Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 77. Minta Doa Restu


__ADS_3

"Sayang sudahi ngambeknya," bujuk Filio karena sampai saat ini Asilla masih terbaring dengan selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya tanpa celah.


Asilla tidak menghiraukan, ia tetap pada pendiriannya.


"Baiklah kita akan ke Mansion untuk menjemput putra-putri kita," akhirnya Filio mengalah karena ia tidak ingin wanitanya terus-terusan merajuk.


"Benarkah?" seketika dalam sekejap Asilla menyibak selimut dan langsung beranjak bangun setelah mendengar apa yang Filio katakan.


Filio tersenyum dengan kepala menggeleng. Ia terenyuh melihat betapa dekatnya Asilla dengan ketiga buah hati mereka, baru saja satu malam berpisah Asilla sudah kepalang rindu.


"Maaf sayang karena egoku membuatmu berpisah dengan anak-anak," ujar Filio dengan tatapan penuh penyesalan.


Asilla tercengang dengan permintaan maaf Filio. Bahkan pria itu menyalahkan egonya.


"Sayang aku juga minta maaf, sungguh sikapku tadi kekanakan," kata Asilla juga menyalahkan sikapnya.


"Aku mengerti hmmm Ibu mana yang rela berpisah dengan anak-anaknya, apa lagi mereka masih kecil,"


"Iya sayang aku sangat merindukan mereka. Satu malam serasa satu tahun," ungkap Asilla mengabarkan isi hatinya.


"Kamu memang sosok Ibu berhati mulia. Ayo bersiaplah kita akan segera ke Mansion," puji serta kagum Filio melihat kepribadian Asilla.


...******...


Di Mansion


Kebetulan hari ini adalah libur jadi triplets sepuas hati bermain di Mansion mewah sang Opa, Oma mereka. Bahkan sekedar ingat kepada kedua orang tua mereka pun tidak di ingatnya karena terlalu asik bermain dengan kedua paruh baya itu.


"Sayang apa kalian sudah bersiap-siap?" suara lembut Lyodra membuat ketiga bocah mengemaskan itu menoleh.


"Sudah Oma," jawab mereka serentak.


"Opa mana?"


"Opa di sini sayang," tiba-tiba Farres datang dari arah belakang dan melingkarkan pinggang ramping Lyodra sehingga membuat wanita itu terkaget.


"Sayang bikin Mommy jantungan saja," Lyodra sedikit protes karena memang saat ini jantungnya berdebar.


"Daddy minta maaf sayang," tentu saja hal itu membuat Farres merasa bahagia.


"Apa cucu-cucu tampan cantik Opa sudah siap?"


"Sudah Opa,"


"Lets go....."


Tiba-tiba suara teriakan dari pintu utama memecah keheningan.


"Sayang tolong turunkan,"


"Tetap berdiam,"


"Sayang turun, aaah....." Teriakan Asilla diikuti tawa lepas.


Ceklek


"Sa-------,"


Glek


Seketika Asilla menelan ludahnya dan tidak dapat melanjutkan ucapannya. Ternyata tak disangka mereka disambut dengan banyak pandangan mata.


"Sayang turun," bisik Asilla merasa canggung karena sekarang dipertontonkan oleh ketiga buah hati serta kedua mertuanya.

__ADS_1


Filio tersenyum dengan santainya, bahkan ia tidak menghiraukan permintaan Asilla.


"Hai Dad, Mom dan triplets. Hmmm sepertinya kalian ingin berpergian?" sapa Filio dan ia menebak.


Hmmm


"Papa apa Mama sedang sakit?" tanya Isabella.


"Tentu sayang karena Papa sama Mama semalaman penuh latihan Smackdown," jawab Lyodra ingin menggoda pasangan kasmaran itu.


Filio maupun Asilla saling menatap dengan ekor mata memberi kode.


"Benarkah? siapa yang menang Oma? Papa atau Mama?" tanya Isabella dengan polosnya.


