
"Aku mengerti kiasan yang kau katakan. Tapi maksud dari itu semua apa sebenarnya.?" Dupp mencoba menalar tujuan dari perkataan Ragil.
"Begini. Arch saat menggunakan Lightning Explotion bukan karena dia memiliki ledakan itu sendiri. Tapi karena dia memiliki sesuatu yang mudah meledak jika di benturkan dengan elemen yang lain. Seperti halnya mesiu di peluru itu sendiri. Nah. Sekarang unsur peledak itu hilang dari Arch yang artinya bubuk mesiu tidak ada lagi. Jadi senjata tanpa bubuk mesiu akan sama seperti senjata tiruan yang ku buat "
"Lantas?"
"Kini bubuk mesiu itu ada padaku. Tapi aku masih kesulitan membuatnya meledak. Padahal bubuk mesiu itu bukanlah elemen api tapi menciptakan elemen api itu sendiri."
"Aku mengerti. Jadi artinya kau membutuhkan sesuatu untuk mengaktifkan efek ledakan yang di wariskan dari sihir Arch." Dupp menduga.
"Yah... Sebuah gesekan seperti kokang dan peluru api. Benturan yang menyebabkan ledakan. Arti dari gesekan itu adalah sentuhan atau touch. Hanya pertanyaannya elemen yang mana yang bisa di gabungkan untuk membuat ledakan."
"Jadi ini yang kau renungkan disini untuk membongkar misteri ledakan." Dupp tertawa. "Dan menurut mu ledakan itu bisa terjadi jika terdapat dua unsur yang akan meledak jika di satukan.
"Kurang lebih seperti itu teorinya."
"Jadi sekarang kau merasa sudah menerima salah satu unsur ledakan dari Arch tapi masih tidak memiliki unsur lainnya yang dapat menciptakan ledakan."
"Arch memiliki elemen petir dan Api. Itu bersifat panas dan dapat menjadi unsur yang mudah meledak jika di padukan unsur apapun. Sedangkan energiku bersifat dingin seperti besi. Tidak mudah menciptakan ledakan."
"Besi dan mesiu jika di padukan bukannya akan menciptakan ledakan?"
"Itu yang sedang kupikirkan."
"Aku sedang berbicara kepadamu tapi matamu selalu kedepan. Apa yang sedang didepan sana. Apakah ada sesuatu yang lebih menarik dari ledakan?"
Ragil tertawa merasa tertangkap baah. "Tidak juga. Aku sedang melihat wanita di ujung sana sedang berlatih."
"Wanita?" Dupp mencoba melihat ke arah pandang Ragil. Dengan pandangan manusia biasa memang tidak dapat melihat karena jaraknya sangat jauh. Tapi seorang penyihir dapat menyalurkan energinya ke mata untuk membuat jarak pandang bisa lebih jauh.
Ternyata jauh di bawah bukit di dalam hutan terkuak dari rindangnya pohon pohon dapat terlihat Sarr yang sedang berlatih
Gerakannya sangat lincah, cepat dan memukul setiap batang pohon dengan keras. Bahkan beberapa batang pohon mulai tumbang. Tendangannya juga mematikan.
"Dia tanpa kekuatan sihir dapat melakukan itu semua. Dia di atas manusia rata rata." Ucap Ragil.
"Itu menggunakan ilmu pernafasan untuk mengeluarkan tenaga dalam yang dapat di kerahkan ke seluruh tubuh." Dupp menjabarkan dengan ringan. "Tidak jauh beda dengan sihir. Hanya saja dia tidak menggunakan elemen dan kapasitas.,"
__ADS_1
"Huh? Bagaimana kau bisa tahu? Bahkan aku orang dari militer juga tidak mengetahuinya "
"Uh oh... " Dupp seperti kelepasan bicara. "Aku juga kurang paham. Hanya perkiraan ku saja. Oh iya... Dimana Funuell? Biasanya kau dan dia selalu bersama."
Ragil menatap lawan bicaranya seolah hendak mengorek isi hatinya melalui mata Dupp. Sepertinya pria penuh misteri ini menyimpan segudang rahasiia.
"Aku tahu. Kau banyak menyimpan rahasia." Ragil menebak. "Kau menyembunyikan kesaktianmu dengan bandana. Kau juga ahli sihir yang hebat dan mengarang buku sihir tentang tipe sihir." Ragil mengeluarkan buku sihir yang diterima dari Vhestee. "Dengan buku sihir ini aku bisa melihat kecocokan seseorang menggunakan tipe sihirnya agar kapasitasnya dapat berkembang. Kau juga bahkan tahu kekuatan para Assassin wanita peliharaan Valkirie."
Pria setengah baya itu menarik nafas panjang. "Sebenarnya. Aku adalah orang satu angkatan dengan Kirk, Valkirie dan Dewi Kumala."
"Aku sudah menduga."
"Tujuan ku datang mencarimu adalah untuk mengucapkan selamat berpisah karena besok aku dan Arch akan pergi. Aku juga akan menceritakan sedikit rahasia tentang Funuell."
"Funuell.? Kenapa dengan Funuell."
"Bukan Funuell nya tapi Aku akan bercerita sedikit tentang Jurus Pedang Inti Es. Oh iya. Dimana gadis es itu sekarang?"
"Dia sedang menyendiri untuk berlatih juga."
Tak lama benda yang di ciptakan Ragil pun selesai. Ternyata itu sebuah kursi.
"Silahkan duduk biar santay ceritanya nya. Hanya saja tidak ada tuak dan daging bakar."
Funuel
Sementara itu di goa Lembah Phanouel, di dalam lorong tempat peristirahatan yang biasa di gunakan Ragil, terdapat Funuell yang sedang bermeditasi.
