
"Arbakir, Kau jaga disini lindungi empat keong itu tapi jangan pernah berbicara kepada mereka." Perintah Ragil.
"Keong? Dimana Tuan." Arbakir menoleh ke kanan dan kekiri.
"Itu hanya kiasan Arbakir. Maksudku ke empat murid Yakove itu." Ragil seperti menyadari sesuatu. "Maksud dari kata 'kiasan' itu artinya adalah 'persamaannya'."
"Ohhh... Begitu." Arbakir mengangguk angguk tampaknya mengerti. "Jadi ternyata kata Keong itu persamaannya berarti murid."
Sebelum kepalanya pecah karena percakapan yang ga nyambung, Ragil meninggalkan Arbakir menuju ke tempat Sarr.
"Heii... Jangan tinggalkan kami disini." Teriak Tamave.
"Hati-hati Tuan " Arbakir berteriak. "Jangan kuatir. Serahkan para keong ini kepada ku."
"Kurang ajar." Tamave sangat marah. "Kita di anggapnya keong."
Sedangkan Arbakir hanya tertawa sendiri memikirkan sesuatu. "Berarti Tuan Ragil adalah keong nya Puteri Vhestee. Dan aku juga keong nya Black Werewolf."
Ragil yang sempat mendengar ocehan Arbakir semakin berlari cepat mengejar Sarr, agar tidak mendengar lanjutan ocehan kacau itu.
"Mari kita reka ulang akan rencana mu, Kapten." Kata Sarr ketika Ragil mendekat.
"Kapten? Bukankah kau juga sedang bercanda memanggilku Kapten."
"Tidak. Kau adalah Kapten ku selama beberapa hari ini. Selama masih dalam kontrak. Dan aku harus menerimanya sekalipun hatiku tidak setuju. Ini adalah komitmen ku."
"Apakah salah jika aku juga memiliki komitmen untuk menjadikan dirimu sebagai wanita ku."
Sebuah tinju Sarr di arahkan ke wajah Ragil. Tinju itu kemudian berhenti tepat lima centimeter dari wajah Ragil. Pemuda itu tidak berkedip sama sekali meskipun kepalan tinju di arahkan kepadanya.
"Hahhhh... " Geram Sarr menahan emosi.
"Hentikan menggoda. Kau Salah besar." Ucap gadis berambut pendek ini. "Karena aku tidak akan berhubungan dengan pria dan kau juga sudah tahu sebab nya."
"Itu karena Valkirie mendidik mu demikian. Setiap orang membutuhkan cinta. termasuk Valkirie. Kau memang tidak dapat melahirkan tapi tetap membutuhkan cinta. Melahirkan hanyalah buah dari cinta."
"Diam! Jangan lanjutkan. Jangan mengatakan kata-kata yang sangat menjijikkan. Aku tidak mau mendengarnya. Jangan memaksaku untuk membunuhmu."
"Baik... Baik... Saran ku jangan pernah memperdulikan apapun yang ku katakan jika itu mengganggumu. Anggap saja itu ucapan iseng." Ragil terus berjalan melewati Sarr.
"Seharusnya aku membunuhmu saat masih melatih mu." Geram wanita berambut pendek dan bertubuh ramping itu.
"Kau bahkan tidak memperhatikan keberadaan ku saat kau melatih ku. Saat itu kau masih Pembunuh No 9." Ragil mengingat saat tiga tahun lalu di camp pelatihan, sebelum di ijinkan mengikuti perang.
"Aku mengingat setiap orang yang ku latih meskipun tidak mengenal mereka. Termasuk dirimu yang saat itu paling lemah dalam lari atau pernafasan dalam air."
"Kau tidak tahu apa-apa tentang aku. Yang kau tahu Itu karena kau membaca data pribadiku saat sebelum perang di Ulgar."
