Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 17. Pertemuan Dengan Binoang


__ADS_3

Tubuh Arbakir masih bercahaya karena serangan dari Agroo tadi. Perlahan-lahan cahaya dan uap di tubuh nya semakin menipis dan lenyap.


Ragil dan Sarr di buat terkejut dengan penampilan Arbakir yang baru, berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya Arbakir hanyalah seorang dari suku Naga biasa, Tapi sekarang tubuhnya sudah mem besar dan tinggi. Kulitnya semua berwarna hitam pekat dan semua otot-ototnya juga membesar. Array di tubuhnya juga lenyap atau tidak terlihat karena badannya sudah berubah berwarna hitam. Tangannya panjang dan telapak tangannya tiga kali lebih besar dari kepalanya. Yang lebih mengejutkan terdapat satu tanduk di kepalanya.


Tulang alisnya semakin tebal dan rahangnya melebar tampak kokoh. Wajahnya terlihat menyeramkan dengan satu tanduk kecil di kepalanya.


"Arbakir. Apakah kau bisa mendengar suaraku?" Ragil jaga jarak. Takutnya Arbakir dengan bertambahnya kekuatannya membuat dia kehilangan akal sehat.


"Apa yang terjadi padaku Tuan. Aku merasa berbeda saat ini. Aku merasa begitu semakin kuat."


"Kalau di lihat auramu tadi kurasa kau sudah menerobos ke Level B. Atau mungkin di Level A tahap Awal." Kemudian Ragil memandang Sarr sambil tersenyum puas. "Bukan begitu Gadisku."


"Kau!!" Sarr sudah mulai emosi dan merasa di lecehkan dengan sebutan Ragil. "Perkataan seperti itu tidak termasuk hitungan dari taruhan. Panggilan itu seperti wanita murahan." Dia sadar kenapa Ragil menyebutnya seperti itu pasti karena taruhan jadi seenaknya saja dia memnggil.


Tapi Ragil tidak memperdulikan bantahan Sarr. Dia terus mendekat kepada Arbakir dengan tubuh baru nya.


"Coba kau kembali ke wujud semula."


"Tuan? Apakah ini yang kau sebutkan efek dari sihir Take m Gift?"


"Betul. Kau mengambil kemampuan Dewi Kumala yang dapat meregenerasi dan kau juga mengambil kekuatan Raja Kegelapan yang membuat kulit menjadi keras, merubah bentuknya dan Tidak tertembus."


"Tidak bukan seperti itu. Maksudku Setiap rasa sakit yang kuterima membuat aku bertambah kuat dan semakin tidak merasakan sakit. Setiap serangan yang awalnya aku tidak kuat justru membuat aku semakin kuat menahan serangan yang sama."


"Kurasa ini bukan transformasi tetapi mutasi yang berubah secara perlahan." Ragil mengangguk. "Kau mendapat kan Jack Pot, sementara aku cuman mendapat otot."


"Dan satu hal lagi Tuan. Aku tidak dapat menggunakan Kemampuan Transformasi Serigala Hitam. Aku kehilangan jurus transformasi.


Ragil merenungkan perkataan Abdinya. Apakah kemampuan Transformasi Srigala Hitam kini menjadi milik nya. Mengapa dia tidak dapat melakukan Transformasi jika benar Srigala Hitam telah menjadi miliknya.


"Sudah cukup senang-senangnya. Sekarang kita akan masuk ke dalam lagi mencari Binoang." Sarr berjalan memasuki kedalam lembah.


"Tunggu sebentar, Sayang." Goda Ragil sambil menghampiri Agroo yang terbaring kesakitan. Lalu di totoknya beberapa titik di tubuhnya.


Sarr hanya dapat menggeretakkan bunyi gigi nya dan menghentak-hentakkan kakinya ke tanah sangking kesalnya mendengar panggilan dari Ragil. Tapi dia tidak bisa protes karena dia telah kalah dari taruhan.


"Apa yang kau lakukan. Bunuh lah aku." Suara Agroo menahan sakit.


