
kabar kehamilan Asilla sudah menyebar sehingga keluarga besar mereka ikut merasakan kebahagiaan. Mereka sangat bersyukur dikarunia banyak cucu, keponakan yang mengemaskan. Benar-benar bibit unggul dari kedua orang tua mereka.
Terlebih Zeze, ia masih bisa mendengar kabar gembira ini. Sungguh di usia tidak mudah lagi ia masih diberi kesempatan untuk berada ditengah-tengah kebahagiaan ini. Ia sangat berharap calon cucu yang berada dalam kandungan Asilla adalah berjenis laki-laki jika bisa diminta.
Asilla sangat diperhatikan oleh Filio, kadang ia tidak ingin ke kantor dengan alasan tidak ingin meninggalkan Asilla. Dengan menghela nafas panjang Asilla memakluminya. Seperti pagi ini suaminya itu kembali tidak ingin ke kantor.
"Sayang sudah seminggu kamu tidak ke kantor, hmmm apa sebaiknya hari ini kamu ke kantor," kata Asilla selembut mungkin tidak ingin menyinggung.
Filio meraih telapak tangan Asilla, membawanya menempel di mulutnya, begitulah yang sering dilakukan.
"Walaupun suamimu ini tidak masuk kantor tak akan bangkrut sayang, bahkan setahun tidak kerja," jawab Filio dengan santainya.
"Huh jika ada yang berbuat curang lama-lama perusahaan hancur sayang," cicit Asilla dengan mulut mengerucut sehingga itu kebahagiaan bagi Filio.
"Sayang saatnya aku menebus kesalahan di masa lalu, hmmm dimana kamu tengah mengandung ketiga anak kita seorang diri," ungkap Filio dengan tatapan sendu. "Ini saatnya Tuhan memberi kesempatan untukku, maka dari itu aku benar-benar memperlakukanmu selayaknya seorang istri. Untuk itu apapun yang mengganjal di hatimu langsung katakan, apapun yang ingin kamu mau misalkan makan ini itu beritahu aku, dengan waktu 24 jam aku siap melayani." Imbuhnya kembali dengan mata berkaca.
Asilla tercengang mendengar apa yang baru dikatakan Filio, ia tidak pernah menyangka.
"Bolehkah aku sedikit menceritakan masa kehamilanku dulu?" tanya Asilla sembari menatap wajah Filio, memastikan apakah pria itu menyetujuinya.
Filio menghela nafas panjang, terasa sesak di dada. Ia tau jika semua kenangan di saat kehamilan Asilla begitu menderita. Mengandung anak dengan jumlah tiga orang seorang diri tanpa ada suami dan keluarga yang mendampinginya, hanya keluarga besarnya dulu yang memberi perhatian dan semangat untuk Asilla.
"Ketika aku mengetahui kehamilanku ini, jujur dunia ini serasa runtuh," Asilla memulai ceritanya. Baru mulai Filio serasa ditampar oleh perkataan Asilla. "Bukan karena aku tidak mensyukuri tetapi mungkin setiap wanita merasakan apa yang kurasakan. Lama-lama aku berusaha tenang dan berfikir jernih, dari pemikiran jernih itu aku dengan tulus menerima calon anak ini dan aku berjanji untuk menjaga dan merawat ketika lahir nanti. Karena ank ini tidak tau apa-apa, atas dasar apa aku menyalahkan mereka. Dengan segenap kekuatan aku memberitahu kepada kedua orang tuaku, dari awal aku tau mereka pasti sangat marah besar tetapi bagaimanapun mereka harus tau karena kebenaran ini tidak bisa disembunyikan. Sungguh beban dan batinku tertekan tetapi demi anak ini aku harus kuat," ungkap Asilla dengan mata berkaca.
Asilla tersenyum getir.
"Tetapi aku bersyukur mendapat perhatian dari keluarga kamu. Oma, Mommy, Fiona, Dela dan Kak Ken selalu ada buat hari-hariku. Mereka selalu membawa makanan bermacam-macam. Bahkan Dela membawa buah mangga muda yang langsung dipetik dari kebun Mansion," lanjut Asilla menceritakan.
"Mangga muda?" seketika Filio mengingat waktu itu menginginkan buah mangga muda dan ia menyuruh Gio untuk memetik dari Mansion orang tuanya. Waktu itu Gio berpapasan dengan Dela yang juga menginginkan mangga itu.
"Ada apa?" tanya Asilla melihat Filio melamun.
Filio tersenyum tetapi ia masih merasakan sesak.
"Apa kamu mengetahui kalau anak-anak kita kembar?" tanya Filio ingin tau, kenapa pada saat itu Asilla tidak tau bayi yang lainnya.
Asilla mengangguk.
__ADS_1
"Tetapi aku taunya hanya kembar dua, aku tidak pernah melakukan USG itu hanya insting dari Bidan," jawab Asilla.