__ADS_1
"Tidak. Aku tahu orang-orang yang tidak ku sukai karena cara melihat sorot mata mereka kepadaku terlihat sangat menjijikan seperti orang kelaparan. Mereka semua mencoba menarik perhatian dariku. Termasuk dirimu LK 0811."
"Menjijikan? Mereka mengagumi dan menyukai mu. Hampi semua pria yang berlatih dengan mu mengagumi akan kehebatan mu."
"Itu sebuah kegagalan bagi seorang pembunuh. Seorang pembunuh bukan di kagumi tapi harus ditakuti."
"Cara berpikir yang aneh."
"Baik. Mari kita lihat cara berpikir mu. Kita kembali ke topik awal. Bagaimana cara menghadapi sembilan puluh delapan orang bersenjata dan sembilan puluh delapan Srigala ganas. Hanya kita berdua yang menghadapinya. Tanpa meminta bantuan Arbakir ataupun Binoang dan anak buahnya."
"Arbakir harus menjaga keamanan .murid Yakove dan Binoang tidak mau berhadapan langsung jika tidak menggunakan sihir."
"Mengapa tidak minta bantuan murid Yakove membantumu. Mereka juga ahli dalam hal fisik."
"Aku tidak menyukai Murid Pertama yang sangat merendahkan aku."
"Itulah cara berpikir bodoh yang membuat kita akan mati konyol karena Memasukan perasaan pribadi dalam berperang merupakan sebuah kelemahan. Aku juga sudah mengajar hal ini dalam pelatihan."
"Aku tahu."
"Menurut otak jenius mu pemilik Array Kuno, Berapa persentase kemungkinan kita memenangkan pertarungan ini." Sarr menarik lengan Ragil.
"Lima puluh persen."
"Bodoh... Bodoh... Tidak ada kemungkinan menang "
"Serangan Tahap satu kemungkinan melumpuhkan lawan 30 persen, Tahap dua bisa 20% dan tahap tiga 10% dan Aku dapat menumbangkan sekitar 20 persen, Sisanya yang 20 persen baru akan di kalahkan oleh Rombongan Binoang dan Arbakir yang terpaksa ikut campur setelah kita mengalami kematian terlebih dahulu."
"Mengapa kau begitu pesimis. Kau juga tidak mengatakan kepadaku jumlah lawan sejak awal. "
"Aku sudah mengatakan sejak awal ketika informasi ini baru kudapat dari rekan di pesawat CLOUD. Tapi kau lebih asik berbicara dengan Binoang tentang masa depan."
"Tidak. Kau hanya mengatakan kalau musuh ada 98 orang tapi tidak mengatakan tentang Srigala mereka." Maksud Ragil adalah kalau Srigala berbeda dengan kuda. Srigala bisa menyerang tapi kuda tidak.
"Semua orang Landria tahu kalau bangsa Haduz menggunakan Srigala bukan hanya menjadi tunggangannya tetapi juga menjadi penyerang.
"Kau juga tidak mengatakan kemungkinan persentase kegagalan dari pihak kita."
"Hei... Kau adalah Kapten nya. Kau tidak menanyakan kepada ku. Lagi pula aku berpikir kau sudah mempersiapkan segala nya seperti saat perang di Ulgar. Aku mencoba untuk menganggap mu memiliki kemampuan strategi dan tidak merendahkan mu seperti yang dikatakan Ratu Valkirie. Jadi ku anggap persiapan mu sudah matang meskipun aku sedikit kuatir."
"Cukup. Kita jangan maju lagi." Ragil menahan langkah Sarr. "Kalau kita maju lagi maka akan terkena serangan batu dari atas."
Sarr dan Ragil berdiri di tengah antara dua bukit.
Diatas bukit pasukan Binoang sedang bersembunyi dan bersiap untuk melemparkan bongkahan batu batu besar.
Matahari tepat berada di atas menunjuk kan waktu pada tengah hari. Cahaya matahari terasa menyengat membuat tetesan keringat membasahi kening.
