Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja
Bab. 97. Istriku Aneh


__ADS_3

2 bulan kemudian


Dengan senyuman gemas Filio melangkah mendekati ranjang. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, seperti rutinitas setiap pagi. Sedangkan Asilla masih terlelap dan enggan untuk beranjak bangun, padahal setiap paginya ia selalu bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya, tetapi pagi ini sedikit berbeda dari istri tercintanya itu.


Filio mengelus wajah gemas Asilla yang tersembunyi oleh helaian rambut.


"Sayang sepertinya tidurmu begitu nyenyak?" gumam Filio.


Merasakan sejuk di pipinya membuat Asilla mengerjap. Filio kembali menempelkan telapak tangannya di dahi serta leher Asilla, ia sedikit cemas, takut sesuatu terjadi kepada Asilla.


"Tidak panas," gumamnya kembali tanpa melepaskan tatapan.


"Sayang plis jangan ganggu," gumam Asilla dibalik selimut, ia kembali menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


Dahi Filio mengerut.


"Kamu sakit?" tanya lembut pria tampan yang menyandang status tiga anak itu sembari menyibak kembali selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh itu.


"Tidak sayang tetapi masih mengantuk," gumamnya tetap dengan mata terpejam.


"Hmmm baiklah kamu lanjutkan tidurmu, tetapi jangan melewatkan sarapan pagi, aku sudah buatkan sarapan," ujar Filio sembari beranjak bangkit untuk mempersiapkan pakaiannya, biasanya itu tugas Asilla tetapi pagi ini ia sendiri yang menyiapkan.


Mendengar hal itu membuat Asilla berusaha membuka kedua matanya.


"Tunggu sayang biar aku siapkan keperluanmu, maaf ya jadi merepotkanmu," kata Asilla dengan tidak enak hati. Ia berusaha bangun.


"Tidak masalah sayang," jawab Filio sembari mengusap pucuk rambut Asilla yang berantakan.


Cup


"Morning kiss," kecupan rutinitas setiap pagi.


Asilla menelan ludah menikmati keindahan postur tvbvh milik suaminya ini. Bukan ini pertama kali tetapi seakan daya tarik itu bergelora saat ini. Belum lagi wangi maskulin serta mint dari nafas halus Filio.


Sekali lagi membuat Asilla meneguk ludahnya. Ia lalu mengigit bibir bawahnya.


"Sayang kamu wangi sekali," puji Asilla seperti sedang menggoda, bahkan saat ini jari-jemari lentik itu bermain-main di dada bidang itu.


"Oh shitt....., " Filio mengeram.


Asilla semakin merapatkan tvbvhnya ke tvbvh kekar itu.


"Sayang aku tidak tahan dengan aroma wangi ini," lirih Asilla frustasi. Entah kenapa libionya pagi ini menggelora tinggi.


Tentu saja sikap Asilla ini membuat Filio sedikit aneh tetapi ia sangat menyukai perlakuan seperti ini yang tidak pernah ditunjukan Asilla selama 2 bulan ini.


"Sayang," geram Filio dengan darah mendesir.


"Sayang aku menginginkanmu," bisik halus Asilla dengan malu-malu, bahkan wajahnya memerah menahan malu.


Mata Filio membulat mendengar kata itu, bahkan ia tak percaya dan mengira ia salah dengar.


Tanpa berpikir panjang Asilla sudah melahap dada sixpack seperti roti sobek milik Filio. Bahkan kini berjinjit berusaha melingkarkan kedua tangannya di leher Filio. Merasa cukup sulit sehingga ia mendorong tubuh kekar itu sampai mendarat di atas kasur.


Sungguh hal gila Asilla di pagi ini. Dengan duduk di pangkuan Filio ia mlhap habis bwbir seksi yan menjadi candu baginya. Filio tak bergeming, ia masih belum percaya dengan wanita yang menguasai dirinya saat ini, tetapi ia mnikmati setiap perlakuan lembut Asilla.


"Sayang bermainlah dengan harta-hartaku seperti yang biasa kamu lakukan," gumam Asilla masih mlhap bwbir seksi itu. "Aku menginginkanmu sayang," bisiknya seperti menahan sesuatu.


Filio menelan ludah. Lalu menggulingkan tvbh Asilla, mengunkung serta mengunci tvbh kecil itu. Ia melakukan sesuai keinginan wanitanya yang ia pikir kerasukan setan.


Asilla menyunggingkan senyuman serta mnikmati sesuai keinginannya. Kamar yang semula hening diiringi decpan-decpan aneh.


