
Setelah pergi meninggalkan cafe Asilla tidak langsung pulang ke rumah. Ia tidak ingin orang-orang melihatnya terpuruk. Bagaimana pula ia akan segera pulang sedangkan kedua matanya sembap akibat menangis terlalu lama. Asilla menenangkan dirinya di butik.
Tiba di rumah Filio langsung bergegas menuju kamar. Ia ingin menenangkan dirinya. Bayangan Asilla dengan pria tadi terlintas terus-menerus.
Tidak ingin berlarut ia segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak butuh waktu lama ia menyudahi acara mandinya dan segera berpakaian.
"Sudah jam 6," gumam Filio sembari melirik jam dinding.
Ia langsung turun menuju dapur. Ia tau bahwa Asilla belum juga pulang.
Hmmm
"Tuan!" sapa Riri.
Ternyata Riri sedang menyiapkan makan malam.
"Apa Nona belum pulang?" tanya Filio padahal ia tau apa jawaban itu.
"Belum Tuan. Makanya saya di beritahu Nona untuk menyiapkan makan," ungkap Riri seperti yang dikatakan Asilla.
"Hmmm apakah pekerjaan Nona banyak?" Filio ingin tau sebenarnya saat ini Asilla berada dimana.
"Iya Tuan. Nona akan pulang agak malam," terang Riri.
Mendengar apa yang dikatakan Riri membuat Filio tersenyum miris. Seketika bayangan itu kembali terlintas, dimana Asilla dalam pelukan pria lain yang dapat diyakini jika pria itu adalah kekasih Asilla. Pria yang sangat di cintai sehingga tidak ada ruang sedikitpun di hatinya untuk dirinya.
Hmmm
"Jika sudah siap segera panggil anak-anak agar segera makan malam. Aku akan menunggu di meja makan," ujar Filio . Lalu beranjak menuju meja makan tanpa mendengar jawaban Riri.
Riri kembali melanjutkan masakan yang belum selesai. Sedangkan Filio terdiam sembari merenungkan tindakan yang akan ia ambil.
"Papa," panggil Isabella.
Mendengar panggilan dari Isabella membuat lamunan Filio tersadar.
"Sayang," seru Filio sembari tersenyum.
Isabella langsung mendudukkan dirinya di samping sang Papa.
Cup
Kecupan melayang di pipi Filio seperti biasanya.
Cup
Kecupan melayang di kening Isabella.
"Kakak serta Adikmu mana sayang?"
"Masih di kamar Papa. Hmmm Mama belum pulang?"
"Belum, Mama masih banyak pekerjaan jadi kita makan malam terlebih dahulu," jawab Filio.
"Papa," seru Gabriella dan Moses bersamaan.
"Sayang," balas Filio tetap dengan senyuman.
Gabriella maupun Moses langsung menduduki kursi yang biasa mereka tempati. Tidak lama Isabella juga beranjak pindah duduk bergabung dengan kedua saudaranya.
"Apakah Mama belum juga pulang?" cicit Moses.
"Belum Dek, Mama masih banyak pekerjaan." Kata Isabella yang memberitahukan.
"Mama," protes Moses tidak senang.
"Sepertinya ini bukan masakan Papa," timpal Gabriella.
"Iya sayang ini yang siapkan makan malam adalah Aunty Riri. Papa minta maaf karena tidak sempat tadi," terang Filio. Bukannya karena tidak sempat tetapi ia tidak mood untuk melakukan itu karena dalam benaknya selalu terlintas sosok Asilla.
"Oh," seru ketiganya ber oh ria.
"Mama sedang bahagia di luar sana sayang," batin Filio dengan dada sesaknya.
__ADS_1
Mereka menikmati sajian itu sembari mengobrol. Filio memandangi mereka satu-persatu dengan tatapan sendu. Bagaimana bisa ia meninggalkan harta yang sangat berharga di hadapannya saat ini.
"Sayang untuk malam ini kalian bertiga tidur di kamar Papa,"
Gabriella, Isabella maupun Moses menghentikan suapan mereka lalu saling memandang satu sama lainnya. Apa yang dikatakan sang Papa berhasil membuat mereka bertanya-tanya karena momen seperti ini sangatlah jarang terjadi.
"Kenapa?" ujar Filio karena melihat ketiganya bingung.
"Hore!" Seru mereka merasa senang.
Bibir itu tersenyum tetapi hatinya seperti di sayat sembilu.
