Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 60. Serpihan Kaca


__ADS_3

Tiba di rumah menjelang sore akibat terjebak macet. Triplets segera membersihkan diri di bantu oleh Riri. Riri tidak ikut serta dalam acara piknik keluarga kecil itu. Sedangkan Asilla segera masuk kedalam kamar. Sejak dalam perjalanan ia hanya banyak terdiam sehingga membuat triplets sedikit merasa aneh tetapi mereka tidak ingin bertanya. Lain halnya dengan Filio. Pria itu langsung bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Ia akan memasak sesuatu yang di gemari oleh ketiga buah hatinya serta makanan kesukaan Asilla. Pria itu bertekad untuk menciptakan sesuatu yang berbeda karena ini adalah kesempatan yang ada.


Semua isi lemari es di geledah. Bahan makanan di keluar.


"Tuan bisa saya bantu?" tiba-tiba suara Riri membuat Filio kaget karena sedang asik berperang dengan pisau dan talangan.


"Kamu buat kaget saja RI," ujar Filio tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Saya minta maaf Tuan," kata Riri sembari menunduk.


Hmmm


"Apa anak-anak sudah mandi?" tanya Filio.


"Sudah Tuan. Mereka sedang berada di ruang santai," jawab Riri.


Hmmm


Filio mengangguk.


"Aaaakkk," jeritan Filio membuat Riri mendekat.


"Apa yang terjadi Tuan?" tanya Riri sedikit khawatir.


"Sedikit celaka," ujar Filio sembari mengelap darah yang mengalir dari ujung jari telunjuknya, ternyata pisau tajam itu melukai jarinya.


"Hati-hati Tuan. Hmmm biar saya saja yang menyelesaikannya," kata Riri.


"Tidak masalah. Aku ingin memberikan sesuatu yang berbeda kepada orang-orang yang aku sayangi dan cintai. Ini kesempatan yang ada," ungkap Filio dengan tatapan sendu.


Riri terdiam dan dapat menyadari oleh sorot mata majikannya itu. Ia paham apa yang dirasakan Filio saat ini. Jujur dulu ia sangat tidak suka dengan sikap serta pribadi Filio karena berbuat tidak adil kepada Asilla serta kedua putrinya. Tetapi kini ia dapat melihat jika pria tampan itu benar-benar menyesali apa kesalahannya dimasa lalu. Dan ia dapat melihat banyak cinta yang tulus di diri Filio untuk triplets serta Asilla.


"Sabar Tuan," kata Riri seakan mengerti.


Hmmm


"Kamu mengerjakan tugas yang lain saja. Jika ada kesulitan aku akan memanggilmu," ujar Filio karena tidak ingin konsentrasinya terganggu.


"Baik Tuan," jawab Riri menunduk dan tidak lama berlalu menuju pintu utama.


Sedangkan Filio fokus kepada menu yang ingin dimasak. Ia harus dapat menyelesaikan sebelum malam menjelang.


Hanya butuh 1 jam setengah ia dapat menyelesaikan semuanya.


"Semoga kalian suka sayang," gumamnya sembari menatap makanan di atas meja makan. Setelah siap ia mencari Riri untuk membereskan kegaduhan dapur. Untuk masalah itu ia tidak sanggup karena cukup kelelahan.


Setelah memanggil Riri ia beranjak pergi ke kamar. Ia juga butuh membersihkan diri sebelum makan malam tiba.


...******...


Di meja makan sudah di duduki oleh triplets. Mereka hanya menunggu kedua orang tua mereka untuk memulai menikmati makan malam.


"Mama memang yang terbaik," cicit Moses berbinar karena melihat di atas meja makan tertata makanan yang digemarinya yaitu cumi goreng tepung.


"Asik ayam krispi," seru Isabella bersorak melihat ada ayam panggang tertata rapi seindah mungkin.


"Udang krispi," timpal Gabriella ikut berbinar.


Ketiganya memiliki selera yang berbeda. Mereka sudah tidak sabaran untuk mencicipi masakan itu tetapi mereka harus bersabar menunggu kedua orang tua mereka. Mereka tidak mengetahui jika masakan yang di hadapan mereka adalah olahan tangan sang Papa.


Hmmm


Filio mendekat dengan bibir mengembang.


"Malam Papa," seru triplets secara serempak dengan kedua tangan menyangga dagu masing-masing.


"Malam sayang," balas Filio sembari mengusap pucuk kepala ketiganya silih berganti.


"Mama mana?" tanya Isabella karena menyadari jika Asilla tidak bersama dengan Filio.


