
Kebahagiaan Filio dan Asilla semakin sempurna. Asilla kini telah dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayanginya. Kasih sayang yang tak pernah ia dapat dimasa lalu kini terbayar sudah. Sungguh kebahagiaan datang bertubi.
Sudah tiga malam Veronika meminjam Asilla kepada Filio untuk tidur bersama putri kesayangannya. Mau tidak mau Filio pasrah, padahal adik kecilnya selama tiga malam kedinginan setiap malam. Ya untuk saat ini kebersamaan mereka berkurang. Veronica mengerti tetapi bolehlah untuk beberapa hari ia egois. Bayangkan puluhan tahun ia dipisahkan daril darah dagingnya, Ibu mana yang tidak rindu.
Di meja makan
Seperti biasa mereka menikmati sarapan pagi. Ya kedua orang tua Asilla menginap di Mansion.
"Sayang sepertinya hari ini Mami sama Papi kembali pulang ke rumah," kata Veronica.
"Kenapa buru-buru Mi?" tanya Asilla langsung menghentikan kunyahan.
"Maunya Mami sih lama-lama tetapi tiba-tiba ada kepentingan Papi yang mendadak," terang Veronica dengan wajah sedih.
"Bagaimana jika Papi saja yang pulang duluan," anjuran Asilla karena jujur saja ia ingin berlama-lama.
"Tidak bisa Nak. Hmmm Mami akan pergi kemanapun Papi pergi," potong Hardynata.
"Iya sayang, Papi tidak akan tenang jika Mami tidak berada di sampingnya," timpal Veronica seakan tau kebiasaan yang terjadi.
"Tapi Mami tinggal sama Sila, jadi tidak perlu khawatir," kekeh Asilla.
"Begini saja, bulan depan kalian berkunjung ke rumah Papi sama Mami, bawa cucu-cucu kesayangan kami," sambung Hardynata.
"Baiklah jika itu yang terbaik," jawab Asilla pada akhirnya.
"Hmmm Iyo salut dengan Papi," ujar Filio sembari tersenyum.
"Kamu pasti akan merasakannya Nak. Wanita sangat berperan mendampingi kita ke mana saja, maksudnya pasangan kita," ungkap Hardynata.
Filio mengangguk setuju.
"Sebelumnya Iyo minta maaf, atas kesalahan yang pernah Iyo lakukan kepada putri Papi sama Mami," lirih Filio dengan dada sesak jika mengingat hal itu.
Hardynata maupun Veronica terdiam sembari memandangi Asilla yang hanya tertunduk.
"Setiap manusia tidak luput dari kesalahan yang berbeda-beda, tetapi seperti yang putri Papi katakan. Yang lalu biarkan berlalu dan jangan melihat ke belakang lagi. Hmmm semua adalah pembelajaran untuk lebih baik lagi," ujar Hardynata dengan bijak.
"Sayang karena kesalahan kami kamu banyak menderita selama ini," lirih Veronica dengan mata berkaca-kaca.
Asilla menghela nafas panjang.
"Sila tidak ingin mendengar kata maaf dan maaf. Sudah Sila tekankan yang lalu biarkan berlalu. Sekarang Sila menemukan kebahagiaan yang luar biasa yang sebelumnya tidak pernah Sila dapatkan. Sila bahagia memiliki suami yang sangat mencintai dan memperlakukan Sila dengan istimewa, begitu juga dengan kedua mertua Sila. Papa sama Mama dan Kak Sinta pada awalnya membenci Sila kini mereka menyadari atas keliruan selama itu, dan terakhir Sila masih diberi kesempatan bertemu dengan kedua orang tua kandung Sila, yaitu Papi sama Mami." Ungkap Asilla panjang lebar.
Mendengar ungkapan hati Asilla tentu saja membuat mereka terenyuh.
__ADS_1
"Sayang kamu tumbuh menjadi wanita yang baik dan berhati mulia," lirih Veronika yang sudah tidak sanggup menahan tangisnya, bahkan ia memeluk erat putri tunggal mereka.
Asilla tersenyum.
Siang menjelang dan waktunya kedua orang tua Asilla pulang ke kota x, ya mereka menetap di sana. Melepas kepergian kedua orang tuanya tentu saja membuat Asilla sedih tetapi ia tidak bisa egois.
Kini mereka masuk kembali ke dalam Mansion setelah mengantar Veronika dan Hardynata.
"Sayang benar ya awal bulan kita mengunjungi Papi sama Mami?" lirih Asilla dengan raut wajah sedih akibat ditinggal.
"Tentu sayang," jawab Filio yang saat ini merengkuh pinggang ramping itu.
Filio langsung membawa Asilla kedalam kamar. Tentu saja tidak ada yang menganggu mereka. Triplets belum pulang sekolah karena mereka ada tambahan kegiatan, sedangkan Zeze masih setia beristirahat di kamarnya. Dan hanya ada pelayan yang sibuk dengan tugas masing-masing.
Di balkon Filio dan Asilla sedang menikmati minuman segar serta ditemani cake buatan Veronika sebelum beranjak pulang.
"Ada apa?" tanya Asilla kepada Filio yang saat ini terus saja menatapnya.
Filio memejamkan mata sesaat, lalu menghela nafas.
"Sayang," ia menangkup wajah Asilla dengan pandangan sendu.
Karena tak sanggup berkata-kata, Filio langsung memeluk Asilla dengan sangat eratnya. Asilla mengerutkan dahi melihat apa yang dilakukan Filio.
