
1 hari 2 hari sudah kepergian Filio. Selama itu pula tidak ada kabar darinya. Hal itu membuat Asilla sangat menderita, belum lagi anak-anak menanyakan Papa mereka. Seperti malam ini seperti biasanya triplets ngambek karena ponsel Filio tidak bisa dihubungi.
"Mama kapan Papa pulang?" tanya Isabella terus-menerus menanyakan kepulangan Filio.
"Papa bilang kali ini ke luar kota cukup lama sayang," jelas Asilla.
"Tetapi kenapa tidak bisa di telepon Mama?" timpal Gabriella.
"Mungkin Papa lagi sibuk sayang sehingga tidak ingin diganggu,"
"Coba Mama telepon Uncle Gio," sambung Moses.
Apa yang dikatakan Moses ada benarnya. Kenapa dari kemarin-kemarin ia tidak berpikir begitu, bisa jadi asisten suaminya itu ikut serta.
"Sebentar Mama akan coba hubungi Uncle Gio," Asilla meraih ponsel di atas meja makan dan segera menghubungi Gio.
Seketika membuat Asilla menghela nafas ternyata ponsel Gio juga tidak dapat di hubungi.
"Sayang nomor Uncle Gio juga tidak bisa dihubungi, berarti Papa sama Uncle Gio lagi sibuk." Terang Asilla.
Seketika wajah triplets menjadi kembali murung.
"Sayang segera bersiap-siap nanti kalian terlambat. Mama janji sepulang dari sekolah kita akan ke Mansion Opa dan Oma," bujuk Asilla.
"Benar Mama?" cicit Isabella bersemangat.
Asilla mengangguk.
"Hore!" Seru mereka dengan raut wajah ceria.
Melihat keceriaan triplets membuat Asilla tersenyum.
Selepas kepergian ketiga buah hatinya Asilla berdiam diri di taman belakang. Ia memutuskan hari ini tidak ke butik karena sesuai dengan janjinya ia akan membawa triplets ke Mansion mertuanya. Asilla ingin menceritakan atau mengungkapkan isi hatinya sekarang.
"Ya ampun kenapa wajahnya selalu terbayang-bayang. Hmmm apa aku sudah gila?" gumam Asilla kepada dirinya sendiri.
Sejak kepergian Filio selama 2 hari, selama itu juga bayangan wajah tampan Filio menari-nari di matanya.
"Segeralah pulang kalian anak-anak selalu mencari, semoga kamu baik-baik saja di sana." Asilla kembali lagi bergumam.
Ia baru menyadari kebahagiaan anak-anak adalah nomor satu, selama ini ia egois memikirkan dirinya sendiri. Ternyata kebahagian anak-anak adalah ketika mereka berada di samping kedua orang tua mereka. Ia baru menyadari triplets membutuhkan seorang Papa, dengan tindakan yang ia ambil membuat Asilla sesak dan merasakan hal yang beda.
"Apakah masih ada harapan? apakah aku belum terlambat? sungguh aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
Setelah bergumam Asilla menutup wajahnya merasa malu sendiri.
...******...
"Sayang pikirkan lagi,"
__ADS_1
Filio menghela nafas lalu beranjak dari tempatnya mendudukkan dirinya di samping Lyodra. Ia raih punggung tangan Lyodra sembari mengusap dengan lembut. Awalnya ia hanya menginap 1 hari tetapi ia mengundurkan waktu 1 hari lagi sehingga hari ini ia memutuskan untuk pergi dan mengakhiri semuanya.
"Mom jujur saja hati Iyo sangat berat untuk mengambil keputusan ini tetapi kembali lagi inilah yang terbaik," ujar Filio sembari mengusap punggung tangan Lyodra dengan tatapan sendu.
"Sayang Mommy tidak bisa memaksa lagi," lirih Lyodra dengan dada sesak sehingga tidak mampu menatap Filio.
Keadaan hening. Tidak lama Filio menghela nafas dengan menegakkan tubuhnya.
"Daddy dimana Mom?" tanya Filio karena sejak tadi pria paruh baya itu belum ia jumpai.
"Daddy ada di ruang kerja sayang,"
Hmmm
Tiba-tiba Farres menghampiri istri serta putra semata wayangnya yang sedang mengobrol di ruang keluarga.
"Daddy panjang umur deh," kata Lyodra disertai senyuman melihat kedatangan Farres.
"Hmmm lagi membicarakan Daddy," ujar Farres sembari mendudukkan dirinya di samping Lyodra.
"Putra kita yang menanyakan Daddy," pungkas Lyodra.
Seketika Farres beralih memandangi Filio yang sedang terpaku terdiam dengan pikiran. Dari sorot tatapan Filio ia dapat menyimpulkan jika pria itu sedang tidak baik-baik saja.