Ruangan itu sudah di penuhi salju, bahkan di langit langit juga sudah terdapat stalaktit es yang meruncing ke bawah. Dinginnya dalam ruangan ini dapat membunuh manusia normal hanya dalam dua menit.
Pintu masuk nya juga sudah di lapisi es. Funuell tidak mengijinkan siapapun masuk selama dia berlatih sihir es. Termasuk Ragil.
Funuell dan Ragil sudah bersepakat untuk tidak mengganggunya selama melakukan latihan. Jadi setelah makan malam bersama, merekapun berpisah. Ragil ke tempat pelatihan Sarr dan Funuell ke kamar Ragil untuk berlatih.
Funuell hanya berpikir kalau Ragil akan pindah ruangan untuk istirahat. Dia tidak menyadari kalau ternyata Ragil telah keluar dari Goa dan menyendiri diatas bukit di ujung Lembah Phanouel.
__ADS_1
Saat ini Funuell sedang berada di alam jiwa dirinya sendiri. Semenjak Ragil membuatkan Array di tubuhnya telah membuat dia dapat keluar masuk kedalam alam jiwanya sendiri sesukanya.
Didalam alam jiwanya, Funuell bertemu dengan nenek moyangnya, Htur Orpahh.
Jurus ke 5 Tubuh.
Funuell sedang berlatih jurus ke 5, seketika itu tubuhnya diselimuti es yang mengkristal. 5 detik kemudian kristal itu pecah berubah menjadi butiran es seperti pasir. Funuell kembali menjadi seperti semula.
"Nenek. Kenapa aku tidak bisa menguasai jurus ke 5 lebih lama. Tubuh kristal ku tidak dapat bertahan lama." Funuell mengerutkan alisnya.
Orpahh menggelengkan kepalanya. "Energi sihirmu kurang kuat. Seandainya kau dapat menguasai jurus ke 5 maka otomatis tingkatmu langsung berubah menjadi dewa. Tidak apa. Latihan terus dengan cara menyerap energi inti es yang ada di tubuhmu maka itu akan membuatmu semakin kuat. Kau sudah berhasil hanya masih membutuhkan ketekunan."
"Bukankah seharusnya tingkatanmu harusnya berkembang dengan cepat mengingat aku selalu menyerap energi inti es di tubuhku."
"Seperti yang selalu kukatakan. Menyerap itu seperti seorang sedang menghirup udara. Semakin banyak oksigen yang di hirupnya maka semakin besar paru paru nya menampung. Hanya saja daya hirup kita sering di batasi dan tidak leluasa seperti penyempitan paru paru, hidung tersumbat. kurangnya latihan menarik napas panjang dan yang paling penting kurangnya kekuatan menghirup udara." Orpahh berdiri dari batu yang sebelumnya di dudukinya. "Begitu juga jika kau dapat menggunakan jurus ke 7 maka kau langsung menerobos ke tingkat Maha Dewa. karena kau telah memiliki kekuatan menyerap inti es dalam tubuhmu. Energimu tidak akan pernah kehabisan dan mana mu selalu terkumpul. Kau tahu kenapa jurus ini di ditakuti? Karena jurus ini dapat menyerap mana dalam jumlah yang tak terbatas dan yang akan meningkatkan orang dengan instan untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi."
"Pantas saja Pria itu bisa menggunakan jurus ke 5. Karena dirinya sudah berada di tingkat Maha Dewa.?" Funuell membayangkan Vacuum Dupp.
"Apa yang kau katakan. Apakah ada orang lain yang bisa menggunakan jurus itu."
"Iya Nenek. Bahkan aku telah bertarung dengannya." Kemudian Funuell bercerita tentang Vacuum Dupp.
"Apa? Ada seorang pria yang dapat menggunakan jurus sihir pedang Inti es sampai jurus ke enam? itu Mustahil." Orpahh terperanjat kaget ketika mendengar cerita cucunya tentang Vacuum Dupp. "Dia tidak memiliki organ tubuh seorang wanita dan tidak mempunyai tubuh Inti es. Itu mustahil."
"Benar Nenek. Pria itu juga memperagakan Jurus ke 5 : Tubuh yang dapat membuat tubuhnya menjadi kristal." Funuell meyakinkan. "Dia juga mengatakan kalau dirinya hanya bisa mencapai Jurus ke enam saja. Karena kalau sampai jurus ke tujuh maka akan membuat orang yang menggunakan jurus itu menjadi kehilangan kendali atau barserker. Tentu saja aku tidak percaya dengan omongan kosong seperti itu."
"Tidak. Apa yang dikatakannya memang benar. Pengguna Juris ke tujuh tidak akan berhenti sampai salah satu di taklukan. Entah si pemilik Inti Es atau sebaliknya. Lawannya itu sendiri." Orpahh tidak membenarkan akan bahaya jurus ke tujuh." Siapa nama orang itu.?"
"Vacuum Dupp."
"Vacuum Dupp?." Orpahh mengulang perkataan Funuell. "Apakah dia keturunan dari pencuri buku Sihir Jurus Pedang Inti Es. Apakah ini ada hubungannya dengan masa lalu...."
"Masa lalu?"
"Funuell duduklah." Sang nenek itu duduk ditanah yang di penuhi salju. "Aku akan bercerita sedikit tentang sejarah berdirinya Sekte Gunung Es dimana pertama kalinya muncul tubuh Inti es."
Funuell dengan patuh duduk di hadapan neneknya. Dia menyimak layaknya seorang anak sekolah memperhatikan gurunya yang sedang mengajar.
__ADS_1