
Sepanjang jalan Asilla tidak bisa tenang. Setelah mendapat informasi dari orang suruhan Filio mereka langsung bergegas terbang menggunakan helikopter untuk menuju RS. Sejujurnya Filio ingin menolak tetapi kembali lagi ia tidak bisa melihat sang istri kembali mengeluarkan air mata yang sangat berharga. Bahkan ia merelakan rencana honeymoon yang sudah di nanti-nantikan.
"Sayang tenanglah semua akan baik-baik saja," tenang Filio yang saat ini berada di helikopter sembari mendekap tubuh lemas Asilla.
"Bagaimana aku bisa tenang sayang sedangkan Papa saat ini sedang berjuang," lirih Asilla. "Aku takut sayang," sambungnya kembali dengan wajah diletakan di dada bidang itu.
Filio menghela nafas sembari mengusap punggung lelah itu.
...******...
Di RS
"Papa tenanglah," kata Mira sembari mengelap sisa air di bibir Farhan.
"Papa ingin bertemu Sila Ma huk huk," lirih Farhan.
"Bagaimana kita ke sana? sedangkan kondisi Papa seperti ini," kata Mira tak yakin.
"Papa masih kuat Ma, ayo bawa Papa untuk menyaksikan resepsi Sila," Farhan ingin memaksa sehingga membuat Mira menggeleng.
"Ma bagaimanapun dia putri kita juga. Selama ini kita tak bersikap adil kepadanya, dia selalu mendapat perlakuan kasar dari kita. Untuk itu Papa ingin menemuinya sebelum Papa tutup usia," lirih Farhan dengan nafas sengal.
"Mama mengerti Papa. Apa Papa yakin kalau Sila mau bertemu dengan kita? Mama tidak yakin itu," ungkap Mira.
Klek
Pintu kamar rawat terbuka dan ternyata itu Asinta bersama Grey yang datang sehingga membuat Farhan maupun Mira menoleh.
"Ada apa Mama?" tanya Asinta.
"Ini Papamu ingin pergi ke resepsi Sila, padahal kondisinya tak memungkinkan," terang Mira.
Mendengar apa yang dikatakan wanita paruh baya itu tentu saja membuat Asinta dan Grey saling memandang dengan kening berkerut.
"Apa Mama bilang? Papa ingin menghadiri pesta itu?" tanya Asinta dengan wajah sinis.
"Iya Nak tolong bawa Papa untuk bertemu dengan Adikmu," lirih Farhan.
Deg
Asinta maupun Grey kaget tak percaya dengan apa yang dikatakan pria sekarat ini.
"Apa Sinta tidak salah dengar? lelucon apa lagi ini?" sinis Asinta mengira ini adalah sebuah lelucon semata.
"Duduk dulu sayang," titah Mira.
Asinta,Grey akhirnya duduk di sofa yang berada di dekat brankar.
"Papa ingin menghadiri resepsi itu, sejak tadi ia memaksakan diri untuk bisa ke pesta itu. Bagaimana mungkin kita ke sana dengan kondisi Papa seperti ini, yang ada kita hanya buat masalah dan bahkan mempermalukan Sila," cerita Mira.
__ADS_1
"Sejak kapan kalian peduli? apa karena ia membawa Papa ke RS ini? jadi kalian berubah?" sinis Asinta.
"Sinta jangan pakai emosi," ujar Grey.
"Apa? kamu juga ingin sekali menghadiri pesta itu bukan? biar kamu bisa bertemu wanita tak tau diri itu? begitu?" cecar Asinta seenaknya menuduh.
"Sinta!" Suara Grey cukup keras karena sudah tak tahan melihat sikap egois Asinta.
"Cukup huk huk," lirih Farhan disela batuknya.
"Tenang sayang, kamu tidak lihat kondisi Papa?" timpal Mira.
Huh
Asinta menghela nafas panjang dengan raut wajah masam.
"Papa hanya ingin bertemu dengan Sila, tolong pertemukan Papa huk huk....," batuk Farhan semakin menjadi.
"Papa," teriak Mira terkejut melihat Farhan muntah darah.
"Papa," Asinta ikut terlonjak kaget. "Sayang panggilkan dokter," teriak Asinta kepada Grey.
"Tunggu sebentar," Grey beranjak bangkit menuju tombol khusus memanggil dokter.
...******...
Helikopter sudah mendarat di gedung RS milik keluarga Januar. Dengan tidak sabarnya Asilla turun dan ingin segera tiba di ruang rawat Farhan.