__ADS_1
"Apakah kau hendak merubah rencana, Kapten." Sarr mengucapkan dengan nada lebih merendah dari sebelumnya.
"Apa rencana mu?"
"Kita kembali dan bebaskan murid Yakove lalu kita bertarung sama-sama."
"Apakah kita pasti menang jika seperti itu?"
"Tidak. Kecuali seluruh pasukan Binoang saat kehabisan batu lalu menyerang bersama disini."
"Apakah itu pasti menang." Kejar Ragil lagi.
"90% persen kemungkinannya."
"Baiklah. kita rubah rencana sesuai rencana mu." Ucap Ragil. "Aku akan kembali ke Murid Yakove meminta maaf dan mengajaknya bergabung. Aku tidak ingin mengorbankan nyawa orang lain jika ternyata rencaku salah." Ragil akhirnya hendak kembali.
"Tunggu." Sarr menahan. "Seperti nya tidak ada waktu untuk itu."
"Apa maksudmu. Seharusnya waktu nya masih sekitar 30 menit atau 40 menit."
"Aku merasakan getaran tanah menandakan pasukan sudah semakin dekat."
"Tidak mungkin." Bantah Ragil. "Berarti informasi dari pesawat CLOUD menipu."
Sarr tidak dapat menjawab. Hanya diam meng iya kan.
Apa maksud dari Ratu Valkirie menipu kedatangan pasukan Haduz. Itu yang terpikir di kepala Ragil.
"Pelihat jiwa ku tidak melihat kehadiran pasukan Ha..."
Ragil tidak melanjutkan. Karena pelihat jiwanya telah melihat pasukan penunggang Srigala memasuki jangkauan dari pelihat jiwa nya.
Jarak jangkauan pelihat jiwa nya sudah semakin jauh mencapai 200 meter. Jarak antara dirinya sampai tikungan tebing sekitar 150 meter. Jadi posisi pasukan itu dibalik tikungan.
Ragil telah mengeluarkan dua senjata, pistol buatan Militer yang berisi peluru api dan yang satunya senjata buatannya yang berwarna hitam. Pistol itu di buat sesuai dengan ukuran dari pistol buatan militer. Sebuah tas yang selama ini di panggulnya di letakkan di dadanya. penutup tas itu di buka lebar. di dalam tas itu terdapat beberapa senjata api buatan Militer dan senjata warna hitam buatan Blackblood.
"Tidak apa-apa. Kita kembali ke rencana awal. Aku masih punya keyakinan kalau rencana ini bisa berhasil." Ragil meyakinkan.
"Akhir nya aku mati bersama Seorang yang di anggap hebat oleh banyak orang. Meskipun aku masih meragukannya." Sarr mengeluarkan ke dua belatinya. "Dua melawan pasukan Srigala... ini gila."
"Tidak. Aku memang bukan orang hebat. Tapi hanya memiliki keberuntungan saja. Pada hari ini juga kuharap keberuntungan di pihak kita."
Walaupun Sarr Ragu dengan rencana Ragil, tapi dia tidak dapat lakukan apapun selain tetap berada dalam lingkaran rencana Kapten sementaranya. Dua Pil anti Racun Jarum Pelumpuh di telannya.
Suara teriakan banyak orang yang bising mulai terdengar namun sosoknya belum terlihat. Getaran tanah mulai terasa.
Di ujung tikungan terdapat dua arah jalur masuk ke Lembah Phanouel ini. Ujung lembah ini berbentu V. Satu jalur dari arah Utara dan Jalur lainnya dari Arah Selatan.
__ADS_1
Tikungan dari arah Selatan mulai di masuki Seorang Prajurit Haduz yang sepertinya pemimpin dari pasukan itu. Lalu di lanjutkan oleh orang kedua yaitu seorang yang memakai penutup mata satu dengan ditangannya memegang kompas ajaib berbentuk segi delapan. Orang ketiga bernada besar berkalung gigi binatang buas. Lalu dimasuki pengikut lainnya.