Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 70. Valentine Day


__ADS_3

Filio menatap intens Asilla. Ia ingin menanyakan satu hal yang sedang mengganjal di hati dan pikirannya, bagaimanapun ia harus tau agar semuanya tidak salah paham.


"Sayang boleh aku bertanya?" Filio meraih telapak tangan Asilla lalu memainkan jari-jemari lentik itu.


Asilla tersenyum sembari mengangguk.


"Hmmm bagaimana hubungan kalian? orang yang-------"


"Semua sudah berakhir!"


Asilla langsung memotong perkataan Filio karena ia paham dengan arah pembicaraan Filio. Mendengar pengakuan Asilla tentu saja membuat Filio tak percaya karena ia tau bagaimana hati Asilla untuk pria itu.


Asilla meraih tangan Filio dan meletakkannya di dadanya.


"Percayalah jika hati ini hanya ada nama kamu sampai kapanpun. Kamu pasti berpikir jika kamu aku jadikan pelarian semata ketika hubungan kami berakhir. Demi apapun pikiran negatif itu tidaklah benar. Aku mencintaimu dengan tulus bukan karena ini itu tetapi murni dari hati ini," ungkap Asilla berusaha menyakinkan Filio.


Filio tak bergeming sehingga membuat dada Asilla sesak.


"Aku mengerti jika kamu tidak mudah percaya karena pada awalnya aku menolak karena dia, dan bahkan aku sempat mengatakan hati ini hanya ada nama dia dan tak pernah tergantikan," lirih Asilla sembari mengatur nafas. Lalu ia menghela nafas panjang. "Tetapi aku salah semua itu tidaklah benar, buktinya tanpa sadar namamu mengantikan dia dalam hati ini." Imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak dapat mengerti,"


"Akan aku ceritakan tetapi tidak untuk saat ini karena aku tidak ingin menghancurkan momen bahagia kita."


Filio tersenyum sembari mengusap kepala Asilla dengan penuh cinta.


Kesadaran Filio kembali pada luka lecet di kedua telapak kaki Asilla yang cukup memprihatinkan. Tidak membuang waktu ia mengangkat tubuh Asilla seperti anak kecil, lalu mendudukkannya di atas meja. Asilla tercengang dengan apa yang Filio lakukan.


Filio membuka laci lalu mengeluarkan kotak obat yang selalu disediakan. Ia segera menuangkan alkohol di kapas lalu menempelkan pelan-pelan pada luka.


"Sayang kamu tahan ya? mungkin sedikit perih." Filio membersihkan luka itu secara hati-hati serta meniup agar rasa perih itu sedikit berkurang. "Bagaimana bisa seperti ini?" tanya Filio tanpa menghentikan pengobatan.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan," jawab Asilla karena beberapa luka lecet itu tidak sebanding dengan rasa sakit ketika ia tidak berhasil mengejar Filio.


"Ini luka cukup serius. Kita harus bawa ke dokter," sungguh Filio merasa khawatir.


Kening Asilla mengerut mendengar apa yang Filio katakan. Masa luka seperti ini harus dibawa ke dokter.


"Tidak perlu,"


"Ini sangat perlu. Aku tidak ingin tubuhmu terluka sedikitpun, apakah itu secara fisik maupun jasmani. Buat apa kita punya RS sendiri jika mereka tidak bisa menyembuhkan kembali luka ini semua,"


Kening Asilla kembali mengerut. Tetapi jujur saja lubuk hati paling dalam ia sangat bahagia karena Filio peduli serta perhatian.


"Luka ini tidaklah seberapa sakit dibandingkan jika aku gagal mengejarmu. Luka ini sudah terbayarkan ketika kamu masih memberi kesempatan untuk aku mengungkapkan perasaanku dan bahkan kamu membalasnya. Sungguh luka ini tidak apa-apanya dibandingkan kebahagiaan yang aku rasakan saat ini," ungkap Asilla panjang lebar.