"Mati," gumam Lyodra sembari menepuk keningnya.


"Tanyakan langsung kepada Papa sama Mama sayang, siapa yang menang dan berapa ronde hmmm," kata Lyodra semakin menggoda.


"Mommy!" Seru Filio dan Asilla tersentak sehingga tidak sadar Filio menurunkan Asilla.


Hmmm


"Sepertinya kalian kelihatan lelah Nak, sebaiknya beristirahatlah dengan penuh. Kami akan berjalan-jalan dan tentu tidak ingin menganggu aktivitas kalian," timpal Farres ikut menggoda.


Filio dan Asilla menghela nafas panjang disertai wajah bersemu merah. Kedua paruh baya ini sudah salah paham.


"Dad, Mom buang jauh-jauh pikiran negatif kalian." Bisik Filio.


"Hmmm Daddy sama Mommy pernah merasakannya jadi santai saja," Farres tetap ingin menggoda. "Ayo sayang lets go....." Farres langsung berlenggang sembari menuntut triplets.


"Sayang kami pergi dulu hmmm jangan lupa memberi cucu sebanyak mungkin," pamit Lyodra tidak lupa memberi godaan.


"Mommy!" Seru mereka serentak.


"Sayang sepertinya putra-putri kita tidak merindukan kita, buktinya mereka cuek dengan kedatangan kita," ungkap Asilla mengeluh dengan sikap triplets.


"Pasti otak mereka sudah di bayclin kedua orang tua kepo itu," tebak Filio.


"Sayang jaga ucapannya,"


...******...


Didalam mobil Asilla sejak tadi tidak tenang. Wanita itu *******-***** jari-jemarinya.


"Sayang tenanglah," Filio menyadari jika wanitanya sedang berpikiran.


Ya sekarang mereka menuju kediaman kedua orang tua Asilla. Bagaimanapun Asilla memberitahukan kepada kedua orang tuanya dengan rencana resepsi pernikahan dia dengan Filio. Walaupun ia tau kedua orang tuanya tidak membutuhkan itu tetapi bagaimanapun ia meminta restu dari mereka.


Asilla berusaha tersenyum.


"Ada aku suamimu, semua akan baik-baik saja," ujar Filio sembari mengecup punggung tangan Asilla. Sebenarnya ia tidak sudi minta restu kedua mertuanya itu, bahkan tidak ingin bertemu dengan mereka. Tetapi sekeras apapun hatinya akan luluh jika Asilla yang melunakkan. Demi kebahagiaan sang istri Filio menyampingkan egonya.


Tidak butuh waktu lama mobil mewah itu berhenti tepat di halaman rumah kontrakan keluarga Candrawinata.


"Ayo sayang," suara lembut Filio menyadarkan Asilla. Filio meraih tangan Asilla menuntunnya untuk turun. Sungguh ia sekarang memperlakukan Asilla bak ratu.


Kini mereka memasuki teras dengan beriringan. Kebetulan pintu itu terbuka sehingga membuat Asilla lega karena ia yakin orang rumah berada didalam.


Tok tok


Bagaimanapun Asilla masih mengetuk pintu.


"Papa, Mama," panggil Asilla pada akhirnya karena berkali-kali pintu di ketuk tidak ada jawaban.

__ADS_1


"Siapa?" suara bariton itu dari dalam sembari menghampiri.


"Sila,"


"Mama," gumam Asilla melihat sosok yang sangat dirindukan.


"Buat apa kamu ke sini? apa maksud kedatangan kalian untuk menertawakan keadaan kami? lebih baik kalian angkat kaki dari sini," kata Mira dengan sinis.


"Apa begitu cara Mama mertua menyambut putri serta menantunya?" ujar Filio tersulut emosi.


"Sayang," gumam Asilla dengan menggelengkan kepala bermaksud memperingati Filio agar tak terpancing amarah.


Huk.... huk...


