
"Aku mohon izinkan aku masuk,"
Mohon Asilla. Setiap orang disekitar memperhatikan Asilla dari ujung kaki sampai kepala. Dimana Asilla tidak menggunakan alas kaki, sungguh penampilannya sangat kacau.
"Tidak bisa Nona. Nona------,"
"Izinkan Nona masuk," tiba-tiba seorang pria yang Asilla kenali berada dibelakangnya. Seketika wajah Asilla berubah sedikit berwarna.
"Gio," gumam Asilla.
Gio mengangguk sembari tersenyum. Gio menyerahkan sebuah identitas sehingga membuat para petugas mengizinkan Asilla masuk.
"Nona mari ikut saya," titah Gio.
"Gio apakah aku belum terlambat?" tanya Asilla dengan perasaan tidak tenang sembari mengikuti langkah Gio.
Gio menghentikan langkahnya.
"Saya tidak tau Nona karena saya baru dikabari oleh Uncle," jawab Gio karena memang benar ia bagiku diberitahu oleh Farres dan di perintah untuk menyusul Asilla.
Asilla semakin panik sehingga kini ia menahan tangis.
"Maaf menganggu Pak. Apakah jet pribadi dengan nomor xx atas milik Januar sudah lepas landas?" tanya Gio kepada petugas.
"10 menit lagi akan lepas landas Tuan," jawab sang petugas yang sudah hafal dengan wajah Gio.
"Apa!" Seru Asilla dengan mata membulat.
Tidak ingin membuang waktu Asilla langsung bergegas keluar.
"Pak tolong antar saya ke jet atas milik Januar," Asilla.
"Tetapi Nona,"
Karena bagi Asilla hanya membuang waktu sehingga ia bertekad berlari ke lapangan tanpa diantar oleh mobil khusus. Dari jarak cukup jauh jet itu nampak.
"Nona tunggu," panggil Gio beberapa kali tetapi diacuhkan oleh Asilla.
Gio panik sehingga menyusul Asilla. Ia pasti akan di kuliti oleh Filio karena membiarkan Asilla.
Aaaw...
Asilla terjatuh berguling sehingga membuatnya menjerit menahan rasa sakit.
"Aku mohon tunggu aku!" Lirih Asilla disertai tangisan sembari berlari sekuat tenaga.
Tiba di tangga Asilla dicegah oleh petugas.
"Maaf Nona, Nona siapa? jet sebentar lagi akan lepas landas, mohon menjauh."
"Aku ingin menemui Tuan Filio suamiku," ungkap Asilla dengan nafas tak beraturan.
Beberapa petugas saling memandang karena pengakuan Asilla menurut mereka konyol. Asilla meronta ingin menaiki tangga tetapi dicegah oleh sang petugas.
"Papa triplets ini aku, aku datang." Teriak Asilla sembari berusaha terlepas dari pegangan sang petugas. "Lepaskan aku!" Teriak Asilla.
Tetapi teriakan Asilla hanya sebagai angin lewat.
"Suamiku ini aku datang hiks.... hiks...." teriak Asilla disertai tangisan dengan tangan melambai-lambai.
Sang petugas membawa Asilla paksa menjauhi jet. Asilla berontak sehingga membuatnya tersungkur.
"Tunggu jangan tinggalkan aku hiks.... hiks...." Teriak Asilla dengan berlutut.
"Ayo Nona,"
Tiba-tiba Gio mengulurkan tangan dihadapan Asilla sehingga membuat Asilla menadah wajahnya ke atas.
"Silahkan Nona sebelum terlambat,"
Dengan perasaan lega Asilla beranjak bangkit lalu berlari menaiki tangga.
"Pikirkan nasib kalian," ujar Gia kepada petugas yang berani bertindak ceroboh kepada Asilla.
Seketika wajah beberapa petugas pucat pasi mendengar peringatan dari Gio, orang yang mereka kenali.
******
Di dalam jet Filio duduk termenung menatap jendela dengan tatapan kosong. Jujur dari lubuk hati yang paling dalam ia mengharapkan seseorang datang menggagalkan kepergiannya.