Filio menadah wajahnya ke atas sehingga bola mata keduanya bertemu. Filio dapat melihat sorot mata serius Asilla, sedikitpun tidak ada kebohongan yang tersembunyi.


Asilla menyunggingkan senyuman, senyuman yang berhasil memporak-porandakan hati Filio. Sehingga tidak tahan untuk mendaratkan kecupan di bibir menggoda itu. Filio bangkit lalu tangannya merapikan helaian rambut yang menghalangi wajah Asilla. Rambut itu ia selipkan di telinga disertai senyuman.


"Terima kasih sayang."


Cup


Ciuman mendarat di bibir Asilla sehingga mereka. buat Asilla cukup kaget karena secara tiba-tiba.


"Mulai nakal," Asilla mengerucutkan mulutnya sehingga itu semakin mengemaskan bagi Filio.


"Nakal kepada istri sendiri tidak ada salahnya,"

__ADS_1


Deg


Seketika membuat tubuh Asilla membeku mendengar perkataan Filio.


"Istri?" gumam Asilla cukup pelan.


Filio mengangguk.


Raut wajah Asilla berubah menjadi sendu. Padahal barusan wajah itu bersinar sehingga menambah paras cantik Ibu tiga anak itu.


"Sayang ada apa?" sungguh Filio tidak peka dan ia melupakan sesuatu. Ia mengangkat dagu Asilla menggunakan jari telunjuknya.


Asilla memberanikan diri menatap Filio.


Ssst


Filio mendesis karena mendapati Asilla kembali meneteskan air mata.


"Sayang ada apa? sudah aku katakan tidak ingin lagi melihat air mata berhargamu terbuang dengan sia-sia?" demi apapun Filio panik dan tidak mengerti.


"Aku bukan istrimu lagi. Bukankah semuanya sudah berakhir hiks hiks....." Ungkap Asilla sembari menangis. Sungguh saat ini Asilla menunjukkan jati dirinya sebagai wanita biasa yang tidak luput dari tangisan. Hari ini pertama kali baginya menunjukan jiwa ke cengeng dan kelemahannya sebagai wanita pada umumnya.


Deg


Seketika Filio sadar dan mengingatnya. Ia menyeka air mata itu dan mendekatkan wajah Asilla, sehingga wajah mereka sangat dekat.


"Tatap aku dan percayalah semua akan baik-baik saja,"


"Aku percaya,"


Filio langsung mendekap tubuh itu membawa kedalam pelukannya.


"Sayang semua akan baik-baik saja. Sebaiknya kita akan segera kembali. Hmmm bukankah hari ini adalah Happy Valentine Day? sebelum malam tiba kita harus sudah bersiap-siap untuk mengadakan pesta keluarga atas hari yang bahagia ini. Sayang aku ingin momen langka seperti ini akan kita ingat sepanjang waktu," ungkap Filio masih memeluk Asilla.


Asilla semakin mengeratkan pelukannya dengan hati berbunga-bunga.


"Semua sudah diatur yang di atas sayang," Filio dihujani bunga-bunga cinta.


Aaah


Asilla kaget atas apa yang Filio lakukan. Filio menggendong Asilla ala bridal, membawanya keluar kamar untuk menemui ketiga buah hati mereka. Tetapi mereka tidak menemukan bocah yang sempat menganggu jalannya detik-detik menegangkan. Jet itu sepi dan satu orangpun tak kelihatan, seakan mereka paham sehingga tidak ingin menganggu.


"Sayang anak-anak tidak berada di sini dan para awak juga menghilang," ujar Filio dengan kedua alis menyatu karena hal ini.


"Mungkin mereka sudah pulang,"


Hmmm


"Sayang sepertinya mereka paham. Bagaimana jikalau kita menghabiskan malam ini di sini saja," pancing Filio ingin mengerjai Asilla.


"Menghabiskan malam bagaimana?" tanya Asilla dengan polosnya.