"Ayo sayang jangan membuang waktu,"
Filio langsung menuntun Asilla turun dari Helikopter. Keduanya langsung menuju kamar rawat Farhan di kamar VIP. Ya Filio memperlakukan sang mertua selayaknya keluarga. Jika diingat-ingat lagi dengan kekejian mereka sangat sulit untuk membantu tetapi itu semua demi kebahagiaan wanitanya. Demi apapun ia lakukan dan menyampingkan rasa egonya untuk kebahagiaan Asilla.
Klek
Pintu kamar rawat terbuka
Orang yang berada di kamar menoleh ke arah pintu.
Deg
Mira beserta Asinta dan Grey sempat terkejut melihat dua sosok itu berdiri di ambang pintu. Sedangkan Filio tidak menyukai kehadiran Grey di sana. Rasa cemburu tentu saja masih tersimpan.
"Sila," gumam Mira dengan raut wajah bahagia. Ia tidak menyangka Asilla akan mengunjungi mereka karena itu sangat mustahil. Bukankah mereka seharusnya menikmati hari-hari sebagai pengantin baru, begitulah yang ada dalam pikiran Asilla.
Asilla langsung menyeret tangan Filio tanpa dipersilahkan masuk. Ketiga orang itu tercengang melihat perlakuan Asilla terhadang sang CEO kaya raya itu. Sedangkan Farhan tidur tergolek lemah di brankar.
"Papa," lirih Asilla sembari membelai wajah kurus serta pucat itu. "Sila datang Papa," lirihnya kbali bahkan bulir bening itu sudah bergulir.
"Sila Papa ingin sekali bertemu kamu," lirih Mira dengan bibir bergetar.
__ADS_1
Seketika Asilla terdiam bahkan menghentikan tangannya, lalu mengalihkan pandangan ke Mira. Apa yang dikatakan Mira tentu saja membuatnya kaget. Bukankah biasanya kehadirannya akan memicu amarah mereka? bukankah saat ini ia mendapat tatapan tajam? bukankah dirinya sekarang di usir? begitulah yang Asilla prediksikan tetapi seakan tebakannya salah.
"Tuan silahkan duduk," kata Mira mempersilahkan Filio. Filio terdiam tanpa menjawab, bahkan ia menunjukan wajah tidak suka, yang pastinya tidak diketahui oleh Asilla.
"Maksud Mama apa?" sungguh Asilla cukup heran.
"Sebenarnya Papa ingin sekali memenuhi undangan resepsi kalian tetapi kondisi Papa tidak memungkinkan, bahkan kemarin Papa muntah d*r*h." Terang Mira dengan mata berkaca.
"Muntah d*r*h" ulang Asilla dengan bibir bergetar. Filio berusaha menenangkan Asilla dengan cara mengusap pundaknya.
Huk huk huk
Tiba-tiba Farhan kembali batuk.
"Papa," panggil Asilla lembut sembari menggenggam tangan dingin itu.
Farhan berusaha membuka mata, berkali-kali ia mengerjakan mata untuk memastikan pengelihatannya, apakah yang sedang ia lihat saat ini hanya bayangan saja. Dimana wajah cemas Asilla menyambut bangun tidurnya yang sangat menyiksa.
"Sila benarkah itu kamu Nak? huk huk," lirih Farhan seperti gumaman.
Mata Asilla membulat mendengar satu kalimat yang seumur hidup tidak pernah ia dengar selama ini.
"Nak,"
Asilla kembali membeku.
"Sayang," bisik Filio sehingga membuat Asilla tersadar.
"Papa katakan mana yang sakit?" tanya Asilla dengan mata berkaca-kaca.
Farhan menggeleng.
"Ma tolong bantu Papa untuk duduk,"
Mira langsung menuruti dan tidak lupa Asilla juga membantu.
"Duduk Nak dan ajak juga suamimu," Farhan berusaha berbicara.
Filio maupun Asilla saling memandang, tidak lama Asilla menarik tangan Filio sehingga duduk di samping Asilla.
"Sila ada yang ingin kami katakan huk huk...," Farhan kembali batuk bahkan mengeluarkan dahak berupa d*r*h.
"Papa," seru Mira, Asilla, Asinta bersamaan dengan wajah panik.
Huk huk
Entah sudah berapa kali batuk itu.
"Sayang cepat panggilkan dokter, cepat sayang," perintah Asilla kepada Filio.
__ADS_1
"Tidak perlu Nak. Tuan tetaplah di sini," gumam Farhan menghentikan langkah Filio.
...******...