkit kembali. Itu karena Dewi Kumala Seangkatan dengan Valkirie, Penguasa Militer dan bukan mahkluk Landria. Jadi wajar karena Dewi Kumala dan Ratu Valkirie adalah sama-sama mahkluk abadi yang sudah hidup 800 tahun lebih. Sedangkan Arbakir hanyalah bagian kecil dari Landria. Masakan bisa hidup lagi seperti Dewi Kumala.
Ragil mencoba menjelaskan kepada Sarr secara perlahan.
"Dewi Kumala adalah Penyihir Ruang dan Waktu. Yang dapat menghentikan waktu untuk tubuhnya dan juga mengembalikan waktu untuk tubuhnya. Istilah yang digunakan Dewi adalah 'Pause' dan 'Rewind'. Dewi waktu dibunuh oleh Arch, tulang lehernya patah namun masih ada nafas terakhir sebelum mengalami kematian. pada titik itu adalah titik nafas terakhir sebelum kematian, Dewi mengalami perhentian waktu untuk tubuhnya hingga kelihatan seperti orang mati. Itu adalah titik Pause dimana dia berada dalam titik terendah sebelum kematian. Lalu tubuhnya memutar kembali waktu untuk kembali kepada kondisi semula me regenerasi dengan cepat. Itu adalah titik Rewind. .
Sarr tetap masih tidak mengerti penjelasan dari Ragil. Dia mengetahui Pause dan Rewind hanya dari tehnologi Militer saat sedang memutar rekaman. Tapi untuk tubuh manusia...? Semua itu diluar nalar manusia.
"Kau kan tahu jurus Accelerate miliki Dewi Kumala yang dapat bergerak cepat. Itu adalah Forward dalam istilah Dewi." Ragil masih menjelaskan sambil terus memegang denyut nadi Abdinya ditangan. "Lihat... Jantung nya kembali berdetak meskipun masih lemah." Ragil begitu senang karena dugaannya ternyata benar.
Mau tak mau Sarr harus percaya kalau kekuatan sihir dapat membangkitkan seseorang dari kematian. Kali ini wanita yang selalu berpikir hanya dengan logika mulai percaya akan hal yang diluar nalar manusia. "Sihir yang mengerikan. Membangkitkan seseorang dari kematian."
"Bukan. Dia belum mati. Tapi tubuhnya mengalami perhentian waktu. Mengalami perhentian waktu itu seperti orang mati tapi sebenarnya masih hidup. Begitu perkataan Dewi. Disaat kritis tubuhnya mengalami masa statis dalam beberapa menit. Kemudian tubuhnya mengalami waktu mundur." Ragil masih mencoba menjelaskan meskipun dia sendiri masih bingung.
Dewi Kumala memang pernah menjelaskan salah satu kemampuan sihirnya dari Sihir Waktu. Kemampuan Sihir waktu yang dimiliki Dewi terbagi dua. Pertama Sihir Waktu untuk Tubuh (Time Magic For Body), Yang Kedua Sihir Waktu untuk Area.
Sihir Waktu untuk Tubuh antara lain, Tubuhnya mengalami perhentian waktu di saat kritis (Pause), Memulihkan diri kembali kepada keadaan sebelumnya (Rewind), Tubuhnya mengalami percepatan waktu (Forward/Accelerate), Mengembalikan tubuh kepada masa kecil (Back To Young')
Sihir Waktu untuk Area saat ini belum dapat dilakukan oleh Dewi karena membutuhkan mana yang besar atau setara tingkat Maha Dewa (Level SS).
Karena kondisi Dewi saat ini melemah akibat Sihir Gift yang pernah dilakukan kepada Ragil maka tingkatnya langsung merosot ke tingkat Atas tahap akhir (Level A). Itulah sebabnya dia tidak bisa menggunakan sihir tingkat dewa.
Kembali kepada Komandan Sarr yang masih tidak percaya karena sebelumnya dia yakin kalau Arbakir telah mati, tapi kini dia sudah bangkit lagi. Ini diluar logika manusia. Begitulah pikirannya.
