
Akhirnya pria ini merasa lega setelah memastikan abdi nya itu tidak mengalami sesuatu yang menakutkan.
Dia tertegun sesaat, Posisi pakaiannya sedikit bergeser. Sepertinya seseorang telah menggerayangi tubuhnya. Dia mencoba melihat sekeliling kalau ada yang mencurigakan.
Tidak ada seorangpun yang terlihat. Tapi Soul Watch miliknya dapat mengetahui kalau ada seseorang bersembunyi di antara sungai yang mengalir dan batu besar sebesar sebuah mobil sedan.
Apa yang tergambar di pikiran Ragil dari Soul Watch miliknya adalah sosok tubuh wanita. Meskipun hanya terlihat gambar hitam dan putih namun dapat diketahui dari lekuk tubuhnya kalau itu tubuh yang ramping, tinggi, berambut pendek dan berdada rata.
"Apa yang kau lakukan disini Komandan Sarr." Dia setengah berteriak.
"Apakah itu sihir Soul Watch?" Sarr keluar dari persembunyiannya.
"Sudah berapa lama Komandan berada disana." Ragil curiga. Karena selama di alam jiwa, dirinya tidak mengetahui yang terjadi di daerah sekitar. Bahkan jika ada binatang buas pun, dia tidak bisa bergerak sama sekali.
Sebelum memasuki Alam Jiwa, Ragil sudah meyakinkan dirinya kalau tidak ada binatang buas di sekitar itu dan tidak ada orang yang mencurigakan disekitar itu. Kedatangan bekas Komandannya benar-banar diluar dugaan.
"Aku disini sudah satu jam. Untung saja aku tidak di tugaskan untuk membunuhmu. Jika tidak kau pasti sudah tidak bernyawa saat kau bersemedi melakukan Take and Gift."
Pemuda yang memiliki tawa manis ini sedikit terkejut ketika mengetahui kalau bekas Komandannya bisa berada disini dan mengetahui lokasi persembunyiannya. Padahal sejak awal Ragil yakin kalau tempat itu aman bahkan dari binatang buas sekalipun. Hanya ada satu alasan mengapa Pihak Militer mengetahui keberadaannya.
"Sialan." Ragil menyadari sesuatu. "Rupanya alat yang diberikan Jendralmu adalah alat petunjuk arah juga, selain dari pada tombol pemanggil."
"Bagus kalau kau sudah tahu. " Sarr berkata dingin tanpa emosi. Dia melangkah perlahan menuju Ragil.
Dengan kesal Ragil menjatuhkan alat yang di berikan Jendral Etuell kepadanya. Lalu diinjaknya alat itu sampai hancur.
"Tidak ada gunanya kau hancurkan karena aku sudah berada disini."
"Ternyata Alat itu juga sebagai penyadap." Ragil tampak kesal karena begitu banyak pembicaraan rahasia yang pernah dikatakan selama ini. Pembicaraan bersama Vhestee, dengan Badut dan dengan Arbakir. Semua pembicaraan itu telah di sadap tanpa sepengetahuan dirinya.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau alat itu juga sebagai penyadap "
"Karena Komandan bisa tahu skill Soul Watch dan Take n Gift. Berarti kau pernah dengar pembicaraan ku selama ini." Ragil berbicara sambil menendang-nendang Arbakir untuk bangun. Tujuannya adalah agar membantunya untuk melawan bekas Komandannya.
Bagaimanapun juga jika terjadi perkelahian pasti dirinya dengan mudah di kalahkan oleh bekas Komandannya ini. paling tidak jika Arbakir bangun dapat membantu nya.
__ADS_1
"Tidak perlu takut karena kau tidak akan mati. " Sarr duduk di samping Ragil yang masih berdiri. Lalu di ambilnya seonggok daging yang masih berada di atas panggangan. "Apakah abdi mu itu mati?"
"Tidak. Dia hanya tertidur. Detak jantungnya normal dan aliran darahnya tidak bermasalah."
