Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 48. Pulang


__ADS_3

Seluruh isi rumah sudah mereka geledah tetapi sosok yang dicari tidak ditemukan sehingga membuat mereka kembali ke meja makan.


"Papa tidak ada," tangis Moses.


Dan disusul oleh Gabriella dan Isabella.


Mendengar itu tentu saja membuat Asilla tercengang. Pertanyaan-pertanyaan negatif bermunculan di benaknya.


"Apa benar dia pergi?" batin Asilla dengan perasaan yang sulit diartikan.


"Mama cari Papa," seru triplets secara bersamaan sembari merengek.


Asilla bingung harus bagaimana. Ia raih ponsel lalu menghubungi nomor Filio.


Ssst


Asilla mendesis karena mendapati ponsel Filio tidak bisa dihubungi.


"Bagaimana Mama?" tanya si sulung Gabriella.


"Sayang ponsel Papa sedang tidak aktif," kata Asilla.


"Papa jangan tinggalkan Moses," tangis Moses sembari berlari keluar rumah, membuka pintu.


"Sayang," panggil Asilla kaget melihat apa yang Moses lakukan.


"Dek," panggil Gabriella dan Isabella sembari bergegas ikut berlari mengejar Moses.


"Sayang," panggil Asilla kembali sehingga membuatnya bangkit dan menyusul ikut keluar.


Tiba diluar Moses mendapati sosok yang dicari sedang terduduk dengan kepala menyandarkan di kursi yang diduduki dengan mata tertutup.


Moses mendekat.


"Papa," panggil Moses langsung memeluk Filio yang tengah tertidur.


"Papa," timpal Gabriella serta Isabella juga langsung ikut memeluk Filio.


Tentu saja perlakuan triplets mengakibatkan Filio terbangun dari tidurnya. Ternyata ia tidur semalaman diluar rumah.


"Sayang," gumam lFilio berusaha membuka kedua matanya. Wajah sedih triplets membuat keningnya mengerut.


"Papa, Moses kira Papa akan meninggalkan Moses," adu Moses.


"Iya Papa, tadi Abel sangat takut ditinggal Papa." Timpal Isabella.


"Jangan pernah tinggalkan kami Papa. Gabriella sangat menyayangi Papa," timpal Gabriella.


Filio tidak mengerti apa yang dikatakan putra-putrinya ini.


"Apa maksud kalian sayang? siapa yang akan meninggalkan kalian?" tanya Filio dengan mata memerah karena kurang tidur.


"Kami kira Papa sudah pergi pulang meninggalkan kami," jawab Isabella.


Mendengar itu membuat Filio tersenyum.


"Sayang Papa tidak akan pulang tanpa membawa kalian," ujar Filio sembari membawa Isabella kedalam pelukannya.

__ADS_1


Hiks hiks hiks


Tangis triplets pecah.


Cup cup cup


"Sudah, sudah." Ujar Filio menenangkan mereka sembari mendaratkan kecupan pagi kepada ketiganya. "Papa hanya ketiduran tadi disini," terang Filio tanpa harus menjelaskan apa yang terjadi karena mereka cukup masih kecil untuk mengetahuinya.


Dari balik pintu sesosok mendengar dan melihat apa yang terjadi kepada Ayah dan anak itu. Sungguh pandangan mengharukan itu berhasil membuat siapapun tergugu termasuk Asilla.


"Apa aku egois?" batin Asilla dengan dada yang sesak sembari mengusap bulir bening di pelupuk matanya. Tanpa sadar ia meneteskan air mata melihat pandangan yang mengharukan barusan tadi.


"Papa ayo masuk, kita akan sarapan," ajak Isabella dan di angguk oleh Moses dan Gabriella.


"Baiklah!" Filio mengandeng tangan kedua putrinya, sedangkan si bungsu Moses menjadi komandan didepan jalan mereka menuju meja makan. Melihat hal itu membuat Asilla bergegas masuk kedalam, ia tidak ingin mereka melihat kehadirannya.


Di meja makan


"Mama ternyata Papa tidak meninggalkan kita," cicit Isabella setelah tiba di meja makan. Di sana Asilla mendudukkan dirinya dengan tangan terlipat.


Asilla mengangkat kepalanya menatap Filio. Dengan segera Filio mengalihkan pandangannya ke arah lain. Entah apa yang menyebabkan ia engan untuk menatap wajah Asilla. Apakah karena perdebatan mereka tadi malam?.


"Sayang segera habiskan sarapannya, keburu dingin," kata Asilla.


"Iya Mama," jawab ketiganya serempak.


Mereka mulai menikmati sarapan dengan keceriaan triplets. Sedangkan Filio hanya terdiam, sama sekali tidak menyentuh sarapan yang tertata di meja dihadapannya.


Asilla menelan ludahnya sesaat.


Mendengar panggilan baru dari Asilla tentu saja membuat lamunan Filio buyar. Dengan cepat ia mengalihkan pandangan semula beralih ke arah Asilla.


Asilla tersenyum sembari mengigit bibir bawahnya. Sungguh Filio terpesona dengan senyuman untuk pertama kalinya ia dapatkan dari Asilla.


