
"Itu yang memegang pistol yang bernama Ragil." Teriak si mata satu pemegang kompas. Melalui Kompas Octagram atau segi delapan nya ini, simata satu dapat mengetahui letak orang yang di cari.
Sang Pemimpin semakin beringas menerjang maju hendak *******, begitu mengetahui orang yang bernama Ragil.
"Serang ke arah Ragil meskipun tanpa menggunakan Sihir." Teriak sang Pemimpin.
Mereka sudah menyadari kalau area ini tidak dapat menggunakan kekuatan sihir. Mereka juga menyadari kalau mereka telah masuk ke area Array. Namun mereka pantang mundur sekalipun tidak menggunakan kekuatan sihir.
Ragil sudah menggunakan pistolnya melakukan tembakan ke arah Pemimpin, namun si Pemimpin ini dengan mudah menghindar dari tembakan itu.
Tak lama kemudian Ragil mengangkat tangannya sebagai tanda Tahap satu telah di mulai yakni pelemparan batu dari atas bukit.
Dari atas bukit pun mulai berjatuhan batu-batu besar menggelinding. Batu-batu itu menghalangi lajunya para Srigala. Bahkan ada juga yang terlindas batu raksasa.
Setelah itu serangan selanjutnya yakni Batu yang agak tanggung dapat di lempar ke udara ke arah tengah. Tidak seperti batu yang besar hanya dapat di gelinding kan saja.
Para pasukan tidak menduga akan serangan dari atas bukit. Beberapa Srigala dan penumpangnya terlindas oleh batu yang besar. Tidak sedikit para prajurit yang terkena kepalanya oleh batu tanggung yang lebih besar dari kepala.
Para Srigala menjadi panik. Srigala yang terjatuh dan masih kuat berdiri lagi, langsung balik badan melarikan diri ke arah belakang dan Srigala yang lain seperti kebingungan tanpa arah saat tunggangannya terjatuh.
Prajurit yang terjatuh juga masih bangkit berdiri menaiki srigala nya lagi lalu melanjutkan serangan.
Namun tidak sedikit juga yang terluka parah dan tidak bisa bangkit lagi. Juga ada prajurit yang kakinya kejepit batu besar.
Pemimpin pasukan tidak lah gentar dengan keadaan yang tidak terduga ini. Dia langsung melompat dari punggung Srigala ketika sebuah batu besar berguling mengenai tunggangannya.
Saat itu juga Srigala itu mati terlindas batu besar.
Pemimpin itu masih dapat menghindari batu-batu itu dan melanjutkan serangan dengan berlari.
Demikian juga anak buahnya yang bermata satu dan yang berbadan besar itu, mereka dapat melewati serangan batu itu.
Beberapa yang masih selamat terus kembali mendatangi Ragil dan Sarr.
Sarr akhirnya mulai bergerak maju melompat menerjang ke arah Pemimpin dengan belatinya.
Sekali lagi si pemimpin melompat lebih tinggi dari terjangan Sarr. Kini posisi Sarr berada di bawah dari si Pemimpin. Tapi sepertinya ketua itu tidak memperdulikan keberadaan Sarr karena tujuannya adalah Ragil.
Prajurit yang berbadan besar langsung menyerang ke arah Sarr. Tujuannya adalah agar Sarr tidak mengganggu pemimpinnya yang sedang menyerang mendatangi Ragil
Sarr membalas serangan lawan tapi matanya masih melirik ke arah Pemimpin itu. Sarr menyadari bahwa yang di incar bukanlah dirinya melainkan Ragil.
__ADS_1
Sarr tidak dapat berbuat banyak karena lawan semakin banyak yang mengeroyok dirinya. Sedangkan si Mata satu dan pemimpin terus menerobos hendak menyerang Ragil.
Ke dua pistol Ragil selalu tepat mengenai lawannya,. Pistol api buatan Militer di gunakan untuk membunuh Srigala. Sedangkan pistol buatannya di gunakan untuk menembak para prajurit untuk melumpuhkannya. Beberapa kali menembak Si Pemimpin dan si mata satu tapi tidak satu pelurupun dapat bersarang ke tubuh lawan.
Ragil juga menyerang pemimpinnya dengan pistol hitamnya untuk melumpuhkan lawan. hanya saja tidak pernah tepat mengenai si Pemimpin.
Tidak percuma dia menyandang sebagai Pemimpin pasukan karena ilmunya bukan lah isapan jempol belaka.
Setiap serangan Ragil dapat di hindari atau di tangkis dengan sarung tangan yang terbuat dari besi. Sebagai senjata Knuckle.
Ketika sebuah batu yang tidak begitu besar akan jatuh tepat di kepala Pemimpin dari rombongan penunggang Srigala ini, hanya dengan sebuah tinju sudah menghancurkan batu itu.
Tidak ada satupun yang dapat menghalangi Pemimpin pasukan yang menyerang Ragil.
Tembakan-tembakan Ragil dapat sedikit mem perlambat kedatangan Si Pemimpin tapi lawan yang satu ini terus saja maju meskipun tersendat.
Ragil mulai melangkah mundur sambil menyerang lawan sekalipun dia tahu kalau tidak satu pelurupun akan mengenai petinggi Kerajaan Haduz.
Sarr menduga kalau Ragil berada dalam bahaya, jadi sebisa mungkin dia berusaha untuk kembali mengejar sang pemimpin dan mendekati Ragil. Tapi kepungan para prajurit ini semakin ketat.
Yang dapat dilakukan Sarr adalah melompat ke udara melewati batu-batu yang berjatuhan dan langsung mendarat di pundak seorang perwira. Sebuah sayatan belati di leher dengan cepat dilakukan sembari melompat kembali di udara dengan menggunakan tubuh perwira itu sebagai pijakan.
