Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 26. Kekalahan Pasukan Haduz


__ADS_3

Kaki si Pemimpin sudah tidak kuat berjalan. Tubuhnya juga masih lemah akibat tembakan dan tusukan pisau belati. Namun sorot matanya tidak menunjukkan penyerahan bahkan semakin keras untuk melawan.


Si pemimpin berpikir jika memang dirinya harus mati disini tidak apa-apa tetapi tapi misi nya harus tuntas si selesaikan. Kemudian dia menggunakan jari jempol dan telunjuknya dimasukkan ke dalam mulutnya. Terdengar suitan nyaring dari mulutnya.


Tidak lama kemudian muncul srigala-srigala dari balik asab dengan wajah beringas dan Geraman seperti sedang marah. Suitan itu untuk memberikan perintah kepada kawanan srigala.


Sarr menghentikan lari nya ketika melihat Srigala mulai bermunculan satu per satu dari balik asab yang menyelimuti.


Bagaikan mendapatkan tenaga baru, para kawanan srigala begitu beringas dan bersemangat. Srigala yang tadi nya linglung kehilangan arah, kini memiliki tujuan.


Dengan beberapa gerakan Sarr dapat membunuh satu dua Srigala. Dan Srigala lain berusaha untuk melewati dirinya dari samping kiri dan kanan Sarr. Para kawanan srigala itupun mengacuhkan dirinya, seolah tidak berminat dengan Naery Sarr.


Pembunuh Valkirie no 1 memandang wajah dari binatang-binatang itu. Binatang itu tidak menatap dirinya, sepertinya dirinya bukanlah mangsa. Wajah beringas binatang berbulu itu terarah kepada Ragil. Rupanya para Srigala ini diperintahkan hanya untuk membantai Ragil.


Ragilpun menyadari akan hal itu kalau dirinya di jadikan sasaran bagi kawanan srigala. Srigala yang berhasil melewati Sarr langsung di tembak oleh Ragil sebelum sempat mendekat.


Suara suitan yang melengking tinggi terdengar lagi.


Rombongan Srigala bermunculan lagi dari balik asab. Begitu juga si mata satu yang batu keluar dari balik asab.


Kembali tembakan Ragil terdengar beberapa kali. Tiga ekor Srigala jatuh demikian juga dengan si mata satu karena kakinya sudah tertembak.


Sarr berpikir kalau dirinya bisa saja menghadapi srigala ini meskipun nyawa nya terancam, tapi masalahnya yang di incar bukan lah dirinya. Meskipun Ragil dapat menembak satu persatu binatang itu tapi tetap saja tidak bisa sekaligus menembak semua.


Akhirnya Sarr memutuskan untuk menyelamatkan Ragil adalah prioritas utama. Dirinya berlari mendekati Ragil dan Tanpa permisi, tubuh Ragil langsung di panggulnya dan berlari menjauh dari Srigala.


Ragil yang tak menduga di bopong oleh wanita idamannya ini menjadi terkejut. Mata mereka saling menatap dalan beberapa detik.


Mulut Ragil hanya menganga dan senjatanya tidak ada yang mengeluarkan peluru. Semua konsentrasi dalam menghadapi Srigala kini menjadi buyar. Jantung mulai berdetak lebih keras.


Walaupun mereka saling menatap namun hati mereka berbicara lain dan saling bertentangan. Yang satu memiliki tatapan keindahan dengan detak jantung yang semakin memburu dan yang lainnya memiliki tatapan dingin merendahkan dengan hati yang hampa.


Momen ini begitu indah bagi Ragil, seakan dunia bergerak lambat. Rambut Sarr bergerak lembut, suara nafasnya terdengar jelas, tangannya yang padat mencengkeram.


Tapi bagi gadis berambut pendek, hal ini karena terpaksa. Rasanya ingin membuang tubuh yang di gendong ini ke Api neraka.