Suara batuk dari dalam terdengar jelas dan Asilla sangat mengenal suara batuk siapa itu.


"Papa sakit?" tanya Asilla panik.


"Bukan urusanmu anak tak tau diri," jawab Mira dengan sinis.


Mendengar sang istri di cecar tentu saja membuat darah Filio mendidih.


"Jaga ucapan anda!" Bentak Filio.


Asilla masuk begitu saja tanpa dipersilahkan, bahkan ia menarik tangan Filio persis menyeretnya masuk. Hal itu membuat Mira berdecak kesal dan mengikuti Asilla dari belakang.


"Pa------," Asilla tidak meneruskan ucapannya karena ternyata dua sosok yang telah mengkhianatinya berada didalam kamar tidak terlalu besar itu.


"Sila," gumam Grey cukup kaget dengan kedatangan Asilla bersama Filio.


Asilla terpaku. Bukan karena kehadiran Grey di situ tetapi pandangannya berpusat kepada ranjang yang ditempati oleh sesosok yang sangat dikenalinya yang saat itu tergolek tak berdaya.


"Papa," lirih Asilla langsung menghampiri Farhan yang tergolek lemah ditempat tidur.


Farhan tak bergeming.


"Buat apa kamu ke sini?" teriak Asinta tidak mengharapkan kehadiran Asilla ditengah penderitaan mereka. "Kalian memamerkan kebahagiaan di atas penderitaan kami? dasar anak tak tau diri kamu Sila," cecar Asinta dengan sinis. "Imbas dari itu mengakibatkan Papa jatuh sakit Sila bahkan tubuhnya mengalami mati sebelah, itu semua karena kamu," teriak Asinta sembari menjerit dengan tangisan.


Asilla membeku dengan mulut menganga mendengar apa yang dikatakan Asinta tentang penyakit yang dialami Farhan.


"Tutup mulutmu! Kamu tidak sadar siapa yang tidak tau diri disini?" bentak Filio membela sang istri.


Hahaha


Asinta tertawa terbahak-bahak. Sungguh wanita ini tidak ada rasa takut sedang berhadapan dengan siapa.


"Lihat sayang pria ini sekarang sudah membelanya bahkan kelihatannya pria ini sudah menjadi budak cinta wanita tak tau diri ini," sindir Asinta.


"Iya apa yang kamu katakan itu adalah benar," balas Filio sembari merangkul pundak Asilla seakan memberitahu mereka apa yang ditebak Asinta itu adalah benar.


Melihat perlakuan Filio membuat dada Grey sesak, dan hal itu disadari oleh Asinta sehingga membuat darahnya semakin mendidih. Sedangkan Filio belum tau status Grey dengan Asilla.


"Aku tidak ada waktu mendengar mulut berbisa kalian. Maksud kedatangan kami kemari adalah meminta restu karena 1 minggu ke depan kami menggelarkan resepsi pernikahan yang sempat tertunda. Itu semua aku lakukan karena istriku atau putri kalian, jangan kita aku sudi menginjak kaki dan bahkan bertemu dengan orang licik seperti kalian," ujar Filio menusuk.


Mendengar kabar itu membuat mereka saling memandang dengan wajah sinis, kecuali Farhan dan Grey.


"Apa yang dikatakan Filio itu benar Pa, Ma." Sambung Asilla dengan mata berkaca-kaca.


Filio memberi ketenangan dengan cara mengusap berkali-kali punggung Asilla.


"Sila harap Papa, Mama dan Kak Sinta menyaksikan hari itu," lirih Asilla dengan wajah menunduk. Sungguh hatinya sedih dengan hubungan mereka yang memanas ini. Belum lagi melihat tubuh sang Papa yang tergolek tak berdaya di atas ranjang. Sungguh ia ingin sekali mendekap tubuh itu tetapi keinginannya tidaklah pernah terwujud karena itu mustahil baginya. Asilla hanya bisa terisak tanpa melakukan apapun


...******...

__ADS_1


__ADS_2