
"Temani aku sebentar saja," lirih Asilla kembali bersuara karena menyadari Filio hanya terdiam.
Demi apapun Filio kaget sehingga membuat seluruh tubuhnya membeku.
"Sebentar saja," suara lirih yang hampir tak terdengar membuat Filio tersadar dalam lamunannya. Dengan segera ia membalikan badan untuk bisa menatap Asilla.
Tatapan keduanya bertemu cukup lama. Tatapan yang memiliki makna yang berbeda. Merasa tidak sanggup Asilla memutuskan tatapan itu sepihak dengan menundukkan kepala. Menyadari tangannya masih di genggam membuat Filio melangkah kembali duduk di samping Asilla dan meletakan napan yang berada di tangan sebelahnya di atas nakas yang kebetulan dekat.
Sesaat ia menghela nafas untuk mengatur detak jantungnya yang sejak tadi tidak bisa di kompromi.
"Hmmm ada apa?" tanya Filio dengan lidah keluh.
Asilla tidak menjawab, ia masih betah menundukkan wajahnya. Sehingga membuat suasana kembali hening. Filio tidak tau harus berbicara apa karena apa yang ia tanyakan tadi belum juga di jawab oleh Asilla. Sedangkan Asilla juga tidak tau harus mengatakan apa. Tetapi kenapa hati kecilnya mengatakan ingin di dekat dan ingin bersama Filio saat ini.
Uuaammm
"Apa kamu sudah mengantuk?" tanya Filio karena mendapati Asilla menguap menahan kantuk.
Dengan kepala berat Asilla mengangkat wajahnya.
"Tidurlah sepertinya kamu sudah mengantuk," ujar Filio menyadari wajah Asilla. Wajah sendu serta kedua matanya membengkak akibat seharian menumpahkan air mata. "Aku akan tetap di sini seperti yang kamu inginkan," sambungnya dengan bibir tersenyum.
Asilla merasa senang tetapi hanya bisa ia rasakan dalam hati.
"Tunggu sebentar," Filio bangkit lalu merapikan seprei serta beberapa bantal yang tergeletak di lantai akibat kekesalan Asilla tadi.
Melihat apa yang dilakukan oleh Filio tentu saja membuat Asilla kaget dan merasa tidak enak hati.
"Cukup biar aku saja yang membereskan," kata Asilla ikut membantu Filio.
"Tidak masalah," balas Filio dengan wajah yang berhasil membuat seorang Asilla membeku.
Hmmm
Deheman Filio membuat Asilla kaget sehingga memutuskan pandangannya. Seketika ia merasa salah tingkah dan berusaha tidak terlihat atau di sadari oleh Filio.
"Tidurlah aku akan menunggu di sofa sampai kamu terlelap," ujar Filio.
Asilla langsung beranjak dan menaiki ranjang mencari posisi tidur yang biasa ia tempati.
"Hmmm bisakah kamu di sini saja. Eh maksudku-----,"
"Baiklah," seakan paham Filio mengurungkan niatnya ke sofa.
Filio ikut menempati kasur empuk itu. Ia berada di samping Asilla dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Sedangkan Asilla membaringkan tubuhnya dengan membelakangi Filio.
__ADS_1
"Apa yang telah aku lakukan? aku seperti wanita murahan saja," batin Asilla merutuki kebodohannya.
Uuaammm
Filio menguap sehingga membuat Asilla memberanikan diri membalikan tubuh. Ia dapat melihat Filio tengah memejamkan mata.
"Tidurlah!" Gumam Filio rupanya menyadari jika ia sedang di pandang.
Deg
Tentu saja membuat Asilla kaget.
"Maaf sudah merepotkan," lirih Asilla.
Filio membuka kedua matanya yang tadi tertutup. Senyuman manis mengembang di bibir seksinya.
Suasana kembali hening hanya terdengar dentingan jam dinding saja. Jarum jam sudah menunjuk ke angka 12 malam sehingga rasa kantuk dirasakan keduanya.
Lama-kelamaan akhirnya Asilla bisa menutup mata dan memasuki ke alam mimpi yang indah. Seketika membuat Filio membuka mata karena menyadari hembusan nafas halus yang terdengar dari seorang Asilla. Ia berhati-hati merubah posisi duduknya.
Dengan jari bergetar ia memberanikan diri merapikan helaian rambut indah milik Asilla yang menghalangi sebagian wajahnya.
"Ada apa sebenarnya? kamu sangat begitu terpukul," gumam Filio sembari menyelipkan helaian rambut di telinga Asilla. "Aku tau yang memicu itu semua adalah kejadian tadi," timpalnya.
