
Di Mansion
Atas kunjungan triplets tentu saja membuat Farres sama Lyodra menyambut kedatangan mereka dengan senang.
Kini kedua paruh baya itu sedang asik bermain dengan cucu para kesayangan mereka. Sedangkan Filio tidak banyak berbicara, ia hanya berbicara seperlunya saja. Dari raut wajah sendunya Lyodra dapat menyimpulkan jika putra satu-satunya menyimpan masalah. Lebih curiganya lagi dengan tanpa kehadiran Asilla.
"Mom Iyo tunggu di taman," ujar Filio ingin berbicara 4 mata dengan sang Mommy.
"Baiklah Mommy akan nyusul," jawab Lyodra.
Filio berjalan menuju taman belakang Mansion tempat biasanya keluarga berkumpul. Ia menduduki dirinya di kursi yang bersandar.
Tidak lama Lyodra datang menyusul.
"Sayang," panggil Lyodra langsung duduk di sebelah Filio.
"Mommy," lirih Filio langsung membaringkan tubuhnya di pangkuan sang Mommy.
"Sepertinya ada masalah," kata Lyodra langsung ke intinya.
Filio menarik nafas lalu menghembuskan dengan tak semangat. Lalu ia mulai menceritakan dari awal sampai akhir permasalahan yang ia hadapi.
"Dia menutup hatinya untuk Iyo Mom dan tidak memberi kesempatan untuk Iyo memperbaiki semuanya," Filio mengakhiri ceritanya.
Sepanjang mendengar cerita Filio. Tentu saja membuat Asilla ikut terluka. Ia tidak menyangka jika Asilla menolak putranya, padahal Filio tidaklah main-main.
"Sayang jangan patah semangat. Saat ini dia masih menutup hati untuk kamu tetapi seiringnya waktu dikit demi sedikit ia akan membuka hati," nasehat dari Lyodra tidak ingin mematahkan semangat hidup sang putra.
"Tidak Mom sampai kapanpun hatinya tertutup untuk Filio. Dia sedikitpun tidak tersentuh hatinya dengan pernyataan cinta Iyo," ungkap Filio de gan tatapan sendu.
Lyodra terdiam mencerna setiap kata-kata Filio.
"Jadi apa tanggapan kamu sayang?" tanya Lyodra.
"Iyo akan terpaksa mendata tangani surat cerai itu Mom. Iyo akan melepaskannya 3 minggu lagi sesuai janji Iyo kepadanya dan hak asuh anak-anak akan jatuh kepadanya. Dia lebih tepat untuk mendampingi atau merawat mereka dibandingkan dengan Iyo," ungkap Filio.
Deg
Lyodra menggeleng tidak setuju dengan tindakan apa yang di ambil oleh Filio.
"Tidak sayang, jangan lakukan itu!" Lirih Lyodra dengan mata berkaca-kaca karena ia tidak setuju.
"Mommy! Ini demi kebahagiaan Asilla. Kita tidak bisa terus-menerus memaksa dirinya tanpa keinginannya sendiri. Itu sama juga artinya Iyo egois," ungkap Filio dengan serius. "Buat apa mempertahankan jika salah satu pihak merasa terpaksa menderita," sambungnya.
Tatapan sendu Lyodra dapat mengisyaratkan jika wanita paruh baya tersebut juga terluka dan kecewa.
__ADS_1
"Kamu benar sayang," hanya itu yang dapat dikatakan Lyodra dengan raut wajah sendu.
"Ini hukuman yang pernah Iyo lakukan di masa lalu Mom, walaupun berat tetapi terpaksa Iyo jalankan." Lirih Filio dengan memejamkan mata.
Hmmm
Tidak terasa kebersamaan mereka sampai sore tiba.
"Sayang apa tidak sebaiknya kalian nunggu makan malam terlebih dahulu," kata Lyodra kepada triplets.
"Papa!" Triplets langsung menyerbu sang Papa.
Filio Menggeleng.
"Tidak sayang lain kali saja," ujar Filio.
"Baiklah!" Jawab Lyodra seakan mengerti.
...******...
Hari ini membuat Lyodra ingin menemui Asilla. Karena kesibukan Asilla sehingga ia sendiri yang menemuinya di butik. Sebelum itu ia terlebih dahulu menghubungi Asilla agar ia dapat membagi waktu.
Sesuai jadwal yang diberikan Asilla membuat Lyodra berangkat siang pas di waktu jam makan siang.
"Sayang Mommy akan menemui menantu kita siang ini," kata Lyodra kepada Farres sembari ia bersiap-siap.
"Percayakan kepada istrimu sayang," jawab Lyodra sembari menggoda.
"Sayang....." Erang Farres karena kejahilan jari lentik Lyodra sengaja berlabuh di area keramat.
