
Baru 2 hari di sana sudah disuruh segera kembali oleh keluarga besar Januar.
Filio berusaha keras menyakinkan Asilla untuk kembali ke tanah air. Di malam yang dingin ia sedang menunggu kepulangan Asilla dari butik. Hari ini Asilla pulang sampai malam karena menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda jadi membuatnya terlambat pulang. Sedangkan triplet sudah terlelap dalam tidur mereka.
"Kenapa dia lama sekali. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi," gumam Filio tidak lepas dari arah masuk.
Sudah cukup lama ia berdiam diri. Masih betah menunggu kedatangan Asilla sehingga tanpa terasa bunyi deruan kendaraan terdengar dari kejauhan.
"Hmmm bukankah tadi pagi ia mengunakan sepeda motor?" gumam Filio melihat Asilla ternyata turun dari mobil.
Asilla turun dari dalam mobil. Tidak lama seseorang juga menyusulnya turun.
"Siapa itu? sepertinya mereka sangat dekat?" gumam Filio dengan tangan terkepal erat. Sungguh darahnya mendidih melihat pria lain sedang mendekati Asilla. Sayangnya Filio tidak begitu jelas melihat sesosok pria yang sedang mengantarkan Asilla. Ditambah lagi posisi pria itu membelakangi dirinya.
Karena tidak ingin di cap tidak sopan sehingga Filio membiarkan hal itu. Nanti akan ia tanyakan kepada Asilla langsung. Filio tetap duduk seperti semula tetapi perasaannya tidak tenang. Tetap berpusat kepada sesosok pria itu.
Asilla melangkah tiba-tiba ia kaget mendapati sesosok pria yang sangat ia kenal sedang tertusuk sendirian di malam yang dingin.
Hmmm
Sungguh Asilla canggung jika sedang berhadapan dengan Filio setelah tau semua rahasia itu.
"Kamu habis dari mana? kenapa malam begini baru pulang?" tanya Filio dengan lembut ia berusaha menahan rasa emosinya karena sesosok pria tadi.
"Dari butik," jawab Asilla singkat.
Senyuman miris tersungging di bibir Filio mendengar jawaban Asilla.
"Duduk dulu sebentar, ada yang ingin aku bicarakan," titah Filio tanpa menatap Asilla.
"Besok saja, aku sangat lelah. Lagi pula ini sudah malam," jawab Asilla.
Filio terdiam atas ucapan Asilla.
"Jika begitu aku masuk dulu," kata Asilla sembari melangkah.
"Untuk berbicara kepadaku tidak ada waktumu sama sekali, tetapi mungkin untuk pria yang telah mengantarmu tadi itulah sangat berharga bagimu," sindir Filio.
__ADS_1
Atas perkataan Filio membuat Asilla menghentikan langkahnya.
"Apa karena pria itu kamu tidak ingin kembali pulang? ya aku baru tau," ujar Filio sehingga membuat Asilla menatapnya dengan tajam.
"Itu bukan urusan kamu," jawab Asilla sembari menelan ludah karena cukup berani berkata kasar.
"Tentu saja akan menjadi urusanku karena status yang kamu sandang sebagai istri dan Ibu bagi ketiga anak-anakku," ujar lantang Filio tetapi masih dengan nada yang rendah.
Sesaat keadaan hening hanya terdengar angin sepoi-sepoi.
"Tadi Daddy sama Mommy kembali menelepon, mereka sangat mengharapkan kepulangan kalian. Tetapi aku tidak bisa memaksa dirimu untuk tetap ikut pulang, tetapi aku akan tetap membawa ketiga anak kita ikut bersamaku," ujar Filio sembari bangkit dan melangkah masuk kedalam rumah. Ia tidak ingin mendengar apa jawaban Asilla karena itu hanya akan menambah sesak di dada.
Mata Asilla membulat mendengar apa yang dikatakan Filio sehingga membuat Asilla kaget. Mana mungkin ia bisa berpisah dengan ketiga anaknya lagi. Dengan bergegas Asilla mengejar Filio masuk kedalam rumah.
"Tunggu, tunggu." Panggil Asilla. Tetapi tidak di gubris oleh Filio.
Asilla akhirnya jengah lalu ia terpaksa menarik lengan Filio sehingga membuat Filio berhenti.
"Apa kamu tidak dengar?" kata Asilla.
"Memangnya kamu memanggil siapa? apakah disini ada yang namanya tunggu?" tanya balik Filio dengan senyuman smirk.