"Aku tidak pendai pengobatan tapi dengan Array aku dapat menghentikan infeksi dan luka dalam agar tidak menyebar. Aku sengaja menotokmu agar kau tidak menyerang ku tiba-tiba.". Ragil membuat Array di telapak tangannya. Kemudian tangan itu di letakkan di dada dari Sang wakil ketua itu.


Heal

__ADS_1


Cahaya putih dari tangannya menerangi luka bekas serangan Arbakir. Meskipun tidak dapat menyembuhkan secara keseluruhan tetapi dapat membuat luka nya cepat mengering.


"Mengapa kau menolongku?"


"Tidak. Aku tidak menolong mu tapi aku tidak ingin kau mati ditangan orangku. Karena aku ingin menjalin kerja sama dengan Binoang. Atasanmu."


Agroo dapat merasakan tubuhnya menjadi semakin baikan. Luka dibagian dalam seolah dapat bergerak menyembuhkan sendiri lalu masuk dalam pemulihan. Agroo memuji dalam hati kemampuan Elemen cahaya dalam memilihkan luka.


"Apakah kau dapat menyembuhkan semua penyakit?" Sarr Penasaran.


"Tidak. Sihir Heal hanya dapat penyebuhkan luka baik luka dalam ataupun luka luar. Biasanya luka akibat pertarungan. Heal juga dapat mengembalikan stamina tubuh akibat kelelahan. Itu adalah kemampuan sihir dasar elemen cahaya." Ragilpun berdiri setelah menyembuhkan luka Agroo. " Dalam sepuluh menit totokanmu akan terlepas.


Sebelumnya Ragil belum dapat leluasa menggunakan Sihir Heal atau Penyembuhan karena kurangnya mana miliknya. Tapi sekarang mana nya sudah semakin bertambah sejak melakukan Take n Gift dengan Arbakir.


Pemuda itu berjalan menuju anak buah Argoo yang terkena serangan sihir. Kakinya kelihatan melepuh.


Tangan Ragil mengeluarkan cahaya lagi memulihkan kaki yang melepuh. Prajurit itu juga dapat merasakan kalau rasa sakutnya semakin menghilang.


"Butuh waktu untuk memulihkan daging kakimu. Aku hanya bisa bantu sampai disini."


"Trima kasih." Sahut penderita itu.


"Ayo kita berangkat." Ragil mengajak rombongannya.


"Jarum Pelemas otot itu sifatnya hanya sementara. Nanti kalian akan pulih lagi." Ucap Ragil kepada para pengikut Binoang.


Dalam Perjalanan, mereka berjalan dengan mulus tidak ada hambatan sampai di tengah tebing. Tidak ada anak buah Binoang yang menghalangi langkah mereka.


Baru ketika sampai mereka di tengah Lembah Phanouel yang merupakan letak markas besar Binoang, Disanalah berkumpul Binoang dan beberapa anak buahnya. Mereka sudah mengetahui kedatangan Ragil dan sengaja menunggu untuk menyambutnya.


Rupanya ada anak buah dari Agroo yang tidak terkena jarum Pelemas otot yang berlari kesini untuk melaporkan. Jadi Binoang bersiap menghadang.


Pria brewok berdada bidang mengenakan pakaian kumal dan lusuh. Kain di lengannya sudah terrobek sehingga dapat terlihat besar lengan ototnya. Didadanya terbuka sehingga terlihat bulu dada yang lebat. Penampilannya membuat lawan berpikir dua kali jika ingin mengacau.


Ragil menduga bahwa si Brewok itu adalah Binoang. Berdiri paling depan dengan gaya arogan.


"Akhirnya aku bertemu denganmu. Tidak usah sungkan untuk menyambutku. Aku sengaja datang untuk berunding denganmu." Ragil membuka percakapan.


"Berani mencelakai anak buahku lalu mengatakan hendak berunding. Kemampuan apa yang kau miliki sehingga berani menginjak-injak harga diri Lembah Phanouel." Binoang memasang wajah permusuhan.


Stone Jail

__ADS_1


Binoang menyambut dengan sihir elemen tanah menciptakan bongkahan batu untuk mengurung Ragil dan rekannya. Batu-batu itu menutup bagai penjara batu.


