Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 73. Masa Lalu Asilla 2


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu tidak terasa sudah semester 1 Asilla mengenyam bangku sekolah tingkat pertama. Ia dikenal dengan murid cerdas dan teladan. Buktinya ia menyandang juara umum di sekolah itu. Sebagai seorang Kakak tentu saja Asinta senang seperti Kakak-kakak pada umumnya.


Setelah makan malam seperti biasanya Asilla dan Asinta bercakap-cakap terlebih dahulu sebelum pergi ke kamar masing-masing, apa lagi ini adalah malam minggu jadi mereka sedikit terlambat tidur.


"Dek besok adalah ulang tahun teman sekelas Kakak, dia mengundang kita," kata Asinta.


"Tetapi Sila tidak mengenal teman Kakak," kata Asilla.


"Tentu saja kamu mengenalinya sayang, dia ketua OSIS, cowok idola sekolah." Ungkap Asinta disertai senyuman sembari membayangkan pria yang tengah dikaguminya.


Asilla langsung menatap intens Asinta karena ia sedikit aneh melihat Kakak yang sangat disayanginya senyam-senyum sendiri.


"Oh.Hmmm Kakak suka ya?" tebak Asilla.


Hmmm


Asinta langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan karena merasa malu.


"Ingat Kak masih kecil," ingat Asilla.


"Kita sudah SMP Dek," protes Asinta.


Asilla menggelengkan kepala melihat Asinta mengerucutkan bibirnya pertanda ia sedang kesal dengan gurauan Asilla.


"Sepertinya Sila tidak bisa ikut Kak, pasti tidak dibolehkan Ma-----,"


"Mama? kamu tenang saja ada Kakak yang sihir Nek Lampir itu,"


"Kakak!"


Hahahaha


Keduanya terkekeh. Untung saja tidak didengar oleh sang Mama. Jika hal itu terjadi maka akan dapat hukuman dari wanita modis itu.


...******...


Perayaan ulang tahun, sebut saja Grey Mandala di hadiri sejumlah besar teman sekolah. Asinta dan Asilla orang yang terakhir datang, mereka sedikit terlambat.


"Selamat ulang tahun Grey," kata Asinta sembari memberikan kado.


"Terima kasih Sin," balas Grey.


"Selamat ulang tahun Kak, semoga panjang umur," susul Asilla tetapi tidak membawa kado.


Grey tersenyum dengan sumringah tanpa melepaskan tatapannya kepada Asilla sehingga membuat Asilla tidak nyaman. Sedangkan Asinta tidak menyadari hal itu.


"Terima kasih karena sudah berkenan hadir," balas Grey tanpa melepaskan tatapannya.


Asilla tersenyum sembari mengangguk.


Serangkaian acara demi acara berlangsung. Selama itu Asilla merasa tidak nyaman karena Grey selalu curi-curi pandang.


"Kakak Sila ingin ke toilet sebentar," kata Asilla karena memang kebelet.


"Apa perlu Kakak antar?" Asinta menawarkan diri.


"Tidak perlu Kak," tolak halus Asilla karena ia tidak ingin sang Kakak meninggalkan teman-teman sekelasnya.


Hmmm


Asilla bergegas menuju toilet yang berada didalam restoran itu. Ya Grey mengadakan pesta perayaan ulang tahun di sebuah restoran.


Merasa cukup ia keluar dari toilet.


Bukk

__ADS_1


"Maaf," kata Asilla karena tidak sengaja menabrak seseorang karena ia sedikit tergesa-gesa.


"Tidak masalah,"


"Kak Grey," lirih Asilla setelah mengetahui siapa orang yang ia tabrak.


"Hmmm ini sudah ke berapa kalinya kita bertabrakan seperti ini? andai saja dengan sebuah kendaraan mungkin kita hanya tinggal nama! Hahaha," ungkap Grey terkekeh kecil.


Asilla menghela nafas panjang.


"Maaf Kak aku tidak sengaja," cicit Asilla dengan wajah tertunduk karena jujur saja ia tidak tahan melihat sorot mata Grey.


"Atas permintaan maaf kamu, bagaimana jika temani aku duduk di sana sebentar saja,"


Asilla mengangkat wajah dengan bola mata memutar sembari berpikir.


"Bagaimana?"


"Baiklah tetapi jangan lama-lama, nanti Kak Sinta mencari,"


"Baiklah!"


Kini mereka berdua duduk di kursi panjang yang terdapat di taman kecil restoran tersebut tanpa ada yang mengetahuinya.


Hmmm


"Sila kamu sangat cantik," puji dan kagum Grey.


Deg


"Bahkan kamu paling cantik," pujinya kembali.


Asilla menunduk dengan wajah memerah. Bukan kali pertama ini ia mendapat pujian seperti itu, tetapi pujian kali ini membuat dirinya seperti melayang ke awang-awang.


"Apa karena ingin mengatakan ini dia mengajak aku kesini?" batin Asilla dengan nafas tak beraturan.


Hmmm


Grey tersenyum seperti mengejek dirinya sendiri.


...******...


Beberapa tahun berlalu. Asilla dan Grey semakin dekat sedangkan Asinta belum mencurigainya. Seperti hari ini bertepatan pulang sekolah Asilla berjalan kaki sendiri karena Asinta tidak masuk sekolah karena ada kegiatan pemotretan. Ya Asinta mengikuti lomba kontes model, padahal beberapa minggu lagi mereka ujian dalam arti menyelesaikan pendidikan tingkat menengah atas.


Tin tin


Klakson mobil menghentikan langkah Asilla. Mobil itu berhenti dan turunlah seseorang yang sangat Asilla kenali.