Larva panas meledak lagi di pagi ini yang tidak pernah Filio duga. Permainan liar Asilla membuatnya semakin buas dan selalu meginginkannya.


Asilla tak berkutik karena kelelahan ia kembali terlelap sedangkan Filio terpaksa membersihkan dirinya kembali.


"Istri nakalku!" Gumam Filio disertai senyuman menyeringai sebelum ia beranjak.


...******...


Di kantor


Sejak tadi Filio hanya bisa membayangkan keliaran Asilla tadi pagi. Ya bayangan panas mereka tadi pagi.

__ADS_1


Drett


Getaran ponsel di atas meja menyadarkan lamunan Filio. Ia raih ponsel itu dan segera membuka, ternyata istri tercinta yang mengirim pesan.


My love❤ "Sayang jam makan siang aku akan ke kantor, jadi tungguin aku ya? love you❤,"


Begitulah pesan yang dikirimkan Asilla. Hal itu tentu saja membuat Filio tak percaya karena selama ini Asilla belum pernah menginjakan kaki di perusahaan yang sudah menjadi miliknya. Alasannya ia tak terbiasa jika di ajak oleh Filio tetapi siang ini ia akan ke kantor atas kemauannya sendiri.


Suamiku❤ "Iya sayang hmmm hati-hati. I love you too❤,"


Diseberang sana Asilla tersenyum setelah membaca balasan pesannya.


Filio kembali fokus kepada laptopnya, masih banyak pekerjaan yang menumpuk di atas meja.


Drett


Ponsel kembali bergetar, ia meraih dan segera mengeceknya.


My love❤ "Sayang suruh Gio belikan makan siang di kaki lima yang hanya berjarak dua toko dari butik. Ikan bakar, cumi crispy, sate ayam, kepiting saus padang dan kangkung saos tiram. Thanks you my husband 😘


Dahi Filio mengerut melihat catatan pesanan Asilla yang tidak seperti biasanya. Biasanya ia akan masak dan tidak pernah membeli makanan selama mereka menjalani rumah tangga. Dan ia berpikir untuk apa makanan sebanyak itu, apa lagi itu masakan yang didapatkan di RM kaki lima.


" Kamu sedikit aneh sayang," gumam Filio sembari mengusap wajahnya.


Suamiku❤ "Oke sayang😘


Filio kembali melanjutkan pekerjaannya. Merasa penat dan sedikit kram ia menyandarkan tubuhnya serta meregangkan otot-otot yang kram.


Ekor matanya melirik arloji di pergelangan tangan. Ternyata 30 menit lagi waktunya jam makan siang. Ia lalu menghubungi Gio dan memberitahukan pesanan yang di mintai Asilla.


...******...


Di Mansion


Asilla sudah bersiap-siap. Ia kini merapikan kembali penampilannya. Ia memakai dress warna putih sebatas lutut. Rambut indahnya sengaja di ikat kucir kuda dengan poni terbelah sehingga menambah pesona cantiknya. Tidak ada yang menyangka jika ia telah menyandang Ibu tiga anak di luaran sana.



Kini ia sudah berada didalam mobil menuju kantor, ia diantar oleh supir pribadi. Ya selama menjadi istri sesungguhnya Filio tidak membiarkan Asilla menyetir sendirian.


Asilla terdiam berdiri di depan gedung bertingkat ratusan itu. Ia menghela nafas panjang, lalu melangkahkan kaki memasuki lobby.


"Selamat siang Nyonya," sapa satpam dengan ramah, ya mereka sudah mengenali Asilla karena pada saat mengelar resepsi seluruh karyawan kantor di undang dan mereka semua menghadiri pesta itu.


"Siang Pa," balas Asilla disertai senyuman. Tentu saja balasan Asilla membuat sang satpam terenyuh karena atas keramahan Asilla.


"Silahkan masuk Nyonya," Asilla mengangguk dan langsung menuju lift khusus.


Sepanjang berpapasan dengan beberapa karyawan Asilla tersenyum ramah. Para karyawan membalas dengan kepala menunduk, mereka mengagumi keramahan istri sang CEO.


"Selamat siang, saya akan menemui Tuan," kata Asilla kepada resepsionis, bahkan ia menyebutkan suaminya Tuan karena ini sedang di kantor.


"Selamat siang Nyonya. Silahkan Nyonya, Tuan sudah menunggu Nyonya," jawab resepsionis dengan tidak kalah ramah.