Hmmm
"Ada apa?" kembali Asilla bertanya.
Merasa cukup Filio melepaskan pelukan ternyaman itu, lalu menggenggam tangan Asilla.
"Dunia ternyata sangat sempit. Tanpa kita duga orang terdekat kita di masa lalu yang menghilang tenyata tanpa kita sadari berada di sekitar kita,"
Asilla mengangguk.
"Apa kamu mengingat sewaktu kita masih kecil?" tanya Asilla dari kemarin-kemarin cukup penasaran tetapi tidak ada waktu untuk mengobrol lebih dalam. Sedangkan ia tidak ingat sama sekali.
"Tidak semuanya tetapi sekilas saja karena usia kita beda beberapa hari saja," jawab Filio.
Filio meraih album foto masa kecilnya bersama Asilla, Fiona, Dirly.
"Di sini foto masa kecil kita dengan bermacam gaya," Filio membuka lembaran album dan menunjukan kepada Asilla. "Lihat sayang wajahmu ini sangat mirip dengan kedua putri kita," tunjuk Filio.
"Aku sangat manis ya sayang hmmm,"
"Iya istriku sejak kecil memang sangat cantik," jawab Filio sembari mencium sekilas bibir Asilla.
__ADS_1
Asilla melihat semua foto itu dengan mata berkaca-kaca. Dimana foto dirinya dan Filio yang paling banyak dengan bermacam gaya. Bahkan ada satu foto Filio mencubit kedua pipinya dengan gemas.
Asilla menutup album itu lalu meletakkannya di atas meja. Lalu menoleh menatap Filio yang juga menatapnya.
"Hmmm kenapa pada saat itu kamu sangat membenciku sayang? bahkan mempermainkan pernikahan demi untuk menghancurkan hidupku?" tanya Asilla dengan senyuman sumbang.
Deg
Atas pertanyaan itu tentu saja membuat Filio membeku. Pertanyaan itu berhasil membuat dadanya seperti terbentur benda tumpul.
"Mungkin itu jalan dari Tuhan untuk mengikat kita sayang," jawab Filio dengan bijak. "Tanpa kita sadari takdir mempertemukan kita, walaupun jalannya penuh dengan kerikil serta duri untuk kita lalui. Karena takdir, dan akhirnya sekarang kita mendapat hadiah yaitu kebahagiaan bertubi," sambungnya dengan mengembangkan senyuman sembari mengusap kepala Asilla penuh cinta.
Asilla tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Hmmm hanya kamu wanita yang menolak cintaku. Apa yang membuatmu sedikitpun tak tertarik? bahkan tak punya perasaan apapun terhadap diriku sayang?" tanya Filio ingin tau sekelasnya padahal ia sudah tau apa alasan dibalik semua itu karena Asilla cinta mati kepada kekasihnya. Menanyakan soal itu tentu saja hatinya seperti di iris-iris.
Asilla terperangah mendengar pertanyaan itu, dan ia tidak ingin membuat suaminya itu tersinggung.
"Tertarik? tentu saja aku memiliki ketertarikan seperti wanita-wanita yang kamu sebut, dengan wajah tampan yang kamu miliki. Perasaan? ya aku jujur memang tak memiliki perasaan apapun karena semua itu adalah sandiwara kita," jawab Asilla.
Mendengar jawaban Asilla di poin pertama tentu saja Filio sangat senang dan bahkan berbunga-bunga. Tetapi poin kedua ia tidak puas dengan jawaban itu.
"Itu karena kamu cinta mati dengannya!" Tegas Filio, lalu membalikan tubuh membelakangi Asilla.
Asilla menghela nafas panjang, dengan menggelengkan kepala. Lalu memeluknya dari belakang.
"Cinta mati itu sudah terkubur dalam-dalam. Cinta sehidup semati adalah bersamamu sayang," ungkap Asilla. "Kamu milikiku, aku milikmu seutuhnya!"
Filio langsung mlahap bwbir tipis itu dengan lembut sehingga Asilla mnikmati dan membalas tak kalah lembutnya.
Asilla mengeram akibat ldahhnakal itu yang menyapu di lherr jenjangnya. Bukan hanya itu jari-jemari jail itu juga mengobrak-abrik harta benda kepunyaannya sehingga membuat sang pemilik tak berdaya, hanya pasrah dengan mata terpejam disertai kicauan aneh tetapi terdengar merdu.
"Saatnya adik kecilmu makan setelah tiga hari puasa," bisik Filio sehingga membuat Asilla ngeri karena membayangkan kebuasan Filio dalam urusan ranjang.
Pemanasan luar biasa sehingga berkali-kali membuat pertahanan Asilla runtuh. Tentu saja hal itu membuat Filio bersorak sorai dalam hati karena ia lihai memuaskan pasangannya. Ya Asilla akui kehebatan sang CEO di atas ranjang, wanita mana yang tak menginginkan memiliki pasangan yang bisa memuaskan dalam hal apapun, dan ia mendapatkan semua itu dari Filio.
Siang itu mereka habiskan dengan lenguhan, teriakan halus dan kicauan-kicauan menggetarkan.
Larva panas itu berkali-kali meledak didalam liang kepemilikan Asilla dan kemungkinan sudah mulai berkembang biak seperti yang mereka inginkan. Jika itu masih diberi kesempatan untuk memiliki momongan, tetapi jika berkehendak lain kita mau bilang apa karena semuanya sudah rencana Sang Pencipta.
Bayi besar Sila lagi ngambek karena cemburuš¤£
...******...
__ADS_1