Pertanyaan Isabella membuat Filio menyadari keberadaan Asilla tidak di meja makan.


"Segera di mulai makan malamnya Tuan," tiba-tiba Riri menghampiri.


"Nona mana?" tanya Filio dengan kedua tangan terlipat.

__ADS_1


"Ini perintah Nona. Nona masih di kamar," kata Riri.


Filio menatap kosong ke depan. Tidak lama ia merubah posisi duduknya.


"Baiklah kita mulai saja. Mama masih belum lapar," ujar Filio.


Triplets antusias menunggu sang Papa mengisi piring mereka.


"Putri cantik dan cerewet Papa yang pimpin doa," ujar Filio menunjuk Isabella.


Sesuai perintah sang Papa, Isabella menurut dan memulai. Setelah selesai berdoa mereka menikmati masakan yang belum diketahui jika makanan itu masakan sang Papa.


"Enak!" Seru triplets memuji citarasa dari makanan kesukaan mereka.


"Terima kasih sayang," balas Filio.


"Tetapi rasanya sedikit berbeda. Tetapi tetap enak," kata Moses menyadari sedikit berbeda dari biasanya.


"Tentu son karena semua ini adalah Papa yang masak,"


Sungguh pengakuan Filio membuat triplets menghentikan suapan masing-masing. Ketiganya masing-masing menatap Filio yang sedang mengunyah.


"Ada apa?" tanya Filio dengan mulut penuh.


"Papa yang masak?" seru mereka serempak.


Filio menjawab dengan menganggukkan kepala.


"Enak sekali Papa," puji Isabella.


"Iya Papa enak sekali," timpal Gabriella.


"Pantas ada sedikit perbedaan tetapi sama-sama enak," sambung Moses.


"Papa cocok deh menjadi koki di restoran berbintang," cicit Isabella dengan polosnya.


"Syukurlah jika kalian suka," ujar Filio ikut senang karena ia telah berhasil. "Papa sudah banyak uang sayang jadi tidak perlu jadi koki di sebuah restoran, tetapi cukup menjadi koki buat kalian saja Papa siap," tambahnya dengan bibir mengembang. "Habiskan sayang!"


Ketiganya melanjutkan suapan yang sempat terhenti. Sedangkan Filio memandang masing-masing buah hatinya yang berada di hadapannya.


"Sayang kembalilah ke kamar. Kalian segeralah beristirahat karena besok harus bangun pagi," titah Filio seusai mengelap mulut.


Triplets segera beranjak dari tempat duduk masing-masing lalu mendekati Filio yang masih duduk di tempatnya.


Cup


"Terima kasih Papa atas masakan kesukaan Abel," kata Isabella sembari menciumi pipi sang Papa.


Cup


"Terima kasih Papa, masakan Papa sangat enak," timpal Gabriella juga mendaratkan ciuman di pipi sebelah.


Cup


"Besok-besok yang masak Papa saja mengantikan Mama," kata Moses ikut-ikutan.


"Tentu saja sayang. Terima kasih," ujar Filio dengan terharu, sampai-sampai kedua matanya berkaca-kaca.


"Selamat malam Papa," seru mereka dan lalu berlalu menuju kamar masing-masing.


Dengan mata masih berkaca-kaca Filio memandangi tubuh kecil ketiganya sampai menghilang dari pandangannya.


"Setelah ini apakah Papa mampu hidup tanpa kalian sayang," gumam Filio.


Sungguh pria yang di kenal berwibawa serta tegas ini saat ini sangat rapuh hatinya. Bagi dirinya hanya ketiga buah hatinya yang memenuhi isi kepalanya.


Puas dengan pikiran-pikiran yang menganggu akhirnya ia tersadar kepada Asilla. Filio beranjak menyiapkan makanan buat Asilla. Ia bertekad mengantarkan makan malam untuk Asilla.


...******...


Di dalam kamar


Kamar yang biasanya terang serta bersih rapi itu kini hanya kegelapan yang terjadi. Sesosok wanita rapuh yang berada dalam kegelapan itu.


"Aku tidak pernah menyangka jika pria yang sangat aku cintai dan sayangi telah mengkhianati terlalu dalam. Ternyata selama ini aku terjebak dan terlalu percaya kepada dirimu yang begitu aku hormati," lirih Asilla dengan memeluk kedua lututnya di bawah ranjang.

__ADS_1


Asilla tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Bayangan Grey memenuhi isi kepalanya. Lintasan masa lalu terus-menerus terlintas di memorinya.


