Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 23. Pertemuan Murid Yakove Dengan Ragil


__ADS_3

"Hai Gumoo, bagaimana bisa tombak hitam mu memanjang begitu rupa" Ucap Khakii.


"Ini semua berkat Tuan Ragil yang menciptakan senjata ini. Beratnya pun sesuai dengan keinginanku." Jawab Gumoo.


"Apakah dua perisai bulat mu juga dibuat oleh Tuan Ragil?" Tanya Kahkii kepada Shagarr.


"Benar. Perisai ini dapat kulempar dan kembali kepadaku dengan Telekinetic. Semua dapat kulakukan atas Materai Array yang dibuat oleh Tuan Ragil dengan darahku. Jadi hanya aku yang dapat menggunakan senjata ini. Bagi orang lain, ini adalah perisai biasa saja."


"Perisai mu dapat mengeluarkan duri tajam saat melayang di udara lalu kembali ke tanganmu tapi duri itu sudah bersembunyi."


"Betul. Duri ini dapat keluar sesuai perintah otakku. Perisai ini sangat ringan namun sangat kuat. Array Materai dari Tuan Ragil mengikat hubungan antara senjata dengan pemiliknya."


"Mengapa aku tidak di berikan senjata khusus untukku?" Khakii mengeluh.


"Karena kau sibuk menjaga perbatasan pintu timur. Jadi kau melewatkan semua yang baik yang telah terjadi."


"Apakah kalian diberikan senjata secara cuma-cuma olehnya?" Tanya Khakii lagi dengan rasa cemburu.


"Tidak. Kami harus membuat perjanjian dengannya untuk tidak menjadi musuhnya?" Jawab Shagarr.


"Berarti kalian menjadi anak buah Tuan Ragil?"


"Tidak. Kami tetap setia dan menjadi anak buah Binoang. Hanya saja tidak boleh menjadi lawannya atau musuhnya." Gumoo menjawab.


"Hahaha... Berarti kalian terikat oleh perjanjian... Kalian bukan orang bebas." Khakii senang


"Bahkan Ketua Binoang dan Wakil Agroo juga membuat perjanjian dengan nya. Dia juga memulihkan kekuatan Agroo." Balas Gumoo yang tidak menyesal akan perjanjian yang telah dibuat.


"Apa? Ketua dan wakil juga?"


Dalam perjalanan, mereka berbicang-bincang mengenai Ragil dan rombongannya dan sepak terjangnya sampai Argoo dan Binoang dikalahkan.


Sepanjang perjalanan Ke dua murid Yakove turut mendengar percakapan itu.


 


Mereka akhirnya memasuki ke tengah Lembah. Disana sudah ada kedua saudaranya, Kakak Pertama Tamave dan kakak Kedua nya Dawave. Kedua kakaknya dalam kondisi terduduk dengan kaki menyilang seperti sedang semedi.


Tapi sebenarnya Tamave dan Dawave bukan kehendaknya melakukan semedi tetapi karena aku berada dalam pengaruh jarum Pelemas Otot dan dalam keadaan ditotok.


Tagave dan gadis itu di letakkan di samping saudaranya yang lain.


Disana juga ada seorang pemuda sedang duduk berhadapan dengan Binoang. Tak lain adalah Ragil sendiri.


Di belakang Ragil terdapat juga Sarr dan Arbakir yang berdiri.

__ADS_1


"Apakah kalian adalah murid Yakove?" Tanya Ragil.


"Benar" Jawab Tamave. "Aku murid Pertama Tamave dan Dia murid kedua, Dawave. Kedua orang yang baru ditangkap itu adalah murid ketiga, Tagave dan yang terakhir ..."


Belum lagi ucapan Tamave selesai, gadis itu langsung buka suara. "Hai. Perkenalkan nama saya Hanayee. Cucu dari kakek Yakove."


Patave yang memanggil dirinya Hanayee baru di letakkan oleh Argoo berlutut disamping Tagave.