Malam ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk bisa sepuasnya dan seintens mengagumi kecantikan paras Asilla. Ketika tidur saja ia sangat cantik.
Deg
"Seandainya saja kamu menjadi milikku, demi apapun akulah orang yang paling bahagia di dunia ini." Batin Filio dengan mata memerah.
Hmmm
Mulut Asilla bergumam seperti mengigau. Ia menggantikan posisi tidurnya yang semakin memepet Filio sehingga membuat tubuhnya membeku dan tak berdaya. Kini jantungnya berdebar-debar.
Sedangkan Asilla tidak mengetahui apa yang sedang ia lakukan terhadap sang raja pebisnis itu. Sungguh wanita itu sangat berani.
Mau tidak mau akhirnya Filio ikut membaringkan tubuhnya sehingga dirinya saat ini menjadi bantal guling Asilla.
Uuhhh
Filio menarik nafas dan menghembuskan dengan perlahan. Sungguh semua ini di luar dugaannya. Sedangkan Asilla begitu nyaman dengan posisi tidurnya malam ini.
Cup
Filio tidak dapat menahan dirinya untuk mendaratkan kecupan di kening Asilla. Ia sadar jika apa yang dilakukannya itu adalah tidak benar tetapi katakanlah ia sedikit ego dalam hal ini.
__ADS_1
Jari-jemari kokohnya mengusap setiap helaian rambut indah Asilla yang tergerai. Tidak lama ia akhirnya menyusul Asilla masuk kedalam alam mimpi.
...******...
Di dapur kembali gaduh lagi. Ternyata Filio sudah berada di dapur dari jam 5:30. Ia kembali memasak untuk sarapan.
Tiba-tiba ingatan terlintas kepada Asilla. Dimana semalaman mereka tidur berdua di satu ranjang dengan posisi sangat intim. Dimana keduanya saling peluk memeluk satu sama lain.
Hmmm
"Masak apa?" suara lembut khas bangun tidur menyadarkan lamunan Filio. Ia sempat kaget melihat kedatangan Asilla yang tiba-tiba.
Hmmm
Filio tidak bisa menjawab. Ia menjadi salah tingkah sehingga kecanggungan yang ia rasakan.
"Biar aku saja yang menyelesaikan," kata Asilla sembari mendekati Filio yang sedang berdiri mematung dengan tangan memegang pisau.
"Tidak masalah biar pagi ini aku yang menyiapkan sarapan," ujar Filio berusaha menenangkan dirinya. Sungguh wajah baru bangun Asilla membuatnya terpana dengan rambut di jepol sehingga menampakan aura keseksian Asilla.
"Baiklah," Asilla mengalah dan akhirnya ia beranjak ke meja makan.
Dari meja makan pandangannya tidak lepas dari gerak-gerik Filio yang sibuk mempersiapkan bahan untuk menu nasi goreng ala dia. Seketika ingatan Asilla tentang tadi malam terlintas, dimana ia tidur dengan kepala berada di dada kekar Filio. Ia terbangun karena kebelet. Tentu saja hal itu membuatnya malu dan berharap pria itu tidak mengetahui apa yang terjadi.
Aroma bumbu nasi goreng memenuhi ruangan itu sehingga membuat Asilla tergerak untuk menghampiri Filio.
"Aromanya sangat harum," kata Asilla memuji.
"Benarkah?" tanya Filio tidak lepas dari adukan.
"Biar aku bantu," kata Asilla sembari meraih kecap dan menuangkannya langsung ke dalam wajan yang berisi nasi.
Keduanya tak menyadari keasikan mereka sehingga tidak terasa nasi goreng ala Filio sudah siap.
Hmmm
Keduanya menjadi salah tingkah karena posisi mereka saat ini begitu dekat. Tidak ada ubahnya seperti suami-istri pada umumnya.
"A-aku akan membangunkan anak-anak," kata Asilla dengan gugup sembari memundurkan badannya karena tanpa sadar ia menempelkan tubuhnya disaat acara memasak seperti sedang memeluk Filio dari belakang.
Filio tidak menjawab hanya mengangguk kepala saja sembari mengatur nafasnya. Selepas kepergian Asilla ia mendudukkan dirinya sebentar di meja makan.
"Aku sangat mencintaimu......tetapi tidak dengan dirimu," gumam Filio dengan kedua tangan diletakan di atas meja untuk menyangga dagu. Menatap sendu tanpa tujuan.
__ADS_1
...******...