Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 18. Avatar si Raja Penjahat


__ADS_3

"Hei Suku Naga, Kau pikir dirimu itu sudah hebat." Binoang bergerak maju dengan cepat hendak menyerang Arbakir. Dikeluarkannya dua Kapak besar yang bertenger di pundaknya.


Seorang suku Naga tidak akan pernah mundur jika di tantang. Itu adalah harga diri seorang Suku Naga. Maka Arbakir juga menyerang maju menyambut serangan Ketua Lembah Phanouel.


Mereka bertemu di tengah dengan mengandalkan kekuatan besar. Benturan kuat tidak dapat di sangkal lagi.


Kekuatan besar Arbakir yang telah bermutasi menjadi berwarna hitam, bagaikan Godam yang akan menyerang batu lapuk.


"Glegharrr."


Tubuh Binoang pecah berserakan bagai gelas pecah. Semua yang menyaksikan juga terkejut. Kecuali anak buah Binoang yang mengetahui kemampuan Binoang yang mampu membuat batu ciptaannya menyerupai dirinya.


Ternyata tubuh Binoang hanyalah sebuah batu yang pecah terkena pukulan Arbakir. Sementara Sosok Binoang sendiri entah berada dimana.


Kemampuan Binoang yang dapat menciptakan batu yang menyerupai dirinya ini memang dapat di acungkan jempol untuk mengelabui pihak lawan.


Rupanya Binoang yang asli masih meluncur cepat di belakang Arbakir yang sedang menuju Ragil. Perhatian Arbakir yang bermutasi ini tertuju pada sosok Binoang buatan jadi tidak memperhatikan tubuh Ketua Phanouel yang melesat ke sampingnya.


Strategi Binoang adalah menjauhkan Arbakir yang kuat lalu menerjang Ragil yang terlihat lemah. Binoang juga meremehkan akan kekuatan Sarr.


Tapi Sarr tidak bisa membiarkan Ragil terkena kapak dari Binoang, maka dia maju ke depan Ragil siap menghadang serangan Binoang.


Sarr juga menyadari kalau tingkatan Binoang sudah berada jauh di atasnya. Tanggung jawab dan kewajibannya adalah melindungi Ragil meskipun nyawa nya yang jadi korban. Seandainya saja jaraknya sedikit jauh dari Ragil maka dia bisa melepaskan beberapa bahan peledak untuk mati bersama Binoang. Tapi sekarang hanya bisa memasang tubuh untuk melindungi Ragil.


Detik-detik terakhir Sarr harus membuat keputusan dari beberapa alternatif, antara membawa kabur Ragil menjauh dari Binoang yang kemungkinan selamatnya kecil atau menghadang serangan Binoang yang dapat membunuhnya tapi kemungkinan menyelamatkan Ragil lebih besar. Paling tidak memberi kesempatan kepada Arbakir untuk membalas serangan.


"Dasar Perjanjian bodoh." Kutuk Sarr dalam hati menyadari nyawanya akan melayang.


Arbakir yang merasa kecele oleh muslihat Binoang hanya bisa menyesali diri karena tidak dapat menyelamatkan Sarr dan Tuan nya. Mutant berlari berusaha menyerang lawan sebelum tuan nya terbunuh.


Serangan Binoang tidak dapat di hindari. Semua begitu cepat berjalan. Kedua kapak sudah berayun akan membelah kedua belah pundak Naery Sarr.


Mantan Komandan ini tetap menatap tanpa menutup mata di akhir hayatnya. Kedua belati yang kecil mencoba menghadang dua Kapak besar. Ini seperti Seperti cerita Daud dan Goliat. Hanya saja Goliat Sarr kali ini akan binasa menggemaskan.


Semua orang berhenti bernafas sejenak berdiam diri melihat hasil. Tidak ada pundak yang tertebas Kapak. Tidak ada yang mati. Tidak ada teriakan. Tidak ada benturan benda keras.


Semua mata hanya melihat dengan mulut ternganga terbuka lebar. Tak percaya dengan apa yang di saksikan.


Arbakir yang tadi berlari mencoba membantu kini berdiam dan hanya melongo.


Binoang juga hanya berdiam kaget.