"Suami-istri jika berduaan apalah yang mereka lakukan kalau tidak-------, "


Awww


Ucapan Filio terhenti malahan diganti rintihan karena mendapat cubitan di lengannya cukup keras.


"Mesum!"

__ADS_1


Cup cup cup


"Cukup! Cukup!"


...******...


Menjelang petang Filio maupun Asilla beserta triplets sudah tampil memukau. Sungguh keluarga kecil ini adalah bibit unggul nomor 1.


Filio sudah memerintahkan Gio untuk mengurus semuanya sehingga membuatnya hanya mempersiapkan diri serta hatinya.


"Sayang kamu sangat cantik," kagum serta puji Filio melihat penampilan Asilla malam ini yang hanya natural.


Asilla bukannya senang tetapi wajahnya cemberut tanpa sebab, padahal seharusnya ia merasa terbang ke awang-awang karena pujian itu. Melihat wajah cemberut itu membuat Filio menyipitkan mata.


"Berarti selama ini aku tidak cantik begitu?" kata Asilla dengan manja.


Bibir itu tertarik ke atas mendengar celoteh Asilla. Rupanya wanita ini cemberut karena a hal itu.


"Siapa bilang begitu? setiap hari saat kamu selalu cantik istriku," bisik Filio di telinga Asilla sehingga membuat bulu kuduknya merinding ditambah lagi pria ini sengaja menerpa nafasnya di teguk Asilla yang terbuka. Filio memeluk tubuh Asilla dari belakang.


Wanita mana yang tidak tersanjung bila mendapati pujian suami seperti Filio saat ini. Di momen hari kasih sayang ini mereka tidak mengenakan jas ataupun gaun tetapi keluarga kecil ini mengenakan kaos couple warna putih. Semua itu tidak sulit mereka dapatkan karena mereka punya butik pribadi.


Ssstt


Filio mendesis berusaha menahan sesuatu, sungguh tubuh Asilla membuatnya tidak bisa berkonsentrasi.


"Ada apa?" sungguh kepolosan Asilla ini membuat Filio semakin ingin menerkamnya.


"Sayang!" Bisik Filio sembari mengigit halus daun telinga Asilla.


"Stop!"


Asilla berusaha melepaskan pelukan itu karena ia cukup kaget dengan benda mengeras yang menghalangi belakangnya. Seketika wajahnya memerah malu sendiri tetapi dengan berusaha ia menyembunyikan hal itu sembari mengigit bibir bawahnya.


"Papa, Mama!" Seru triplets heboh langsung mendekap tubuh kedua orang tua mereka.


"Dasar pengganggu," umpat Filio masih dapat didengar oleh Asilla sehingga membuatnya tertawa kecil.


"Sayang sebaiknya kalian masuk kedalam mobil," bujuk Filio ingin sekali ketiga bocah itu menghilang.


"Tidak mau Papa," jawab Isabella.


"Enak sekali Papa peluk-peluk Mama. Papa nakal sudah berani peluk serta mencium Mama," cicit Moses.


Filio maupun Asilla saling memandang.


"Papa sama Mama seperti dalam dongeng Cinderella dan Pangeran," puji Gabriella melihat ketampanan dan kecantikan kedua orang tua mereka.


"Anak-anak Mama sama Papa juga tampan serta cantik-cantik," balas Asilla disertai senyuman.


"Papa akan mewujudkan dongeng itu sayang,"


Tanpa aba-aba Filio menggendong Asilla dari arah belakang seperti ia sering menggendong ketiga buah hatinya, membawanya keluar kamar. Hal itu tentu saja membuat triplets tercengang dengan mulut menganga karena cukup kaget. Hal yang tak pernah mereka lihat selama ini.


Filio dan Asilla melenggang berlalu dengan gaya masing-masing tanpa menghiraukan triplets.


"Awas lalat masuk!"


__ADS_1


...******...


•Masih banyak misteri yang tersembunyi siapa jati diri Asilla. Sedikit demi sedikit akan author bongkar.


__ADS_2