"A-aku akan ke sekolah anak-anak hari ini untuk minta surat pindah," kata Asilla yang berhasil membuat Filio membeku. "Aku juga akan ke butik untuk menyelesaikan semua pekerjaanku," sambungnya.


"Maksud kamu apa?" tanya Filio dengan perasaan tak karuan.


"Seperti yang kamu mau, aku akan ikut kembali pulang," ungkap Asilla. "Hmmm ini semua aku lakukan demi triplets dan Opa, Oma mereka." Ungkapnya kembali.


Deg


Tentu saja perkataan Asilla membuat Filio lega. Akhirnya wanita yang kekeh dalam pendiriannya ini berhasil ia luluhkan walaupun itu semua demi buah hati mereka, tetapi tidak Filio permasalahkan karena ini awal dari kesempatannya untuk memperbaiki hubungan yang telah hancur.


"Baiklah aku yang antar ke sekolah," ujar Filio.


"Tidak perlu aku bisa menyelesaikannya sendiri," tolak Asilla.


"Aku juga orang tua mereka jadi berhak untuk itu," sambung Filio.


"Dasar keras kepala," gumam Asilla pelan.


"Apa kamu bilang?" Filio tidak jelas mendengar sungutan Asilla.


"Tidak ada. Baiklah jika kamu memaksa," akhirnya Asilla mengalah.


...******...

__ADS_1


Kini Filio dan Asilla telah berada di tempat TK tempat kedua putri mereka bersekolah.


"Kamu menyekolahkan mereka di sekolah seperti ini?" ujar Filio karena sekolah itu jauh dikatakan mewah.


"Iya aku hanya mampu menyekolahkan mereka disini," jawab singkat Asilla.


Filio lalu menarik lengan Asilla sehingga membuatnya menghentikan langkahnya.


"Aku minta maaf," ungkap Filio karena merasa bersalah.


Asilla terdiam. Pria yang menurutnya kejam ini kini berubah menjadi lembut.


"Sudahlah," kata Asilla sembari melanjutkan langkahnya.


Dengan segera Filio menggenggam tangan Asilla layaknya sepasang suami-istri pada umumnya. Asilla cukup kaget tetapi ia terpaksa membiarkannya karena percuma saja jika ia menolak.


Di ruang guru


"Nona Sila kami akan merindukan si cantik Gaby dan Abel. Mereka murid yang paling berprestasi di sekolah ini," ungkap sang guru.


Mendengar pujian guru kedua putrinya membuat Filio merasakan kebahagiaan.


"Terima kasih Ibu," jawab Asilla juga merasa bahagia.


"Maaf jika boleh tau Tuan siapa?" tanya sang guru kepada Filio yang sejak tadi terdiam di samping Asilla.


Filio segera membuka maskernya, lalu menjawab.


"Saya adalah orang tua dari Gabriella dan Isabella," ujar tegas Filio.


"Wah tampan sekali," kagum sang guru melihat ketampanan seorang Filio.


Kening Asilla mengerut mendengar kekaguman sang guru. Sedangkan Filio mengembangkan senyuman sehingga membuat pesona ketampanannya semakin membuat sang guru histeris dalam diam.


Hmmm


"Pantas saja kecantikan putri kembar Tuan dan Nona didapatkan dari bibit unggul," ungkap sang guru. "Hmmm tetapi kenapa Ayah Nak Gaby dan Abel tidak dicantumkan?" imbuh sang guru.


Mendengar perkataan sang guru membuat Filio menatap Asilla dengan sorot mata tajam. Asilla menelan ludahnya mendapati tatapan tajam itu.


"Itu, itu karena------,"


"Itu karena istri saya pernah mengalami amnesia sehingga ia melupakan sesuatu yang sangat penting," ujar Filio memotong ucapan Asilla.


Mata Asilla melotot mendengar apa yang dikatakan Filio tentang dirinya yang mengada-ngada.


"Jika begitu kami segera pulang," ujar Filio dan di anguk oleh sang guru. Dengan cepat Filio membawa Asilla pergi dari ruang guru.


Didalam mobil hening, tidak ada yang lebih duluan mengeluarkan suara. Filio sangat mengerti apa yang dilakukan Asilla. Bagaimana mungkin Asilla mencantumkan nama dirinya di akte kedua putrinya, sedangkan Asilla tidak tau siapa Ayah biologis kedua putrinya.


...******...


Atas kesepakatan hari ini mereka akan pulang kembali ke tanah air. Triplets begitu girang karena mereka akan bertemu Opa dan Oma. Begitu juga dengan Filio ia sangat bahagia karena pada akhirnya ia berhasil memboyong keluarga barunya walaupun hubungan mereka tidak bisa dipastikan. Beda halnya dengan Asilla. Wanita cantik itu hanya banyak diam dengan ribuan pertanyaan dibenaknya. Sungguh Asilla tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya dengan hubungan ini.


"Demi kalian Mama buang rasa egois ini," batin Asilla.


...******...

__ADS_1


__ADS_2