Ia melirik arloji di pergelangan tangan. Seharusnya tinggal beberapa detik lagi jet akan lepas landas tetapi kenapa para awak kabin belum juga bersiap-siap. Sehingga membuatnya beranjak lalu menghampiri sang pilot.
"Ada masalah apa? seharusnya sudah lapas landas," ujar Filio sehingga mengagetkan seorang pilot.
"Mohon maaf Tuan, keberangkatan di tunda untuk 10 menit ke depan karena ada sedikit masalah." Terang sang pilot berusaha setenang mungkin.
__ADS_1
Hmmm
Filio tidak ingin bertanya lebih detailnya karena pikirannya cukup kacau. Ia beranjak menuju kamar pribadi untuk menenangkan diri tanpa mau di ganggu, sedangkan sang pilot menghela dada merasa lega. Penundaan ini atas dasar perintah dari Farres.
Di kamar Filio mendudukkan dirinya di kasur. Ia raih ponsel dalam kantong celana lalu memandangi wajah-wajah lucu ketiga buah hatinya.
"Sayang Papa minta maaf karena pergi tanpa memberitahu kalian, suatu saat kalian akan memahaminya." Gumam Filio tanpa sadar meneteskan air mata.
Ia menggeser layar benda pipih itu sehingga terpampang wajah cantik Asilla.
"Aku benar-benar tidak ada artinya bagimu," gumam Filio dengan mata memerah.
Filio yakin jika kedua orang tuanya sudah memberitahukan kepergiannya kepada Asilla serta anak-anak. Begitu juga dengan berkas surat cerai mereka. Asilla yakin sekarang berkas itu sudah berada di tangan Asilla saat ini.
"Aku berharap kamu datang sayang!" Gumam Filio dengan mata terpejam sungguh ia tidak dapat menahan bulir bening itu untuk tidak bergulir.
Brak
"Papa triplets!"
Suara lembut yang sering ia dengar membuat jantungnya berdebar.
Hiks.... hiks....
Di hadapan Filio tangisan Asilla pecah. Sehingga membuat Filio berniat membukakan mata.
Deg
Filio terpaku tanpa berkedip.
Hiks.... hiks....
Asilla semakin menangis tanpa melepaskan tatapannya.
Mata Filio membulat. Ternyata wajah yang sangat diharapkannya kini sedang berada dihadapannya. Dengan cepat Filio menggeleng dan kembali memejamkan mata karena menurutnya ini hanya sebuah halusinasinya saja.
Asilla terpaku semakin terisak.
"Apakah aku terlambat?"
Suara lirihan lembut itu menyentuh hati Filio sehingga membuatnya kembali membukakan mata.
Deg
Ia kembali terpaku tanpa berkedip memandangi Asilla yang tengah terisak.
Hiks.... hiks....
"Ini aku istrimu!" Bisik Asilla sembari mengusap wajah Filio dengan kedua telapak tangannya menghapus air mata yang sempat membasahi wajahnya. "Kamu tidak sedang bermimpi ataupun sedang berhalusinasi, ini adalah nyata." Imbuhnya kembali tanpa melepaskan kedua tangannya.
Deg
Filio terpaku tidak percaya dengan apa yang di bisikan oleh Asilla. Asilla benar-benar datang seperti yang ia harapkan.
Cup
Tanpa ragu-ragu Asilla mendaratkan kecup di kening Filio sangat lama.
Deg
"Aku datang,"
Gumaman serta kecupan itu bagai ombak menghantam jantung seorang Filio. Kejadian tidak pernah terduga ini membuatnya sulit untuk dipercaya.
Kesadaran Filio kembali sehingga membuat kedua tangannya memegang bahu Asilla yang terasa tergoncang akibat terisak. Dengan tangan bergetar ia memegang bahu Asilla.
"Sila!"
Tanpa ragu-ragu lagi tubuh lemah Asilla ia dekap. Memeluknya sangat erat. Asilla tidak menyia-nyiakan kesempatan itu sehingga membuatnya membalas pelukan itu tidak kalah eratnya.
Hiks... hiks...
