Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 42. Asilla Terjebak


__ADS_3

Sepulang dari pertemuannya dengan Grey sang mantan kekasih membuat Asilla banyak melamun. Seketika ingatan masa lalu beberapa tahun silam kembali membuatnya memikirkan seorang Grey yang banyak berjasa dalam hidupnya dan sesosok yang selalu ada ketika ia dalam kesulitan.


Asilla sudah menceritakan apa status yang ia sandang sekarang tetapi ia tidak menceritakan sesosok Filio.


Setelah usai menikmati makan malam. Tidak lama Gabriella dan Isabella berpamitan ke kamar karena sudah merasa kantuk. Sedangkan Asilla kini berada di balkon yang terdapat di kamarnya.


"Jujur aku sangat bahagia setelah mengetahui jika dirimu masih hidup. Sungguh aku sangat bersyukur karena dulu aku hampir tidak bisa melanjut hidup tanpa dirimu," gumam Asilla mengenang masa lalu yang ia lewati setelah kehilangan Grey untuk selama-lamanya.


Sesaat Asilla menghela nafas. Ia bingung harus melakukan apa saat ini. Merasa lelah dengan pikiran ia melangkah masuk kedalam kamar sederhana miliknya.


Setelah membasuh wajah serta gosok gigi ia membaringkan tubuh lelahnya di kasur kesayangannya. Pandangannya berpusat di langit-langit kamar. Seketika bayangan wajah Filio melintas begitu saja dalam benaknya dan disusul oleh Moses.


Dengan sesegera mungkin Asilla mengedipkan mata agar bayangan Filio menghilang dalam benaknya.


"Ada apa dengan diriku?" gumam Asilla dengan mata terpejam. Sungguh ini untuk pertama kalinya ia mengalami hal itu.


Ting....


Notifikasi tanda pesan masuk di ponsel Asilla yang ia letakan di atas meja rias sehingga membuyarkan lamunan Asilla. Ia raih ponsel itu lalu membuka pesan whatsapp dari siapa.


"Grey," gumam Asilla. Ternyata pesan itu dari Grey. Sebelum pulang tadi mereka bertukar nomor telepon.


Grey: "Besok aku akan ke butik kamu honey."


Begitulah isi pesan dari Grey.


*As*illa: "Baiklah."


Balas Asilla dengan singkat.


Grey: "Oke! Good night ❤


Asilla: Good night too."


Setelah mengakhiri membalas pesan Asilla menyunggingkan senyuman.


Ssst...


Desis Asilla seketika bayangan Filio dan Grey bersamaan melintas dalam benaknya. Merasa lelah akhirnya ia terlelap juga ,tengelam di alam mimpi.


...******...


Siang menjelang waktu makan Grey menepati janjinya menemui Asilla di butik.


"Honey," panggilnya sehingga membuat Asilla menghentikan coretan di kertas.

__ADS_1


Hmmm


Asilla menyunggingkan senyuman menyambut kedatangan Grey.


"Ini aku bawa makanan kesukaan kamu," ujar Grey sembari menyodorkan kotak berisi makanan kesukaan Asilla.


Mendengar hal itu membuat mata Asilla berkaca-kaca.


"Kamu masih ingat?" tanya Asilla terharu karena Grey masih ingat dengan makanan kesukaannya.


"Tentu honey. Hmmm sampai kapanpun aku tidak akan lupa karena itu sangat berarti," ujar Grey sembari mengusap pucuk kepala Asilla dengan rasa sayang.


"Maafkan aku Sila," batin Grey sesak.


"Jika begitu kita segera menikmati makanan ini, mumpung masih hangat dan juga sudah waktunya untuk makan siang," ajak Grey.


"Baiklah. Tunggu sebentar akan aku beres meja sofa," kata Asilla langsung merapikan kertas yang berantakan.


Kini keduanya saling menikmati makanan yang dibawakan Grey. Grey membelikan makanan kesukaan Asilla yaitu kepiting lada hitam.


"Anak kamu belum pulang honey?" tanya Grey disela kunyahannya.


"Mungkin sebentar lagi," jawab Asilla tanpa membalas panggilan yang biasanya dulu ia panggil kepada Grey. Mendapati itu membuat Grey tersenyum miris.


Kini Asilla dan Grey berbincang banyak hal. Keduanya saling bertukar cerita selayaknya sahabat.


Asilla tidak tau harus menjawab apa karena ia sendiri sampai sekarang tidak tau siapa pria yang sudah menaburkan benih kedalam rahimnya.


"Ini semua adalah kesalahanku. Andai saja musibah itu tak terjadi menimpaku, maka sekarang kamu sudah menjadi milikku honey," sambung Grey dengan sendu karena Asilla hanya diam saja.