"Apakah hal itu biasa terjadi setiap kau melakukan Take n Gift?"
"Bukan urusanmu." Ragil dengan nada meninggi. "Apa saja yang pernah kau dengar dari alat penyadap mu itu?"
"Kenapa? Kau kesal? Kau lupa pernah meletakkan alat penyadap juga kepadaku yang mengakibatkan semua strategi perangku terbaca olehmu." Sarr bersikap acuh tak acuh. "Kami mendengar semua yang kau katakan, Pembicaraanmu bersama Gurumu, bersama kekasihmu Puteri Vhestee, dan semua yang kau katakan. Kecuali pembicaraan di dalam Flyng Dimension saja yang kami tidak dapat mendengarkan. Seolah kau berada di planet yang berbeda.."
Sarr sengaja tidak menyebutkan perkataan Ragil tentang suka nya dia terhadap dirinya.
"Kami?"
"Yah kami. Aku, Jendral Etuell, Ratu Valkirie. dan semua kru di ruangan Jendral Etuell."
Didalam hati Ragil rasanya mau melampiaskan kemarahan. Para pembesar di Militer mendengar semua perkataannya. Bahkan hal-hal yang rahasia. Termasuk tentang perasaannya kepada bekas Komandannya ini.
Sebenarnya apa yang Komandan inginkan dariku? Apa tugas misi yang di berikan dari Jendral Etuell.?"
"Tidak. Aku tidak akan mau." Ragil mulai memikirkan cara meloloskan diri dari Pembunuh No 1 ini.
Jari telunjuknya menyala, kemudian Ragil menggerak-gerakkan tangannya. Sebuah cahaya putih menutupi pergelangan tangannya sampai ke jari-jarinya. Kini tangannya hilang di balik cahaya putih.
Tak lama kemudian cahaya itu mulai redup dan tangan kanan Ragil dapat terlihat lagi. Hanya saja kali ini ditangannya sudah terdapat sebuah pistol. Pistol itu yang di dapat di Black Market Ulgar.
"Jadi itu yang disebut Dimension Space " Ucap Sarr tetap tenang. "Apakah kau pikir kau bisa menenmbakku?"
Tentu saja Ragil tahu bahwa tidak mudah membunuh Pembunuh No 1 sekalipun dirinya memiliki senjata. Serangan sihir dari penyihir tingkat atas saja dengan mudah di hindari apa lagi cuman peluru.
"Aku tahu bahwa aku tidak akan bisa membunuh Komandan. Tapi setidaknya aku akan mencoba dalam jarak sedekat ini atau aku bunuh diri jadi Komandan tidak akan mendapatkan apapun dari diriku."
"Silahkan kau coba rencanamu. Karena dalam sekejap aku dapat merebut senjata mu itu. Kemudian aku membuatmu pingsan lalu mem bunuh abdi mu agar tidak jadi pengganggu." Sarr mengambil kantung kulit air milik Ragil lalu menuangkan ke mulutnya secara langsung. Tanpa rasa jijik karena menggunakan kantung kulit yang sama dimana bekas bibir Ragil juga masih ada disitu.
Dia terus menikmati makanannya seolah tidak ada sesuatu hal yang terjadi. "Sudah ku bilang kau tidak akan mati meskipun maut datang menjemputmu. Bukankah kau masih mengemban tugas dari Gurumu. Bukankah perjalanan mu harus ke Aramaa Land."
__ADS_1
Ragil kembali duduk di samping Sarr. Pistolnya di simpan lagi dalam ruang dimensi yang kecil miliknya.
"Baik. aku tahu cara menghadapimu. Komandan." Ragil berusaha membuat dirinya tenang. Bagaimanapun juga lawan bicaranya ini telah mengetahui perasaannya. "Kau bisa saja membuatku pingsan dan membawa tubuhku. "
Ragil menggeser duduknya mendekati Sarr. "Tapi apakah Komandan tahu? Walaupun di dalam tubuh fisikku tertidur namun roh ku di alam jiwa tetap terjaga. Bahkan aku dapat membunuh diriku sendiri dari dalam alam jiwa. Itu artinya kau hanya akan mendapatkan tubuh mayatku saja tanpa mendapatkan 'Cermin Bulan'. Yang artinya kau gagal dalam misi mu."