"Apakah dia melakukan Regenerasi? Mengapa Kulit yang menutupi lukanya berwarna hitam tapi tidak sama dengan kulit Srigala?" Setahu Sarr, Arbakir memang mempunyai kemampuan Transformasi merubah tubuhnya menjadi Srigala.
Memang tampaknya seperti regenerasi atau pemulihan diri dengan cepat. Hanya bentuk warna kulit didadanya agak berbeda. Ini juga tidak seperti transformasi menjadi Srigala. Ditempat bekas luka nya Ragil terlihat sesuatu warna hitam. Sepertinya kulitnya akan merubah sedikiit demi sedikit berwarna hitam. Karena kulit hitam itu semakin cepat melebar dan menyebar.
Arbakir kini terlihat belang akan kulitnya. Tapi bagi Ragil itu bukan masalah selama Abdinya masih hidup.
"Agroo... Bersabarlah... Lawanmu masih hidup." Ragil tampak senang melihat ada kekuatan baru di tubuh Abdinya. Aura dari Arbakir terus semakin meningkat.
Akhirnya hasil dari Take n Gift mulai muncul, dimana dirinya tidak dapat menggunakan warisan dari Dewi Kumala karena memiliki mana yang sedikit tapi bisa di terima oleh Arbakir.
__ADS_1
Dalam situasi ini, Agroo menyadari kalau lawannya masih belum mati. Dia tidak mau berlama-lama yang nantinya akan merugikan diri sendiri. Dengan segenap Energi kekuatannya dikumpulkannya di kedua tangannya. Harapan Agroo adalah dalam satu kali serang dapat membunuh Ragil dan Arbakir.
Setelah terkumpul kekuatan Energi nya, Agroo meluncurkan serangan ke arah Ragil yang masih membelakangi dirinya.
Dengan Soul Watcher nya, Ragil juga menyadari akan serangan itu. Hanya dia kurang mempersiapkan diri atau tidak menduga akan serangan pengecut itu datang secara tiba-tiba, disaat dia belum mempersiapkan diri.
Ragil yang sudah pasrah akan menerima serangan tiba-tiba namun Sebuah tangan berat melempar tubuh Ragil menjauh agar tidak terkena serangan tersebut.
Ragil terhempas menjauh dan berhasil diselamatkan. Akibatnya serangan itu mendarat ke tubuh Arbakir yang masih terbaring.
Tubuh Arbakir terpental tiga meter tapi Ragil dapat terselamatkan.
Melihat hal itu, Sarr langsung menerjang.
"Jangan." Teriak sebuah suara. "Dia adalah lawanku." Suara itu tidak lain adalah suara Arbakir yang baru bangkit dari kematian.
Arbakir mulai berdiri. Tangan dan kakinya bergerak perlahan dan berusaha bangkit lagi. Kemudian dia berdiri dengan kokoh bahkan terlihat seperti tidak habis di serang.
Ternyata Arbakir juga lah yang menolong Ragil dan menghempaskan nya ketika di serang oleh Agroo.
Arbakir melangkah dengan gagah menghampiri Agroo.
"Saat ini aku akan menghancurkan mu." Geram manusia bertato Array Naga ini.
Sarr saat itu telah mendekati Ragil dan menolongnya bangkit berdiri. "LK0811. Apakah kau melihat perubahan kulit di dada abdimu?"
"Iya. Lebih hitam."
"Bukan itu maksudku. Tapi kulit hitam itu sudah menutupi luka nya bahkan kulit menghitam itu terus berkembang melebar seperti hidup."
Sebelum Ragil menjawab, terdengar benturan kekuatan besar...
"Glegharrr..." Sebuah ledakan lagi.
Arbakir ditutupi cahaya biru dari serangan Agroo. Manusia suku naga ini sekali lagi menerima serangan cahaya api biru milik Argoo. Damage Jurus itu cukup besar Tapi tubuhnya tidak mundur ke belakang. Bahkan Arbakir tidak menggunakan tangannya untuk menahan serangan itu. Sepertinya dia sengaja pasang dada.
Apa yang dilakukan Arbakir bukanlah sebuah tindakan bunuh diri. Abdi yang satu ini merasakan ada sesuatu yang berbeda dari tubuhnya. Dia merasa semakin kuat. Saat tadi dia melempar Ragil lalu menerima serangan langsung dari Agroo, dapat dirasakan kalau serangan itu tidak merusak tubuhnya. Bahkan seperti serangan anak kecil saja.