"Kenapa tidak ingin di USG? jika terjadi kepada mereka bagaimana?" suara Filio sedikit meninggi.
Asilla terdiam dengan kening mengerut.
"Maaf sayang bukan maksudku,"
"Buktinya tak terjadi sesuatu pada mereka bukan?" potong Asilla. "Mereka lahir dengan selamat dan tidak kekurangan satupun," sambungnya. Asilla menghela nafas panjang. "Hanya satu penyesalanku sampai sekarang yaitu tidak bersikap adil dengan Moses, bahkan menyentuhnya terlebih dahulu dan bahkan tidak memberinya ASI," ungkap Asilla dengan terisak. "Mereka sangat baik dalam kandungan, tidak minta yang macam-macam seperti Ibu hamil pada umumnya, hmmm mungkin mereka mengerti dengan keadaan yang ada," imbuhnya dengan lirih.
Filio terenyuh mendengarkan ungkapan perasaan Asilla.
"Sayang jangan menyalahkan dirimu, ini bukan kesalahanmu sayang," kata lembut Filio sembari memeluk Asilla dan berusaha menenangkan.
Asilla menghentikan tangisnya.
"Aku minta maaf sayang," lirih Filio dengan wajah sendu.
Asilla melepaskan pelukan itu lalu menangkup wajah tampan itu.
"Ini juga bukan kesalahanmu sayang,"
...******...
Seperti pagi-pagi biasanya mereka menikmati sarapan. Asilla masih mengalami morning sickness,
sungguh kehamilan kedua ini sangat tidak nyaman. Tetapi anehnya selera makannya tak berpengaruh.
"Mama harus banyak makan biar Dede bayi sehat," celoteh Isabella.
"Mama minum susu ya?" Gabriella memberikan segelas susu.
Asilla tersenyum melihat tingkah laku kedua putrinya, sedangkan Filio dan Moses menikmati sarapan dengan pandangan kepada ketiga wanita yang sangat mereka sayangi dan cintai.
"Dede bayinya kapan keluar Mama?" tanya Isabella dengan polos.
"Hmmm sekitar 7 bulan lagi sayang, masih lama," jawab Asilla dengan senyuman.
__ADS_1
"Oh berarti masih lama ya?" kata Isabella dengan jari mengetuk wajahnya
Hmmm
Setelah selesai sarapan Asilla mempersiapkan sarapan untuk Zeze. Seperti biasa Zeze akan sarapan di balkon kamarnya, itu karena ia ingin mengenang masa-masa indahnya dengan Sky. Sedangkan triplets sudah berangkat ke sekolah.
"Sayang biar aku yang bawa," Filio menghampiri Asilla yang sedang memegang napan berisi sarapan untuk Zeze.
"Baiklah," jawab Asilla langsung mengikuti Filio dari belakang.
Tiba di pintu kamar Asilla membantu membukakan pintu tanpa mengetuk karena pintu kamar itu tak pernah di kunci.
Klek
Pintu terbuka dan Asilla terlebih dahulu masuk lalu disusul oleh Filio. Dengan senyuman sumringah Asi mendekati ranjang, dari kejauhan mereka dapat melihat Zeze terbaring terentang dengan selimut menutupi tubuh kecilnya tetapi sedikit aneh bagi mereka karena pagi-pagi begini Zeze pasti sudah mendudukkan dirinya di balkon sembari membaca surat kabar. Tetapi kenapa pagi ini mereka melihat Zeze tertidur sangat pulas.
Filio meletakan napan di atas nakas, sedangkan Asilla beringsut menduduki dirinya di tepi ranjang.
"Selamat pagi Oma," sapa Asilla masih dengan senyuman karena melihat wajah tenang Zeze saat menutup mata. "Sayang sepertinya tidur Oma begitu nyenyak, apa kedatangan kita tidak menganggu?" kata Asilla tanpa lepas dari tatapan di wajah Zeze.
Filio ikut duduk di sisi ranjang tepat di samping Asilla.
"Ini waktunya sarapan, Oma harus sarapan dan minum obat," ujar Filio.
"Oma, Oma ayo bangun. Oma harus sarapan dan minum obat terlebih dahulu," Filio berusaha membangunkan Zeze dengan cara mengguncang pelan di bahu.
Tetapi tidak berhasil membuat Zeze kunjung bangun sehingga membuat mereka saling memandang dengan kening mengerut karena tidak biasanya Zeze begitu.
"Oma ayo bangun," Asilla membantu membangunkan Zeze dengan cara mengelus wajah Zeze. Tetapi tetap tidak membuahkan hasil.
"Oma, Oma!" Panggil Filio dengan suara sedikit meninggi sembari menggoncang tubuh kaku itu.
"Oma!"
Deg
...******...
__ADS_1
•Jangan lupa tinggalkan like, vote favorit dan komen ya say......