Kini Ragil dan yang lainnya terkurung dalam batu sihir ciptaan Binoang. Tubuh dan wajah mereka tersembunyi dari balik batu. Binoang hanya mendengar suaranya saja.


"Hei... Ketua Binoang. Mengapa engkau tidak mendengar penjelasan ku terlebih dahulu sebelum melakukan serangan ini."


"Lebih baik bicara dengan orang mati. Tidak ada orang yang menyakiti anak buahku akan kubiarkan hidup." Lantang Binoang. "Suatu kehormatan bagi kalian yang akan mati oleh batu sihir ku. Batu ciptaanku itu sangat kuat dan tidak dapat di hancurkan jadi percuma saja jika kalian meronta.


Seperti yang dikatakannya, Batu ciptaan sihir itu sangat kuat dan tidak mudah hancur. Lebih kuat dari Array Perisai sihir buatan Ragil. Arbakir mencoba meninjunya tapi tidak juga hancur.


Yang lebih mengerikan lagi, batu itu tiba-tiba menimbulkan duri-duri besar yang runcing dan tajam. Tidak hanya sampai disitu, duri-duri itu seperti hidup dan terus bertumbuh dan memanjang.


"Hahaha.... Kalian akan mati tertusuk duri batu yang keras dan tajam bagai baja." Binoang tertawa merasakan kemenangan. "Tidak ada orang yang lolos dari Stone Jail selain Tabib Paniel seorang. Karena Es nya memang lebih kuat dari batu buatanku."


"Glegharrr...."


Suara ledakan besar karena batu-batu sihir ciptaan Binoang telah hancur. Mata Binoang terbelalak tidak percaya. Ternyata ada orang lain yang bisa menghancurkan batu terkuat miliknya.


Lawan Binoang masih terlihat tiga orang, hanya saja salah seorang sudah berubah wujudnya. Kini Arbakir telah menjadi besar kembali dengan tubuh hitam miliknya. Telapak tangan yang besar dan kuat ini telah menghancurkan batu sihir buatan Binoang.


Apakah yang sebenarnya terjadi di dalam penjara batu itu? Dan bagaimana perubahan ujud dari Arbakir terjadi.


Awalnya Arbakir hanya meninju-ninju batu itu sekuat tenaga tapi tidak bergeming sama sekali. Tapi makin lama Tinjunya semakin menghitam dan semakin besar.


Ragil dan Sarr sama-sama melihat proses perubahan itu.


"Akhhh." Arbakir terkejut.


Rupanya tangan Arbakir terluka oleh batu yang mulai meruncing. Tapi luka itu kembali pulih dalam waktu singkat.


Sekali lagi di pukul nya duri batu itu dan tangannya tidak terluka lagi. Bahkan batu itu mulai bergeming.


Telapak tangan Arbakir dan lengannya semakin besar berotot tapi tidak seperti perubahan pertama saat bertempur melawan Agroo. Di kedua tangan Arbakir muncul beberapa benjolan seperti bisul di beberapa tempat.


"Aku merasa semakin kuat." Ucap Arbakir.


Lalu di tinjunya diri batu itu dan duri itu langsung hancur. Kemudian di tinjunya batu besar itu mengakibatkan keretakan batu. Pukulan selanjutnya telah menghancurkan Penjara Batu buatan Binoang.


"Dia melakukan mutasi yang berbeda dari sebelumnya." Bisik Sarr kepada Ragil.


Ragilpun hanya menjawab dengan anggukan. Dia lebih terpesona dengan kemampuan Arbakir.

__ADS_1


"Bagaimana suku Naga bisa sekuat itu." Suara Binoang terdengar seperti berbisik. "Bahkan Ragakir, Kepala suku Naga tidak sekuat itu."


"Sudah ku katakan. Aku datang kesini bukan untuk jadi lawanmu adalah tapi untuk menjadi kawanmu yang akan memberikan keuntungan besar." Ragil memasang wajah ramah dengan menyungging sebuah senyuman. Seandainya dia menjadi Sales Marketing, mungkin akan sangat cocok dan berbakat.


__ADS_2