"Maksud kamu manggil diriku?" jebak Filio.
Asilla mengangguk dengan wajah tertunduk.
"Aku tidak mau dipanggil dengan sebutan tunggu. Panggil saja seperti Papa triplets, sayang dan sebagainya," ujar Filio ingin menggoda Asilla.
Mata Asilla melotot mendengar apa yang Filio katakan.
"Jangan sesuka hatimu untuk membawa anak-anakku, bagaimana bisa aku hidup tanpa mereka. Kamu jangan egois," kata Asilla dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak egois tetapi hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku juga berhak atas mereka," jawab Filio.
"Sekarang baru kamu mengatakan ada hak untuk mereka. Selama 9 bulan aku mengandung seorang diri, sampai lahir ke dunia hanya aku seorang diri membesarkan atau merawat mereka tetapi sekarang kamu ingin mengambil mereka dari hudupku? kamu sangat egois hik hiks...." Ungkap Asilla sembari terisak.
Perkataan Asilla menghunus bagi Filio. Apa yang dikatakan Asilla adalah benar.
__ADS_1
"Aku tidak pernah ingin memisahkan kalian tetapi karena kamu kekeh tidak ingin ikut terpaksa aku melakukan itu. Tolong mengertilah demi ketiga anak kita, sudah cukup mereka merasakan tanpa sesosok Ayah dan Ibu selama ini. Demi kalian kita sebagai orang tua tidak boleh egois," terang Filio. "Aku tau kamu sangat membenci diriku dan kesalahan yang telah aku perbuat tidaklah mudah kamu maafkan tetapi aku sungguh-sungguh untuk memulai dari awal," sambungnya.
Asilla tak bergeming.
"Sila beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan mulai dari awal lagi," ungkap Filio serius sembari menatap inten kepada Asilla. "Beri aku kesempatan sekali lagi Asilla," ungkapnya kembali dengan wajah sendu memohon kepada Asilla.
Asilla tidak ingin larut dan akhirnya pergi begitu saja meninggalkan Filio tanpa sepatah kata. Filio tersenyum miris melihat kegigihan Asilla. Sehingga membuatnya kembali menghabiskan malam berdiam diri di depan rumah.
...******...
Keesokan harinya
Di meja makan telah diduduki oleh ketiga bocah mengemaskan. Sedangkan Asilla menghidangkan sarapan menaranya di atas meja makan. Ketiganya sangat ceria.
"Mama, Papa mana?" tanya Moses karena pagi ini tidak melihat sosok Filio.
Asilla terdiam karena ia sendiri juga belum melihat batang hidung Filio di pagi ini. Padahal biasanya ia bangun terlebih dahulu dibandingkan mereka.
"Iya Mama biasanya Papa akan lebih duluan menunggu kita di meja makan," timpal Isabella.
"Apa Papa telah pergi meninggalkan kita?" kata si sulung Gabriella.
Mendengar dugaan Gabriella membuat Moses, Isabella serta Asilla saling memandang.
"Tidak mungkin, bukankah Papa sudah berjanji besok akan membawa kita kembali ke Indonesia," rengek Isabella ingin menangis.
"Iya tidak mungkin Papa pergi tanpa memberitahu kita, apa lagi untuk meninggalkan kita. Papa sangat menyayangi kita," kata Moses kembali.
"Mama katakan sesuatu. Mama pasti tau dimana keberadaan Papa," kata Gabriella.
Asilla terdiam karena ia juga tidak tau dimana keberadaan Filio.
"Moses akan mencari Papa di kamar," setelah mengatakan itu Moses langsung berlari menuju kamar yang ditempati sang Papa.
Gabriella maupun Isabella juga mencari dipenjuru rumah sehingga membuat sarapan yang tertata rapi di atas meja makan belum tersentuh.
Asilla membeku melihat inisiatif ketiga buah hatinya. Ternyata sesosok Filio sangat berpengaruh besar terhadap mereka. Padahal kedua putrinya baru beberapa hari saja dekat dengan sesosok Filio yang tak lain Papa dari mereka.
__ADS_1
"Apa pendirianku ini dikatakan egois?" gumam Asilla dengan pandangan tanpa tujuan. "Ini bukan salahku bila sangat sulit menerima semua ini," liriknya kembali dengan menghela nafas. Sungguh Asilla bingung dan tidak tau tindakan apa yang ia ambil. Tetapi kebahagiaan triplets yang lebih terpenting.
...******...