"Kak Grey," gumam Asilla.


"Hai Sila. Hmmm ayo biar aku antar," tawar Grey.


"Tidak usah Kak, lagi pula jarak ke rumah tidaklah jauh," tolak Asilla sembari menunjukan jalan ke akses menuju kediamannya.


Tanpa aba-aba Grey langsung menarik tangan Asilla menuntunnya masuk kedalam mobil sport miliknya. Karena sudah kelas tiga makanya Grey di izinkan oleh orang tuanya mengendarai mobil.


Asilla terdiam dengan perasaan sedikit kesal karena sering sekali mendapat pemaksaan dari Grey walaupun itu berbaur positif.


"Sinta kenapa tidak masuk sekolah?" tanya Grey karena Asinta sering sekali bolos.


"Kak Sinta ikut kontes model Kak," jawab Asilla singkat.


"Demi kontes model dia mengorbankan sekolahnya?" decak Grey tidak menyukai pemikiran orang seperti itu.


"Itu adalah cita-cita Kak Sinta. Apapun akan dikorbankan," lirih Asilla.

__ADS_1


Hmmm


"Kak Grey kenapa putar balik?" tanya Asilla sembari celingak-celinguk.


"Temani aku ke toko buku sebentar saja," kata Grey tanpa beban.


"Kak turunkan aku di sini saja," mohon Asilla karena ia tidak mau kedua orang tuanya mencecar karena terlambat pulang sekolah sedangkan ia akan menyusul Asinta lomba.


"Sebentar saja Asilla," kekeh Grey tanpa menghentikan laju roda empat itu.


"Aku mohon Kak, lain kali saja karena aku akan segera menyusul Kak Sinta,"


Tiba-tiba mobil menepi dan Asilla dengan refleks ingin turun tetapi ia urungkan niatnya itu karena dicegah oleh Grey.


"Kamu terlalu menempel dengan Sinta, bahkan aku lihat kamu seperti suruhannya saja." Ungkap Grey karena selama ini cukup aneh melihat Kakak Adik itu.


Mendengar perkataan Grey seperti itu tentu saja membuat hati Asilla ngilu karena apa yang ditebak Grey memanglah begitu. Lama-lama sikap Asinta sedikit berubah bahkan selama ikut perlombaan hubungan mereka sedikit menjauh. Belum lagi masalah kedua orang tuannya, ia selalu mendapat sindiran bahkan kekerasan.


Asilla tidak menjawab, bahkan raut wajahnya datar dan hal itu disadari oleh Grey.


"Baiklah! Maaf sudah membuatmu tidak nyaman," kata Grey sembari mengusap pucuk kepala Asilla. dengan lembut disertai senyuman. "Wajahmu semakin mengemaskan," sambung Grey menggoda Asilla.


Asilla tersentak kaget mendapat perlakuan Grey tetapi ia tetap berdiam.


Kini mobil sport milik Grey sudah berhenti di depan rumah Asilla.


"Terima kasih Kak Grey. Aku masuk dulu," kata Asilla tanpa ingin me persilahkan Grey masuk.


"Hmmm kamu tidak menyapaku untuk masuk?" goda Grey sengaja.


Asilla menarik nafas panjang sebelum keluar dari mobil.


"Maaf Kak ak-----,"


"Aku hanya bercanda. Baiklah kamu segeralah masuk dan segera mengisi perutmu agar tidak kosong," peringatan dari Grey yang berhasil membuat hati Asilla berbunga karena mendapat perhatian untuk pertama kalinya dari orang lain.


Asilla mengangguk menyunggingkan senyuman mautnya sehingga membuat Grey membeku.


Bam


Pintu mobil berdentum sehingga membuyarkan Grey. Asilla melenggang menuju rumah.


Baru saja ia ingin membuka pagar rumah langsung mendapat bumbu-bumbu nikmat dari sang Mama.


"Dari mana saja kamu? jam segini baru pulang? bukankah 20 menit kamu sudah berada di rumah?" cecar Mira dengan mata melotot tajam.


"Sila minta maaf Ma, tadi teman ingin mengajak Sila ke toko buku," terang Asilla dengan jujur.


"Alasan! Kamu sudah pandai berbohong dan sudah mulai ngelunjak sekarang? wah kamu sudah hebat Sila," cecarnya tanpa mempercayai Asilla.


"Bukan begini Ma,"


"Diam kamu! Cepat berganti pakaian dan susul Sinta, dia pasti sekarang sudah menunggu kamu."


"Iya Ma tetapi Sila makan dulu,"


"Enak saja, waktumu sudah habis. Siapa suruh pulang terlambat," bentak Mira dengan mata tajam sehingga membuat Asilla tak berkutik.


"Iya Ma," Asilla tidak ingin membantah lagi dan segera masuk sesuai yang diperintahkan oleh Mira.


Dari dalam mobil Grey melihat hal itu dengan wajah datar. Sungguh ia merasa bersalah, karena dia Asilla mendapat masalah.


"Orang tua apaan seperti itu? seperti kasih sayangnya hanya ke satu pihak. Sangat kejam, kasian kamu Sila!" Gumam Grey dengan tangan terkepal erat.


...******...

__ADS_1


•Part selanjutnya masih membahas masa lalu Asilla yang membuat Filio mengeram dengan rahang mengeras karena itu adalah detik-detik kisah perjalanan cinta Asilla dengan Grey.


Hmmm Filio jangan terbawa emosi ya🤫karena itu adalah masa lalu, dan masa depan adalah kamu👌


__ADS_2