
Hari ini Asilla akan menemui kedua orang tuanya beserta sang Kakak Asinta. Bagaimanapun ia harus melihat bagaimana keadaan mereka. Apa lagi Asilla sudah tau jika keluarganya sudah tidak punya apa-apa lagi karena ulah mereka sendiri. Bahkan yang ia tau mereka tinggal di rumah kontrakan. Sungguh Filio tidak main-main dengan perkataannya.
Berkat supir pribadi yang diperintahkan sang suami untuk mengantar jemputkan Asilla berhasil mendapati rumah kontrakan orang tuanya. Tiba depan rumah Asilla menghela nafas sesak melihat keadaan rumah yang di tempati keluarganya.
Tok tok tok
Asilla mengetuk pintu dan di sampingnya berdiri juga sulit pribadi yang diperintahkan Fio untuk dirinya. Bayu tidak ingin sang majikan mendapat masalah makanya ia harus ikut masuk.
Ceklek
Pintu terbuka
Deg
Asilla maupun Mira membeku saling memandang.
"Mama," lirih Asilla melihat sosok Mira yang beda dari biasanya. Penampilan yang biasa kini beda jauh seperti tak terurus. qo
Mira terdiam tidak menyahut.
"Mama siapa yang datang?" tanya Farhan dari dalam. Ia yakin jika tamu itu adalah penagih hutang.
Mira tidak menjawab sehingga membuat Farhan akhirnya keluar.
Deg
Betapa kagetnya Farhan melihat siapa yang telah datang. Tidak lama Asinta juga ikut keluar. Dia juga sangat kaget melihat siapa yang bertamu di rumah sempit itu.
"Papa, Kak Sinta." Lirih Asilla.
"Pergi kamu! Kami tidak mengenal dirimu," usir Asinta dengan teriakan.
"Kak Sinta," lirih Asilla karena melihat dirinya di usir.
"Kamu puas bukan melihat penderitaan kami sekarang? aku tau sekarang kamu menertawai keadaan kami Sila," bentak Asinta menggebu.
"Kak Sinta sumpah demi apapun Sila tidak pernah berpikiran begitu," kata Asilla sembari terisak.
"Ala jangan sok suci kamu Sila, aku sangat membencimu. Dasar anak tidak tau diri kamu, tidak tau balas budi. Jika tau buat apa orang tuaku meng...."
__ADS_1
"Sinta!" Ujar Farhan sehingga membuat Asinta tidak melanjutkan perkataannya.
Asilla menggeleng. Sedangkan kedua orang [ua mereka bungkam. Farhan maupun Mira tidak berani mengeluarkan kata karena ia tau sedang berurusan dengan siapa. Padahal didalam hati darah Mira sudah mendidih untuk memcecarkan Asilla, begitu juga dengan Farhan. Semua aset kekayaan mereka lenyap begitu saja akibat perbuatan mereka yang bersangkut paut dengan Asilla.
"Angkat kaki sekarang juga, karena kamu hidup kami seperti ini," umpat Asinta belum juga puas mencecar Asilla.
"Sila kecewa. Sila bermaksud menemui kalian karena prihatin dengan keadaan ini tetapi sepertinya kehadiranku tidak berarti bagi kalian," ungkap Asilla.
Perkataan Asilla membuat ketiganya saling menatap.
"Seharusnya Sila yang menyalahkan atas semua yang kalian lakukan kepada Sila. Perbuatan kalian sudah keterlaluan," seru Asilla dengan suara sedikit meninggi.
Setelah mengatakan itu Asilla bergegas melangkah meninggalkan kedua orang tua serta sang Kakak. Sehingga membuat mereka bungkam tidak percaya dengan apa yang Asilla katakan barusan.
"Dasar sialan," umpat Asinta sembari menutup pintu begitu kuat sehingga menimbulkan dentuman pada daun pintu. "Dasar anak tidak tau diri," umpatnya kembali.
"Sampai kapan kalian berubah," batin Asilla.
Asilla pulang dengan perasaan kesal. Sepanjang jalan perasaannya berpusat kepada kedua orang tuanya. Ia tidak pantas pulang ke rumah tetapi hari ini ia juga ke butik. Butik yang baru 2 hari ia buka. Filio tidak melarang apa yang diinginkan Asilla asalkan itu bisa membuat dirinya nyaman.