"Dia Patave Murid ke empat." Tamave menimpali.


"Apakah kalian bersaudara? Kenapa nama kalian hampir sama." Ragil bertanya lagi.


"Tidak. Kami bukan saudara kandung." Si Murid pertama menjawab. "Kami semua adalah anak yang di pungut oleh Yakove. Kecuali Patave adalah cucu langsung dari Yakove."


"Apakah itu semua nama asli kalian.?"


"Tidak. Itu nama yang di berikan Kakek Yakove saja." Celetuk cucu Yakove. "Namanya di sesuaikan dengan status. Misalkan Tamave yang artinya murid pertama Yakove. Dawave juga artinya murid kedua Yakove. Demikian juga Tagave sebagai murid ke tiga. Tapi aku memiliki nama sendiri yang diberikan oleh orang tuaku, Hanayee."


"Kudengar dari Kakakmu kalau kalian ingin mencariku? Ada apa?"


"Apakah kau itu Ragil? Yang katanya kakek Yakove pernah hendak berguru padamu?" Patave balas bertanya.


"Hei... Aku yang bertanya malah di balas pertanyaan. Apakah cucu Yakove tidak di ajarkan sopan santun."


"oh, begitu." Ragil menganggukkan kepala. "Aku pikir, kita tidak perlu melakukan itu karena saya cukup sibuk."


Aku juga berpikir kalau kau belum mencapai tingkat menengah." Tamave membalas. "Entah apa yang membuat dirimu begitu di muliakan oleh Guru. Jujur saja. Aku meragukan dirimu untuk bertanding."


"Jangan begitu Kakak." Si gondrong yang merupakan murid ke tiga Yakove menyela. "Tehnik Array yang menghilangkan kekuatan sihir ini saja sudah membuat aku kagum."


"Array ini hanyalah untuk jebakan saja sifatnya. Bukan untuk pertarungan langsung. Jika kita menggunakan Array penglihatan sejak awal maka kita tidak mungkin terperangkap." Kilah kakak tertua.


Di Landria, pertandingan persahabatan merupakan suatu pertandingan kehormatan. Tujuannya adalah saling mengenal ilmu dan menunjukkan Ilmu yang telah dicapai. Biasanya dilakukan untuk penyihir yang baru mengalami naik tingkat dan ingin menguji kekuatannya.


Hanya saja pihak yang menantang biasanya tingkatannya harus sejajar atau setara dengan yang ditantang. Biasanya yang baru naik tingkat lah yang menantang untuk melakukan pertandingan persahabatan.


Kalau tingkatan yang lebih tinggi menantang mereka di tingkatan lebih lemah maka hal ini terlihat seperti menekan orang yang lemah. Sebuah tindakan pengecut atau tidak jantan. Di dunia sihir di anggap hal memalukan.


Awalnya Tamave yang baru naik tingkat dari tingkat Menengah ke Tingkat Atas, berpikir bahwa Ragil sudah berada di tingkat Atas. Tapi melihat kenyataannya dengan menggunakan Array Penglihatan ternyata bahwa aura Ragil tidak seperti yang di bayangkan bahkan masih belum mencapai tingkat Menengah. Ini sangat mengecewakan Tamave.


Tapi bagi Yakove, guru mereka menganggap bahwa Ragil dengan ilmu Array kuno bukanlah sesuatu yang biasa ataupun lebih lemah dari Array yang mereka miliki. Karena menganggap Ragil begitu tinggi akan ilmu Array nya, bukan ilmu sihirnya, maka Yakove memerintahkan murid nya untuk melakukan pertandingan persahabatan belajar kenal Ilmu Array Kuno yang hebat dan tinggi itu.


Tapi Tamave mengukur dengan membandingkan kekuatan sihir bukan kemampuan seni Array. Jadi menganggap remeh akan kemampuan Ragil


"Aku juga tidak berniat untuk bertanding dengan kalian sekalipun dalam pertandingan persahabatan. Apa lagi kalian bukanlah sahabatku." Jawab Ragil.