"Apa salahku sehingga kamu tega melakukan semua ini? aahhhkkk," teriak Asilla disertai tangisan.


Sungguh hatinya saat ini hancur berkeping-keping. Seperti pepatah mengatakan serpihan kaca yang bersarang di hati.


Tok tok tok


Tiba-tiba pintu kamar di ketuk dari luar tetapi tidak membuat Asilla beranjak. Ia masih setia dengan posisinya saat ini.


Tok tok tok


"Sila," panggil seseorang dari luar yang dapat diyakini Asilla adalah Ayah dari ketiga buah hatinya. Panggilan serta ketukan itu masih tidak membuat ia beranjak.


Ceklek


Pintu terbuka.


Filio kaget mendapati dalam kamar itu ternyata gelap. Dengan hati-hati ia menjangkau sakelar lampu.


Klik


Kamar yang semula gelap kini sudah terang. Filio kaget mendapati Asilla tengah duduk dengan memeluk kedua lututnya di bawah ranjang. Dengan bergegas ia meletakan napan yang berisi makan malam untuk Asilla di atas kasur. Setelah itu ia mendekati Asilla yang tidak menggubris kedatangannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Filio sedikit heran.


Asilla mengangkat wajah lalu menoleh ke arah Filio.


Deg


Filio kaget mendapati kedua mata sembam itu. Demi apapun ia tidak kuat melihat kesedihan di wajah wanita yang sangat ia cintai. Apapun masalah yang Asilla hadapi tidak membuat Filio berpikir banyak, yang ada dalam hatinya kesedihan yang Asilla rasakan. Sedangkan Asilla tidak berkata apapun, tatapan sendu itu tidak lepas dari wajah cemas Filio.


Hiks hiks hiks


Tangisan Asilla kembali pecah. Tidak tahan lagi ia beranjak langsung memeluk Filio yang tengah duduk di atas kasur. Dengan apa yang dilakukan oleh Asilla tentu saja membuat Filio kaget dan tak pernah menduga.


"Menangislah sepuas-puasnya jika itu dapat membuatmu merasa tenang," bisik Filio tidak mensia-siakan pelukan erat dari Asilla. Mendengar itu membuat Asilla semakin menangis.


Keduanya terdiam. Hanya isak tangis Asilla yang memecah keheningan didalam kamar yang sedikit berantakan.


Merasa lebih dari cukup Filio melepaskan pelukan itu dan membawa tubuh lemah Asilla ikut duduk di atas kasur.


"Kamu harus segera makan, ini sudah cukup malam. Ini aku bawakan makanan untukmu," ujar Filio sembari meletakan napan di hadapan Asilla. Melihat itu membuat Asilla kembali menatap Filio yang juga sedang menatapnya. Tatapan intens itu cukup lama tanpa berkata-kata.


Hmmm


Merasa salah tingkah keduanya saling memutuskan tatapan itu.


"Biar aku yang suap," kata Filio meraih piring.


Asilla tidak menolak sedikitpun. Ia malah mengikuti apa yang Filio katakan.


"Apa kamu yang memasak semua ini?" akhirnya rasa penasaran Asilla tidak bisa ditahan lagi.


Hmmm


Filio tidak menjawab hanya di jawab dengan anggukan kepala.


"Aku minta maaf tidak menyiapkan makan malam," kata Asilla dengan lirih sembari menundukkan kepala.


"Tidak masalah. Anak-anak sudah tidur," ujar Filio karena sebelum ke kamar Asilla ia terlebih dahulu mengecek triplets.


Perkataan Filio tentu saja membuat Asilla kembali kaget. Oleh masalah yang ia hadapi sehingga melupakan ketiga buah hatinya. Tentu saja hal itu membuat dirinya menjadi seorang Ibu yang gagal demi egonya. Sungguh saat ini ia hanya memikirkan dirinya sendiri.


"Maaf," lirih Asilla kembali.


Hmmm


"Habiskan makananmu dan segera istirahat," ujar Filio tanpa memandang lawan bicaranya ia hanya menatap makanan yang tersisa di dalam piring. Lain halnya dengan Asilla, sejak tadi ia mendaratkan pandangan sendu di wajah Filio.


Tanpa terasa makanan itu tak tersisa lagi sehingga membuat Filio beranjak ingin keluar dari kamar itu. Tiba-tiba tangan seseorang menghentikan langkahnya, ternyata Asilla menarik tangan Filio.


"Temani aku sebentar saja!"


Deg!

__ADS_1


...******...


__ADS_2