Kemudian mendarat lagi di atas pundak korban yang lain. Dengan sayatan yang sama dan langsung melompat lagi.
Mereka yang bermaksud mengeroyok pun di buatnya bingung karena tidak dapat di kepung.
Ketika sebuah batu tanggung datang yang melewati dirinya tepat di depan wajahnya, maka batu itupun di tendangnya bagai seorang striker sepak bola lalu batu itu mengarah Si pemimpin itu.
Menyadari hal itu, sang pemimpin berbalik badan langsung meninju batu itu.
Batu itu pecah berantakan.
Sarr langsung berlari mendekati lalu menyerang dengan belati nya mengarah ke jantung lawan.
Tangan sang pemimpin berusaha menghalangi laju belati itu.
Sarr yang mengetahui kekuatan tangan besi lawan, dia melakukan manuver serangan nya ke arah wajah lawan.
Ragil juga tidak tinggal diam, dia melakukan tembakan ke arah si pemimpin dan kepada anak buah lainnya.
"Glegharrr... Glegharrr..."
__ADS_1
Dua ledakan besar. Beberapa prajurit dan Srigala mulai tumbang.
Itu adalah serangan tahap dua yakni bom yang dipasangi jarum pelumpuh otot yang sengaja di pasang di beberapa tempat yang mencolok seperti di dinding tebing, diatas ranting pohon yang tumbuh di dinding tebing, di jalanan dan di berbagai tempat. Karena benda itu berwarna hitam jadi terlihat seperti batu hitam biasa. Jadi kurang di perhatikan oleh orang lain.
Semua itu di pasang oleh Ragil sebelum peperangan terjadi. Jebakan itu cukup sukses dalam menjatuh kan pihak lawan.
Sementara si mata satu dan si pengguna kalung gigi binatang datang lagi mengeroyok Sarr.
Si pemimpin melepaskan diri dari Sarr lalu kembali menyerang ke arah Ragil.
Tapi Ragil tidak perduli. Dia terus menembak ke arah bom yang sudah di pasang sehingga ledakan terus berdatangan. Dia terus melangkah mundur.
Sebuah tusukan belati dari Sarr berhasil bersarang di perut salah satu pengikut prajurit Haduz, pria yang menggunakan kalung gigi terjatuh menahan darah yang keluar perutnya.
Gerakan Sarr demikian cepat dan susah di prediksi manuver serangannya. Itu yang membuat si Pemimpin dan anak buahnya kebingungan.
Dalam pertarungan tanpa sihir, Sarr memang tidak ada tandingannya. Gerakannya begitu cepat dan terarah ke tempat-tempat vital.
Di beberapa tempat terlihat kabut asab yang mulai menyebar. Rupanya Ragil telah memasang beberapa bom asab produksi Militer. Bom Asab adalah serangan Tahap tiga. DiaTinggal menembak di tempat bom asab berada maka seketika itu juga asab menyebar.
Pada kesempatan ini saat si pemimpin mengejar Ragil dan memunggungi, Sarr melempar kan pisau nya ke arah si pemimpin.
Sekali lagi pemimpin menghentikan langkahnya karena harus menghindar. Baru kemudian menghadapi Sarr yang mendatangi dirinya.
Kesempatan ini juga di gunakan Sarr mengecoh lawan yang menyerang ke dirinya dengan menerobos dari ************ si pemimpin sambil merobek pangkal paha dimana terdapat urat nadi kaki. Sayangnya sayatan itu tidak merobek nadinya tapi hanya daging paha nya yang robek dan celana kulit yang tebal dan kuat itu.
Dengan cepat Sarr melemparkan pisaunya ke arah jantung si pemimpin. Dalam jarak sedekat itu sangat sulit di hindari. Si Pemimpin tertusuk di dadanya, hanya saja karena kulitnya dan ototnya yang kuat hingga belati itu tidak menusuk lebih dalam.
Sarr yang mengerti kalau mulai serangan bom asab maka dirinya mulai menjauh dari asab, berlari mendekati Ragil sebelum asab menutupi semua area itu. Demikian juga dengan pasukan yang masih kuat melawan juga mengejar.
Sekali lagi terdengar ledakan bom jarum pelumpuh dan juga bom asab.
Asab sudah mulai memenuhi bawah tebing. Terdengar teriakan-teriakan para prajurit yang kehilangan pandangannya.
Pistol hitam Ragil terus meletus menembaki para prajurit yang masih berdiri, meskipun berada di dalam asab.
Dengan Pelihat jiwa miliknya Ragil dapat mengetahui setiap posisi lawan. Pelihat jiwa miliknya tidaklah menggunakan sihir jadi dengan bebas Ragil menembak.
Tubuh dari si pemimpin juga tertembak oleh peluru hitam yang tidak dapat membunuh ini. Tapi tubuh si pemimpin begitu kuat dan terus maju menyerang meskipun telah diselimuti asap. Hanya saja jalannya tidak secepat sebelumnya karena kaki dan dada nya telah mengeluarkan darah cukup banyak.
Walau demikian semangatnya tak kunjung padam. Dia berteriak keras memberikan semangat kepada anak buahnya yang masih selamat.
__ADS_1
Terpaksa Ragil menggunakan pistol api nya kepada si pemimpin yang memiliki kulit badak alias kuat ini.
Timah panas masuk ke dada nya, karena asab begitu tebal membuat tangan besi nya tidak dapat menangkis peluru itu. tapi itu tidak dapat menumbangkan si pemimpin. Dia hanya terjatuh terduduk.