__ADS_1


Kemudian Ragil menghadapkan wajahnya kepada Sarr yang sejak awal mendengar percakapan itu.


"Sisa berapa lama lagi Gadisku."


"Kurang lebih tinggal 90 menit. Kapten. Mereka baru melewati Padang Pasir Pusat." Jawabnya.


Padang Pasir Pusat adalah titik tengah dari peta Landria. Setiap orang yang bepergian mau berpindah kerajaan maka pasti melewati titik tengah ini.


"Jadi Pasukan Haduz sudah sejauh 90 menit dari sini." Binoang berdiri dari kursi. "Cepat juga perjalanan mereka."


"Yah... Saatnya kita bergerak sesuai yang di rencanakan." Kata Ragil.


"Bukankah sudah kukatakan kalau mereka menggunakan tunggangan Srigala Hutan yang larinya sangat cepat." Ucap Sarr lagi.


Binoang keluar dari kursinya menuju ke pasukannya untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan pasukan Haduz.


"Hei. Jangan abaikan kami." Bentak Tamave. "Lepaskan kami."


Ragil benar-benar mengabaikan murid Yakove. Dia hanya asik bercakap dengan Sarr.


"Hei... Aku adalah Murid Yakove si Pengubah Elemen. Aku saat ini berada di tingkat Atas jadi Hargai aku sedikit." Kakak Tertua mulai emosi.


"Kakak. Jangan memperkeruh suasana." Si Gondrong menenangkan kakaknya.


"Benar Kakak. Apakah kau tidak dengar? Mereka sepertinya akan menghadapi pasukan Kerajaan Haduz." Si Adik Bungsu juga membantu. "Kita seharusnya menolong mereka bukannya menjadi lawan mereka. Ingat. Kita bertemu dengan Ragil untuk menjalin persahabatan bukan menambah permusuhan."


Tapi Kakak Tertua ini sejak awal sudah merendahkan Ragil yang di anggap lebih lemah dari nya. Seharusnya yang lebih rendah menghormati yang lebih tinggi statusnya. Jadi dia tidak memperdulikan semua perkataan adiknya. Dia tidak senang diperlakukan seperti ini oleh orang yang lebih rendah kekuatan sihirnya.


"Kalau dia punya otak sedikit paling tidak dia bisa membebaskan kita untuk membantu nya. Toh kita datang bukan sebagai musuh." Sengaja Tamave berbicara lebih keras agar dapat di dengar oleh Ragil.


"Punya otak? Apakah dia menganggap mu seorang idiot?" Tampaknya Sarr tidak senang dengan perkataan murid Yokove ini. "jinkan aku membunuh nyamuk bising ini."


"Maaf Nona Sarr. Aku tidak melihat adanya nyamuk disini." Arbakir yang polos masih tidak mengerti maksud dari nyamuk itu.


Ragil tersenyum melihat Abdinya ini. Dia tahu kalau Abdi nya bukan lah orang bodoh, hanya saja pikirannya terlalu lempeng dan tidak mengerti akan istilah perumpamaan. Mungkin karena terlalu lama berada di dalam Suku nya jadi kurang akan pergaulan.


"Biarkan saja. Jangan di ladeni karena aku tidak menganggap keberadaannya." Ucap Ragil. "Kita harus lebih fokus kepada lawan."


"Sebaiknya kita maju ke depan." Sarr memberikan saran sambil melangkah maju.


"Terserah kau saja, Sayang." Ragil tertawa menggoda, mengikutinya dari belakang.


"Bisakah kau lebih serius Kapten." Sarr melangkah menuju garis depan dengan tangan terkepal karena kesal.


Ragil hanya tertawa senang melihat bekas atasannya marah.

__ADS_1


__ADS_2