Hmmm
Filio tersadar karena disadarkan oleh Lyodra.
"Sayang Daddy bertanya," kata Lyodra.
"Iya Dad, hari ini juga Iyo akan pergi sejauh mungkin." Jawa Filio berusaha tegar.
Filio meraih map coklat di bawah meja sofa lalu meletakkannya di atas meja. Sorot matanya tidak lepas dari map coklat tersebut. Dengan tangan bergetar ia mengambil sesuatu yang ada didalam map tersebut. Kini selembar berkas sudah berada di genggamannya.
"Sayang," lirih Lyodra dengan berbisik kepada Farres.
Farres menggelengkan kepala sembari mengusap laut punggung tangan Lyodra. Ia memberi kode itu agar Lyodra tidak ikut campur, ia ingin melihat keseriusan kata-kata dari Filio.
"Iyo minta maaf Daddy, Mommy." Ujar Filio berusaha tenang.
Ia letakan berkas itu di atas meja lalu meraih pulpen. Sesaat ia terdiam dengan tatapan berpusat di berkas itu dengan tatapan nanar.
Dengan jari-jari bergetar akhirnya ia berhasil membubuhkan tinta hitam itu tepat di atas namanya. Tanpa sadar ia meneteskan air mata sehingga tetesan itu membasahi tanda tangan Asilla.
"Ini yang terbaik," batin Filio dengan mata terpejam.
Lyodra sejak tadi menggelengkan kepala disertai mata berkaca-kaca. Melihat semuanya selesai seketika dada Lyodra seperti di ikat oleh tali sehingga sulit untuknya bernafas seperti biasanya.
Setelah berkas itu dimasukkan kembali Filio menyerahkan kepada Lyodra.
__ADS_1
"Mom Iyo titip ini. Sampaikan kepada dia bahwa aku sudah menandatangani surat cerai itu. Secepat mungkin pengacara Iyo yang mengurusnya. Sesuai keputusan Iyo semua aset kepemilikan pribadi Iyo sekarang sudah milik Sila," terang Filio dengan tatapan sendu. Sungguh kata cerai yang keluar dari mulutnya seperti Duri yang menusuk baginya mengeluarkan kata itu.
Tentu saja keputusan Filio membuat kedua orang tuanya kaget sehingga membuat mereka saling memandangi tidak percaya.
"Kamu akan pergi ke mana sayang?" tanya Lyodra sudah terisak ikut merasakan apa yang sedang putranya rasakan. Ibu mana yang tega melihat ketika anak-anaknya terpuruk.
Filio tak menjawab tetapi dibalas dengan senyuman sehingga membuat Farres maupun Lyodra menghela nafas.
"Daddy sama Mommy tidak perlu khawatir. Iyo titip Gaby, Abel, Moses."
Setelah mengatakan itu Filio beranjak dari tempat duduknya, lalu mendekati kedua orang tuanya. Ia peluk Farres dan beralih kepada Lyodra.
"Sayang hiks hiks," tangis Lyodra menangisi kepergian Filio.
Seolah tidak ingin melihat wajah sedih sang Mommy, maka Filio mengurungkan niatnya membalikan tubuh.
Di teras rumah ia sedang berpapasan dengan Fiona dan Fredella.
"Kakak," seru Fiona dengan pandangan cemas.
"Kakak akan pergi sekarang?" timpal Fredella karena melihat sebuah koper di tangan Filio.
Hmmm
"Kakak akan pergi. Titip Daddy, Mommy dan ketiga keponakan kalian." Pesan Filio dan langsung melanjutkan langkahnya.
"Kakak," seru mereka berdua ingin mencegah tetapi tiba-tiba kedua orang tua mereka menggelengkan kepala agar mereka tidak meneruskan.
Filio masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh supir pribadi sang Daddy. Mobil itu akan membawanya ke bandara.
Sedangkan keluarga yang di tinggalkan masing-masing sedih dan terenyuh.
"Kakak akan pergi kemana Mom?" tanya Fiona.
"Entahlah sayang, Kakak kalian tidak ingin memberitahu kemana ia akan pergi," jelas Lyodra dengan mata berkaca-kaca sembari memandangi mobil yang mulai menghilang dari pandangannya.
"Kasian Kakak," pungkas Fredella ikut merasakan kesedihan.
"Sayang lakukan sesuatu," lirih Lyodra kepada Farres.
"Kita tidak bisa menghentikannya sayang. Hanya ada satu cara," ujar Farres sembari mengusap punggung Lyodra dengan lembut memberikan kekuatan.
"Apa sayang?"
"Apa Daddy?"
"Temui Sila!"
...******...
__ADS_1