Setelah makan malam mereka langsung beranjak ke kamar milik sang Papa. Filio sengaja langsung membawa mereka karena ia ingin menghabiskan malam ini untuk bercanda gurau.
"Papa tidur di tengah," cicit Isabella.
"Pokoknya Moses di samping Papa," timpal Moses tak kalah.
"Abel juga dekat Papa," sambung Isabella.
Filio sedikit bingung dan berpikir. Tak lama ia melirik Gabriella yang hanya terdiam.
"Biar Gaby di pinggir saja Papa. Dek Abel sama Dek Moses di samping Papa," kata Gabriella mengalah karena ia sadar posisinya di sini. Sebagai anak tertua ia akan mengalah kepada sang Adik.
"Anak pintar," kagum Filio dengan kepribadian Gabriella sembari mengusap pucuk kepalanya.
"Jadi kami tidak pintar dong," celoteh Isabella dengan mulut mengerucut.
"Siapa bilang? anak-anak Papa adalah anak yang pintar, cerdas, tampan, cantik dan sangat hebat." Ungkap Filio dengan mata berkaca-kaca.
"Papa menangis?" ternyata Gabriella menyadari perubahan di wajah dan kedua mata sang Papa.
"Tidak sayang ini hanya kelilip," balas Filio sembari mengusap kedua matanya.
"Ayo kita bobo," ajak Isabella langsung beranjak mencari posisi. Dan disusul oleh Gabriella dan Moses. Filio hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku ketiga buah hatinya.
Ia beranjak menghampiri nakas untuk meraih ponselnya. Momen berharga ini akan ia abadikan dengan ponsel pintarnya.
Filio mulai memvideokan dan menyoroti mereka satu-persatu.
"Malam guys saya Isabella Januar adalah saudara kembar dari Kak Gaby. Saya putri kedua Tuan Filio Januar dan Nyonya Asilla Januar. Oya kata Papa saya itu anak manja dan tidak bisa diam tetapi Papa bilang menyukai hal itu. Papa Abel sangat sayang kepada Papa, jadi tetaplah menjadi Papa kami."
Cup
Ciuman dilayangkan Isabella di kening Filio cukup lama. Tentu saja perlakuan istimewa Isabella membuat Filio tak menyangka. Belum lagi dengan yang Isabella katakan. Perkataan lembut dari Isabella menyentuh hatinya dan berhasil membuatnya meneteskan air mata.
"Oya guys kami memiliki seorang Adik yang sangat tampan,"
Kini giliran Moses yang di sorot.
"Saya adalah putra penerus dari keluarga Januar. Terima kasih Papa Filio Ar Januar dan Mama Asilla telah melahirkan Moses ke dunia ini. Moses berjanji akan menjadi pribadi yang bisa di contohi oleh kedua Kakak kembar Moses dan menjaga Papa sama Mama di masa tua seperti Opa dan Oma menjaga Papa."
"Papa menyayangi kalian lebih dari nyawa Papa."
Sesaat Filio memejamkan mata. Setelah mengakhiri video tersebut. Sungguh ungkapan dari ketiga buah hatinya membuatnya tersentuh dan terharu. Ia tidak pernah menyangka apa isi hati putra-putrinya.
Di belah pintu seseorang memperhatikan apa yang terjadi didalam kamar itu. Tanpa sadar ia meneteskan air mata merasa tersentuh dengan ketiga buah hatinya.
Tidak menunggu waktu lama ternyata ketiga bocah pintar itu sudah terlelap. Filio beranjak bangkit ia ingin berdiam sendiri di meja makan.
Ia turun langsung menuju dapur. Di sana ia merenung sendiri di meja makan. Ia tidak tau jika Asilla sudah pulang.
Hmmm
Deheman itu membuat Filio menegakkan tubuhnya. Sesaat ia menatap Asilla dengan sorot mata sendu. Wanita yang kini berdiri di hadapannya adalah wanita milik orang lain, dimana milik pria yang sangat dicintainya.
"Maaf aku pulang kemalaman," lirih Asilla dengan wajah menunduk.
Filio tidak menjawab apapun, ia seperti tidak mengharapkan kehadiran Asilla.
Asilla beranjak membuka lemari es. Ia merasa kerongkongannya kering makanya ia memutuskan ke dapur. Rupanya tak di duga Filio juga sedang berada di area dapur.
Asilla membuat teh hangat. Tidak lama ia kembali ke meja makan.