Angin berhembus menggoyang mempermainkan rambut Sarr. Juga ada sedikit asab hitam terbawa oleh hembusan angin. Kedua belatinya tidak bertemu dengan Kapak Binoang. Hanya satu kata yang keluar bibirnya. "Raja Kegelapan."

__ADS_1


"Raja Kegelapan???" Binoang sering mendengar namanya tapi belum pernah melihat sosoknya.


Kini kedua kapaknya di pegang oleh sosok hitam yang entah dari mana datangnya. Tubuhnya seperti mengeluarkan asab. Wajah nya tertutup oleh kerudung hitam yang pekat hingga tidak terlihat raut wajahnya.


Dengan sekali tarikan, kedua kapak Binoang terlepas dari tangannya. Kapak itu di lempar jauh tinggi di udara. Kedua kapak itu menancap di atas bukit. Kapak yang satu di bukit sebelah kanan dan kapak lainnya di bukit sebelah kiri.


"Dia bukan Raja Kegelapan. Dia Avatar. Pewaris dari Raja Kegelapan." Ragil maju berbicara lantang. "Aku menyebutnya Raja Penjahat"


Fall Stone


Sebuah batu besar dari atas langit jatuh kebawah dengan cepat. Jatuhnya tepat mengenai ke atas Avatar. Terjadi benturan yang sangat keras. Itu adalah batu sihir ciptaan Binoang.


"Dharrr.."


Batu itu pecah begitu mengenai kepala Avatar. Sementara Sosok yang di sebut Raja Penjahat ini hanya diam tidak bergeming. Batu ciptaan Binoang kalah kuat dan kepala Avatar si Raja Penjahat.


Dengan satu ayunan kaki, Avatar menendang Binoang. Tubuh Ketua Penjahat Lembah Phanouel terlempar jauh ke belakang. Serangan itu begitu cepat sampai tidak sempat di tahan oleh Binoang. Untung saja tubuhnya sudah dilindungi aura pertahanannya.


Hari ini bukanlah hari keberuntungan Binoang. Jurus Sihir Stone Jail milik nya sudah di patahkan untuk kedua kalinya selain dari Tabib Paniell. Sekarang Sihir Fall Stone miliknya jatuh tepat mengenai kepala Avatar dapat hancur begitu saja.


"Mari kita lihat sampai dimana kekuatanmu." Binoang mengangkat kedua tangannya.


Kedua kapak miliknya yang menancap di bukit mulai bergetar. Kedua kapak itu terlepas dari bukit itu dan terbang ke arah tangan Binoang. Kini kedua kapaknya ada ditangannya."


"Hiaaaatttt... " Binoang melompat menerjang Avatar.


Seperti halnya Binoang yang dapat menciptakan Batu menyerupai dirinya, demikian juga dia melihat Avatar yang mengubah tubuhnya menjadi asab hitam.


"Bagaimana mungkin dapat mengalahkan Mahkluk yang berubah menjadi asab." Begitulah yang ada dalam pikiran Ketua Lembah Phanouel.


Pria kasar ini sudah malang melintang sekian lama dalam dunia kejahatan tapi belum pernah menghadapi lawan yang tidak memiliki tubuh. Seperti bertempur melawan hantu.


Belum lagi rasa kuatir nya menguasai pikirannya, Binoang merasakan ada yang memegang baju nya dari belakang. Kemudian melempar tubuhnya ke udara. Itu adalah Avatar yang bagaikan asab telah berpindah tempat. Dimana ada asab hitamnya maka dia dapat berpindah tempat.


Avatar tercipta hanya dari Black Blood yang dapat berubah menjadi asab dan dapat terbentuk lagi. Jadi seolah Avatar dapat melakukan teleportasi. Tapi Avatar yang telah menyebar asab nya dapat berpindah ke tempat dimana asab hitamnya berada. Lagi pula boneka ini tidak memiliki tubuh fisik. Dasar dari tubuhnya hanya terbuat dari Black Blood yang dapat berubah menjadi asab. Avatar menjadi seperti hantu hitam bergentayangan


Ketika tubuh Binoang masih di udara, Avatar sudah melompat ke atas menerjang punggung Binoang membuat tubuhnya semakin terlempar tinggi di udara.