Ragil memandang garis muka wajah gadis itu yang oval. Meskipun kulitnya tidak terlalu putih tapi terlihat kalau kulitnya itu masih keras dan halus. Matanya yang bulat memiliki sorot tajam.


"Kalau kau terus menatapku maka Srigala itu akan mengejar dan membunuhmu." Sarr membuyarkan lamunan.

__ADS_1


"Twuuuiiittt.." Suara suitan terdengar lagi.


"Dorrr..." Di sambut dengan suara pistol.


Bunyi suitan terhenti karena pemilik suitan itu tidak dapat menggunakan tangannya untuk membuat suitan karena lengannya sudah tertembak.


Si pemimpin tampaknya tidak mudah menyerah. mulutnya dapat mengeluarkan suitan lagi meskipun tanpa menggunakan tangan. hanya melalui giginya yang bogang, dia dapat membuat suitan.


Sekali lagi sebuah tembakan terdengar. Suitan pun terhenti. Sang Pemimpin tumbang dengan kepala berlubang oleh timah panas.


Srigala itupun satu per satu mulai di tertembak.


Sarr kemudian melemparkan tubuh Ragil hingga terjatuh, kemudian dia berbalik badan untuk menghadapi srigala yang tersisa.


Satu per satu Srigala berguguran di bawah kaki Sarr. Tubuhnya mulai di basahi cipratan darah binatang. Gerakan yang cepat merobek leher hewan berbulu itu saat melompat ke arahnya.


Asap mulai menipis dan para pasukan lawan hanya tinggal tujuh orang yang dapat berdiri termasuk si mata satu. Dan beberapa Srigala yang masih linglung dari kejauhan.


"Pemimpin kalian sudah mati." Teriak Ragil. "Jika masih ingin selamat lepaskan senjata dan berlutut."


Semua saling memandang satu per satu. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Si mata satu yang pertama kali melepaskan senjata dan kompas segi delapan nya lalu berlutut. Kemudian di ikuti oleh semua pengikutnya.


Arbakir dan ke empat Murid Yakove menyaksikan semua kejadian meskipun dari jauh. Sejak awal Arbakir hendak bertindak menghadapi para Srigala tapi tidak jadi karena dapat terlihat kalau tuannya masih tidak membutuhkan bantuan.


"Lihat. Orang yang di tinggikan oleh Guru. Ternyata orang lemah yang hanya menggunakan pistol." Ejek Tamave kepada adiknya. "Kalau bukan karena kehebatan gadis itu kurasa dia sudah tidak bernyawa."


Arbakir yang mendengar ocehan itu hendak membalas memaki. Tapi dia teringat pesan Tuan nya untuk tidak berbicara dengan murid Yakove ini. Jadi dia hanya dapat menahan emosinya.


Sementara Sarr di hadapan Ragil hanya memandang dengan tatapan kosong kemudian tubuhnya lunglai terjatuh.


Dengan sigap Ragil menahan tubuh Sarr. Ternyata ada dua buah jarum. Pelumpuh bersarang di punggung dan kaki nya. Entah kapan jarum itu mengenai tubuhnya.


"Aku sudah meminum obat anti pelumpuh otot tapi sepertinya masih ada efeknya." Suara lirih Sarr.


Tidak lama kemudian Binoang dan anak buahnya mulai berdatangan. Mereka takjub tidak menyangka kalau pasukan itu dapat di tumbangkan hanya dengan dua orang saja.


Binoang memerintahkan anak buahnya untuk mengurung prajurit yang masih hidup dan mengikat Srigala yang tersisa.


Mereka sangat senang karena kemenangan itu meski hanya dinikmati dalam sesaat saja karena mereka akan masuk dalam permasalahan baru.

__ADS_1


"Tiga kereta kuda dari Utara datang menuju kesini. Mereka bergerak lambat, Perjalanan sekitar satu jam dari sekarang." Sarr memberikan informasi.