__ADS_1
"Minumlah," kata Asilla sembari meletakan teh hangat di depan Filio. Tentu saja hal itu membuat Filio kaget karena tak menyangka jika dirinya di suguhkan dengan segelas teh hangat
Keadaan kembali hening.
"Hmmm apa kamu sudah makan malam?"
"Sudah tadi di butik. Maaf tidak bisa makan malam bersama-sama," ungkap Asilla dengan tidak enak hati.
Mendengar jawaban Asilla membuat Filio tersenyum miris.
"Tentu saja kamu sudah makan. Makan malam bersama orang yang kamu cintai," batin Filio dengan dada sangat sesak.
Hmmm
"Anak-anak malam ini tidur di kamarku. Aku sendiri yang mengajak mereka. Hmmm segeralah beristirahat, aku duluan." Ujar Filio tanpa berniat mencicipi teh hangat buatan Asilla. Sungguh hatinya sakit membayangkan apa yang ia lihat tadi.
Filio berlalu tanpa ingin mendengar jawaban Asilla. Dengan sikap yang tidak biasa Filio tentu saja membuat Asilla bingung. Seketika sorot matanya menatap cangkir yang masih penuh berisi teh hangat, minuman yang sama sekali belum di jamah oleh Filio.
"Apakah dia sedang marah?" gumam Asilla meyakini jika Filio sedang marah kepada dirinya.
Dengan bergegas Asilla beranjak lalu berlari mengejar Filio.
"Papa triplets tunggu," panggil Asilla.
Langkah Filio terhenti karena mendengar seruan Asilla. Lalu ia menoleh sehingga menghadap Asilla.
"Ada apa?"
"Apa kamu marah?" tanya Asilla memberanikan diri.
Kening Filio mengerut mendengar pertanyaan Asilla. Karena Filio tak kunjung jawab Asilla langsung menundukkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Atas dasar apa aku merasa marah?" ujar Filio pada akhirnya.
Asilla menadahkan wajahnya sehingga tatapan mereka bertemu.
"Hmmm besok aku akan keluar kota untuk waktu cukup lama. Aku titip anak-anak,"
Mata Asilla melebar.
"Lama?" gumam Asilla.
"Sudahlah sebaiknya kamu segera istirahat,"
Setelah mengatakan itu Filio mengusap pucuk kepala Asilla penuh rasa sayang disertai senyuman. Asilla bungkam tak menyangka perlakuan dadi Filio malam ini.
"Selalu jaga kesehatan kamu dan anak-anak. Jangan terlalu lelah dan memikirkan pekerjaan," nasehat yang diberikan Filio.
Setelah mengatakan itu ia langsung bergegas masuk kedalam kamar dengan perasaan yang sulit di jabarkan. Asilla tak bergeming ia hanya bisa memandangi punggung kekar itu sampai menghilang.
Seutas senyuman menyungging di bibir Asilla. Ia sembari mengusap dadanya berkali-kali. Kali ini ia dapat merasakan jantungnya berdebar-debar. Sesaat ia menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan bermaksud mengatur kembali detak jantung yang mungkin bermasalah bagi Asilla.
...******...
Sebelum matahari terbit Filio sudah bersiap untuk meninggalkan rumah. Ia sengaja pergi sebelum ketiga buah hatinya terbangun serta semua penghuni rumah termasuk Asilla.
Ia masuk ke ruang kerja lalu membuka laci dan meraih sebuah map. Matanya sendu menatap map berwarna coklat itu.
Tidak ingin berlama-lama ia segera memasukan map itu kedalam koper yang berisi beberapa potongan pakaian. Sesaat sorot matanya berlabuh di atas meja kerja berlapis kaca.
"Senyuman kedua putriku mengingatkanku pada dirimu. Semoga kamu baik-baik saja, kasian Tante sampai saat ini selalu mencari keberadaanmu."
Setelah mengusap wajah seseorang dalam foto yang di letakan di lapisan meja kaca Filio kembali menutupnya dengan peta bola dunia. Lalu segera keluar. Sesaat ia terhenti sejenak di depan pintu kamar Asilla yang ternyata penghuni kamar itu masih terlelap dalam tidur. Sorot mata sendunya mengisyaratkan isi hatinya.
Dengan berat hati dan langkah berat Filio keluar meninggalkan rumah itu.
"Papa minta maaf Gaby, Abel, Moses."
Didalam mobil sesaat ia kembali menerawang pandangannya di rumah itu.
"Mungkin ini lebih baik!"
__ADS_1
...******...