Perkataan Grey membuat Asilla menatap wajah Grey dengan sorot mata sendu. Sehingga membuat tatapan keduanya bertemu. Sungguh Asilla merindukan sosok Grey tetapi ia sadar oleh status yang ia sandang sekarang. Begitu juga dengan Grey tetapi ia tidak ingin Asilla berpikiran negatif kepada dirinya.


"Mama," panggil Gabriella dan Isabella serempak masuk kedalam ruangan sang Mama seperti biasanya.


Atas kedatangan si kembar membuat keduanya buyar dalam lamunan.


"Sayang kalian sudah pulang?" kata Asilla sembari tersenyum.


Cup cup


Wanita berparas cantik itu mendapat kecupan istimewa dari kedua buah hatinya. Grey menyunggingkan senyuman melihat tontonan itu.


"Mama ini siapa?" tanya Isabella, akhirnya mereka menyadari jika ada seseorang yang berada dalam ruangan Asilla.


"Hai cantik kenalkan ini Uncle Grey," bukannya Asilla yang memperkenalkan tetapi Grey sendiri yang lebih inisiatif.

__ADS_1


Gabriella dan Isabella hanya terdiam ditempat keduanya saling memandangi pria tinggi tegap itu.


"Sayang kenalkan ini adalah Uncle Grey sahabat Mama," kata Asilla pada akhirnya. "Ayo kasi salam," sambungnya.


Gabriella maupun Isabella memperkenalkan diri menyalami tangan Grey.


"Honey mereka sangat cantik. Wajah mereka mengingatkanku ketika kamu masih duduk di bangku sekolah dasar," ungkap Grey seketika mengenang masa silam.


"Begitulah yang dikatakan orang-orang," jawab Asilla.


Mereka saling mengobrol si kembar sangat cepat akrab dengan Grey. Grey adalah sesosok pria yang menyukai anak-anak sehingga memudahkan ia akrab dengan kedua bocah cantik itu. Atas kelembutan tutur kata Grey membuat si kembar nyaman.


...******...


Di sebuah taman belakang rumah sesosok pria tengah termenung. Ia lelah mencari dimana-mana. Siapa lagi pria tampan itu jika bukan seorang Filio Januar.


Merasa angin malam menusuk ke tulang-tulang membuatnya memutuskan segera masuk kedalam rumah. Teryata jarum jam menunjukan ke angka 12 malam. Tidak lantas membuat Filio masuk kedalam kamar miliknya untuk beristirahat tetapi seperti biasanya ia masuk ke kamar yang pernah ditempati Gabriella dan Isabella.


Filio duduk di kasur sembari menatapi foto yang tergantung di dinding kamar. Entah pada saat itu Asilla lupa menanggalkannya sehingga foto itu tetap tergantung. Di sana juga terdapat foto Moses bersama si kembar.


"Dimana lagi Papa mencari kalian. Sungguh pintar Mama kalian menutupi akses tentang indentitas kalian sehingga menyulitkan Papa untuk menemukan keberadaan kalian," gumam Filio sembari memandangi foto Gabriella dan Isabella dengan mata memerah.


Sungguh melihat wajah si kembar membuat dada Filio sesak. Ia sangat menyesali atas semua yang terjadi. Ia mengasingkan darah dagingnya sendiri tumbuh bersama satu atap tetapi sedikitpun tidak ada kepeduliannya terhadap mereka.


"Sayang Papa minta maaf," lirih Filio sembari menciumi foto itu.


Di balik pintu seseorang melihat hal itu dengan perasaan haru. Siapa lagi jika bukan Riri. Sudah selama 1 minggu sang majikannya seperti ini meratapi penyesalan tiada akhir. Riri yakin jika sang majikannya benar-benar sangat menyesali itu sehingga membuatnya tidak tega, apa lagi melihat Moses yang selalu mengajak menemui Asilla beserta si kembar.


Tidak tahan lagi Riri masuk.


"Tuan," panggil Riri sehingga membuat Filio mengangkat wajah yang tertunduk. Riri bisa melihat sisa butiran bening di pelupuk kedua mata Filio.


"Ada apa? apakah Moses terbangun seperti biasanya?" ujar Filio.


"Iya Tuan tetapi sudah kembali tenang," jawab Riri.


Ssst


Filio mendesah sembari mengusap wajah.


"Jika begitu kamu kembali beristirahat," titah Filio dengan pandangan jauh ke depan.


"Tuan saya tau dimana keberadaan Ibu beserta si kembar," kata Riri dengan bibir bergetar.


Deg

__ADS_1


...******...


Sabar para reader babang Filio akan bertemu dengan Asilla beserta si kembar berkat si Riri yang baik hati. Ikuti saja selanjutnya!


__ADS_2