"Itu Paniell dan rombongannya." Duga Binoang. " Sebulan yang lalu mereka keluar dari Timur melewati lembah ini. Setelah mencari obat-obatan mereka kembali."


Binoang menjelaskan tentang Paniell dan rombongannya."


"Jadi rombongan tabib yang datang." Ragil memanggul Sarr untuk berjalan ke kursi. "Kalau bisa Kita akan menahan beberapa hari rombongan tabib ini untuk menyembuhkan mereka yang terluka.


"Paniell adalah ahli bertarung menggunakan tombak. Meskipun dia tidak menggunakan sihir dia masih dapat bertarung. Aku butuh tiga puluh menit untuk memulihkan diri untuk bisa menghadapinya." Ucap Sarr.


"Tolong perintahkan anak buah mu untuk mengambil mantel hitam yang baru kubuat dan di gantung di dalam gua." Ragil memandang Binoang. "Aku akan mengenakannya kepada dia agar Tabib Paniell itu tidak mengenali kalau dia dari Militer."


Sarr masih mengenakan pakaian Militer berwarna putih. Siapapun dapat mengetahui kalau Sarr adalah seorang militer jika memakai pakaian itu.


"Memangnya kenapa?" Tanya Sarr.


"Untuk menghilangkan kewaspadaannya. Karena kau nanti yang akan melawan nya. Aku ingin dia berpikir bahwa kita adalah orang lemah. Semakin rasa percaya diri nya tinggi maka semakin mudah di jatuhkan. Aku berencana untuk mengajaknya bertaruh dan menahannya disini selama tiga hari dengan cara taruhan."


Selanjutnya mereka merundingkan bagaimana menghadapi kelompok Paniell.


...+++++++++...


Bagaimana kisah kedatangan Paniell dan pertarungan yang terjadi antara Sarr dan Keluarga Paniell, kita semua mengetahui kisahnya dari Bab Pertama.


Sebelum terjadi pertarungan, Ragil sudah mengajak taruhan sebesar 500 keping emas. Paniell yang kalah terpaksa membayar. Bukan hanya itu saja, Ragil juga memaksa agar rombongan Paniell tinggal selama tiga hari untuk menyembuhkan mereka yang dalam keadaan terluka tapi masih hidup.


Dari hasil pertarungan, Ragil dapat menebak penyakit Inti Es yang di derita Funuell, Puteri dari Paniell, tabib itu.


Paniell tidak menyangka kalau Ragil dapat mengetahui penyakit langka yang di alami anak gadisnya. Dia juga memohon agar Ragil mau menyembuhkan Puterinya yang menderita penyakit inti Es itu. Pikirnya, jika Ragil tahu akan penyakit anaknya maka dia pasti tahu akan penyembuhannya. seperti halnya seorang tabib, asal dia sudah tahu penyakit pasiennya maka dia dapat menyembuhkan si pasien.


Ragilpun berjanji untuk membantu menyembuhkan penyakit Funuell dan meminta rombongan tabib untuk bertahan selama tiga hari.


Ragil juga meminta agar rombongan Paniell beristirahat terlebih dahulu lalu kemudian memeriksa para prajurit Haduz.


Didalam gua markas Penjahat Binoang ternyata ada beberapa ruangan yang cukup luas.  Beberapa orang yang terluka berada di dalam gua tersebut.  Ada yang berbaring, ada yang duduk, ada juga yang masih ngobrol.  Kebanyakan di antara mereka menderita luka luar.


Funuell sambil mengobati pasien, dia juga mencari informasi mengenai Ragil dan kawanannya.


Para murid Yakove berkeputusan untuk tetap tinggal di dalam lembah, dengan alasan untuk membantu mereka yang terluka. Sebenarnya Murid tertua Yakove lah yang berkeras untuk tinggal karena tunangannya, Funuell, juga tinggal di lembah itu.

__ADS_1


Demikianlah mereka semua bermalam si Lembah Binoang.


__ADS_2