
Tempat yang di tuju telah tiba. Ternyata Filio membawa Asilla di sebuah cafe yang sengaja di boking.
Filio turun lalu memutari mobil untuk membuka pintu.
"Kita sudah sampai," ujar Filio sembari mengulurkan tangannya untuk membantu Asilla turun. Mau tidak mau Asilla tidak bisa menolak sehingga membalas uluran tangan itu.
Keduanya berjalan saling berdampingan. Tangan Asilla tetap berada di genggaman Filio.
"Kenapa cafe ini tidak ada pengunjung?" tanya Asilla sedikit aneh karena tidak ada pengunjung.
"Karena aku yang memboking tempat ini," jawab Filio.
Langkah Asilla terhenti lalu menoleh ke arah Filio. Filio balas dengan senyuman. Tidak lama ia tuntun Asilla kembali ke tempat yang sudah ia sulap seindah mungkin, berkat bantuan Gio dan Riri.
Mata Asilla membulat melihat sebuah meja dengan dua buah kursi yang sudah di rias dengan bunga mawar berwarna putih favorit Asilla. Tidak lama ia menelan ludah mendapati apa yang ada dihadapannya.
"Silahkan duduk," Filio menuntun Asilla untuk duduk. Tidak lama ia juga duduk di kursi dihadapan Asilla.
Asilla tidak tau apa maksud dari semua itu.
"Apa kamu merasa nyaman?" tanya Filio mulai membuka suara.
"Hah....." Asilla tidak menjawab. Jujur saja dari tadi ia merasa tidak nyaman apa lagi risih dengan tatapan Filio kepada dirinya.
"Kita makan malam dulu," ujar Filio.
Asilla mengangguk karena kebetulan mereka belum makan malam. Dalam diam keduanya menikmati hidangan sesuai selera masing-masing. Hanya terdengar dentingan kartu sama piring yang beradu.
Filio mengelap bibirnya menggunakan tisu. Seketika ia mendapati ada sisa makanan yang menempel di ujung bibir Asilla. Dengan jari jempol itu mengusap sisa makanan itu.
"Ada sedikit sisa makanan," ujar Filio memberitahukan. Atas perlakuan Filio membuat wajah Asilla bersemu merah.
Hmmm
__ADS_1
"Mari ikut aku," ajak Filio sembari menuntun Asilla.
Kini keduanya berada menghadap kolam kecil di taman cafe tersebut.
Filio meraih kedua bahu Asilla untuk menghadap kepadanya. Lalu menatap Asilla dengan intens.
"Asilla...." Filio memanggil Asilla sembari menelan ludah sungguh lidahnya keluh untuk mengungkapkan perasaannya. Panggilan Filio membuat Asilla juga menatapnya.
Sesaat Filio menarik nafas.
"Seiringnya waktu kebersamaan kita, rasa ini mulai tumbuh begitu saja. Asilla aku memang dijuluki seorang raja pebisnis yang handal dan pintar berbicara jika berhubungan dengan dunia bisnis tetapi untuk masalah hati atau mengungkapkan sesuatu aku orang yang paling tidak paham," ungkap Filio tanpa mengalihkan tatapannya. Ia langsung berlutut sembari menggenggam telapak tangan Asilla.
Asilla membulatkan mata mendapati apa yang dilakukan Filio terhadap dirinya.
"Asilla aku jatuh cinta kepadamu dan sangat mencintai dirimu!" Ungkap Filio langsung ke intinya dengan jantung berdebar-debar.
Deg
Ungkapan perasaan Filio tentu saja membuat tanah yang di pijak Asilla runtuh. Sungguh ia sangat kaget dan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut seorang Filio Januar.
Deg
Tubuh Asilla membeku mendengar ungkapan perasaan Filio dengan wajah serta sorot mata serius.
"Asilla beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya mulai dari awal. Aku ingin kembali membina bahtera rumah tangga bersamamu yang Asilla.
Asilla masih membeku. Sungguh ia tidak tau harus menjawab apa.
"Jawab aku Asilla," ujar Filio karena sejak tadi Asilla hanya terdiam mematung.
Asilla menghela nafas sesak. Bagaimanapun ia harus menjawab dengan hati yang sebenarnya tanpa ada kebohongan.
"Aku tidak tau harus menjawab apa karena ini sangatlah mendadak," jawab Asilla sembari mengigit bibir bawahnya. Asilla menarik nafas panjang. "Maaf aku, aku tidak bisa!" Ungkap Asilla sembari melepaskan genggaman tangan Filio.
__ADS_1
Duarr
Jawaban Asilla bagai petir menyambar bagi Filio. Jawaban yang tidak ingin ia dengar justru terjadi.
Filio membeku seperti tersambar arus listrik sehingga senyawa dalam tubuhnya tak berfungsi. Sungguh jawaban Asilla melukai hatinya yang sebelumnya berbunga-bunga.
"Maaf," lirih Asilla sekali lagi sembari memundurkan tubuhnya.
Filio menghela nafas.
"Terima kasih kamu telah menjawabnya walaupun tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Jujur aku kecewa atas jawaban darimu tetapi aku tidak bisa memaksa atas perasaanmu untuk menerima atau membalas perasaanku," ujar Filio dengan wajah serta tatapan sendu.
Seketika hening. Filio bangkit dari posisi berlutut.
"Beri aku waktu untuk mendatangani surat cerai kita!" Lirih Filio tanpa sadar meneteskan air mata ketika mengatakan hal itu.
Deg
Perkataan Filio berhasil membuat Asilla membeku.
"Kamu tenang saja masalah asuh anak-anak akan jatuh kepada kamu, kamu lebih pantas membimbing mereka." Ujar Filio tanpa menatap Asilla. "Tetapi ijinkan aku 1 bulan untuk tinggal satu atap bersama kalian, khususnya anak-anak," imbuhnya dengan wajah tertunduk.
Asilla membeku dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Sebaiknya kita pulang, keburu kemalaman," ajak Filio dengan perasaan terluka serta kecewa yang amat mendalam. Baru kali ini seseorang menolak dirinya mentah-mentah.
Filio membuka jas yang dikenakannya, lalu menaruhnya di tubuh Asilla karena Asilla mengenai gaun terbuka di bahunya. Asilla kaget mendapatkan perhatian dari pria yang ia tolak cintanya. Dengan perasaan kacau Filio menuntun Asilla ke mobil. Mereka harus segera pulang. Buat apa lagi ia berlama-lama di sana karena cintanya telah ditolak, kecuali Asilla membalas cinta dan memberi kesempatan maka sampai besokpun ia akan betah di sana.
Sepanjang jalan menuju rumah keduanya bungkam. Filio masih merasa terluka dan kecewa karena di tolak. Sedangkan Asilla sibuk dengan perasaannya.
"*Maafkan aku. Aku tidak bisa memaksakan diri untuk mencintai dan menerimamu kembali karena sedikitpun perasaanku atau namamu terselip di hati ini. Hatiku sudah terisi oleh seseorang sejak lama. Aku tau kamu memang sudah berubah dan tulus mencintai aku, tetapi sangat maaf hati ini tidak pernah ada untuk namamu. Mungkin aku dianggap egois karena mementingkan diriku sendiri dibandingkan kebahagiaan anak-anak," batin Asilla.
"Jujur aku sangat kecewa dan marah kepadamu karena tidak memberi kesempatan untuk aku memulai dari awal. Tetapi aku tidak bisa memaksa untuk semua itu. Beri aku waktu untuk melepaskanmu, aku tidak boleh egois dengan kebahagiaanmu." Batin Filio*.
__ADS_1
...******...