Tapi dari atas telah muncul Avatar lagi seperti sebuah teleportasi. Dari atas Avatar juga langsung menerjang ke bawah tanpa memberi kesempatan bagi Binoang untuk melakukan perlawanan.


Tubuh Binoang jatuh kebumi dengan cepat. Untung saja Tubuh ketua ini sekeras batu.


Binoang bangkit lagi berdiri lalu menyerang kembali. Rupanya dia masih belum kapok.

__ADS_1


Tangan kanan Avatar yang memiliki jemari tiba-tiba me runcing memanjang seperti tangan setan. Jari Runcing itu membesar bagaikan tangan raksasa. Dalam sekali cengkram, tubuh Binoang sudah terbungkus oleh tangannya Avatar hanya tinggal kepalanya saja yang kelihatan.


Binoang berusaha meronta pakai kekuatan sihir. Tapi tangan itu tidak bisa dihancurkan. Tangan itu lebih kuat dari sihir batu milik nya.


Tangan Avatar yang sebelah kiri pun mulai berubah dan memanjang. Kini tangin kiri Avatar berubah menjadi pedang panjang yang akan memenggal kepala Binoang yang sudah tidak dapat bergerak lagi.


"Tahan." Ragil datang mendekat. "Jangan membunuhnya. Aku masih ada perlu dengannya."


Ragil seolah-olah sedang berbicara dengan orang yang berbeda. Padahal Avatar itu sendiri masih berada dalam kendalinya. Dia melakukan Akting drama untuk menyembunyikan kalau Avatar adalah boneka miliknya.


"Bagaimana Ketua Lembah Phanouel? Apakah kita ada waktu untuk berbicara?" Ragil tersenyum.


"Baik. Aku mengaku kalah. " Binoang sudah tidak berkutik.


Avatar kemudian melepaskan tubuh Binoang yang sudah jera menyerang.


"Apakah kau memilki tempat untuk kita berbicara empat mata?"


"Kita dapat berbicara di dalam gua." Binoang dengan terpaksa menunjuk ke sebuah tempat di bawah tebing dimana terdapat mulut gua yang terbuka lebar.


Avatar tanpa sepatah kata berbalik badan merasa seperti tugasnya sudah selesai dan akan kembali.


"Tunggu." Sarr menahan Avatar yang akan lenyap.


Avatar berhenti tanpa menoleh.


"Apakah kau tidak dapat tertembus oleh peluru?"


Avatar mengangguk.


"Tidak berpengaruh terhadap ledakan bahan peledak?"


Avatar mengangguk lagi.


"Jadi sewaktu melompat keluar dari Pesawat CLOUD, tujuanmu adalah untuk menyelamatkanku?"


Sarr sedang berbicara tentang masa lalu ketika terjadi perang antara Militer dan Kerajaan Ulgar, dimana Pesawat besar CLOUD yang berisi senjata Bhazer meledak. yang pada waktu Avatar menculik dirinya lalu melompat dari pesawat jatuh ke bumi. Saat itu Avatar menciptakan parasut untuk mendarat ke bumi.


Tapi Sarr yang pada saat itu berpikir kalau Avatar menggunakan tubuhnya untuk melindungi tubuh Avatar dari serangan Militer, jadi Sarr melepaskan beberapa bahan peledak dengan tujuan untuk mati bersama-sama dengan Avatar yang di duga adalah Raja Kegelapan.


Tapi kini, perkelahian antara Avatar dan Binoang menjelaskan bahwa tubuh Avatar tidak memiliki fisik jadi tidak mungkin akan mati oleh ledakan ataupun peluru Militer. Maka itu memberikan arti kalau dirinya bukan di jadikan perisai untuk melindungi tubuh Avatar tapi untuk melindungi dirinya.


Yang jadi pertanyaan besar dalam benak Naery Sarr ini adalah, Mengapa Avatar melindungi dirinya? Apa alasannya?

__ADS_1


Avatar tidak menjawab ataupun mengangguk dari pertanyaan Sarr, malahan berubah menjadi kabut hitam meninggalkan yang lainnya. Asab hitam itu terbawa angin lalu lenyap.


"Dua kali kau menyelamatkan aku. Kenapa?" Ucap Sarr lirih tak terdengar oleh orang lain.


__ADS_2