__ADS_1
Yang lebih aneh lagi, serangan Argoo kepada tubuhnya membuat tubuhnya menjadi semakin kuat. Semakin di serang maka akan semakin kuat daya tahan tubuhnya. Seolah-olah tubuhnya dapat bermutasi dari sebuah serangan.
Jadi untuk serangan Agroo saat ini, Arbakir sengaja berdiam hanya untuk merasakan efek kekuatan lawan terhadap tubuhnya. Sekali lagi serangan dahsyat dari Agroo sama sekali tidak di rasakan sakit lagi.
"Seperti nya serangan mu makin melemah dan tidak sehebat sebelumnya." Ejek Arbakir.
Sebenarnya bukan serangan Agroo yang semakin lemah tapi tubuh Arbakirlah lah yang semakin menjadi kuat. Serangan yang saat ini dirasakan tidaklah sekuat dari serangan sebelumnya.
"Tidak kusangka kalau kau masih punya kemampuan. Baik. Sekarang Aku menggunakan kekuatan Pamungkas ku. "
Agroo mengumpul kan energinya di tangannya. Ini seperti ketika Arch hendak mengeluarkan tinju petirnya dimana seluruh aura nya terkumpul di kedua tangannya. Terlihat dengan mata biasa kalau terdapat percikan api biru keluar dari tangannya seperti kembang api.
"Sejak awal muka tikus itu belum melakukan jurus ini. Tangannya seperti sangat menakutkan." Ucap Sarr.
"Kalau kau dapat melihat aura nya maka seluruh kekuatannya di salurkan ke tangan. Mengakibatkan tubuh dan kaki nya lemah dan pertahannya berkurang. Dia memfokuskan kepada serangan di tangannya." Ragil menjelaskan. "Tapi kalau dilihat Aura dari Arbakir juga tidak kalah hebatnya. Disekeliling tubuhnya aura nya semakin kuat. Lebih kuat dari sebelumnya."
Cahaya kebiruan meluncur bagaikan sinar menyerang Arbakir. Cahaya biru itu terus keluar dari tangannya seperti air yang keluar dari selang yang di jepit. Semakin di jepit maka air yang keluar semakin cepat.
Demikian cahaya dari tangan Agroo tidak ada habis-habisnya, bahkan keluarnya semakin cepat. Terus menerus keluar cahaya kebiruan itu. Semakin lama semakin cepat.
Yang mengherankan justru Arbakir yang menahannya dengan ke dua tangannya, bukannya semakin terdesak mundur tapi justru semakin melangkah maju mendekati Agroo. Malahan Agroo yang mulai mundur satu dua langkah ke belakang.
Ragil melihat ada hal yang aneh dari Kekuatan Arbakir. Semakin kuat di serang oleh lawan justru membuat Aura Arbakir menjadi semakin besar. Seolah-olah semakin di serang malah energinya semakin bertambah.
"Sepertinya taruhan ini dimenangkan olehku" Ragil senang.
"Belum tentu. Sejak awal pertahanan Agroo begitu kuat jadi belum tentu di tembus oleh Abdi mu." Balas Sarr.
Benar saja, Agroo sudah membuat pertahanan kuat dengan aura cahaya biru yang menutupi tubuhnya. Sementara serangannya terus berlanjut meskipun kekuatannya sudah berkurang karena terbagi di pertahanan yang dibuat.
Arbakir Justru senang. Dia bukan lagi berjalan mendekati tapi berlari mendekati lawannya sambil menahan serangan Agroo.
Setelah Arbakir mendekat, Agroo memperkuat pertahannya. Arbakir melancarkan tinjunya dengan kuat memukul pertahanannya.
"Dhhuuaaerrr..." Suara ledakan lebih kuat dari pada ledakan yang di buat Agroo.
Tubuh Agroo terpental kebelakang kemudian jatuh terguling-guling. Dia memuntahkan darah cukup banyak. Tampaknya si muka tikus itu terluka sangat parah.
__ADS_1