Tangisan Asilla kembali pecah. Tangisan yang semula menyedihkan kini berusaha tangisan kebahagiaan. Keadaan hening hanya terdengar isak tangis Asilla dalam pelukan Filio.
Filio memejamkan mata menikmati momen langkah itu dengan ribuan pikiran. Begitu juga dengan Asilla.
Brak
"Papa, Mama!" Seru triplets sehingga menyadari kedua sejoli itu.
"Papa...." Seru mereka bertiga disertai tangisan.
Dengan segera Filio maupun Asilla menyudahi pelukan hangat itu lalu sama-sama memalingkan wajah memandang kedua buah hati mereka. Mereka tidak menyangka jika ketiga buah hati mereka ikut menyusul.
"Papa...."
__ADS_1
Huwa... huwa...
Tangis triplets
"Sayang,"
Filio dekap tubuh ketiga buah hatinya, memeluknya dengan hati berdenyut. Sedangkan triplets menangis meraung-raung dalam dekapan sang Papa. Asilla terenyuh melihat momen itu.
Merasa cukup Filio terpaksa menyudahi pelukan hangat itu. Lalu menatap ketiga buah hatinya silih berganti.
"Sayang Papa minta maaf tidak terlebih dahulu memberitahu kalian tentang kepergian Papa ini," jelas Filio dengan lembut sembari menghapus air mata triplets silih berganti
"Papa jahat," cicit Isabella sembari menarik-narik celana yang dikenakan Filio.
"Papa tidak boleh pergi," timpal Gabriella juga ikut menarik tangan Filio.
"Papa jahat," sambung Moses dengan raut wajah cemberut.
Mendengar cecar dari ketiga buah hatinya membuat Filio dan Asilla saling memandang.
"Sayang segeralah kembali,"
"Tidak Papa," seru mereka serempak.
"Tolong bawa mereka," titah Filio kepda Asilla.
Asilla menggelengkan kepala tanpa berniat bergerak dari tempat berdirinya.
"Kami tidak akan pergi tanpa dirimu,"
Mendengar apa yang Asilla katakan membuat Filio menatap Asilla tanpa berkedip.
"Bukankah semuanya telah selesai?"
"Tidak!"
"Apakah semua itu belum jelas?"
"Tidak!"
"Maksud kamu apa?" Filio tidak mengerti mau Asilla apa.
"Aku...aku minta maaf. Demi apapun jangan tinggalkan kami. Kami sangat membutuhkan sosok kamu untuk mendampingi kami," ungkap Asilla tanpa mengalihkan tatapannya sehingga tatapan mereka bertemu.
Filio tersenyum miris.
"Aku tau semua ini kamu lakukan demi kebahagiaan anak-anak,"
"Tidak! Kamu salah."
Filio tersenyum sembari tertawa kecil tetapi kedua matanya memerah.
"Tidak perlu khawatir anak-anak akan bersamamu sampai kapanpun. Aku tidak akan merebut mereka,"
Asilla terdiam tidak tau mau berkata-kata lagi. Tetapi ia akan tetap memperjuangkan niatnya dari awal.
"Aku memang salah. Salah dalam hal apapun, sudah egois selama ini. Maka dari itu apakah aku belum terlambat?"
Perkataan Asilla tentu saja membuat Filio terpaku.
"Maksud kamu?"
Sungguh perkataan yang di ajukan Asilla teka-teki bagi Filio.
"Sudahi kamu tidak perlu menjawab lagi. Sebaiknya tolong bawa anak-anak segera pergi kembali," ujar Filio beranjak bangkit dan berjalan menuju pintu.
"Tidak Papa," cicit ketiga buah hati mereka.
Asilla terdiam disertai tetesan air mata. Ia melangkah mendekati Filio lalu menarik tangannya sehingga membuat Filio membalikkan tubuh.
Asilla menelan ludahnya sebelum mengatakan sesuatu.
"Apakah aku terlambat?"
Filio tak bergeming.
"Lihat aku sekali saja!"
...******...
•Author berbaik hati mempertemukan Filio dan Asilla.
__ADS_1
•Tetapi tentang hati Filio maupun Asilla masih mereka rahasiakan🤭🤫