Sarr terdiam. Dibuangnya daging di tangannya seperti orang yang tak berselera. Ditatapnya wajah Pemuda dihadapannya dalam-dalam.
"Aku tidak percaya." Sarr mengeluarkan suara rendah.
"Kau tidak harus percaya. Dan aku tidak perduli kau percaya atau tidak. Sekarang jarakku dengan Komandan hanya sepanjang tangan. Sekali gerakkan Komandan dapat membuatku tak berdaya. Silahkan di coba." Tantang Ragil.
"Dari mana kau tahu kalau aku mencarimu hanya untuk Cermin Bulan?"
"Mudah saja. Saat aku terbangun dari alam jiwa, pakaianku agak berantakan. Berarti sebelumnya ada yang menggerayangi tubuhku. Kedua. Kau agak tertegun dan menghentikan makanmu saat kau melihat aku menggunakan Dimension Space untuk mengambil senjata. Jadi kau menyadari kalau benda itu berada di ruang Dimensi."
Didalam hatinya, Sarr memuji kepintaran Ragil. Tapi disisi lainnya dimana Dia tidak ingin memuji musuh yang di bencinya.
Sebenarnya Pembunuh No 1 ini tidak mau menganggap tinggi lawan bicaranya. Seperti halnya yang di katakan Jendral Etuell untuk tidak menganggap remeh lawannya. Tapi kalau mengingat kematian sahabatnya si Pembunuh No 2, Zheru. Maka rasanya muak melihat wajah orang yang di hadapannya.
Gara-gara pemuda ini juga yang membuat dirinya gagal dalam Perang melawan Ulgar. Sekarang dia telah dicopot dari posisinya sebagai Komandan dan melakukan misi rendahan seperti ini padahal statusnya adalah Pembunuh No 1.
"Aku akui kalau kau memang Pintar. Kau memang bisa menang dalam perang di Ulgar itu karena kau pernah bertugas di Militer dan mengetahui strategi yang kugunakan dengan alat penyadap mu." Sarr memuji dengan tulus. "Tapi Sekalipun apa yang kau katakan itu benar. Tetap saja tidak akan mempengaruhiku."
"Berarti misi Komandan gagal dan kau akan berakhir seperti sahabatmu Zheru."
"Kau tidak pantas menyebut namanya. Dia kini sudah istirahat dengan tenang." Sarr bangkit berdiri. "Aku sudah siap untuk mati dan tidak akan mati seperti Sarr. Mati karena di perkosa oleh penjahat seperti dirimu."
"Kenapa kau begitu membenci ku. Kematian Zheru tidak ada hubungannya denganku. Dia gagal membedakan nama Tetua dan Tet Twa. Jadi bukan kesala...."
Belum lagi Ragil menyelesaikan kalimatnya. Sebuah belati tajam menempel di lehernya.
"Sekali lagi kau mengucapkan nama Zheru maka kau akan menemani dirinya di akherat. " Sarr berbicara sangat dekat di wajah Ragil, hingga desah nafas nya terdengar dengan jelas. "Aku sudah tidak perduli atas nyawaku. Jika aku tidak membawamu hidup-hidup ke Ratu Valkirie maka belati ini juga akan mengakhiri hidupku. Dan jangan pernah memanggil aku Komandan. Karena aku bukan Komandanmu dan lagi jabatanku sudah di cabut. Jadi mulai sekarang hati-hati dengan ucapanmu."
Satu tetes keringat mulai jatuh dari dahi Ragil dan satu tetes darah juga jatuh dari leher dimana ancaman belati masih menempel.
__ADS_1