...******...
Dengan perasaan sabar triplets menanti kepulangan sang Papa di malam yang dingin. Sama halnya dengan Filio mereka juga merasakan kerinduan itu.
Dari kejauhan mereka melihat mobil yang biasa di tumpangi sang Papa. Dengan tidak sabar Filio turun dari mobil. Sungguh ia merindukan triplets.
"Papa," panggil triplets.
"Sayang," sambut Filio.
Mereka melepas kerinduan. Sedangkan Asilla hanya menunggu didalam rumah. Akhir-akhir ini ia banyak termenung.
Tiba di ruang keluarga Filio menghentikan langkahnya karena melihat sosok Asilla yang terdiam merenungi.
Hmmm
Sungguh kehadiran Filio tidak menyadari Asilla. Sehingga membuat dirinya tersadar.
"Kamu tidak menyambut kedatangan suamimu?" goda Filio.
__ADS_1
Asilla bungkam tidak merespon perkataan Filio yang menggoda dirinya. Melihat Asilla mengacuhkannya membuat Filio tersenyum miris. Karena tidak ingin membuat mood Asilla berubah membuat Filio terpaksa meninggalkan Asilla seorang diri.
Melihat Filio meninggalkannya membuat Asilla menghela nafas. Ia tau jika sikapnya itu tidaklah benar tetapi hanya itu yang bisa dia lakukan.
Setelah membersihkan diri dan rapi Filio keluar dari kamar untuk memantau triplets. Ia tau jika sekarang mereka sudah tertidur. Pertama ia buka pintu kamar Moses. Ia rapikan selimut yang merosot ke lantai lalu tidak lupa mendaratkan kecupan di kening Moses. Setelah dari kamar Moses ia masuk ke kamar kedua bidadari cantiknya. Seketika senyuman manis di bibir Filio melihat posisi tidur Gabriella dan Isabella yang tidak beraturan.
Tiba-tiba Isabella terusik dengan kedatangan sang Papa. Lalu ia spontan bangkit bangun. Tentu saja membuat Filio kaget.
"Papa," lirih serak Isabella menyadari jika sang Papa berada di kamar mereka.
"Sayang kenapa bangun? maaf jika kedatangan Papa mengusik tidur Abel," ujar Filio sembari duduk di samping Isabella.
"Tidak Papa. Abel kebetulan bangun karena ingin pi**," jawab Abel dengan polos.
"Jika begitu cepat ke kamar mandi sayang," titah Filio. Dengan buru-buru Isabella bergegas ke kamar mandi. Sedangkan sang Papa sibuk memperbaiki posisi tidur Gabriella.
Tidak lama Isabella kembali.
"Sayang kembali tidur," ujar Filio.
"Abel belum ngantuk lagi Papa," jawab Isabella.
"Sini berbaring di pangkuan Papa," titah Filio sembari menepuk pahanya. Isabella tidak menolak malahan sebaliknya ia merasa senang dapat perlakuan langka seperti itu.
"Papa," panggil Isabella sembari menatap sang Papa.
Filio tersenyum sembari memainkan rambut panjang dan indah milik Isabella.
"Sayang Papa minta maaf telah membuat Abel merasa takut dengan Papa. Abel hanya salah paham waktu itu," ungkap Filio. "Papa tidak pernah berniat untuk menyakiti Mama sayang, Abel hanya salah paham." Imbuhnya dengan tatapan sendu menatap Isabella.
Isabella terdiam, akhirnya ia ingat beberapa bukan lalu.
"Abel sangat takut kepada Papa waktu itu. Ketika Abel tidak sengaja merusak robot mainan Dek Moses. Belum lagi Abel tidak sengaja melihat Papa mendorong Mama ke kolam berenang," cerita Isabella.
"Papa tidak pernah marah kepada Abel, waktu itu Mama jatuh sendiri akibat tidak berhati-hati sayang. Papa memarahi Mama karena Mama sudah menghukum Abel akibat merusak mainan robot milik Adikmu Moses," cerita Filio kembali.
"Papa ternyata Abel salah paham," cicit Isabella dengan kepolosannya.
Mendengar kepolosan Isabella membuat Filio memeluknya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
...******...