Hahaha
Kekeh Lyodra sesegera mungkin menghindar terkaman Farres. Farres hanya bisa menggeleng melihat kelakuan sang istri.
Farres sendiri juga kecewa dengan tindakan Asilla tetapi ia tidak dapat berbuat banyak karena yang menjalankannya bukan dia tetapi mereka. Lyodra sudah menceritakan semuanya kepada dirinya.
Tiba di butik
Lyodra bersama Asilla sedang menikmati makan siang. Lyodra membawa makanan yang sengaja ia masak banyak buat ia bawa ke butik.
"Terima kasih Mom atas makanan Mommy. Masakan Mommy tiada duanya," kata Asilla mengakhiri suapan di mulutnya.
"Terima kasih sayang jika kamu menyukainya," jawab Lyodra merasa senang atas pujian Asilla.
Kini mereka sedang berada di belakang butik. Sisa tanah Asilla sulap menjadi sebuah taman yang kecil tetapi sangat nyaman dan asri. Ia penuhi dengan bunga mawar putih dan bunga lainnya.
__ADS_1
"Ini sangat indah sayang. Aroma bebungaan begitu asri," kagum Lyodra dengan keindahan isi taman kecil itu
"Sayang Mommy ingin berbicara serius dengan kamu," kata Lyodra mulai obrolannya.
Mendengar perkataan mertuanya Asilla terdiam ia yakin jika Lyodra akan membicarakan masalah pribadi mereka.
"Iya Mom bicara saja," kata Asilla sembari tersenyum.
"Bukan maksud Mommy ingin ikut campur dengan masalah kalian tetapi izinkan Mommy mengatakan satu hal," ungkap Lyodra. "Sayang Mommy sudah tau semua dengan masalah kalian karena Iyo sendiri yang ceritakan," imbuh Lyodra.
"Asilla minta maaf Mom," lirih Asilla tertunduk.
Lyodra berusaha tersenyum lalu menatap Asilla sembari mengelus bahunya.
"Sayang itu hak kamu, kami tidak bisa memaksa. Jujur saja sebenarnya Mommy sangat kecewa dengan tindakan yang kamu ambil karena Mommy sangat menyayangimu seperti kasih sayang Mommy kepada Iyo, Fiona, dan Dela." Ungkap Lyodra dari hati paling dalam. "Tetapi kembali lagi karena kamu yang menjalankannya sehingga kamu sebagai orang tua tidak bisa memaksa." Sambungnya.
Mendengar kerapuhan mertuanya membuat dada Asilla sesak. Ia serba salah, di satu sisi ia memikirkan pribadinya dan di sisi lain ia sudah membuat keluarga besar Januar kecewa padahal mereka sangat menyayangi Asilla.
"Asilla minta maaf Mommy," lirih Asilla sembari mendekap tubuh Lyodra.
"Tidak sayang itu semua bukan kesalahan kamu. Kamu berhak untuk bahagia dengan orang yang kamu cintai. Atas nama Iyo Mommy minta maaf karena sudah membuat masa depanmu yang semulanya bersinar dan sudah di rancang kini hancur akibat perbuatan yang dilakukan oleh putra kami," ungkap Lyodra sembari terisak dalam dekapan Asilla.
Keduanya larut dengan pikiran masing-masing masih dalam posisi berpelukan.
Lyodra melepaskan pelukan itu.
"Sayang jika boleh Mommy tau apa alasan kamu tidak ingin memberi kesempatan kepada putra Mommy?" tanya Lyodra ingin tau alasan apa yang membuat Asilla menolak untuk memulai memperbaiki rumah tangga mereka.
Mendengar pertanyaan Lyodra tentu saja membuat Asilla cukup kaget karena ia tidak pernah menyangka jika mertuanya menanyakan alasan itu.
Hmmm
"Mommy tidak memaksa jika kamu belum siap untuk menceritakannya," kata Lyodra sembari tersenyum. "Sayang Mommy sudah cukup lama, sebaiknya Mommy pulang. Daddy pasti sudah khawatir dengan kelamaan Mommy," sambungnya.
Lyodra beranjak bangkit ingin pergi dari taman tersebut.
"Tunggu Mom," seru Asilla sehingga membuat Lyodra kembali duduk.
Lyodra tersenyum dengan kepala mengangguk.
"Alasan Sila tidak memberi kesempatan untuk Papanya triplets adalah," sesaat Asilla menarik nafas.
"Katakan sayang,"
"Karena Sila tidak mencintainya dan sama sekali hati Sila tidak ada untuk dia Mom," kata Asilla dengan jujur. "Sila mencintai orang lain," sambungnya.
__ADS_1
Deg
...******...