"Nyonya memang wanita sempurna,"


"Lihat dekat lebih cantik dan natural,"


"Tidak sombong seperti Nyonya-Nyonya lainnya,"


"Pantas saja Nyonya berhasil menaklukan hati Tuan,"


Begitulah bisik-bisik para karyawan kaum hawa.


"Benar-benar cantik seperti bidadari," bisik-bisik kaum adem. Mereka harus berhati-hati mengagumi istri sang CEO, kalau tau terang-terangan lihat saja bagaimana nasib kita ke depannya.


Asilla sudah berdiri di depan pintu ruang CEO.


Tok tok tok


Klek


Pintu terbuka dan tampaklah sesosok pria yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


"Sayang," panggil manja Filio.


"Sayang kamu mengagetkanku," balas Asilla karena ia tidak menyangka suaminya itu membukakan pintu.


Hmmm


Filio tersenyum lalu mengusap kepala Asilla dan tidak lupa memberi pelukan dan ciuman. Filio menuntun Asilla duduk di sofa.


"Sayang apa makanan yang sudah aku pesan sudah ada?" tanya Asilla masih mengingat makanan yang ia pesan.


"Sebentar lagi Gio akan tiba sayang," jawab Filio tanpa mengalihkan pandangannya kepada Asilla. Ia memandangi Asilla dengan penuh rasa kagum, dimana Asilla tampil natural tetapi itu poin menambah pesona cantiknya.


Hmmm


Asilla menekan-nekan dagunya seakan mengerti.


"Kamu sangat cantik istriku, hmmm pasti para karyawan pria menatapmu dengan lapar?" tuduh Filio.


Mendengar apa yang Filio katakan membuat Asilla mengerutkan kening.


"Sayang tidak ada yang berani menatap istri sang CEO. Mereka ciut terlebih dahulu sebelum harimau mengamuk," sindir Asilla.


"Mereka cukup penurut," balas Filio dengan senyuman menyeringai.


"Dasar!" Cici Asilla pelan.


Tok tik tok


"Masuk,"


"Selamat siang Tuan, Nyonya," sapa Gio dengan tangan penuh bawaan kantong kresek.


Filio maupun Asilla mengangguk.


"Letakkan di sini saja Gio," titah Asilla.


Gio meletakan semua bawaannya di atas meja sofa.


"Tunggu sebentar aku akan mengambil piring dan cuci tangan, sepertinya dengan tangan langsung lebih nikmat," kata Asilla sembari beranjak menuju pantry.


Filio dan Gio hanya memandang dengan diam. Tidak butuh waktu lama Asilla kembali dan duduk. di tempat semula.


"Gio ikut makan bersama kami," kata Asilla sembari fokus membuka makanan.


"Ta------,"


"Apa kau tidak dengar apa yang istriku katakan?" potong Filio karena ia tau jika Gio akan menolak dengan ribu alasan.


"Baik Tuan, Nyonya," jawab Gio pasrah padahal ia sedikit canggung makan satu meja di ruangan ini dengan sepasang pengantin baru.


Dari tadi Asilla sudah menelan salivanya, apa lagi tergoda dengan sambal mangga. Tentu saja tingkah aneh Asilla membuat dua pria tampan itu heran tetapi dalam diam.


"Sayang ayo segera di makan," gumam Asilla karena mulutnya sudah penuh sehingga sulit untuk berbicara. Ia langsung menggunakan tangan untuk memasukan setiap makanan kedalam mulutnya.


Filio dan Gio menelan ludah melihat cara Asilla yang tidak pernah mereka lihat. Mau tidak mau mereka ikut menyantap makanan yang bukan mereka sukai.


"Sayang sambal mangga ini sangat enak, hmmm Gio kenapa sedikit kali kami beli?" gumam Asilla masih dengan mulut penuh.


"Maaf Nyonya," jawab Gio padahal sambal itu dengan porsi jumbo masih dibilang sedikit. Tingkah Asilla semakin aneh di mata Filio.


"Istriku benar-benar kesurupan," batin Filio.


"Nyonya seperti tidak makan 1 minggu," Gio membatin.


Dalam sekejap makanan itu tak tersisa, sedangkan Filio maupun Gio hanya makan seadanya saja. Melihat Asilla makan membuat mereka cepat kenyang.


Asilla bersendawa sopan, itu membuktikan ia kekenyangan. Gio pamit kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan.


Asilla gelisah dan keringat dingin memenuhi wajahnya. Dalam sekejap wajah itu pucat pasi.


Uwek.... uwek....


...******...

__ADS_1


__ADS_2